
Sesampainya di kaki gunung...
Kini aku tiba di kaki gunung Fuji. Kulihat sekeliling keadaan begitu hijau dan juga asri. Para pasukan khusus pun segera berjaga mengelilingi raja. Kali-kali ada hal yang tidak diinginkan terjadi.
Dari kejauhan kulihat seorang pria tua berjalan dibantu oleh dua orang remaja, mendekat ke arah kami. Pria tua itu bisa kusebut sebagai kakek karena rambutnya yang sudah memutih. Dia juga berjalan menggunakan tongkat hitamnya.
Zu masih setia mendampingiku. Entah mengapa dia tidak mau menjauh sedikit pun. Aku kadang heran dengannya, mengapa dia bisa jadi seperti ini. Padahal awal pertemuan kami, dia sangatlah pemalu. Tapi, sekarang malah malu-maluin.
"Ara, kita ke sana."
Zu mengajak ku mendekati sebuah rumah bambu yang ada di kaki gunung ini. Yang mana Shu bersama raja sudah terlebih dahulu sampai di sana. Raja dan kakek itu pun berjabatan tangan. Dan tak lama kami ikut tiba di hadapan sang kakek.
"Tabib Fu." Zu membungkukkan badan.
"Pangeran Zu?" tanya kakek itu.
"Benar, saya adalah Zu." Zu tersenyum.
"Kau sudah besar rupanya. Dan tampan sekali." Kakek itu memuji Zu.
Seketika itu aku melirik ke arahnya. Dan ternyata dia sedang tersenyum-senyum sendiri. Tapi tetap saja pegangan tangannya ini tidak ingin dilepaskannya walau sebentar pun.
"Sepertinya Pangeran sudah mempunyai calon pendamping sekarang." Tabib itu mengarah kepadaku.
"Salam bahagia, Kek. Aku—"
"Dia calon istriku." Zu meneruskan.
Ish! Apa-apaan sih dia ini. Meneruskan kata-kata seenaknya.
"Hah, syukurlah. Semoga pernikahan kalian diberkahi Yang Maha Kuasa." Kakek itu mendoakan. "Mari masuk ke dalam istanaku."
Kakek itu mempersilakan kami masuk ke dalam rumahnya. Hatiku tersentak kala mendengar dia menyebut rumahnya ini sebagai istana. Aku jadi malu sendiri rasanya. Ternyata istana itu tidak selalu harus megah dan mewah. Kakek ini seperti memberi pukulan telak bagiku.
"Selamat datang di istanaku. Silakan duduk, Yang Mulia, Pangeran."
Kami dipersilakan duduk di atas dipan bambu yang ada di dalam rumah. Saat masuk ke dalam rumahnya, aku merasakan hawa sejuk mengitari sekeliling rumah ini. Rasanya aku ingin tidur saja.
"Pangeran, bisa minta tolong?" tanyaku apda Zu.
__ADS_1
"Apa?"
"Tolong lepaskan pegangan tanganmu," kataku seraya memasang wajah kesal.
Sontak Zu tertawa, dia sepertinya tersadar akan sikapnya ini. Dia pun segera melepaskan pegangan tangannya, tersipu malu sendiri. Sedang aku, menjadi sorotan raja, Shu dan keluarga Tabib Fu.
Aduh, sepertinya waktu pernikahanku memang sudah dekat.
Aku jadi pusing menghadapi Zu yang sekarang. Dia seperti tidak bisa berpisah denganku, inginnya menempel terus. Tidak memberi ruang gerak sama sekali. Terlebih cemburunya itu, aduh ....
"Silakan diminum."
Seorang wanita tua datang membawakan minuman kepada kami. Sontak saja aku segera meminumnya karena haus.
"Terima kasih, Nek. Kebetulan sekali aku sangat kehausan," candaku.
Seisi ruang tamu ini tertawa karena mendengar celetukanku. Tak terkecuali raja yang tampak lebih ceria dari biasanya.
"Kau gadis yang berbeda sekali, Putri. Dari mana kau berasal?" tanya kakek tua itu.
Entah mengapa tiba-tiba aku merasa kaku saat kakek itu melontarkan pertanyaan. Seolah dia mengetahui asal usulku yang sebenarnya.
"Negeri Angkasa?" tanya kakek itu lagi.
"Hem, iya. Benar," jawabku, lagi-lagi sambil tersenyum.
"Hm, tapi sepertinya parasmu jauh berbeda dengan penduduk yang ada di negeri sana, Putri. Atau mungkin—"
"Dia memang lain daripada yang lain, Tabib Fu. Maka dari itu aku ingin menikahinya." Zu menyela.
Hah, untung saja aku dibantu si pangeran nakal ini untuk menjawab pertanyaan kakek itu.
Semakin lama aku merasa semakin tersudutkan dengan pembicaraan yang sedang terjadi. Kakek itu sepertinya mengetahui dari mana asal-usulku. Sedang Zu sendiri pun tidak tahu dari mana aku berasal. Aku khawatir, sangat khawatir.
Ara takut jika asal-usulnya akan terbongkar. Ia tidak ingin banyak orang yang mengetahui siapa jati dirinya sebenarnya. Ara masih menyimpan rapat-rapat identitasnya, meski di hadapan Zu sekalipun. Namun, Tabib Fu mempunyai rasa curiga kepada gadis itu. Ia merasa jika sang gadis bukanlah penduduk asli bumi ini.
"Mari, Yang Mulia. Kita segera lakukan pengecekan kondisi tubuh Anda."
Beberapa saat kemudian, Tabib Fu meminta raja memasuki sebuah ruangan khusus yang ada di belakang rumahnya. Dan dengan ditemani oleh Shu, raja masuk ke dalam ruangan itu. Sedang Zu, masih sibuk dengan Ara. Tidak di istana, tidak di tempat mana pun. Sepertinya sang pangeran memang harus segera dinikahkan karena tidak bisa terlepas dari sang gadis.
__ADS_1
Dua jam kemudian...
Raja baru saja menjalani pemeriksaan atas penyakit yang dideritanya. Dan kini didapatkan kesimpulan sama dengan apa yang Ara sampaikan waktu itu. Shu pun membawakan pil obat yang selama ini dikonsumsi oleh raja.
"Mohon maaf, Pangeran Zu, Pangeran Shu. Ada baiknya jika raja menghentikan semua konsumsi obat dari pihak istana." Fu menerangkan.
"Apakah Anda mencurigai sesuatu, Tabib?" tanya Shu segera.
"Saya belum bisa memastikan. Tapi memang pil ini sesuai apa yang dikatakan oleh putri. Saya juga tidak mengerti mengapa dia bisa mengetahui hal ini." Fu curiga kepada Ara.
"Lalu bagaimana dengan patung guci di dalam kamar ayahku?" Zu ikut bertanya.
"Setalah mendengar semua penuturan dari Pangeran Zu, saya rasa apa yang dikatakan oleh putri memang benar adanya. Ada baiknya jika pangeran hanya mempercayainya saja. Saya rasa putri memang punya keahlian di bidang ini."
"Maksud Tabib?" tanya Zu lagi.
"Calon istri Anda bukanlah gadis biasa, Pangeran. Mungkin dia mempunyai kemampuan di luar batasan kita. Saya belum bisa memastikan hal ini. Tapi saat melihatnya, saya seperti melihat ada cahaya ungu yang menyelimuti."
"Cahaya ungu?" Shu dan Zu terperanjat kaget.
"Benar. Saat bertatapan dengannya, saya melihat cahaya itu. Dan hampir saja jantung saya berhenti berdetak karena melihatnya," tutur Fu kepada Shu dan juga Zu.
Sontak kedua pangeran berpikir cepat. Shu sendiri merasa jika Ara mempunyai sihir. Sedang Zu, memikirkan yang lain.
Dari awal aku merasa jika dia bukanlah gadis biasa, melainkan seorang dewi yang turun dari khayangan. Tapi apa itu benar? Zu bertanya sendiri.
"Tabib Fu, apakah gadis itu mempunyai semacam sihir?" Shu amat penasaran.
Seketika Fu tertawa. "Ya, dia memang mempunyai sihir. Siapapun pria yang dekat dengannya akan merasakan kenyamanan dan juga rasa ingin memiliki. Jadi berhati-hatilah padanya. Biarkan hanya Pangeran Zu saja yang merasakannya, ya." Tabib Fu malah meledek Shu.
Saat itu juga perempatan urat muncul di dahi Shu. Ia merasa terejek dengan perkataan tabib yang ada di hadapannya ini.
Argh, apa maksud kakek tua ini bilang seperti itu padaku? Aku tidak mungkin menyukainya. Shu amat yakin.
Setelah berbincang lama mengenai penyakit raja, akhirnya beberapa ramuan disiapkan oleh kedua cucu Tabib Fu. Kedua pengeran juga diminta oleh Fu untuk mengambil sendiri tanaman obat berkhasiat dari halaman belakang rumahnya, yang mana Zu mengambil jahe untuk Ara. Ia masih teringat dengan permintaan sang gadis yang belum sempat terpenuhi olehnya itu.
Sayang, sekarang aku sudah tahu yang mana jahe. Dan sekarang aku sudah mendapatkannya. Ini semua untukmu.
Zu merasa amat bahagia karena bisa mendapatkan jahe untuk gadisnya. Ia pun segera membersihkan jahe itu untuk diberikan kepada Ara. Zu amat menyayangi gadisnya.
__ADS_1