Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Wish


__ADS_3

Apa yang sedang Ayah bicarakan, ya?


Kedua putra mahkota masih menunggu sang raja yang belum juga selesai berbincang. Raja itu tampak muram setelah menerima laporan dari salah seorang pasukan khusus kerajaan. Beberapa saat kemudian, ia menyudahi pembicaraannya.


"Ayah, ada apa?" tanya Cloud selepas pasukan khusus itu keluar dari ruangan.


Wajah sang raja bertekuk dua belas, ia tampak lelah sekali. Usianya yang kini sudah lebih dari lima puluh tahun, seharusnya telah bisa melepaskan diri dari aktivitas kerajaan. Namun, ia masih juga dibebani karena sang putra sulungnya belum siap mengemban tugasnya itu.


"Rain, Cloud."


Ia lantas duduk di depan kedua putranya yang sedang menunggu. Sang raja tampak memijat dahinya sendiri.


"Ayah rasa pencarian Ara dihentikan saja," tutur Sky kemudian.


"Apa?!!" Keduanya terkejut.


"Ayah sudah mengerahkan hampir seluruh pasukan khusus untuk mencarinya di perbatasan, tapi hasilnya masih nihil." Raja itu kemudian meneguk cangkir kopinya, berusaha melepas lelah yang melanda pikiran.


"Apa ini berarti Ara sudah keluar dari perbatasan?" Cloud ingin memastikan.


"Ayah rasa begitu, Cloud. Dan Ayah memutuskan untuk menarik kembali pasukan dari perbatasan."


"Apa kita tidak mencarinya ke pulau-pulau yang terdekat, Yah?" Cloud membujuk.


"Hah ... kita sudah mengeluarkan biaya operasional yang tidak sedikit untuk melakukan pencariannya. Kita tidak bisa memaksakan kehendak dan mengorbankan penghuni istana." Sky menjelaskan.


Rain langsung berdiri yang sedari tadi hanya diam mendengarkan.


"Ayah, aku punya cara lain untuk menemukannya. Tolong Ayah berikan izin." Rain meminta.


"Rain?" Cloud menoleh ke arah adiknya.


"Percaya padaku. Aku pasti bisa menemukannya." Rain beranjak pergi.


"Rain!" Sang ayah berseru sebelum Rain benar-benar keluar dari ruangan. "Utusan Negeri Bunga akan datang nanti malam. Dan putri Rose memintamu untuk mengawalnya!" Sky berseru tegas.

__ADS_1


Rain tahu jika dirinya tidak dapat menolak permintaan sang ayah. Kedua tangannya mengepal, menahan kekesalan di hati karena tidak dapat bertindak sendiri.


"Aku akan pulang sebelum malam. Permisi," katanya menutup pembicaraan.


Cloud tampak diam saja saat sang adik berkata seperti itu. Ia tidak membela, tidak juga mencegah. Ia hanya berharap jika Ara bisa secepatnya diketemukan.


"Anak itu." Sky memijat dahinya.


"Ayah, ada apa gerangan Negeri Bunga datang kembali ke istana?" Cloud merasa heran.


Sky kembali meneguk kopinya. "Mereka berniat menyatukan wilayah kekuasaan dengan beberapa syarat yang ingin diajukan. Tentunya hal ini kabar gembira untuk Angkasa. Dan sepertinya, putri Rose tertarik pada adikmu," tutur Sky, menjawab pertanyaan dari Cloud.


"Begitu, ya." Cloud bernada datar.


"Dulu Ayah berpikir jika kau dengan Jasmine dan Rain dengan Rose. Tapi ternyata, itu hanya sepintas perasaan Ayah saja." Sang raja tersenyum tipis.


"Aku belum tahu di mana keberadaan Jasmine, Yah." Cloud mengingat pertemuannya dengan Jasmine, putri Negeri Bunga.


"Cloud, andai Jasmine ada, apakah kau akan tetap memilih gadis itu?" Sky mencoba bertanya kepada putranya.


"Hm, ya ... Ayah merasa jika Jasmine lebih berkedudukan dibanding gadis itu." Sky mengungkapkan.


"Ayah!" Cloud menyela perkataan ayahnya. "Aku tidak melihat seorang gadis dari kedudukannya. Aku benar-benar mencintai Ara apa adanya. Aku sudah mengetahui semua tentangnya, bahkan wajah polosnya sekalipun. Tak ada satupun yang tidak kuketahui darinya. Dan aku menerima segala apa yang ada padanya. Aku lelaki, aku yang akan bertanggung jawab atas segala kebutuhannya. Maafkan aku, tapi kali ini aku tidak sepemikiran dengan Ayah. Permisi."


Cloud bergegas pergi, meninggalkan ruang kerja ayahnya. Ia tidak ingin membanding-bandingkan Ara dengan gadis atau putri lain. Ia sudah sangat mencintai gadis itu. Gadis yang membuatnya tenggelam dalam palung cinta yang terdalam.


Sky pun hanya diam saat putranya itu emosi, karena mendengar perkataannya. Ia tidak mempunyai pilihan lain selain menikahkan Cloud dengan gadis itu. Sky menyadari jika putranya amat menyayangi sang gadis.


Ara, aku tidak tahu kau berada di mana. Tapi, tolong setialah padaku sampai Tuhan mempertemukan kita kembali.


Cloud menutup siang ini dengan doa. Ia lantas kembali ke ruangannya, melanjutkan aktivitas harian yang sempat tertunda.


Sementara di kediaman Rain...


Rain kembali ke manshion-nya. Ia segera mencari sesuatu di atas lemari kamar. Sesuatu yang amat penting.

__ADS_1


"Aku masih punya kalung waktu ini. Mungkin bisa membantuku untuk menemukan Ara."


Rain lantas bergegas pergi dari kediamannya. Ia ingin melakukan sesuatu dengan kalung itu. Dipakainya kalung itu, mencoba untuk merasakan kehadiran sang gadis. Dan entah mengapa, hatinya seperti digerakkan untuk pergi ke bukit pohon surga.


"Tolong siapkan kudaku!" pintanya kepada salah satu prajurit yang berjaga di belakang istana.


"Baik, Pangeran."


Rain berniat pergi ke bukit pohon surga untuk mencari petunjuk. Ia berharap pohon itu bisa memberikan tanda keberadaan sang gadis.


Tak lama, kudanya pun datang. Kuda besar hitam yang sedari kecil sudah bermain bersamanya. Rain menganggap kudanya ini lebih dari sekedar teman. Karena Black juga ikut membantu dalam misi perdamaian saat Rain masih berstatus sebagai seorang prajurit.


"Kita pergi ke bukit pohon surga. Ayo cepat!" Rain berseru kepada kudanya.


Rain segera menaiki kuda hitamnya lalu melajukannya menuju bukit pohon surga. Rain berniat mencari petunjuk mengenai keberadaan sang gadis. Ia memiliki keyakinan jika akan mendapatkan petunjuk di bukit itu. Terlebih ia kini sudah memakai kalung waktu, pemberian dari mendiang neneknya.


Ara, mungkin ini tidak masuk di akal. Tapi ini semua kulakukan untukmu. Kau tahu, aku begitu rindu padamu. Rasanya waktu berjalan begitu lambat dan membebaniku. Kembalilah, pulang bersamaku. Aku amat membutuhkanmu. Ya, hanya cintamu yang kubutuhkan untuk terus kuat menjalani kehidupan ini.


Kuda Rain terus melaju menuju bukit pohon surga dengan cepat. Waktu pun sudah mulai memasuki sore hari. Yang mana seharusnya Rain gunakan untuk menyelesaikan pekerjaan yang sempat tertunda. Tapi demi Ara, ia rela menundanya. Ara segalanya bagi sang pangeran bungsu ini.


Sementara itu di vila Zu...


Ara tertidur pulas sekali. Zu tidak tega untuk membangunkannya. Gadis itu masih tertidur di sisinya. Zu pun tersenyum, ia lantas menatap langit pantai dengan perasaan yang amat gembira.


Aku tak percaya jika bisa secepat ini menyayangimu, Nona. Rasanya seperti dalam mimpi. Aku benar-benar menginginkanmu.


Ada keinginan di hatiku untuk segera melabuhkan bahtera bersama, entah mengapa. Setiap kali memandangmu, hatiku begitu tenang. Setiap mendengar suaramu, hatiku terasa damai. Tak ada lagi yang kubutuhkan selain dirimu. Aku yakin jika kaulah yang selalu datang ke mimpiku. Senyummu itu benar-benar menaklukkan hati. Apa kau menyadarinya?


Zu kembali mengusap lembut kepala sang gadis yang masih tertidur lelap di sisinya. Ia pun ikut melelapkan diri dalam angan yang begitu indah. Terlintas di benaknya jika suatu hari ia akan menjadi seorang ayah. Dan ia menginginkan jika Aralah yang menjadi ibu dari anaknya kelak.


Aku bahagia sekali. Terima kasih Tuhan, telah memberiku kesempatan. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.


Zu tersenyum. Ia lalu memberatkan kepalanya di kepala Ara. Dan lantas kecupan manis dari bibirnya itu mendarat di kening sang gadis.


Aku mencintaimu ....

__ADS_1


Udara pantai begitu membawa rasa kantuk semakin menjadi. Keduanya lantas tertidur di atas ayunan jaring itu. Menikmati kebersamaan bersama angan yang terbang tinggi ke angkasa. Zu sangat bahagia sekali.


__ADS_2