Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Don't Make Me Sad


__ADS_3

Setengah jam kemudian...


Aku baru saja mandi setelah mengantarkan keberangkatan raja ke Asia. Ternyata raja sudah mengetahui hal yang sebenarnya terjadi antara aku dan juga Zu. Tentunya pasti Rain lah yang telah menceritakan hal ini kepadanya. Rasanya sedikit menyesal, tapi aku juga tidak bisa memendamnya sendirian.


Aku khawatir apa yang dikatakan Zu waktu itu benar terjadi. Aku tidak mau terjadi apapun pada kedua pangeranku, apalagi negeri ini. Sebisa mungkin mengantisipasi walaupun nantinya tidak akan terjadi. Sedia payung sebelum hujan itu lebih baik daripada tidak membawa payung sama sekali.


Kini kukenakan gaun tidur yang panjang. Entah mengapa aku merasa kedinginan malam ini. Mungkin imun tubuhku sedang turun karena rasa sedih melanda hati dan pikiranku. Sedih karena mendengar kabar dari pangeran bungsuku. Jika tak lama lagi dia akan meninggalkanku.


Rain meminta pendapatku tentang banyaknya negeri yang ingin menyatukan wilayah kekuasaannya di bawah naungan Angkasa. Tentu saja aku menyambut dengan suka cita kabar itu. Tapi, ternyata ada syarat dibalik semuanya. Rainku harus melatih prajurit di setiap negeri yang mana memakan waktu tidak sebentar.


Kadang aku heran dengan kisah cintaku ini. Kenapa akhirnya bisa begini? Padahal aku sudah siap menerima keduanya. Tapi ternyata, semesta hanya mengizinkanku untuk menikah dengan satu pangeran saja.


"Ara."


Kudengar Rain mengetuk pintu kamar. Sedang aku masih menggunakan pelembab di wajah sebelum tidur.


Rain ....


Sebenarnya aku malas membukakan pintu, hatiku masih sakit mengingat hal yang disampaikan olehnya. Aku sedih, kecewa dan juga terluka.


"Ara." Rain memanggilku lagi.


Buka tidak, ya?


Hatiku bimbang hanya untuk membukakan pintu. Entah mengapa pikiranku kosong, seakan tidak bisa berpikir. Aku tidak tahu harus bersikap bagaimana setelah kabar ini. Aku seperti kehilangan arah hidupku, tak tahu harus bagaimana menjalani hidup ke depannya.


Rain adalah ciuman pertamaku. Tidak hanya itu, dia juga yang pertama kalinya menyentuh dan merasakan kehangatan tubuh ini. Dia bertanggung jawab atasku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Sungguh aku tidak ingin dia pergi. Bagiku Rain seperti hujan yang menghidupkan tanah tandus. Dia memberiku warna-warni kehidupan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Tapi kini, dia akan pergi meninggalkanku.


"Sayang, buka pintunya. Aku tahu kau belum tidur."


Rain masih memintaku untuk dibukakan pintunya. Aku pun melangkahkan kaki untuk membukakan pintu. Tapi, entah mengapa tanganku ini seperti ragu untuk meraih gagang pintu.


Rain ... apakah kau tahu bagaimana perasaanku sekarang?


Perasaanku sungguh tak karuan. Aku sampai tidak bisa mengungkapkannya. Sejak selesai bicara dengannya aku hanya bisa diam dan menunduk. Sampai akhirnya seorang pelayan datang mengabarkan jika raja akan segera berangkat ke Asia. Mau tak mau aku pun ikut menemaninya mengantarkan keberangkatan raja.


"Sayang ...." Rain lagi-lagi memanggilku.


Kuputuskan untuk tidak jadi membukakan pintu. Kurebahkan saja badanku di atas kasur, berharap dia segera pergi dari depan kamar. Aku ingin sendiri malam ini, menenangkan pikiran dan hati yang sedang kacau. Dan ternyata benar, tak ada lagi suaranya kudengar beberapa saat kemudian.

__ADS_1


Masih jam tujuh malam, mana bisa aku tidur.


Kulihat jam di ponsel menunjukkan pukul tujuh malam. Aku pun tidak jadi tidur, hanya melihat-lihat galeri fotoku saja. Sampai akhirnya pertunjukan tarianku terputar ulang.


Lagu yang mengiringi tarian ini memang mempunyai arti yang dalam untukku. Entah mengapa saat mendengarkan All That I Need aku merasa terhanyut dalam setiap liriknya. Seakan sebuah permohonan dari pangeranku agar menerima cintanya. Lagu ini memang tidak ada duanya.


Kuputar berulang kali sampai akhirnya aku tertidur dalam mimpi. Aku merasa nyaman saat mendengar lagu ini. Ya, anggap saja sebagai penghibur hati di kala sedih.


Beberapa saat kemudian...


Aku terbangun dengan lagu yang masih terputar di ponselku. Kuambil ponsel lalu kulihat jam di layarnya. Dan ternyata sudah hampir pukul sepuluh malam.


Ternyata aku lelah, bisa sampai ketiduran seperti ini.


Akupun beranjak bangun. Mengambil sandal lalu menuju pintu, berniat keluar untuk mencari makanan. Perutku terasa keroncongan hingga akhirnya membuatku terbangun. Dengan segera aku pun membuka pintu untuk melangkahkan kaki menuju lantai satu kediaman Rain ini. Tapi, baru saja kubuka pintu, sebuah pemandangan membuat hatiku terenyuh.


Rain ....


Kulihat pangeranku ini tertidur di di samping pintu kamarku. Dia duduk di lantai sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding. Sontak mataku berkedut, butiran kristal bening itu pun meminta izin untuk keluar dari persembunyiannya. Ternyata Rain menungguku.


Sayang ....


Jubah kerajaannya sudah dilepas. Dan kini dia mengenakan sweter berbahan dasar wol yang berwarna krim. Dia juga mengenakan celana dasar putih panjangnya. Rainku terlihat sangat tampan dan gagah sekali. Tidak salah jika aku menyukainya.


"Rain ...."


Kupegang lembut pipinya agar dia terbangun. Akupun menelan ludah karena merasa bersalah. Tidak seharusnya aku begini. Dan tanpa kusadari air mata inipun jatuh membasahi pipi.


"Ara ...."


Tak lama dia pun menyadari kehadiranku. Wajahnya sendu sekali. Sepertinya dia telah lama menunggu. Aku jadi semakin ingin menangis melihatnya seperti ini.


"Rain kenapa tidur di sini?" tanyaku sambil memegang wajahnya dengan kedua tanganku.


"Aku menunggumu membukakan pintu, Ara," katanya lalu menyandarkan kepala di dadaku.


Rain ....


Seketika hatiku semakin terenyuh melihatnya yang seolah amat manja padaku. Seperti aku ini adalah sandaran baginya. Di depanku dia tidak malu menunjukkan sisi lemahnya. Aku merasa amat berharga di matanya.

__ADS_1


"Kau sudah makan?" tanyaku mengalihkan perhatiannya.


"Belum." Dia menggelengkan kepala.


"Kenapa belum?" tanyaku lagi sambil mengusap kepalanya yang bersandar di dadaku.


"Tidak ada yang memasak makanan untukku," katanya yang membuat bulir air mata ini tidak mampu terbendung lagi.


Rain ... kau membuatku menangis ....


Aku sudah tidak sanggup lagi menahan air mata ini. Kutumpahkan saja sambil memeluknya dengan erat.


"Ya, sudah. Kita ke bawah, ya. Aku juga lapar." Aku mengangkat wajahnya agar melihatku.


"He-em."


Dia pun mengangguk. Kulihat sinar bening matanya seolah membuat hati ini semakin terikat dan tidak ingin lepas darinya.


Aku merasa bukan lagi menjadi pacarnya, bukan juga menjadi kekasihnya. Tapi aku merasa seperti telah menjadi istrinya. Dia begitu manja padaku, tak malu menunjukkan sisi lain dari dirinya. Dan aku sangat menghargai hal itu.


Aku amat menyayanginya, dan mungkin rasa sayangku ini melebihi rasa sayang kepada diriku sendiri. Entahlah, dia memang seperti hujan yang menghidupkan negeri yang mati. Dan aku amat menyayanginya.


...


Sama seperti istana pasir.


Gadis, aku hampir saja membiarkan cinta jatuh dari tanganku.


Dan sama seperti bunga yang membutuhkan hujan.


Aku akan berdiri di sisimu melewati kegembiraan dan rasa sakit.


Kau adalah udara yang kuhirup.


Kau adalah segala yang kubutuhkan.


Kau adalah kata-kata yang kubaca.


Kau adalah cahaya yang kulihat.

__ADS_1


Dan cintamu adalah segala yang aku butuhkan...


__ADS_2