
Kembali ke Angkasa...
Rain kini sedang bersiap untuk pergi ke Asia. Ia tampak menggunakan atribut perangnya. Ia berniat akan berangkat pagi ini juga. Sang sepupu, Star tampak membujuk Rain agar tidak gegabah dalam bertindak.
"Rain, kau ingin berangkat ke sana?" tanya Star yang pagi-pagi sudah datang ke kediaman Rain.
"Ya, aku akan menjemputnya."
"Rain, kau gila?! Ibumu sedang sakit dan kau ingin pergi jauh? Kau pikir dekat jarak Angkasa - Asia?" Star tak percaya.
Rain terdiam. Dia berbalik menghadap ke arah sepupunya. "Aku merasa Ara sedang membutuhkan pertolonganku, Star."
"Tap-tapi—"
"Aku akan mencari cara lain, kau tenang saja," kata Rain lagi.
Rain ingin segera menemui gadisnya. Ia merasa khawatir jika terus membiarkan Ara berada di sana. Rain takut sesuatu terjadi kepada gadisnya itu.
Ara, aku akan menjemputmu. Tunggulah aku.
Rain bergegas menemui prajuritnya di belakang istana. Ia segera menyusun siasat untuk membawa Ara kembali ke Angkasa. Ia membutuhkan Ara, sebagaimana bunga membutuhkan hujan.
Sementara itu...
Ara kini sudah sampai di sebuah bukit yang jaraknya tidak terlalu jauh dari istana Asia. Ia kemudian mendaki bukit itu dengan sisa-sisa tenaganya.
Aku tidak boleh menyerah. Aku pasti bisa menemukan jalan keluar.
Ia merasa takut menghadapi sikap Zu yang begitu agresif. Tidak menyangka jika Zu akan senekat ini padanya.
Maafkan aku, pangeran. Aku tidak bisa jika dipaksa. Tadinya aku memang mulai menyayangimu, tapi sikapmu itu membuatku takut.
Dengan masih mengenakan gaun tidurnya, Ara mendaki bukit yang lumayan tinggi. Dan sesampainya di atas bukit, ia melihat pemandangan yang mengejutkan.
"I-ini ...?!!"
Ia melihat sebuah pohon raksasa di hadapannya. Seketika itu juga ia teringat akan sesuatu.
Bukankah ini pohon yang kulihat dulu?
Ia kemudian melihat ke sekeliling. Dan terlihatlah hamparan hijau yang begitu luas sejauh mata memandang. Ara merasa dejavu dengan keadaan ini.
__ADS_1
"Apa maksud semua ini?"
Ia perhatikan lebih saksama pohon besar itu. Dan ia dapati jenis pohon apa yang ada di hadapannya ini.
"Persik?"
Ia lalu lebih mendekat ke arah pohon itu, hingga akhirnya sampai di akar pohon yang besar. Ia terperangah melihat apa yang ada di hadapannya ini. Ara merasa tak percaya akan menemukannya sendiri.
"Mungkin aku coba memanjatnya saja."
Gadis itu tidak merasa takut untuk memanjat pohon besar yang ada di hadapannya. Ia sampai lupa jika dirinya takut ketinggian. Karena melihat buah persik yang banyak, Ara tergiur untuk mencicipi buah itu. Terlebih ia lelah sehabis berlari karena menghindari Zu.
"Pohon persik, aku minta buahmu, ya."
Ia meminta izin sebelum memetik satu buah persik. Dan entah mengapa, Ara amat mudah mendapatkan buahnya. Ia pun segera memakan buah itu sambil duduk di atas pohon.
"Astaga, harum sekali."
Satu, dua, tiga gigitan membekas di buah itu. Hingga akhirnya satu buah persik pun habis dilahapnya. Ternyata Ara kehausan dan juga lapar.
"Aduh, aku tidak tahu jalan pulang ke istana. Bagaimana ini?" Tiba-tiba ia teringat jika tidak mengetahui jalan kembali ke istana Asia.
"Tapi mungkin lebih baik jika aku di sini dulu. Lagipula batangnya cukup besar dan rimbun, bisa untukku tidur." Ara mulai merebahkan diri di atas batang-batang persik yang rimbun.
Di istana Asia...
Zu pergi ke istana, berniat mencari Ara di sana. Ia pun masih mengenakan piyama ungunya. Tidak lagi peduli pada dirinya calon raja atau bukan. Ia merasa panik saat tidak menemukan Ara di taman belakang kediamannya.
"Lapor, Pangeran! Putri tidak berada di kawasan istana." Salah satu prajuritnya melapor.
"Apa?! Kalian sudah mencari yang benar?!" tanya Zu segera.
"Sudah, Pangeran. Kami sudah mencari ke sekeliling istana. Tapi putri tetap tidak ditemukan." Prajurit itu melaporkan.
"Astaga ...." Zu mengusap kepalanya sendiri.
Ara, mengapa begini? Mengapa kau sampai lari dariku hanya karena ini? Kenapa kau begitu mahal? Tidak bisakah kubeli dengan hatiku?
Zu merasa cemas saat tidak menemukan Ara. Ia lalu meminta dipanggilkan dua puluh pasukan khusus istana. Dan tak lama, para pasukan khusus itu datang menemui Zu.
"Cepat cari ratuku! Pastikan tidak ada sedikitpun luka pada tubuhnya! Cepat!!" Zu memberi titahnya.
__ADS_1
"Baik, Pangeran!"
Dua puluh pasukan itupun segera berpencar mencari keberadaan sang gadis. Mereka membuat formasi lalu berbagi tugas. Zu akhirnya memutuskan kembali ke kediamannya. Ia berniat membersihkan diri dari rasa lelah yang melanda.
Satu jam kemudian...
Kini sang pangeran sudah berada di ruang kerjanya. Ia telah bersiap untuk bekerja. Banyak dokumen terlihat menumpuk di atas meja kerjanya, tapi sang pangeran masih berdiri di depan jendela seraya menunggu kabar.
Sepertinya aku telah membuatnya ketakutan.
Tak lama sang adik datang mengetuk pintu. Zu pun mempersilakan masuk sambil terus menatap halaman istana dari balik kaca jendela ruangannya.
"Kakak, ada apa? Mengapa aku mendengar keributan tadi pagi?" Shu bertanya kepada kakaknya.
"Ara hilang." Zu menjawab singkat.
"Hilang?"
"Ya, dia hilang karena ulahku. Dan kini belum ditemukan."
"Apa?!" Shu terkejut. "Kau sudah mencarinya?" Tiba-tiba rasa bersalah menghantui Shu.
"Ya, sudah." Zu berbalik menghadap adiknya. "Tapi tetap tidak ada," kata Zu lagi.
Shu merasa bersalah saat mendengar Ara pergi. Terlebih sebelum ini dia telah membicarakan sesuatu hal kepada gadis itu.
Apa karena perkataanku dia pergi?
Shu duduk di sofa lalu berpikir, mencari cara agar bisa menemukan Ara. Ia merasa bersalah, sangat bersalah jika karenanya sang gadis pergi dari istana.
"Hah ... aku jadi tidak konsentrasi menyelesaikan semua pekerjaan ini. Rasanya ingin menyerah saja." Zu menyandarkan tubuhnya di kursi.
"Kakak, kau tidak boleh seperti ini. Aku yakin dia akan ditemukan. Percayalah." Shu berusaha menenangkan hati kakaknya.
"Kau tahu, Shu. Dia begitu berarti untukku. Namun, karena ulahku sendiri dia pergi." Zu menyesal.
"Sudahlah. Ada baiknya jika kau tetap menyelesaikan pekerjaanmu sambil menunggu kabar. Jangan putus asa. Pasukan khusus pasti akan menemukannya. Lagipula dia tidak tahu jalan, tentu keberadaannya tidak jauh dari istana ini." Shu menyemangati.
"Ya, kau benar. Semoga saja." Zu mulai duduk seperti biasa.
Zu menyesal karena telah membuat gadisnya ketakutan. Ia tidak menyangka jika Ara akan seperti ini, meninggalkannya begitu saja. Dan hal itu amat membuatnya panik. Ia khawatir jika akan kehilangan udara kehidupannya.
__ADS_1
Cepatlah kembali, Ara. Aku tidak mampu bila tanpamu.
Sementara itu sang gadis terjaga dari tidurnya. Ia mendengar suara burung yang memutar-mutar di atas pohon. Ara lalu melihat apa yang terjadi, berdiri di atas pohon sambil melihat burung itu. Sesaat kemudian, ia menyadari sesuatu.