
Awal pertengahan malam di Angkasa...
Aku mencoba untuk tidur, namun tak bisa. Entah mengapa malam ini begitu gelisah, tidak seperti biasanya.
Aku keluar dari kamar untuk mencari udara segar. Namun, sesuatu mengagetkanku. Kedua pangeranku ini tidur di sofa sambil mendengkur. Cloud di sofa panjang yang ada di sudut ruangan, sedang Rain tidur sambil duduk di sofa yang ada di depan pintu kamar. Dia seperti menjaga kakaknya agar tidak masuk ke dalam kamarku.
Mereka ini.
Rasanya ingin tertawa saja melihat tingkah laku keduanya yang jauh dari kata wibawa, sebagai seorang pangeran. Baik Rain maupun Cloud mulai memperlihatkan sisi kekanak-kanakannya padaku. Aku seperti mempunyai dua bayi besar saat ini.
Tidurlah bayi besarku.
Kuambil selimut yang ada di lemari kamar. Kuhamparkan ke tubuh mereka satu per satu. Kutatap wajah keduanya bergantian, tersirat keinginan untuk menciumnya. Tapi kutahan karena khawatir mengganggu tidur mereka.
Ya ampun, betapa imutnya saat tertidur seperti ini.
Raja memberiku ruang khusus yang tidak jauh dari ruang kerjanya. Aku diminta tinggal di lantai tiga istana agar keamanan lebih terjamin. Mungkin kedua putranya sudah menceritakan perihalku dengan Zu. Entahlah, apapun itu aku merasa dispesialkan sekarang.
Ruangku ini cukup besar jika untuk dihuni sendiri. Ada ruang tamu dan juga kamar tidur serta kamar mandi di dalamnya. Namun, tidak ada dapur. Sehingga jika ingin menyantap sesuatu aku harus meminta kepada pelayan yang berjaga di lantai tiga istana.
Jendela besar pun terpajang di depan ruang tamu ini, dengan tirai biru metalik yang menghiasi. Rasanya sangat berbeda sekali, seperti sedang singgah untuk menginap sementara waktu.
"Kenapa ya aku tidak bisa tidur malam ini?"
Aku mencoba duduk sambil memejamkan kedua mata di atas sofa tunggal. Entah mengapa pikiranku tiba-tiba saja tertuju kepada Zu. Sepercik kenangan antara kami pun mulai terlintas di imajiku.
Pangeran ... aku harap kau bahagia bersama Mine. Di sini aku pun sudah bahagia dengan kedua pangeranku. Terima kasih telah memberiku kesempatan untuk tinggal di sana. Aku tak akan melupakannya.
Entah mengapa perasaan haru mulai menyelimuti hati ini. Dan karena tidak ingin terhanyut lebih dalam lagi, segera kuambil buah untuk dicemili. Banyak cemilan tersedia di atas meja tamu. Sepertinya bisa untuk mengalihkan pikiranku tentangnya.
Ara tiba-tiba saja teringat akan kenangannya bersama Zu. Hampir-hampir saja ia terhanyut dalam kenangan indah itu. Namun, ia segera menepiskannya. Ia tidak ingin hatinya terhanyut dengan masa lalu.
Ara sudah mengikhlaskan Zu bersama Mine. Ia tidak ingin mengganggu hubungan Zu dengan putri dari Negeri Bunga itu. Kebenaran akan perkataan Mine memang belum sempat dibuktikan. Tapi, Ara mencoba mengambil hikmah dari semua kejadian yang dilaluinya. Sekarang hanya ada Rain dan Cloud lah di hatinya.
Lain Ara, lain pula dengan Zu. Sang pangeran menatap kosong halaman rumah dari balik kaca jendela besarnya. Angin kencang pun menerpa tirai jendela itu, hingga tirai jendela melayang-layang ke udara.
Di kediaman Zu, di kamar sang pangeran...
Zu kembali teringat akan kenangan yang telah terukir bersama Ara. Canda tawa hingga hal konyol pun mewarnai hari-hari kebersamaan mereka. Pangeran berpiyama biru gelap itu masih menatap kosong halaman rumahnya. Ia seperti kehilangan gairah hidup.
Angin kencang menerpa tirai-tirai jendela kamarnya, namun tidak ia hiraukan. Ia biarkan kenangan indah itu terbayang di alam pikirannya, hingga tidak menyadari berapa tetes air mata yang telah jatuh membasahi wajahnya yang rupawan.
__ADS_1
"Ara ... sedang apa kau di sana?"
Ia bertanya dalam keheningan malam. Di tengah kerinduan yang mendalam. Sayup-sayup suara jangkrik pun terdengar menemani hatinya yang sepi. Zu kehilangan cahaya kehidupannya.
"Apakah kau merindukanku?" tanyanya seraya menangis tangis.
Zu menyadari betapa berharganya sang gadis yang ia jumpai di istana Angkasa. Satu per satu kenangan antara dirinya dan Ara pun mulai menyelimuti seluruh relung hatinya. Sang pangeran tidak mampu menahan kesedihannya lagi. Air matanya mulai berjatuhan karena rasa rindu akan gadisnya.
"Ara ... kau segalanya bagiku. Aku tidak bisa membedakan apakah ini cinta atau hanya sekedar obsesi belaka. Yang kutahu, aku mencintaimu." Ia mengakui apa yang terjadi pada hatinya.
Zu merasa sudah sangat lama tidak melihat Ara. Delusi akan sang gadis pun muncul di hadapannya. Ia seperti melihat Ara sedang tersenyum ke arahnya. Sang gadis tertawa renyah dengan gaun tidur yang biasa dipakai.
"Ara!"
Zu pun ingin menggapai bayang itu, namun tak bisa. Seketika bayangan sang gadis hilang saat ia ingin mengejarnya. Rasa sedih pun mulai melanda hatinya. Untuk yang pertama kalinya Zu menangisi seorang gadis.
Ara ... apa kau tahu betapa tersiksanya batinku ini selama kau tak ada di sini? Besok aku memutuskan untuk menjemputmu. Kembalilah pulang bersamaku ke istana, Ara. Aku benar-benar membutuhkanmu.
Hatinya berdesir lirih saat tidak dapat mengendalikan kenangan indah yang terus terbayang di alam pikirannya. Ia mencoba mengambil napas dalam-dalam untuk menormalkan detak jantungnya yang tidak beraturan, karena rasa sesak di dada. Zu ingin menjerit sekencang mungkin agar kekacauan di hatinya segera hilang.
Sampai saat ini aku belum tahu hal apa yang membuatmu pergi. Aku begitu merindukanmu.
Zu masih bertanya-tanya akan sebab sang gadis pergi dari istana. Dalam kegundahan hatinya, tak lama seekor burung naga datang lalu bertengger di pagar besi teras kamarnya. Zu lalu segera keluar untuk mengambil surat yang dibawa oleh burung itu. Beberapa saat kemudian, ia menyadari sesuatu.
Zu telah bertekad untuk menjemput Ara. Adapun sebab-akibat yang akan muncul atas penjemputannya ini tidak ia pedulikan lagi. Ia hanya ingin bertemu sang gadis dan kembali memadu kasih dalam ikatan cinta yang abadi. Pesta pernikahan itu telah ia persiapkan untuk Ara. Namun, akankah takdir berpihak kepadanya?
...
Jantungku berdetak karena kaulah alasannya.
Tidurku tak nyenyak, kumohon kembalilah.
Pikiranku berpacu dan kaulah alasannya.
Aku masih bernapas, kini aku putus asa.
Kan kudaki semua gunung.
Dan kurenangi semua laut.
Demi untuk bersamamu.
__ADS_1
Dan perbaiki yang telah kulakukan.
Oh, karena kuingin kau tahu bahwa kaulah alasannya...
Tanganku bergetar.
Dan kaulah alasannya.
Hatiku terus terluka.
Dan aku membutuhkanmu.
Andai bisa kuputar kembali waktu,
Kan kupastikan cahaya kalahkan gelap.
Kan kuhabiskan seluruh waktu, setiap hari.
Pastikan kau aman.
Kan kudaki semua gunung.
Dan kurenangi semua laut.
Demi untuk bersamamu.
Dan perbaiki yang telah kulakukan.
Oh, karena kuingin kau tahu bahwa kaulah alasannya...
Aku tak ingin bertengkar lagi.
Aku tak ingin sembunyi lagi.
Aku tak ingin menangis lagi.
Kembalilah, kuingin kau mendekapku...
Mendekatlah.
Mendekatlah.
__ADS_1
Mendekatlah.
Malam ini kuingin kau mendekapku...