Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Honey, I am Sorry.


__ADS_3

Awal petang di Angkasa...


Ara baru saja menemani Rain mengabsen pergantian prajurit jaga istana. Kini ia duduk bersama Rain di teras belakang kediaman sang pangeran. Rain pun tampak menarik Ara agar lebih dekat dengannya. Sang pangeran merebahkan kepala Ara di dadanya. Ia ingin Ara mendengar alunan merdu detak jantungnya.


"Sayang."


"Hm?"


"Maaf dari semalam aku sibuk. Kau tidak marah, kan?" Sang pangeran tidak enak hati.


"Tak apa, Rain. Aku mengerti. Lagipula tugas kerajaan tidak bisa ditunda, kan?" Ara melihat wajah pangerannya.


"Ya, kau benar. Aku diminta oleh ayah untuk menimbang dokumen yang diajukan beberapa negeri," kata Rain lagi.


Semilir angin sore ini membelai rambut Ara yang dibiarkan tergerai. Sang pangeran pun mengusap lembut rambut gadisnya agar tidak terkena mata.


"Apakah ada kabar baik berkenaan dengan hal ini?" tanya Ara lagi.


Rain menghela napasnya.


"Rain?" Ara mendongakkan wajahnya, melihat Rain.


"Ara, peperangan kemarin membuat negeri sekutu Aksara berada di bawah pengawasan Angkasa. Dan ayah memintaku untuk mengawasi kelima negeri itu."


"Lalu?" tanya Ara lagi.


"Mereka mengajukan perjanjian damai tapi kutolak. Bagaimanapun mereka ikut andil dalam peperangan kemarin. Dan aku tidak bisa diam saja akan hal itu," tutur Rain lagi.


"Apakah ada masalah setelah perang ini selesai?" Ara beranjak duduk tegak di samping pangerannya, ia serius menanggapi.


"Masalah tidak ada. Hanya saja kemenangan Angkasa membuat banyak negeri mengajukan penggabungan wilayahnya."


"Lho, bukannya itu bagus, Sayang." Ara senang mendengar kabar ini.


"Ara ...." Rain memutar tubuhnya menghadap Ara.


"Kenapa, Rain?" Ara bingung melihat wajah Rain berubah sendu.

__ADS_1


"Sayang, mereka memintaku untuk melatih pasukannya. Dan hal itu tidaklah sebentar." Rain memegang kedua tangan Ara.


"Maksudmu?" Ara mulai curiga.


"Aku akan pergi mengembara ke sepuluh negeri terdekat Angkasa. Dan aku tidak akan bisa kembali cepat ke istana." Rain menjelaskan.


"Jadi?!" Seketika Ara merasa sedih.


"Sayang, aku mencintaimu. Benar-benar mencintaimu. Tapi aku mendapat misi demi memajukan negeri ini. Dan kesempatan belum tentu datang dua kali. Menurutmu, apakah aku harus mengambil misi ini atau tidak?" tanyanya kepada Ara.


"Rain ... aku ...." Dada Ara tiba-tiba merasa sesak.


"Ini juga demi kebaikan kita nantinya. Aku tidak bisa diam jika Asia benar-benar menyerang Angkasa. Kekuatan militer kita masih di bawah mereka. Angkasa membutuhkan banyak prajurit untuk mengimbangi kekuatan militer Asia. Dan inilah satu-satunya kesempatan terbaik untuk kita." Rain menjelaskan.


"Berarti ...." Ara berubah sendu, ia menunduk sedih.


"Sayang, aku tahu ini berat. Tapi kita tidak mempunyai jalan lain," terang Rain.


"Kalau begitu aku akan ikut denganmu." Ara tak berpikir lagi, ia meminta ikut.


"Maksudmu?"


"Menikahlah dengannya." Rain meminta.


"Apa?!!"


Seketika sang gadis pun terkejut saat mendengar perkataan pangerannya. Ia tidak menyangka jika Rain sendiri yang akan memintanya untuk menikah dengan Cloud.


"Sayang, aku akan lama mengembara keliling banyak negeri. Jika satu negeri bisa kuselesaikan dalam waktu tiga bulan, itu berarti membutuhkan dua setengah tahun untuk menungguku. Dan aku tidak ingin membuatmu menunggu." Rain mencoba menerangkan kepada gadisnya.


Ara beranjak berdiri. Rasa pusing tiba-tiba menerjangnya.


"Ara ...."


"Rain, ini berarti kau akan pergi meninggalkanku." Kedua mata Ara berkedut, menandakan jika butiran kristal bening ingin keluar dari persembunyiannya.


"Sayang, aku tetap milikmu walau ragaku mengembara jauh. Percayalah padaku." Rain memelas, ia ikut berdiri.

__ADS_1


"Rain, entah kenapa aku sakit mendengarnya." Ara pun mulai menangis.


"Sayang." Rain segera mendekati Ara, ia peluk gadisnya. "Aku pasti kembali. Tapi untuk sementara, menikahlah dengannya. Dia akan menjagamu selama aku pergi. Aku yakin dia mampu." Rain meyakinkan.


Rain ....


Betapa sedih hati Ara mendengar kabar ini. Sebuah kabar yang tidak diinginkan olehnya. Ternyata kesibukan Rain semalam menjadi sebuah pertanda baginya. Ia akan ditinggalkan sang pangeran untuk pergi bertugas demi negerinya. Ara pun hanya bisa menangis di pelukan Rain.


Jadi ini akhir ceritanya?


Ia tidak menyangka jika akan berpisah dengan Rain. Hatinya sedih sekali. Ingin rasanya ia ikut pergi, tapi Rain sendiri tidak mengizinkannya. Petang ini membuat sang gadis kehilangan gairah kehidupannya. Bulir air mata itu pun terus berjatuhan, membasahi pipinya.


Satu jam kemudian...


Ara menemani Rain mengantarkan keberangkatan raja menuju Asia. Kereta kuda berukuran besar telah menunggu, bersama seratus pasukan khusus yang akan menemani perjalanan raja menuju Asia. Sang raja akan membicarakan perihal ancaman Zu kepada ayahnya sendiri. Sky tidak ingin salah bertindak sehingga ia turun tangan langsung menghadapi masalah ini.


"Aku titip kedua putraku padamu, Nona. Tolong jaga mereka." Sang raja berpesan kepada Ara.


"Baik, Yang Mulia." Ara pun mengiyakan seraya tersenyum, walau hatinya kini diliputi kesedihan.


Ara sedih bukan karena keberangkatan raja ke Asia. Tapi ia sedih karena mendapat kabar dari Rain, tentang hal yang harus pangerannya lakukan demi masa depan negeri ini. Yang mana membuat Ara harus ditinggalkan dalam waktu yang tidak sebentar.


Rain menaksir dua setengah tahun mengembara ke banyak negeri. Namun, itu hanya sebatas taksirannya saja. Karena kenyataan tidak akan semulus taksirannya. Maka dari itu ia meminta agar Ara menikah dengan kakaknya.


Rain percaya sang kakak bisa menjaga Ara selama kepergiannya. Karena hanya Cloud lah yang bisa dipercaya olehnya. Walaupun dengan berat hati, Rain harus merelakannya demi negeri tercinta. Ia tidak ingin penduduk negeri menjadi korban akan kisah cintanya.


"Ayah berangkat, Rain. Jaga ibumu dan seluruh penghuni istana. Jika Cloud pulang terlebih dahulu, katakan padanya agar menyiapkan bahan laporan Aksara. Sesampai di istana, ayah akan segera mengeceknya." Sky berpesan kepada putranya.


"Baik, Yah." Rain pun mengiyakan.


Sky pun berpamitan kepada Moon. Sementara Rain menoleh ke Ara yang berdiri tertunduk di sisinya. Ia menyadari jika perubahan sikap sang gadis karena mendengar kabar kepergiannya. Tapi, ia juga mau tak mau harus memberi tahu Ara agar tidak salah paham mengartikannya. Rain takut Ara berpikiran jika ia melepas tanggung jawabnya dari sang gadis.


Ara, maafkan aku. Ini semua demi kebaikan kita nantinya. Dan juga negeri ini.


Pelan-pelan sang pangeran memegang tangan gadisnya. Halaman depan istana ini menjadi saksi akan kesedihannya. Ara pun menoleh ke arah Rain, sedang Rain tetap menatap lurus ke depan, melihat ayahnya berpamitan.


Awal malam ini menjadi saksi keberangkatan raja menuju Asia. Ia berangkat bersama Shane, Menteri Luar Negerinya dan seratus pasukan khusus istana. Sang raja Angkasa membawa banyak hadiah untuk raja Asia di sana.

__ADS_1


__ADS_2