
Sayup-sayup kicauan burung masih terdengar di telingaku. Hari pun beranjak siang. Entah berapa lama tadi kami latihan menari. Sepertinya cukup lama. Aku lalu mengajak Rain untuk duduk di gazebo istana.
Rain tampak memperhatikan penampilanku. Gaunku ini seperti mencuri pandangannya. Dia kemudian duduk di sisi kiriku, dekat sekali.
"Aku heran, Ara," katanya mengawali.
"Heran?"
Aku menoleh padanya, melihatnya seraya memperhatikan wajahnya itu. Dia tersenyum manis padaku.
"Iya, aku heran. Semakin hari kau semakin bertambah cantik," lanjutnya.
Sontak aku tersipu mendengar penuturannya itu. Aku menundukkan wajah, menahan malu.
"Dan anehnya ... semakin hari kau terlihat semakin muda. Apa rahasianya, Sayang?" tanyanya seraya menyingkap rambutku ke belakang telinga.
Aku merasa geli dengan tindakannya, tapi kubiarkan saja dia melakukannya. Aku masih ingin dimanja olehnya.
"Benarkah? Apa ini hanya kiasan?" tanyaku memastikan.
"Tidak, Ara." Dia lalu mencubit kedua pipiku. "Aku serius. Kau begitu sempurna di mataku," katanya lagi.
Aku tersenyum, menahan tawa yang akan meluap. Kucoba untuk membalas aksinya itu.
"Rain, kau juga semakin hari terlihat semakin perkasa. Aku ingin mencobanya."
"Hah?!" Seketika Rain terkejut.
"Boleh?" tanyaku memancing.
"Kau serius, Ara? Sekarang? Di sini?" Dia segera meresponku.
Hahahaha. Dia ini cepat sekali menanggapi. Padahal aku hanya bercanda saja.
"Menurutmu?"
Aku mendekatkan wajah dan tubuhku kepadanya. Rain tampak menelan ludah. Dia memalingkan pandangannya seraya mengusap kepala.
"Astaga ...." Rain tampak pusing sendiri.
"Rain ...." Tanganku mulai menyusuri lengan kanannya.
"Ara, tolong jangan memancing ... ku."
Saat dia menoleh ke arahku, saat itu juga aku mengecup bibirnya. Rain belum sempat meneruskan perkataannya. Dia begitu terkejut dengan tindakanku ini.
Kulepas bibirku dari bibirnya lalu mulai menatapnya kembali. Kulihat dia memandangiku dengan tatapan heran dan juga bingung.
"Ara, sungguh aku merasa kaget. Tapi jujur saja ... aku menyukainya," katanya malu.
"Hmm, setiap manusia bisa berubah bukan?" tanyaku.
"Iya, kau benar. Dan aku ingin kau selalu seperti ini."
"Sungguh? Kau tidak keberatan?" balasku segera.
Rain mengangguk.
__ADS_1
"Sebenarnya aku merasa segan jika harus memulainya terlebih dulu, Ara. Aku khawatir kau mengiraku hanya mencintai tubuhmu saja. Maka dari itu, sekuat tenaga aku menahan hasratku ini hingga kau memberi tanda untuk memulainya."
"Huh. Dasar!"
Kucubit lengannya itu. Aku terkekeh mendengar pengakuannya.
"Aku sangat mencintaimu. Aku ingin segera menikahimu bukan karena untuk melampiaskan hasrat semata. Tapi karena ... aku ingin hidup bersamamu sampai akhir hayat kelak."
"Rain ...."
Tiba-tiba saja suasana berubah menjadi sendu. Rain kemudian mencium tangan kiriku seraya menatap dalam kedua mataku ini.
"Aku berharap dapat segera menikahimu, Ara," katanya lagi.
Aku mengangguk, mengiyakan. Aku juga merasa jika sudah siap untuk menikah. Di usiaku sekarang sepertinya sudah pantas untuk melangsungkan pernikahan. Tapi aku masih bingung, entah dengan siapa bersanding nantinya.
"Hei, Rain. Aku ingin menanyakan beberapa hal padamu," kataku mengalihkan pembicaraan ini.
"Tanyakan saja, Ara. Aku akan menjawab semampuku." Rain segera merespon.
"Begini. Waktu malam sehabis makan nasi goreng buatanku, kalian ke mana?" tanyaku yang penasaran.
"Oh, itu." Rain mengingat kembali. "Aku dan kak Cloud berpencar mencarimu, tapi aku sendiri tidak menemukan. Apakah kak Cloud menemukanmu?" tanyanya.
Aku menggelengkan kepala.
"Berarti ... kau kembali ke kamar sendiri?"
Aku mengangguk.
"Kau tidak merasa takut?" tanyanya lagi.
"Aku mencoba menganggap istana ini seperti rumahku sendiri," jawabku menutupi rasa takut.
Rain mengusap kepalaku seraya tersenyum.
"Rain, aku sedikit bingung dengan pembagian waktu di sini. Di sini tidak ada jam dinding, kah?" tanyaku lagi.
"Di sini memang belum ada jam seperti jam di rumahmu, Ara. Kami masih menggunakan jam pasir pelangi sebagai pengingat waktu."
"Jam pasir pelangi?" tanyaku heran.
"Iya, jam pasir dengan empat warna berbeda. Hijau, kuning, merah dan biru."
"Maksudnya?" tanyaku yang penasaran.
"Warna hijau menandakan waktu pagi hingga pertengahan siang. Sedang kuning menandakan waktu siang hingga ke petang."
"Dan merah dari petang ke pertengahan malam?"
"Ya, benar. Biru sendiri dari pertengahan malam ke pagi."
Aku kini mengerti pembagian waktu di sini.
"Lalu, bagaimana menentukan harinya?" tanyaku kembali.
"Maksudmu untuk penanggalannya?"
__ADS_1
"Iya." Aku mengangguk.
"Kalau di sini, matahari terbit adalah penanda waktu telah bergantinya hari. Jadi tidak sama seperti di duniamu, saat melewati jam dua belas malam sudah berganti hari."
Pantas saja waktu di antara kami berbeda jauh.
"Rain, kira-kira berapa lama perbedaan waktu antara duniaku dan duniamu?" tanyaku lagi.
Rain menghela napasnya. Bersamaan dengan itu pelayan datang membawakan kami cemilan di pagi ini. Dua cangkir kopi dan beberapa butir kue bulan.
"Terima kasih," kataku kepada pelayan yang menyajikan.
Kulihat pelayan itu tersenyum lalu segera berpamitan. Aku pun membalas senyumannya. Sedang Rain tampak diam, tidak menyapa sama sekali. Jangankan menyapa, menoleh saja tidak.
Dasar!
"Aku ... kurang tahu pasti dengan perbedaan waktunya. Namun, saat aku menuju duniamu, aku berangkat di waktu fajar dan kembali ke istana saat hampir pertengahan malam." Rain menceritakan.
"Jadi?"
"Mungkin satu hari di sini sepuluh hari di sana, Ara." Rain memberiku waktu yang lebih spesifik.
Pantas saja saat aku kembali, kedua adikku sudah tampak besar dan lebih tinggi. Ternyata perbedaan waktunya cukup lama.
"Lalu bagaimana dengan alat pembayaran di sini, Rain?" tanyaku lagi.
Hari ini aku sengaja banyak bertanya kepadanya agar semua rasa penasaranku sedikit demi sedikit terbayarkan. Sudah lama aku berada dan kenal dunia ini. Aneh rasanya jika tidak mengetahui hal mendasar yang ada di dalamnya.
"Kami menggunakan mata uang yang sama," jawab Rain seraya meneguk kopinya.
"Maksudmu?" Aku ikut-ikutan meneguk kopi.
"Kami menggunakan mata uang emas dan perak, Ara."
"Wah!" Aku terperangah mendengarnya.
"Semua negeri menggunakan mata uang emas dan perak sebagai alat pembayarannya. Dan tidak menggunakan uang kertas."
"Kenapa?" tanyaku.
"Menurut kami itu palsu."
"Hah?!"
"Ya, kertas tercetak itu bisa mengalami penurunan nilai. Sedang emas dan perak, di mana-mana tetap sama. Ya, kan?" Rain bertanya padaku.
"Kau benar, Rain." Aku mengangguk. "Lalu pecahan terkecilnya?"
"Pecahan terkecil itu satu perak. Seperti ini." Rain lalu mengeluarkan satu koin perak dari dalam sakunya.
"Hei, kau menyimpan uang dengan pecahan terkecil?" tanyaku menggoda.
"Tanpa satu perak, tidak akan genap sepuluh perak, Ara," jawabnya seraya tertawa.
"Hahaha, kau benar." Aku juga ikut tertawa.
"Nah, yang membedakan hanya di lambang uangnya saja. Jika di negeriku, menggunakan lambang bintang Saturnus. Jika di negeri bunga, maka gambarnya bunga. Begitu juga yang lain. Hanya itu yang membedakannya."
__ADS_1
Rain memberi tahuku secara detail tentang mata uang di negeri ini. Dia lagi-lagi mengajariku hal-hal yang baru. Aku jadi semakin mengaguminya.