
Sepuluh menit kemudian...
Aku kini sudah tiba di depan istana. Tapi tidak lari lagi, melainkan berjalan santai, dan Zu pun masih menemani di sisi.
Kulihat parasnya memang begitu tampan, membuat hatiku tergoda untuk memilikinya. Namun, lagi-lagi aku harus sadar diri, aku hanyalah orang baru di kehidupannya. Apa iya dia mencintaiku sepenuh hati? Seperti cinta kedua pangeranku di Angkasa?
"Pangeran, ada apa gerangan kau ingin memanggilku dengan sebutan Ara?" tanyaku seraya berjalan bersamanya.
Zu seperti malu, dia menoleh ke arahku sesaat lalu kembali menghadapkan pandangannya ke depan. "Bukankah kau sendiri yang bilang jika terus memanggilmu dengan sebutan nona, kita tidak akan pernah bisa dekat?" Dia balik bertanya padaku.
Aku tersenyum seraya mengingatnya. Ternyata Zu masih ingat perkataanku di tepi pantai waktu itu. Seketika hatiku nyes-nyes dibuatnya.
"Ara, mungkin aku butuh waktu sebulan lagi untuk menyelesaikan serah terima jabatan ini. Kau tidak keberatan, bukan?" tanyanya padaku.
"Eh, maksud Pangeran?"
"Aku berencana setelah menguasai semua tugas-tugas ini, akan segera menggelar pesta pernikahan kita."
"APA?!!!" Aku terkejut bukan main.
"Kau tidak senang mendengar hal ini?" Zu bertanya lagi padaku.
"Pangeran, apa ini serius?" tanyaku memastikan.
"Apa kau melihat keraguan di wajahku?" Dia balik bertanya.
Astaga ... aku tidak tahu harus berkata apa. Aku benar-benar bingung menghadapi semua ini. Zu ingin secepatnya melangsungkan pernikahan, dan dia bilang satu bulan lagi?!!
"Ara?" Zu menegurku.
"Em, Pangeran. Mengapa kau ingin secepatnya menikahiku?" tanyaku serius.
Zu tertawa. "Apa jika kubilang karena takut kehilanganmu, kau tidak akan bosan mendengarnya?" Dia lagi-lagi balik bertanya.
"Tapi, Pangeran. Kau belum tahu siapa aku. Sebenarnya aku bukan—"
Belum sempat meneruskan kata-kata, aku tersentak saat melihat seekor kucing besar berlari ke arahku. Sontak saja aku ketakutan.
"Pa-pangeran!!!" Aku berniat segera kabur.
"Ara, ada apa?" Zu menahanku.
"Pangeran ada kucing besar. Kita harus lari!" Aku mencoba lari.
Zu pun menoleh ke arah yang kulihat. Dan dia melihat kucing besar itu berlari, mendekati kami.
"Pangeran, cepat lari!" kataku semakin panik.
"Ara! Jangan lari, di sini saja!" Zu malah menahanku.
__ADS_1
Aku bertambah panik saat melihat kucing itu semakin dekat. Tapi Zu terus saja menahanku agar tidak lari. Dan karena rasa panik tak tertahankan lagi, kupanjat saja tubuh tingginya untuk berlindung.
"Pangeran! Pangeran!"
Kupanjat cepat tubuhnya. Sebisa mungkin aku berlindung padanya. Kupeluk erat tubuhnya, berusaha menghindari yang sedang berlari mendekat ke arahku.
"Pangeran, tolong aku!" Aku benar-benar panik.
Zu sepertinya senang dengan sikapku. Aku yang ketakutan hanya bisa pasrah sambil terus membenamkan wajah di pundak kirinya.
"Ara, tenanglah." Dia mengusap-usap punggungku.
Aku tidak tahu apa yang dia lakukan, aku tidak berani melihatnya didekati kucing besar itu. Tak lama kemudian, aku mendengarnya bicara.
"Lion King, pergilah! Ini kekasihku, bukan orang asing!" Zu berbicara kepada kucing besar itu.
Lion King? Aku bertanya-tanya sendiri.
Aku mencoba melihat apa yang terjadi. Aku pun menoleh ke arah kucing besar itu. Dan ternyata, Zu sedang mengusap-usap kepalanya.
Astaga!
Tangan kanan Zu mengusap kepala kucing besar itu, sedang tangan kirinya memegangi tubuhku agar tidak terjatuh dari gendongannya. Seketika aku merasa seperti anak kecil saja di depannya.
"Pangeran ...."
Aku mencoba melihat wajahnya, dan Zu pun melihat wajahku. Kami saling bertatapan, dekat sekali. Hidung kami hampir bisa bersentuhan.
"Kau tidak bertanya padaku," jawabnya seraya memperhatikan wajahku ini.
"Pangeran, kau sengaja melakukannya?" tanyaku.
Dia diam, tidak menjawab apapun. Sedang tangan kanannya seperti memberi kode kepada kucing itu agar pergi. Kulihat kucing besar itupun pergi, meninggalkan kami.
"Aku sengaja melakukannya agar kau bisa seperti ini padaku. Maaf, ya." Zu menatapku dalam sekali.
Entah mengapa jantungku berdetak tak karuan. Habis panik karena takut, tiba-tiba kini berubah menjadi detakan yang berbeda. Aku merasa dekat sekali dengannya, seolah tidak mempunyai jarak lagi.
"Ara, izinkan aku menciummu."
Kedua tangannya kini memegangi kedua pahaku agar tidak jatuh dari tubuhnya. Dan perlahan kurasakan hangat napasnya itu. Zu memejamkan matanya lalu mendekatkan bibirnya ke bibirku.
Pangeran ... aku harus bagaimana?
Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan saat ini. Rasanya tubuhku melemah kala merasakan sensasi yang mulai menjalar ke seluruh sendi. Dan perlahan kurasakan tangannya itu menyusuri punggung lalu memegang tengkuk leherku ini. Seketika aku merasa seperti terserap olehnya.
Pangeran ....
Zu menarikku ke dalam ciumannya. Bibir kami akhirnya bertemu. Dia mengecupku lembut sekali. Aku bisa merasakan betapa hangat daging lembut itu saat menyentuh bibirku.
__ADS_1
"Balaslah, Sayang," pintanya sejenak, memberiku waktu untuk bernapas.
Aku seperti tidak kuasa menahan hasrat yang kini timbul karena ciumannya. Bibir lembutnya menekan-nekan lembut bibirku, meminta perlawanan. Tapi aku masih diam saja, masih menikmati setiap sentuhan bibirnya ini.
Pangeran, kau mulai nakal!
Mungkin dia kesal karena tidak ada reaksi dariku. Jari jemari kanannya mulai memegang telinga lalu mengusap-usapnya perlahan. Sontak aku geli dibuatnya. Tangan kirinya pun mulai bergeser, menyusuri pahaku, sehingga sensasi aneh itu mulai kurasakan.
Pangeran, jangan lakukan ini.
Dia menggelitik telingaku dengan jemari tangannya. Seketika tenagaku terserap olehnya, seperti hilang begitu saja.
"Mmm..."
Akhirnya kupejamkan kedua mata ini seraya membalas ciumannya. Aku pun pasrah dengan apa yang terjadi. Biarlah semua menjadi saksi atas cintanya. Kubiarkan Zu menyalurkan perasaannya padaku.
Pangeran, kini aku seperti gadis kecil yang dimanja dan tidak ingin lepas dari gendonganmu.
Sejuk angin pagi membawa kami ke suasana yang romantis sekali. Aku dan Zu seakan sudah menyatu. Bibir kami yang berpadu dengan lembut, menjadi saksi akan cinta dan hasrat yang berpacu. Aku pun membiarkan tubuh ini merasakan sensasi yang Zu berikan.
"Ara." Sesaat kemudian, dia menyudahi ciumannya.
"Pangeran?"
Kubuka perlahan kedua mataku, kulihat dia menatapku dengan lembut. Dia pun membenarkan poniku ini. Usapan lembutnya begitu memanjakanku. Hingga saat menyampirkan rambutku ke belakang telinga, aku pun mengangkat bahu karena geli. Dan ternyata, ekspresi wajahku membuatnya mencium kembali bibir ini.
Pangeran, aku lemah sekarang. Kau harus bertanggung jawab atas hatiku.
Ara akhirnya luluh dengan segala perlakuan yang Zu berikan. Dan kini gadis itu tidak berdaya untuk menolak ciumannya. Hati Ara merasa terikat dan Zu pun menyambut gembira hal ini.
Zu begitu bahagia hingga tidak menyadari di mana gerangan ia berada. Dibelainya lembut rambut panjang sang gadis, hingga ciuman itu berangsur lama tanpa terasa.
Aku milikmu, Ara ....
Zu terus mencium gadisnya sampai membuat beberapa pelayan bertabrakan karena melihat kemesraan yang terjadi. Pelayan-pelayan itu tanpa sengaja menabrak tong sampah sehingga menimbulkan suara yang gaduh. Sontak saja Ara segera melepaskan diri dari sang pangeran.
"Pangeran."
Gadis itu lekas-lekas merapikan diri, begitu pun dengan Zu. Sang pangeran tampak tersipu malu setelah menyadari apa yang telah dilakukannya. Dan tanpa menghiraukan para pelayan, Zu merangkul mesra sang gadis menuju kediamannya. Dia memegang tangan kiri Ara sambil berjalan bersama, kembali ke rumah pribadinya.
"Ja-jadi itu calon pangeran?" tanya salah satu pelayan.
"Aduh! Sakit, tahu! Cepat bangun! Aku tertimpa kalian!" Pelayan yang paling bawah kesakitan.
Seketika pelayan yang lain bangun begitu menyadari menimpa temannya. Tapi mereka masih saja menatap kepergian sang pangeran.
"Dari mana putri itu berasal, ya?" tanya pelayan yang lain.
"Hei, sudah lagi! Cepat bereskan tong sampah ini! Kalau dilihat ratu, bisa habis kita!" Pelayan lain memperingatkan.
__ADS_1
"Ba-baik."
Para pelayan itu cepat-cepat membersihkan sampah yang berserakan dan memasukkan kembali ke dalam tong sampah yang jatuh. Pagi ini tentunya akan menjadi kenangan tersendiri bagi mereka karena bisa melihat momen manis, langsung di depan mata.