
Di ruang Menteri Pertahanan, Dave...
"Tujuanku ke sini ingin menanyakan pendapatmu tentang gadis yang dicintai kedua putraku." Moon duduk di sofa tamu ruangan Dave.
"Maksud Yang Mulia, nona Ara?" tanya Dave memastikan.
"Ya. Anda telah lama berkecimpung di dunia permiliteran. Pastinya Tuan Dave bisa membaca bahasa tubuhnya selama berada di istana," lanjut Moon ingin kepastian.
Dave berpikir sejenak.
"Aku hanya khawatir kedua putraku tidak dapat terlayani dengan baik sepeninggalanku. Aku tidak mungkin membiarkan mereka kerepotan sendiri." Moon menjelaskan kecemasan yang melanda hatinya.
Dave pun mengerti arah pembicaraan ini. Ia lalu mengemukakan pendapatnya tentang Ara kepada Moon.
"Mohon maaf, Yang Mulia. Selama ini saya melihat nona Ara adalah sosok gadis yang penuh dengan aura keibuan. Mungkin karena hal itu pangeran Rain begitu tertarik kepadanya," tutur Dave sopan.
"Maksud Tuan Dave?" Moon meminta penjelasan yang lebih rinci.
"Saya tidak banyak berinteraksi dengan nona Ara. Tapi saya rasa nona Ara memiliki jiwa keibuan yang begitu besar, sehingga membuat pangeran Rain merasa sangat nyaman saat bersamanya." Dave memulai penjelasannya.
"Dulu saya sempat mendapati nona menegur pangeran Rain, namun pangeran Rain mengabaikannya. Dan saya juga pernah melihat nona Ara keluar dari kediaman pangeran Rain sambil menangis. Namun, sejauh ini hubungan keduanya masih baik-baik saja." Dave menuturkan.
"Jadi hal itu yang membuatmu yakin mengapa putraku sampai tertarik padanya?" tanya Moon lagi.
"Benar, Yang Mulia. Pria lebih menyukai sosok wanita yang keibuan dibanding dengan yang kekanak-kanakan. Karena pria akan merasa jika wanita tersebut pantas untuk menjadi seorang ibu dari calon anak-anaknya kelak. Dan saya rasa pangeran Rain sependapat dengan hal ini." Dave kembali menuturkan.
"Lalu bagaimana dengan Cloud?" tanya Moon lagi.
"Mohon maaf, Yang Mulia. Sejauh ini saya kurang banyak berinteraksi dengan pangeran Cloud. Kami hanya sekedar membicarakan urusan pekerjaan. Selebihnya saya lebih banyak berinteraksi dengan pangeran Rain. Mungkin Yang Mulia bisa menanyakan tentang pangeran Cloud kepada Menteri Count. Dia lebih banyak berinteraksi dengan pangeran." Dave menjelaskan.
"Ya, baiklah. Tadi aku juga sudah ke ruangannya, tapi dia tidak ada." Moon beranjak berdiri.
"Menteri Count sedang menggantikan pangeran Cloud di ruang kerjanya, Yang Mulia." Dave memberi tahu Moon.
"Dia di ruangan Cloud?" tanya Moon lagi.
"Benar, Yang Mulia. Pangeran Cloud sedang izin keluar sehingga Menteri Count yang menggantikannya sementara waktu," tutur Dave kembali.
__ADS_1
"Astaga. Cloud berani keluar istana di jam-jam kerja seperti ini?" Moon tampak kesal.
"Mohon maaf, Yang Mulia. Hari ini kami belum sepenuhnya beraktivitas. Hanya mempersiapkan saja. Jadi belum terlalu amat padat seperti biasanya," bela Dave, tidak ingin Moon menyalahkan Cloud.
"Oh, baiklah. Kalau begitu aku akan menemui Count. Terima kasih, Tuan Dave." Moon beranjak pergi.
"Kembali, Yang Mulia." Dave membungkukkan badannya ke arah Moon.
Sang ratu akhirnya melangkahkan kaki menuju ruang kerja putra sulungnya, Cloud. Ia ingin menanyakan perihal putranya kepada Count. Bersama pengawal pribadinya, ia menyusuri koridor lantai dua istana, menuju ruang kerja Cloud.
Sementara itu...
Ara dan Cloud telah memulai perjalanan ke dua mereka menuju air terjun negeri ini. Tempat di mana sang pangeran pertama kali berlutut di hadapan gadisnya. Cloud ingin membuat Ara mengenang kembali perjalanan cinta mereka.
"Cuaca kembali terik, Cloud."
Ara melihat pemandangan dari balik kaca jendela kereta kuda. Ia duduk di sisi kanan Cloud yang sedari tadi memperhatikannya. Sang pangeran tampak malu-malu meraih tangan sang gadis. Entah mengapa getaran di hatinya amat berbeda sekali hari ini.
"Cloud, lihatlah! Ada rusa!"
"Mana Ara?" tanya Cloud yang mendekatkan dirinya, wajah sang pangeran amat dekat dengan wajah Ara.
"Ya, sudah lewat." Ara menyesal. "Kau sih ... lama." Ara menoleh ke arah Cloud dan ia mendapati wajah sang pangeran yang dekat sekali dengan wajahnya. "Cloud ...." Seketika itu jantung Ara berdetak dengan keras.
"Ara ...."
Mereka saling bertatapan, menikmati keindahan paras masing-masing. Dan tanpa sadar wajah Cloud semakin mendekat ke wajah ke Ara.
Hatiku ....
Detak jantung keduanya berpacu cepat kala wajah mereka semakin berdekatan. Hangat napas terasa di permukaan kulit keduanya. Cloud pun menggenggam kedua tangan Ara dengan lembut. Ia menyandarkan sang gadis ke sisi jendela kereta kuda.
"Cloud ...."
Semakin lama wajah sang pangeran semakin mendekat, membuat Ara bingung harus berbuat apa. Ia seperti kehilangan cara untuk berpikir. Tiba-tiba saja pikirannya itu menjadi kosong.
"Mmmhh..."
__ADS_1
Sebuah kecupan akhirnya mendarat di bibir sang gadis yang terpoles lipstik berwarna pink. Sang pangeran menekan ciumannya agar mendapatkan balasan. Namun, gadisnya tampak diam saja.
"Ara ...." Cloud lalu menjauhkan bibirnya dari bibir Ara.
"Cloud ...." Ara pun membuka matanya yang terpejam.
"Ara, kenapa diam saja? Kau tidak ingin membalas ciumanku?" tanya Cloud dengan suara sedikit serak.
"Cloud, aku ...." Ara bingung.
"Kau masih ingin menjaga jarak denganku?" tanyanya lagi sambil memperhatikan kedua bola mata Ara.
"Cloud, aku merasa sedikit aneh. Sudah lama sekali kita tidak berciuman. Dan aku merasa ini pertama kalinya." Ara menjawabnya dengan malu.
Sontak sang pangeran tersenyum sendiri. "Jadi semuanya mengulang dari awal?" tanya Cloud yang kembali menatap gadisnya.
Ara mengangguk.
"Baiklah. Tak apa. Mari kita mulai semuanya dari awal, Ara." Cloud menyetujui pikiran gadisnya.
"Tap-tapi." Ara ingin menolak.
"Tenang, ini hanya anggapan saja. Nyatanya kita telah melewati hari-hari bersama dalam waktu yang lama. Kau tak akan pernah tergantikan, Ara." Cloud meraih tangan kiri sang gadis lalu menciumnya.
"Cloud ...." Seketika wajah Ara merona dibuatnya.
Sang pangeran lalu menarik Ara ke dalam pelukannya. Ia merebahkan kepala sang gadis ke dadanya yang bidang. Cloud ingin Ara merasakan detak jantungnya yang berpacu cepat saat menikmati kebersamaan ini. Sang gadis pun melingkarkan kedua tangannya di pinggang Cloud. Ia merasa nyaman dengan sikap sang pangeran yang pengertian. Dan akhirnya, perjalanan menuju air terjun ini pun diteruskan.
Ara ... andai waktu luangku banyak, pastinya aku dapat mengalahkan kedudukannya di hatimu. Tapi nyatanya, aku selalu saja didahului olehnya.
Cloud meratapi nasibnya.
Ara ... walaupun begitu aku sangat bahagia karena bisa bersamamu. Hari ini sengaja aku membuatmu mengingat semua perjalanan cinta kita, agar kau menyadari jika aku pernah bertahta di hatimu. Jauh sebelum kedatangan dirinya.
Ara ... hanya kaulah yang aku butuhkan. Kembalilah ke pelukanku, sekarang dan selamanya...
Cuaca cerah hari ini membuat keduanya bersemangat untuk melanjutkan perjalanan ke air terjun. Sebelum sampai ke sana, Cloud mampir sebentar ke sebuah toko pakaian untuk membeli perlengkapan berenang hari ini. Ya, Cloud ingin berenang bersama Ara di air terjun yang dikhususkan hanya untuk keluarga utama kerajaan. Ia ingin bernostalgia bersama gadisnya di sana. Dan siang ini menjadi saksi atas cinta yang kembali bersemi.
__ADS_1