Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Finally


__ADS_3

"Ma-maaf, Yang Mulia. Saya belum dapat menjawabnya," kataku jujur.


"Nona, jikalau aku boleh mengetahui, mana yang lebih dicintai olehmu, Cloud atau Rain?" tanya raja blak-blakan kepadaku.


Mendengar pertanyaan itu membuatku frustrasi. Mana bisa aku memilih salah satunya? Keduanya begitu sayang padaku, dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Aku merasa baik Rain maupun Cloud dapat melengkapi kekurangan yang ada pada diriku ini.


"Maafkan saya, Yang Mulia. Saya belum dapat menentukannya saat ini," jawabku jujur seraya menundukkan kepala.


"Apakah Nona mencintai keduanya?"


Raja seperti mencecarku dengan pertanyaannya. Aku merasa tidak dapat berkutik. Gerak sana dan sini pun salah. Aku takut salah ucap kepadanya.


Aduh ... gimana ini?!


"Aku berharap salah satu darinya. Namun, jika hal itu tidak mungkin ... aku merelakan kedua putraku."


"Ma-maksud, Yang Mulia?" tanyaku yang bingung.


"Aku merestui kedua putraku untuk menikah denganmu."


Ap-apa?! Paduka raja merestui kami bertiga? Astaga! Apa aku tidak salah dengar?!


"Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang bisa membuat negeri ini terbelah menjadi dua. Aku ingin kedua putraku terus berdamai sehingga pihak luar tetap menyegani Angkasa. Terlebih saat ini konflik berkepanjangan sedang terjadi."


Raja seperti menceritakan hal yang diluar ranahku. Tersirat dari raut wajahnya yang mulai menaruh kepercayaan padaku.


"Jadi aku akan memberikan tugas untukmu," lanjutnya.


"Maaf, Yang Mulia?"


"Tugas ini kuberikan hanya kepadamu, Nona. Aku harap kau dapat melaksanakannya dengan baik."


"Tugas apa yang dimaksud, Yang Mulia?" tanyaku penasaran.


"Tugasmu sekarang adalah ... bahagiakan kedua putraku. Bersikaplah adil untuk keduanya."


"Ma-maaf?"


Aku tak percaya dengan yang kudengar. Aku mempunyai tugas yang tidak berkaitan sama sekali dengan pekerjaanku di istana.


"Jaga kedua putraku. Bisa, kan?" tanyanya lagi.


Kutarik napas dalam-dalam, sesaat setelah mendengar tugas yang diberikan raja kepadaku. Aku merasa heran dengan kejadian ini.


"Aku harap kau dapat menjaga diri dari selain kedua putraku. Aku tahu benar bagaimana keduanya. Besar harapanku jika kau dapat mengemban tugas ini."


"Yang Mulia—"


"Kau bebas melakukan apa saja. Namun, harus diingat jika di atasmu masih ada ratu, ibu dari kedua putraku. Dan mulai sekarang, pakailah ini."


Raja kemudian memberikanku sesuatu. Sebuah kotak hitam persegi yang entah apa isinya.


"Bukalah," pintanya.

__ADS_1


Aku kemudian membuka kotak hitam itu. Dan kutemui seperti bando bermahkota kecil.


"Gunakan selalu di manapun kau berada," lanjut sang raja.


Aku lalu mengenakan tiara itu. Rasanya seperti mendapat mahkota sungguhan saja.


"Aku tidak menerima penolakan. Laksanakanlah tugasmu sebaik mungkin. Untuk imbalannya, kau tidak perlu meragukannya lagi."


Aku tidak tahu harus berkata apa. Hatiku begitu senang mendengar kabar ini. Raja sendiri mengizinkanku dengan kedua putranya. Hatiku girang bukan main. Seolah beban besar itu terlepas dari pundakku.


"Yang Mulia, maafkan saya jika—"


"Tidak ada yang perlu dimaafkan. Semuanya sudah tertulis. Aku memang berharap salah satu dari keduanya. Tapi jika itu buruk, aku tidak mempunyai pilihan lain."


Aku mengerti maksud raja. Dia tidak ingin terjadi keributan di antara kedua putranya itu, karena dapat memberi cela kepada pihak luar untuk menghancurkan negeri ini. Akupun menerima tugas yang diberikan olehnya.


"Baik, Yang Mulia. Semampu mungkin saya akan melaksanakannya."


Kini sebuah tugas baru kujalani. Tugas yang membuat hatiku gembira sekaligus menjadi tanggung jawab besar bagiku. Membahagiakan kedua putra mahkota.


Aku tidak tahu bagaimana akhir dari cerita ini. Apakah nanti aku benar akan menikah dengan keduanya atau salah satunya akan mengalah. Kunikmati saja perjalananku.


Beberapa saat kemudian...


Setelah berbincang panjang dengan raja, aku kemudian bergegas kembali ke kamar. Rencananya aku akan menyelesaikan sisa rancangan kebayaku ini.


Sepanjang perjalanan, para pelayan membungkuk hormat. Mungkin karena tiara yang ada di kepalaku ini. Akupun membalas sapaan mereka dengan tersenyum sambil terus melangkahkan kaki menuju kamar.


Setibanya di kamar, kulihat banyak bunga-bunga tersusun rapi di dalam kamarku. Ada bunga mawar, matahari, anggrek dan bunga-bunga lainnya. Aku begitu senang melihatnya. Semua bunga itu tersusun di dalam pot yang diletakkan di setiap sudut ruanganku.


Di meja tamuku juga sudah tersedia hidangan makan siang, lengkap dengan buah-buahan segar sebagai pembuka menu. Aku merasa diistimewakan di istana ini. Namun, entah mengapa aku merasakan sesuatu yang tak enak. Jantungku tiba-tiba berdegup kencang tak terkendali.


"Ada apa, ya?"


Aku segera keluar dari kamar lalu melihat ke langit istana. Dan kudapati seekor gagak hitam berputar-putar di atas langit.


"Astaga!"


Aku segera meminta kepada pengawal yang berjaga di depan ruanganku untuk mengambilkan anak panah beserta busurnya. Aku berniat memanah gagak hitam itu. Namun anehnya, kedua pengawal tidak melihat gagak itu sama sekali.


Apakah ini delusiku?


Aku bertanya sendiri di dalam hati. Siang ini mendapati keanehan yang terjadi. Saat kembali melihat ke arah langit, gagak itu pun sudah hilang, entah pergi ke mana. Seketika bulu kudukku merinding jadinya.


"Ara ...."


Suara itu terdengar, menyadarkanku. Kulihat Cloud sudah tiba di teras kamarku ini.


"Cloud?"


"Kau tampak melamun, apa yang sedang terjadi?" tanyanya lembut.


"Em, tidak. Tidak apa-apa. Mungkin aku hanya kelelahan," jawabku beralasan.

__ADS_1


"Kau ini."


Cloud lalu mengusap kepalaku. Dia menemukan mahkota kecil yang menghiasi.


"Sepertinya ayah sudah menjalankan tugasnya."


"Hah? Tugas apa?" tanyaku kaget.


"Tugas sebagai seorang ayah."


Cloud lalu berjalan masuk ke dalam kamar. Dia duduk di kursi tamu seraya mencicipi buah segar yang sudah tersedia.


"Kemarilah, Ara. Makan siang bersamaku."


Cloud memintaku untuk mendekatinya.


Jujur saja, aku begitu heran dengan kejadian yang kualami tadi. Tapi sepertinya, untuk sementara waktu kutepiskan dahulu. Aku teringat tugasku, dan kini mulai memenuhinya.


"Sini kusuapi."


Segera kuambil irisan buah melon itu dengan garpu lalu menyuapi Cloud. Cloud terlihat tersenyum dengan sikapku ini. Dia pun tidak ingin kalah, dia bergantian ingin menyuapiku. Satu butir anggur ungu dia antarkan ke mulutku dengan jemarinya. Namun, sebelum anggur itu masuk, dia malah...


"Mmh?!"


Aku terkejut saat Cloud menciumku. Dia menarik anggur itu dari bibirku dengan bibirnya.


"Cloud!"


"Kenapa?"


"Kau ini tidak ikhlas menyuapiku!" gerutuku.


Dia tertawa kecil lalu mengambilkanku anggur yang lain.


"Tidak mau!" seruku yang khawatir jika dia akan mengulanginya.


"Tidak, kali ini sungguhan," katanya.


Aku pun membuka mulutku dan dia segera menyuapiku kembali. Tapi...


"Tuh, kan! Malas aku!"


Aku kesal jadinya. Anggur itu tidak jadi masuk ke mulutku. Dia segera menyambarnya dan menikmatinya sendiri. Lekas saja aku bangun dan berniat pergi darinya.


"Ara ...."


Sebelum sempat beranjak dari duduk, Cloud menarikku segera. Kini aku duduk menyamping di pangkuannya.


"Cloud?"


Disingkapkannya rambutku ini. Dia lalu mencium leherku.


"Cloud, ini masih siang!" Aku mencoba memperingatkannya.

__ADS_1


Cloud tersenyum. Dia kemudian membelai rambut panjangku ini.


"Aku mencintaimu, Ara. Pilihlah aku," katanya, lalu kami menutup siang ini dengan bercumbu.


__ADS_2