
Makan malam di Angkasa...
Aku duduk sambil menyantap hidangan makan malam bersama Rain di teras balkon lantai tiga istana. Sedari tadi aku belum melihat Cloud, mungkin dia masih sibuk dengan pekerjaannya.
Rain masih saja terus menatapku sambil menyantap hidangan makan malam dengan lahapnya. Mungkin dia kelaparan setelah mendengar pidato panjang dari sang raja. Rainku ini tampak imut jika sedang bermanja ria padaku. Bagai bayi besar yang menggemaskan.
"Ara, tambah lagi."
Dia memintaku untuk mengambilkan sup lagi, padahal mangkuk sup berada di depannya. Bisa saja sebenarnya dia mengambilnya sendiri. Tapi ini dia memintaku untuk mengambilkannya.
"Segini cukup?" tanyaku setelah menuangkan satu centong sup ke dalam piringnya.
"Cukup, Sayang. Aku amat bersemangat makan jika ditemani olehmu," katanya sambil nyengir tidak karuan.
"Ish, merayu saja." Aku pun menggerutu.
Cuaca malam ini sedikit mendung. Bintang-bintang di langit seperti bersembunyi dari penglihatanku. Awan berarak putih pun menghalangi indahnya kerlipan bintang yang jauh di sana. Angin juga terasa kencang tidak seperti biasanya, membuat lilin di meja makan kami hampir mati.
"Rain, apakah akan hujan?" tanyaku sambil menyuap mulut dengan nasi.
"Entahlah, tapi sepertinya musim semi akan segera berakhir." Rain melihat ke sekeliling.
"Aku ingin sekali melihat taman sakura, Rain," harapku.
"Kau ingin melihatnya?" tanyanya memastikan.
"Iya. Aku ingin sekali ke sana. Kapan, ya?" Aku mencoba mengajaknya.
"Sayang, saat ini kau belum bisa ke mana-mana. Kami khawatir keberadaanmu akan terendus oleh putra mahkota itu." Rain bersepakat dengan Cloud untuk menghindari Zu.
Terendus? Memangnya Zu apaan?! Dia ini, dasar!
"Hm, baiklah. Tapi lain kali kita ke sana, ya?" pintaku padanya.
"Iya." Rain mengangguk sambil tersenyum padaku.
Tak lama kudengar langkah kaki mendekat. Dan ternyata Cloud lah yang datang. Dia tampak lebih segar jika dibanding saat berada di ruang kerja sang raja.
"Cloud, makan sini." Aku mengajaknya makan bersama.
Dia lalu duduk di depanku, di samping kiri Rain. Aku pun segera mengambilkan nasi untuknya.
__ADS_1
"Kalian tidak bilang padaku jika ada di sini. Aku mencarinya sedari tadi," tukas Cloud kepadaku dan juga Rain.
"Kau tinggal mencari saja, repot!" Rain seperti memulai pertengkaran.
"Sudah makan dulu. Ini."
Kuberikan sepiring nasi kepada Cloud lalu dia menerimanya. Kuambilkan juga lauk beserta sayurnya. Cloud pun menunggu.
"Besok malam aku akan berangkat ke Aksara, Ara. Kau baik-baik di sini. Jauhi dia!" Cloud melirik ke arah Rain.
"Hei, kalau mau pergi ya pergi saja. Merepotkan sekali." Rain tidak mau kalah, padahal mulutnya masih mengunyah.
"Ara, dia ini berbahaya. Kau harus hati-hati padanya."
Cloud mendekatkan wajahnya ke arahku. Sontak membuat Rain segera meminum segelas air yang kutuangkan tadi untuknya.
"Hei, kau ini tidak ada cara lain apa untuk mendapatkan hati Ara? Harus sampai menggunakan cara licik seperti itu? Kau pikir Ara akan percaya dengan perkataanmu, hah?!" Rain seperti menahan kesalnya.
"Sudah-sudah. Kalian ini selalu saja bertengkar jika bertemu. Harusnya bisa lebih akur sekarang."
Kuteguk air minumku karena khawatir tersedak makanan. Kulihat sorot mata keduanya seperti sedang menyengat satu sama lain. Aku jadi ingin tertawa melihatnya.
"Aku merasa keberatan dengan keputusan ayah. Ini tidak adil bagiku." Cloud membela diri.
"Aku tidak minta pendapatmu," sahut Cloud.
"Aku juga tidak meminta jawabanmu!" seru Rain.
"Sudaaaaahhh!!!" Aku berteriak kepada keduanya, seketika mereka pun terdiam. "Kataku sudah, ya sudah! Kalian ini sudah besar tapi masih saja seperti anak kecil. Kalau begini terus, aku pergi!" ancamku lalu beranjak pergi.
"Ara, tunggu!" Rain beranjak dari duduknya.
"Ara, jangan pergi!" Cloud juga sama.
"Terserahlah." Aku bergegas pergi dari keduanya.
"Ini karena ulahmu, Kak!" Kudengar Rain marah kepada Cloud.
"Ini juga karena mulutmu yang sembarangan!" Cloud membalas Rain.
"Kau memang pria bodoh!" Rain semakin menjadi-jadi.
__ADS_1
"Kau juga tidak tahu diri!" Cloud balas menimpali.
Astaga ... kedua bayi besarku ini malah bertengkar di teras balkon istana. Bagaimana jika raja mendengarnya? Bisa-bisa dia berpikir aku tidak becus mengurus keduanya.
Aku tidak jadi pergi saat masih mendengar keributan di antara keduanya. Segera kubalikkan badan lalu kembali menemui mereka.
Hah ... mungkin ini risikoku.
Aku kemudian menarik Rain agar menjauh dari Cloud. Yang mana tarikanku ini ternyata membuat tubuh Rain hampir menabrak dinding. Tapi kuabaikan saja karena lebih fokus untuk memisahkan mereka.
"Belum apa-apa aku sudah merasa lelah dengan tingkah laku kalian. Kalau begini, aku tidak sanggup menjalani kehidupan bersama. Tolong jangan paksa aku untuk kembali ke duniaku." Aku berkata tegas kepada keduanya.
"Ara." Rain berusaha menyela.
"Rain, kembalilah ke kediamanmu. Beristirahatlah, hari sudah mulai larut," pintaku padanya.
"Lalu bagaimana denganmu?" tanya Rain padaku.
"Aku akan tidur di kamar kosong yang ada di sini," jawabku pada Rain. "Dan Cloud, segera selesaikan makan malammu. Aku akan menemani." Aku berusaha adil.
"Ara ...." Kudengar Rain berkata lirih.
"Sudah, ya. Jangan bertengkar lagi. Tolong hargai aku yang sebentar lagi menjadi istri. Oke?" Aku tersenyum terpaksa, bergantian kepada keduanya.
"Baiklah. Tapi antarkan aku, ya?" pinta Rain padaku.
"Tidak. Tidak bisa. Ara akan menemaniku makan malam." Cloud mencegahnya.
Oh, ya ampun ... mereka mulai lagi.
Aku tidak tahu kapan perseteruan ini akan berakhir. Baru saja kudamaikan. Eh! Sudah mulai lagi.
Ya, ya, baiklah. Terserah saja.
Aku lalu menonton keributan mereka sambil menopang wajah dengan kedua tangan. Aku seperti kehabisan akal untuk menghentikan perseteruan ini. Ya sudahlah, pasrah saja.
Baik Rain maupun Cloud tidak ada yang mau mengalah saat di depan Ara. Mereka selalu mempunyai bahan untuk bertengkar yang membuat Ara merasa kewalahan menghadapi tingkah laku mereka. Ara pun hanya bisa duduk diam sambil menonton keduanya, seperti menonton pertandingan bola pimpong yang tertuju ke mana bola melompat. Ya, ia harus siap meladeni sifat manja kedua pangerannya setelah keputusan ditetapkan raja. Mau tak mau, Ara harus bersabar menghadapinya.
Dari jauh, Sky melihat perseteruan keduanya. Ia pun tersenyum-senyum sendiri melihat watak asli kedua putranya. Yang mana hanya Ara lah yang tahu. Moon juga melihat dari jauh bagaimana kedua putranya bisa senyaman ini saat bersama Ara. Rasa bersalah pun mulai menghantui kalbu sang ratu.
Mungkin aku harus berbicara padanya esok hari. Kesalahanku terlalu besar padanya. Apakah dia mau memaafkanku?
__ADS_1
Moon bertanya sendiri dalam hati.
Sang ratu mulai menyadari kekeliruannya dan ingin segera berbicara empat mata kepada Ara. Tapi apakah mungkin bagi seorang Moon meminta maaf atas kesalahannya?