
Makan malam di rumah baru...
Malam ini aku memasakkan sajian istimewa untuk pangeranku. Kubuat steak sapi dengan bumbu lada hitam yang sedap dan menggugah selera. Kusajikan bersama kentang rebus dan juga kacang polong yang lembut. Cloud tampak terkejut dengan apa yang kusajikan ke atas meja makan.
"Kau tidak hanya pintar memikat hatiku, Ara. Tapi juga pintar memasak dan jago di bidang seni." Dia memujiku sambil memelukku dari belakang.
"Anda terlalu memuji, Pangeran," kataku yang sontak membuatnya terdiam.
"Ara, kau terlalu formal, Sayang." Dia tidak berkenan jika aku memanggilnya dengan bahasa yang baku.
"Hahaha. Kau ini calon raja Angkasa tapi inginnya selalu dimanja. Apa ada yang mengetahuinya selain diriku?" Kutata meja makan ini semenarik mungkin sebelum menyantap hidangan makan malam.
"Tidak ada, Ara. Tidak ada yang mengetahui sisi lain dari diriku selain dirimu." Cloud lagi-lagi memelukku dari belakang.
"Benar, kah?" Aku menoleh ke arahnya.
"He-em." Dia mengangguk lalu mencium bahuku.
"Cloud, geli tahu! Lebih baik kita makan dulu," ajak ku.
"Baiklah, Sayang." Dia akhirnya menerima tawaranku.
Kami lalu duduk berhadapan di depan meja makan. Meja makan ini tidak terlalu besar, tapi amat cantik menurutku. Bagaimana tidak, meja makan ini beralaskan kaca yang terlukis banyak bentuk hati berwarna merah muda. Romantis sekali.
"Aku masih kepikiran dengan hal yang kau ceritakan waktu itu, Ara." Cloud mengawali perkataannya.
"Hal yang mana, ya?" Aku jadi lupa sendiri.
"Yang kau ceritakan saat bertarung dengan penyihir itu," katanya lagi.
"Oh."
Aku memang telah menceritakan hal yang kualami malam itu kepada Cloud. Dan Cloud begitu terkejut mendengar semua penuturanku. Mungkin dia sedikit tidak percaya jika aku telah mengalami hal aneh malam itu.
"Ara, selama ini aku tidak mengira jika mimpiku akan terjadi." Dia mulai menceritakan.
"Mimpi? Mimpi apa?" tanyaku seraya menuangkan air minum untuknya.
__ADS_1
"Kau tahu, jauh sebelum hal ini terjadi, aku sudah dimimpikan berulang kali jika akan terjadi penyerangan ke istana," tuturnya.
"Hah? Benar, kah?"
"Tapi aku amat bersyukur dengan kehadiranmu di sini. Semua bisa terantisipasi dengan baik. Aku tidak bisa membayangkan jika seandainya tidak ada dirimu." Dia tiba-tiba termenung.
"Sudah jangan dipikirkan. Pasti semuanya mengandung hikmah untuk kita syukuri. Aku juga tidak merasa terbebani dengan apa yang terjadi." Aku mencoba menenangkannya.
"Tapi Ara, rambutmu harus terpotong dan kini tidak sepanjang dulu. Pastinya amat lama kau memanjangkan rambutmu, bukan?" Cloud terlihat menyesal.
"Hahaha." Aku jadi tertawa melihat roman wajahnya. "Rambut bisa dipanjangkan lagi. Yang penting semuanya selamat dari bahaya penyerangan."
Kupegang tangannya lalu kuusap dengan lembut. Aku mencoba meyakinkannya jika aku baik-baik saja. Ya, walaupun rambutku memang harus terpotong terkena sabetan pedang penyihir itu. Tapi ini lebih baik daripada terjadi korban di pihak istana.
Ara berlapang dada menerima apa yang terjadi padanya. Rambut indahnya yang telah dipanjangkan dua tahun lamanya itu harus kandas terkena sabetan pedang penyihir. Namun, ia tetap bersyukur karena tidak terjadi penyerangan ke istana. Menurutnya, nyawa penghuni istana lebih utama dibandingkan dengan rambutnya yang telah susah payah ia panjangkan sampai ke pinggang. Dan kembali hati sang gadis dipenuhi oleh rasa bersyukurnya.
Seusai makan malam...
Beberapa menit setelah makan malam, Cloud mengajak ku berdansa di taman belakang rumah ini. Di bawah penerangan cahaya lampu, kami mulai mengikuti alunan musik klasik yang diputar melalui piringan besar, terasa nyaman dan juga damai. Kedua tanganku pun diarahkan Cloud agar melingkar di lehernya.
Apa sih mau dia ini. Belum lama dari makan malam, sudah mengajak ku berdansa. Apa dia tidak lelah?
"Ara."
"Hm?"
"Matamu indah sekali," pujinya yang membuatku tersipu.
Sungguh aku malu setiap kali mendengar pujiannya. Terlebih kali ini aku sudah mengenakan gaun tidur yang tanpa lengan, sehingga ketiakku leluasa dilihat olehnya. Tapi sepertinya, Cloud menyukai penampilanku yang natural. Mungkin dia menganggap jika aku telah benar menjadi istrinya. Yang kalau di rumah hanya mengenakan daster saja.
"Cloud, jangan terlalu banyak memujiku. Aku bisa kehilangan kata-kata." Aku malu, segera memalingkan pandangan darinya.
"Tatap aku, Ara. Tidak inginkah kau melihatku lebih dekat dan lebih lama?" tanyanya seraya menarik daguku dengan jemarinya. Cloud tidak ingin aku mengalihkan pandangan.
Aku pun menurut, kami akhirnya bertatapan. Suasana romantis malam ini membuatku terhanyut dalam kasih sayangnya. Dia lalu mengecup keningku.
"Aku bahagia sekali hari ini. Sangat bahagia karena bisa menghabiskan waktu bersamamu. Aku sudah meminta ayah untuk mengangkat menteri baru agar tugasku jadi lebih ringan, tapi ayah tidak mengizinkannya." Dia seperti kesal sendiri.
__ADS_1
"Tak apa, Cloud. Aku mengerti." Kucolek hidungnya seraya tersenyum.
"Ara, aku amat khawatir karena keterbatasan waktuku ini, kau lebih banyak bersama Rain. Dan pastinya hatimu lebih condong kepadanya, bukan?" Dia seperti menebakku.
Astaga, apa yang harus kukatakan?
"Aku bertanggung jawab atas dirimu, sekalipun Rain yang melakukannya. Tapi nyatanya, dia selalu terdepan. Aku seperti tidak bisa mengejar ketertinggalanku."
"Cloud ...."
"Aku amat takut kehilanganmu, Ara. Aku tidak bisa membayangkan hidupku bila tanpamu. Kau bisa lihat sendiri, sebulan kita tidak bertemu aku sudah tidak beraturan seperti ini."
"Hei, jangan begitu." Aku mencoba menyemangatinya.
"Setiap malam tidurku tak nyenyak, makan pun tak enak karena memikirkanmu di sana. Hanya pekerjaan yang membuatku bertahan untuk terus melanjutkan hidup." Dia malah curhat padaku.
"Iya-iya, aku mengerti. Lagipula aku juga sudah betah tinggal di sini," kataku, tersenyum padanya.
"Kau tidak ada niat untuk pergi lagi, kan?" tanyanya yang sontak membuatku melepas kedua tangan dari lehernya. "Ara?" Dia mulai cemas.
Aku lalu duduk di kursi teras, sedang Cloud masih berdiri di hadapanku. "Aku tidak pernah ada niat untuk pergi darimu atau dari istana, Cloud. Tapi aku juga tidak mampu melawan takdir. Banyak hal terjadi padaku setelah pergi dari istana ini." Aku mencoba untuk jujur.
Cloud lalu duduk berlutut di hadapanku. "Kau baik-baik saja di sana, bukan?" Dia mencemaskanku.
Aku mengangguk. "Hanya saja—"
"Hanya saja apa, Ara?" Dia segera menanggapi.
"Hanya saja peristiwa kemarin membuatku dan pangeran Asia itu dekat," kataku lagi.
"Apa?!" Cloud terkejut.
"Cloud, Zu juga menginginkanku." Aku berterus terang.
"Astaga ...."
Seketika kulihat roman wajah Cloud berubah pasi. Dia memundurkan tubuhnya ke belakang lalu mengusap kepalanya sendiri.
__ADS_1
Malam ini aku berusaha jujur kepadanya agar dia tidak kaget jika sewaktu-waktu Zu datang ke istana untuk menjemputku. Menurutku Cloud lebih bisa menerima ceritaku bila dibandingkan dengan Rain. Aku tahu bagaimana Rain yang begitu nekat. Dan aku tidak ingin apa yang Zu katakan benar terjadi pada negeri ini.