Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Keep Trying


__ADS_3

Pertengahan malam di istana Angkasa...


Cloud baru saja menyelesaikan pekerjaan hariannya, ia kembali ke istana sore tadi. Kini ia berniat melepaskan lelah dengan merebahkan diri di atas kasur. Ia lantas membuka tirai yang menutupi atap kamarnya itu. Dan terlihatlah pemandangan malam yang indah. Bulan pun masih bersinar dengan terang.


"Setiap melihat sinar bulan aku selalu teringat denganmu, Ara," katanya seraya memandangi bulan itu.


"Sedang apa kau di sana? Sekarang tidak ada lagi yang mengingatkanku untuk makan siang," ucapnya sendu.


Cloud baru pertama kali melakukan kontak fisik dengan seorang gadis, dan gadis itu adalah Ara. Ciuman pertamanya pun ia serahkan kepada gadis itu. Namun, bukan hanya sebatas itu saja. Ia juga membiarkan Ara mempermainkan hasratnya. Ia tidak dapat melawan kehendak sang gadis sekalipun itu sangat menyiksanya.


"Kau mandilah, nanti aku akan memijatmu." Ara mengantarkan Cloud masuk ke dalam kamar.


"Tak apa jika kau menunggu?" Cloud tak enak hati jika membuat gadisnya menunggu.


"Tak apa. Lagipula kau baru saja mengeluarkan semua isi perutmu. Ada baiknya jika mandi, baru sesudahnya beristirahat." Ara menganjurkan seraya tersenyum.


"Baiklah. Tunggu aku, ya."


Cloud pun segera masuk ke dalam kamar mandinya, ia berniat membersihkan diri. Sementara Ara membaca-baca buku yang ada di lemari kaca Cloud. Ia sengaja mengambil buku tata administrasi negeri. Ara pun asik membacanya hingga beberapa menit berlalu. Ia sampai tidak menyadari jika Cloud telah selesai mandi.


"Kau menyukai buku itu?" tanya Cloud sambil menghanduki rambutnya.


"Kau sudah selesai? Aku tak tahu." Ara menoleh ke arah Cloud yang berdiri di samping kanannya.


"Jika kau mau, kau bisa membacanya sampai selesai, Ara," kata Cloud lagi. Ia lantas membuka lemari pakaiannya.


"Aku tertarik mempelajarinya. Tapi, aku masih sibuk mengurusi pertunjukan busana nanti," cerita sang gadis.


"Em, baiklah. Kalau begitu sekarang bantu aku mengenakan pakaian, ya," pinta Cloud kemudian.


"Hah?!" Ara terkejut.


"Kenapa? Kau keberatan?" tanya Cloud dengan nada menggoda.


"Ih, dasar! Kau sudah besar, bisa mengenakan pakaian sendiri. Mengapa harus aku yang membantu memakaikannya?" Ara cemberut.


Melihat hal itu Cloud memperhatikan wajah sang gadis dengan saksama. Ia lantas mendekatkan wajahnya ke wajah Ara, yang sedang duduk di tepi kasur.

__ADS_1


"Sayang." Cloud menarik dagu Ara dengan telunjuk jari tangan kanannya. "Aku menginginkanmu. Permainkan aku," pintanya kemudian.


Sontak Ara menjauh dari Cloud. Ia segera beranjak dari duduknya. Ara ingin keluar dari kamar sang pangeran.


"Kau ingin lari?"


Belum sempat Ara keluar dari kamar, Cloud segera menarik gadisnya itu. Ia lantas mendekap sang gadis dari belakang.


"Ara, aku amat tidak suka dihindari. Kau takut atau malu padaku?" Cloud menukik Ara dengan kata-katanya itu.


"Cloud, lambungmu masih sakit. Beristirahatlah." Ara meminta.


"Aku tidak mau." Cloud lalu membenamkan wajahnya di pundak kanan Ara.


"Cloud, kau ini manja sekali." Ara pun membalikkan badannya menghadap Cloud.


"Kau baru tahu jika aku manja, Ara?" tanya sang pangeran dengan masih mendekap erat gadisnya.


"Ya, ya, baiklah. Aku menyerah." Ara mengibarkan bendera putih untuk pangerannya.


Cloud pun tersenyum. Ia lantas memutar badannya sambil tetap mendekap Ara. Ia kemudian menjatuhkan Ara di atas kasurnya itu. Dan sang pangeran pun kini berada di atas tubuhnya.


Malam itu menjadi malam yang berkesan bagi Cloud. Ara benar-benar memberikan kehangatannya hingga Cloud tertidur pulas di atas kasurnya sendiri.


"Hah ...."


Cloud menghela napasnya, sesaat setelah teringat kejadian itu. Ia merasa bersalah atas apa yang telah terjadi.


"Ara, terlalu banyak kenangan yang telah tercipta. Apakah mudah bagimu untuk melupakannya?" tanyanya sendiri.


Ia lantas memiringkan tubuhnya ke kiri, membayangkan jika Ara tengah ada bersamanya. Mendengarkan ceritanya, melihat senyumnya, tawanya dan juga ekspresi sang gadis saat menahan kesal. Hal itu membuat Cloud tersenyum dan bahagia sejenak.


"Dulu kau ada di sampingku. Menemaniku melewati malam yang gelap. Tapi kini ... aku tidak tahu kau sedang berada di mana." Ia tampak pilu.


"Ara, jika sempat tolong kabari aku. Setidaknya aku bisa mendapatkan malamku kembali. Bisa tidur dengan tenang tanpa harus mengkhawatirkan keadaanmu." Cloud mengusap-usap sisi kiri kasurnya.


Ia merasa jika telah memiliki Ara seutuhnya. Cloud bahkan merasa jika telah menjadi suami gadisnya itu. Ia kini amat kesepian, seolah kehilangan istrinya sendiri.

__ADS_1


"Ara ...."


Andai bisa berteriak, ia akan berteriak sekeras mungkin malam ini. Tapi, ia masih berusaha menggunakan logikanya untuk menepiskan hal itu. Namun, lagi-lagi kata hati mengalahkannya.


Di ruang kerja Sky...


Sky menerima surat pengajuan damai dari Aksara. Ia tampak membaca isi surat itu dengan hati-hati. Ditemani Menteri Luar Negerinya, ia tampak memikirkan hal ini.


"Ini sedikit aneh." Sky tampak menimbang jauh surat tersebut.


"Yang Mulia, saya rasa kita harus tetap waspada. Saya khawatir jika pihak Aksara mempunyai siasat lain untuk Angkasa." Shane menuturkan.


"Ya, aku merasa juga begitu. Undangan yang mereka kirimkan tadi pagi juga membuatku bertanya-tanya. Ada apa sebenarnya di Aksara?" Sky tampak bingung.


"Tentu ini politik kerajaan yang amat tidak terduga bagi mendiang raja Hell, Yang Mulia." Shane menimpali.


"Ya, kau benar, Tuan Shane. Raja Hell tiba-tiba dikabarkan tewas dan menyerahkan tahta kekuasaan kepada Land. Ini sangat tidak masuk akal. Terlebih Land akan menikah dengan putrinya sendiri. Bukankah Land sudah mempunyai seorang istri?" tanya Sky kepada menterinya itu.


"Benar, Yang Mulia. Tuan Land memang sudah beristri. Bahkan dikabarkan jika dia juga mempunyai beberapa simpanan. Tapi saya rasa kita harus fokus menghadapi politik kerajaannya dibanding mengaitkan dengan urusan pribadi." Shane memberi masukannya.


"Ya, baiklah." Sky akhirnya menutup pembicaraan mengenai Aksara. "Lalu apakah ada informasi mengenai gadis itu?" Sky kembali bertanya.


"Untuk sampai ini pasukan khusus baru tiba di perbatasan negeri, Yang Mulia. Mereka akan menyisir kawasan itu terlebih dahulu. Jika nona Ara belum juga ditemukan, kemungkinan mereka akan menyeberangi lautan untuk mencarinya."


"Menurutmu ke mana dia pergi jika dilihat dari situasi ini?" Sky bertanya lagi kepada menterinya.


"Saya rasa nona Ara berada di suatu tempat yang tidak diketahui banyak orang. Tapi jika melihat dari waktu, bisa saja dia berada di perbatasan atau di sekitarannya." Shane menuturkan.


"Aku harap masalah ini cepat selesai. Aku tidak ingin kedua putraku bermuram wajah setiap hari karena merasa kehilangan," tutur Sky kembali.


"Saya juga berharap begitu, Yang Mulia."


Sky menggerakkan hampir dari seluruh pasukan khususnya untuk mencari Ara ke luar istana. Bahkan kini para pasukan khusus itu sudah tiba di perbatasan negeri. Mereka akan menyisir daerah perbatasan untuk mencari sang gadis.


Sky amat menyayangi kedua putranya. Ia tidak bisa diam begitu saja saat melihat kedua putranya kehilangan semangat hidup. Ia masih berusaha semaksimal mungkin untuk menemukan keberadaan Ara lalu membawanya kembali ke istana.


Nona, harusnya hari ini kau memilih salah satu dari putraku. Tapi, kau hilang begitu saja dari istana. Apakah istriku yang mengusirmu? Sky bertanya sendiri.

__ADS_1


Kecurigaan itu masih menyelimuti hati sang raja, namun ia tidak ingin salah melangkah. Ia tahu bagaimana sifat asli istrinya itu. Terlebih istrinya adalah putri satu-satunya mendiang raja. Kesalahpahaman bisa saja terjadi karena salah tanggap Moon, sehingga Sky berusaha menjaga semua itu.


__ADS_2