Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Panic


__ADS_3

Menjelang sore di istana...


Cloud ke ruang ayahnya yang berada di lantai tiga istana. Sebuah ruang kerja yang sangat luas dengan fasilitas begitu lengkap. Ada ruang pertemuan besar dan juga ruang jamuan khusus dengan peta wilayah kekuasaan negeri terlukis di dinding ruangan.


"Ayah!"


Cloud masuk ke ruang ayahnya dengan tergesa-gesa. Napasnya tersengal dan wajahnya terlihat panik.


Sang ayah yang kedapatan sedang menandatangi perjanjian penggabungan wilayah kekuasaan, tampak terkejut dengan kedatangan putra sulungnya itu.


"Cloud, ada apa?" tanyanya.


"Ayah, Rain sudah kembali ke istana dan tidak ada yang memberi tahuku."


"Rain baru saja kembali. Dan kau juga sedang rapat dengan para menteri."


"Tapi, Yah. Rain kini bersama Ara." Cloud begitu panik.


"Cloud tenangkan dirimu. Mengapa kau seperti ini?" Sky heran dengan perubahan sikap putranya.


"Ayah, aku tidak mau kehilangan Ara. Dia seperti udara bagiku. Aku tidak ingin mati karena rasa sakit, Yah."


"Cloud! Tidak seharusnya kau bersikap seperti ini." Sky tampak kesal.


"Ayah, Ara cinta pertamaku. Dia segalanya bagiku. Aku tidak mampu jika harus kehilangannya."


"Cloud ...."


Sky beranjak dari duduknya lalu mendekati putranya itu. "Duduklah, Nak," pinta Sky.


Cloud lalu duduk di kursi tamu ruangan ayahnya. Sky juga ikut duduk di dekat sang anak. Ia mencoba bijaksana.


"Cloud, Ayah tahu perasaanmu. Ayah juga sudah meminta Rain untuk mengalah."


"Lalu?" Cloud mulai mendinginkan kepalanya.


"Hah ... Rain tidak bisa diajak bernegosiasi."


"Apa?!"


"Kau harus bersabar, Nak." Sky menepuk-nepuk pundak putranya.


"Tapi, Yah. Pikiranku kini tidak fokus. Aku memikirkannya tanpa henti. Tak bisa kubayangkan jika mereka melakukan hal-hal di luar kewajaran."


"Hahahaha."


Sky tertawa keras mendengar putra sulungnya berkata seperti itu. Cloud pun tampak heran.


"Ayah?"


"Astaga. Baru kali ini Ayah melihat seorang calon raja kasmaran tidak menentu. Kau cemburu dengan adikmu sendiri."

__ADS_1


"Iya, aku memang cemburu. Aku mengakuinya."


"Sebenarnya, tidak masalah bagi Ayah jika kalian menikahi Ara. Tidak ada larangan di istana ini. Ya, asal Ara bisa melayani kalian dengan baik."


"Tidak, Yah! Aku tidak ingin berbagi!"


"Cloud, lalu kau ingin selalu diselimuti ketakutan seperti ini?"


Cloud diam, ia tidak menjawab pertanyaan ayahnya. Ia berpikir, mencari jalan keluar dari kebimbangan yang melanda hati.


"Kau tahu adikmu sendiri. Dan Ayah rasa kau juga membuat kesalahan di awal."


"Maksud Ayah?"


"Mengapa kau bilang kepada Rain jika Ara hanya pekerja bagimu?"


"I-itu ...."


"Di situlah letak kesalahanmu, Nak. Seharusnya kau tidak menjawabnya saja. Bukankah diam itu emas?"


Cloud termenung.


"Rain bersikeras karena hal itu. Andai saja dari awal kau bilang kepadanya jika Ara calonmu, dia tidak akan seberani ini mempertahankan gadis itu." Sky menambahkan.


Cloud mengusap kepalanya sendiri. Ia merasa bersalah karena telah membuat kekeliruan.


"Sebenarnya masalah ini sangat mudah. Jika kau mau menerima kesalahanmu, kau dapat merelakannya."


Sky meminum anggur putihnya. Ia mencoba menengahi masalah yang ada. Sesekali ia tatap putranya yang sedang bergalau ria karena seorang gadis berbola mata hitam.


Cloud sendiri dilanda kebimbangannya. Ia mulai tersadar akan kekeliruannya waktu itu.


Pagi itu...


Rain mendatangi kakaknya yang sedang membaca lembaran surat masuk dari berbagai kota. Ia duduk di depan sang kakak seraya meneguk kopi miliknya.


"Kulihat semalam kau bersama seorang gadis, Kak Cloud." Rain mengawali.


"Hm, iya." Cloud menjawab singkat.


"Siapakah dia? Bolehkah aku mengenalnya?" tanya Rain lagi sambil mencomot kue bulan milik kakaknya.


"Dia Ara, pekerjaku."


"Hah? Pekerjamu? Tapi dia tidak seperti seorang pekerja. Dia seperti putri yang kau bawa kabur dari negeri lain."


Sontak saja Cloud menghentikan aktivitasnya karena mendengar perkataan Rain. Ia khawatir jika Rain mengetahui asal-usul Ara.


"Dia memang dari negeri lain dan akan bekerja untuk kita. Apa hanya itu alasanmu kemari?" tanya Cloud sambil melihat adiknya yang sedang asik makan.


Rain lalu meneguk kopi kakaknya kembali. Ia tersenyum sendiri di depan kakaknya itu.

__ADS_1


"Kalau begitu, aku boleh berkenalan dengannya? Ya, untuk berjaga-jaga saja jika dia mempunyai niat buruk dengan istana ini."


"Silakan. Tapi jangan macam-macam dengannya. Dia tanggung jawabku." Cloud kembali meneruskan pekerjaannya.


"Baiklah. Kalau begitu aku ingin berkenalan dengannya." Rain beranjak dari duduk.


"Jangan ganggu pekerjaannya, Rain!" Cloud berpesan.


"Tenang saja, Kak. Aku hanya ingin berkenalan, tidak untuk mengganggunya. Sampai nanti!"


Rain segera keluar dari ruangannya itu. Ia tampak bahagia karena ternyata gadis yang mencuri perhatiannya adalah seorang pekerja yang Cloud bawa dari negeri lain. Ia segera berniat menemui sang gadis dan mengajak berkenalan secara langsung.


...


Cloud tampak menyesali perkataannya sendiri. Tanpa menyadari jika sang ayah terus memperhatikannya.


"Ayah tidak tahu bagaimana rasanya jatuh cinta, Cloud. Kau tahu sendiri bagaimana kisah Ayah dan ibumu. Kami menikah karena dijodohkan." Sky tampak mengenang masa lalu.


Cloud masih diam.


"Cinta itu lahir seiring dengan berjalannya waktu. Akhirnya, ibumu mau menerima Ayah sebagai suaminya." Sky meneruskan.


"Ayah, lalu apa yang harus aku lakukan?" Cloud seperti menemui jalan buntu.


"Mungkin untuk sementara waktu, tenangkan pikiranmu. Anggap saja masalah ini mudah sehingga kau akan menemui kemudahan. Jangan sampai hal ini membuat pekerjaanmu terlantar. Toh, Ara masih berada di istana. Walaupun dia pergi ke luar, kita pasti akan menemukannya." Sky berusaha menenangkan putranya.


Cloud sedikit lega setelah mendapat pencerahan dari ayahnya. Kini ia tidak panik lagi. Cloud berusaha menormalkan keadaan hatinya yang gundah-gulana karena gadis itu.


Ara ... cintaku begitu besar untukmu. Semuanya telah kuserahkan. Tolong jangan hancurkan hatiku.


"Bersabarlah untuk mendapatkannya. Kadang wanita tidak menyukai pria yang terburu-buru." Sky memberi nasehat kepada putranya.


Semilir angin yang melewati jendela ruangan, mampu membantu Cloud menemukan ketenangan jiwanya. Ia mencoba untuk bersikap tenang dalam melawan dirinya sendiri. Melawan kemelut yang melanda hati karena seorang gadis pencuri. Ya, Ara telah mencuri hatinya dan tidak mengembalikannya. Ia menggantung hati putra mahkota ini di langit-langit cintanya.


Sementara itu...


Rain dan Ara sudah tiba di istana. Keduanya memasuki halaman lalu menuju ke arah barat, tempat kediaman Rain. Kedatangannya itu disambut oleh Star yang sedang duduk bersama sang istri di gazebo istana.


"Hei, Rain!"


Star menyapa sambil melambaikan tangan ke arah Rain yang menunggangi kuda bersama Ara.


Rain pun menoleh, ia kemudian menghentikan kudanya, turun untuk menemui Star. Rain juga segera membantu Ara untuk turun dari atas kuda.


Kenapa Rain yang bersama Ara, hatiku yang cemas, ya? Star bergumam sendiri.


Beberapa saat kemudian, Rain tiba di gazebo istana bersama Ara. Ia memberi salam kepada putri Snow, istri dari Star. Begitu pun dengan putri Snow yang memberikan salam penghormatan kepada Rain.


"Kau tampak perkasa, Rain," puji Star kepada Rain seraya menepuk pundak sang putra mahkota.


"Biasa saja. Kau sendiri lebih hebat dariku," balas Rain.

__ADS_1


"Mari duduk." Star lalu mengajak keduanya untuk duduk.


Ara duduk di samping Rain, sedang Star duduk disampingnya. Rain tidak memberi cela pria lain untuk dekat-dekat dengan gadisnya itu, sama seperti yang Cloud lakukan.


__ADS_2