Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Don't Judge Me!


__ADS_3

Jam makan siang di istana...


Aku sedang menyantap makan siang di gazebo. Kali ini aku sendiri, hanya ditemani semilir angin sedari tadi.


"Hari ini buat kue apa, ya?"


Niatku ingin membuat kue kering lainnya sebagai cemilan para tamu yang akan datang. Tapi karena lapar, aku makan siang terlebih dahulu. Nasi, tumis capcai dan juga rendang sapi dengan bumbu yang kental.


"Eh, kue khas kerajaan ini kan kue bulan. Kenapa aku tidak membuat kue putri salju saja? Pasti banyak yang menyukainya dengan cetakan bulan sabit."


Sambil menyantap makan siang, aku terus berpikir untuk membuat kue apa hari ini. Tanpa kusadari ada yang berjalan mendekatiku.


Putri itu?


Kulihat putri bernama Andelin itu berjalan menghampiri. Dia tidak membawa sesuatu apapun untuk disantap siang ini.


Dia lagi diet, kah?


Semakin lama putri itu semakin mendekatiku. Akupun segera menghabiskan santap siangku.


"Nona Ara." Dia menyapaku dengan kedua tangan digabungkan ke bawah.


"Salam bahagia, Putri." Aku membalas sapaannya dengan sopan.


Tidak tahu apa yang akan dia katakan. Aku teguk saja air minumku ini setelah memberikannya salam.


"Nona. Aku tidak ingin berbasa-basi," lanjutnya.


"Maksud Anda?" tanyaku bingung.


"Jangan kau pikir setelah menyelamatkanku dari tamparan ayah, kau bisa berlaku seenaknya padaku."


"Hah?! Maksud Anda?!" Aku jadi semakin bingung.


"Aku ingin kau meninggalkan istana ini. Lebih tepatnya meninggalkan kedua pangeran."


"Ap-apa?!" Seketika aku terkejut mendengarnya.


"Kau tahu, Nona. Kau tidak pantas mendapatkan pangeran kerajaan ini. Kau itu hanya pekerja istana. Jangankan mendapatkan keduanya, salah satunya juga kau tidak layak." Dia berkata ketus kepadaku.


Astaga, dia ini seperti menabuhkan genderang perang denganku.


"Maaf, Putri. Anda tidak berhak memerintah saya. Anda bukan siapa-siapa di sini, terkecuali hanya seorang tamu kerajaan." Aku berdiri, berhadapan dengannya.


"Ya, aku memang tamu sekarang. Tapi aku akan segera menikah dengan calon raja istana ini."


Dia memainkan rambutnya di hadapanku. Seolah mengejek diriku ini.


Sabar, Ara. Sabar ....


Aku mencoba sabar mendengar semua ucapannya. Ucapan yang menyakitkan bagiku.


"Kau jangan serakah, Nona. Tahu dirilah kau itu siapa. Jangan ingin keduanya." Putri itu menghakimiku.

__ADS_1


"Em, maaf. Sepertinya pembicaraan ini tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Saya permisi."


Aku segera pergi meninggalkannya karena tidak ingin memperkeruh suasana. Tapi lagi-lagi putri itu menahanku. Dia mencengkram tanganku dengan kuat.


"Hei! Aku belum selesai bicara!"


Dia semakin berani. Kuku-kuku jari tangannya mulai menyakiti kulitku.


Ini keterlaluan!


"Kau mau ke mana? Kau harus mendengarkan aku dahulu." Dia menekan kuku tangannya ke tanganku.


Segera saja aku membela diri. Tanganku yang satunya menarik tangannya yang mencengkram tanganku. Kuputar tangannya ke belakang lalu kukunci tubuhnya agar tidak bisa bergerak.


Kau pikir aku tokoh utama yang menerima saja saat ditindas? Maaf kau salah orang!


"Nona, lepaskan aku. Sakit!" Dia memintaku untuk melepaskan tangannya.


"Anda sudah keterlaluan, Putri. Aku sudah bersikap baik pada Anda. Namun nyatanya, Anda tidak tahu terima kasih."


"Ara! Apa yang kau lakukan?!"


Kudengar Cloud berseru dari jauh. Dia segera berlari mendekatiku.


"Pangeran."


Melihat Cloud datang, putri ini memainkan dramanya. Dia pura-pura menangis di hadapan kami.


"Pangeran Cloud, tolong aku. Nona Ara menyakitiku." Dia memelas kepada Cloud.


Cloud memintaku untuk membuka kuncian pada tubuh putri ini. Tampaknya dia telah berhasil memainkan perannya. Aku begitu kesal, rasanya ingin sekali menampar wajahnya.


"Pangeran Cloud ...." Putri itu lalu memeluk Cloud.


"Cloud, aku—"


"Ara, kenapa kau berbuat seperti ini? Kau telah menyakitinya." Cloud membela putri itu.


"Cloud dia yang menyakitiku terlebih dahulu. Lihat ini!" Aku mencoba menunjukkan bekas kukunya yang menekan kulit tanganku.


"Pangeran, tolong aku. Aku tidak mau dia ada di sini." Putri itu berlagak manja.


Sungguh aku ingin sekali membantingnya saat ini. Anehnya Cloud seperti memihak kepadanya.


"Cloud, aku—"


"Aku tidak ingin mendengar penjelasan darimu, Ara. Aku minta jangan ganggu Putri Andelin lagi."


"Cloud?!"


"Ayo, Putri. Kita obati tanganmu."


Cloud meninggalkanku begitu saja. Dia merangkul putri itu dan membiarkanku sendirian terpaku di taman istana. Sesaat kemudian, kulihat putri itu berbalik ke arahku. Dia tersenyum licik.

__ADS_1


Ya Tuhan. Apa yang harus aku lakukan? Aku telah difitnah.


Masih tak habis pikir dengan yang terjadi. Aku bergegas kembali ke kamarku. Namun, tak lama raja memanggilku agar segera menemuinya.


Beberapa saat kemudian...


Aku duduk di hadapan raja dan juga Cloud. Aku ditanyai perihal yang baru saja terjadi di taman. Akupun berkata sejujurnya.


"Nona, aku tidak tahu akan kebenaran yang terjadi karena tidak ada saksi yang melihat kalian. Tapi, aku lebih percaya padamu dibandingkan Andelin."


Hah, syukurlah. Aku dapat sedikit bernapas lega setelah mendengar tanggapan raja tentang ceritaku.


"Cloud. Kau harus berhati-hati dengan Andelin. Jangan sampai Andelin memanfaatkanmu." Raja berkata kepada putranya.


"Baik, Yah." Cloud menjawab segera.


"Tak lama lagi para undangan akan berdatangan. Segera selesaikan tugas yang masih tertunda," pinta raja lagi.


"Baik, Yang Mulia." Aku pun menyahuti.


"Untuk sementara cukup. Kalian bisa melanjutkan aktivitas hari ini."


Raja menyudahi pertemuan singkat ini. Dia memanggilku hanya untuk menanyakan kebenaran yang terjadi. Aku merasa tidak berbuat salah, jadi aku bersikap biasa saja di hadapan raja. Tampaknya sikapku ini disadari juga oleh Cloud.


Entah mengapa aku merasa ada jarak di antara kami. Cloud tidak menegurku sedari tadi.


Apakah dia lelah?


Selepas berpamitan, aku segera keluar dari ruangan lalu berjalan menuju dapur istana. Cloud masih diam dan tidak menegurku sama sekali.


Biarlah. Mungkin ini ujian bagiku.


Aku pun lantas meninggalkannya, kami berpisah di depan pintu masuk ruangan raja. Kulanjutkan langkah kaki ini menuju dapur istana. Aku berniat menghibur diri dengan membuat kue. Namun, sesampainya di sana...


"Nona, maafkan kami. Anda dilarang masuk ke dapur," kata salah seorang koki.


"Lho, kenapa? Apa aku membuat kesalahan?" tanyaku bingung.


"Maaf, Nona. Kami tidak bisa memberi tahu alasannya. Ada baiknya jika Nona segera meninggalkan tempat ini."


Aku tidak mengerti apa yang terjadi. Tiba-tiba saja keadaan berubah menjadi tidak nyaman seperti ini.


Apa sebenarnya yang terjadi?


Dengan lesu aku kembali ke kamarku. Mungkin lebih baik aku tidur siang saja. Merelaksasikan otak dari pikiran yang tidak menentu.


Aku tidak ingin berprasangka buruk. Biarkan Tuhan menunjukkan kebenarannya padaku. Aku pasrah menerima setiap keputusannya. Namun, saat kembali ke kamar, aku melihat kamarku sudah kosong. Tidak ada sesuatu apapun di dalam.


Astaga?!


Aku terkejut dengan apa yang kulihat. Seketika aku menjadi bingung sendiri dengan hal yang sedang terjadi.


Aku ke kediaman Rain saja.

__ADS_1


Segera kulangkahkan kaki menuju kediaman Rain. Aku ingin menanyakan perihal ini kepadanya.


__ADS_2