Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Want to Meet


__ADS_3

Sore harinya di istana...


Seorang putri kerajaan Aksara datang ditemani menteri utamanya. Putri itu berbola mata lavender dengan rambut lurus panjang sepunggung yang berwarna biru. Ia tampak cantik mengenakan gaun putih saat memasuki istana kerajaan Angkasa ini.


Kedatangannya disambut baik oleh Menteri Dalam Negeri Angkasa. Putri itu dijamu dengan berbagai sajian istimewa khas kerajaan ini. Tampak dirinya yang malu-malu saat pertama kali menginjakkan kaki ke dalam istana.


Tak lama, baik Cloud maupun Rain datang ke ruangan untuk menyambut kedatangan putri Negeri Aksara tersebut. Sang putri kemudian memperkenalkan dirinya di hadapan kedua pangeran.


"Salam bahagia untuk Pangeran Cloud dan Pangeran Rain."


Sang putri membungkukkan badannya ke arah Cloud maupun Rain. Ia tampak begitu santun. Wajahnya tersenyum manis dan berseri-seri. Kulitnya putih bersih dan sedikit lebih langsing jika dibandingkan dengan Ara yang berisi.


"Perkenalkan, namaku Andelin Hellia. Kalian bisa memanggilku dengan sebutan Andelin. Usiaku delapan belas tahun." Putri itu memperkenalkan dirinya.


Rain tampak menahan tawa saat melihat perkenalan dari putri itu. Sedang Cloud hanya bisa tersenyum dalam hati.


Menteri utama kerajaan Aksara lalu membuka percakapannya dengan kedua pangeran. Alhasil, putri cantik itu diizinkan tinggal di istana selama tiga hari.


"Maafkan kami. Kami tidak dapat berlama-lama menerima tamu. Hanya tiga hari batas kemampuan kami," kata Menteri Dalam Negeri Angkasa.


Cloud dan Rain hanya terdiam. Mereka kemudian bersalaman dengan putri tersebut. Namun sepertinya, hati keduanya tidak bisa terbuka walaupun sudah melihat kecantikan putri dari Negeri Aksara ini.


Sementara itu...


Ara sedang makan siang di kantin bersama Baim, temannya. Ia tampak menyantap bakso besar ditemani segelas jus jeruk.


"Ara, sambalmu terlalu banyak!" seru Baim.


"Aku lagi pusing, Baim. Biarkan aku menyantap bakso ini dengan nikmat."


"Tapi nanti kau bisa sakit perut." Baim khawatir.


"Biarlah sakit perut asal jangan sakit hati," balas Ara yang terus menyantap baksonya.


"Hahaha." Baim tertawa mendengarnya.


"Hei! Kenapa kau menertawakanku?" tanya Ara yang tampak kepedesan.


"Pantas saja Rain begitu tergila-gila padamu, ya."


"Hah? Maksudnya?" Ara meminum jusnya.


"Ara, sudah lama kita bersahabat. Tapi baru kali ini kusadari sisi lain dari dirimu."


"Hei! Kau mau merayuku, ya?" selidik Ara.


"Eh! Tidak. Bukan begitu maksudku. Kau sadar tidak sih jika sikapmu itu begitu membuat orang lain rindu?"

__ADS_1


Tiba-tiba saja Ara tersedak. Wajahnya memerah seketika. Dengan segera Baim menuangkan air putih untuk temannya itu.


"Ara, kau tidak apa-apa?" tanya Baim yang khawatir.


Ara masih berusaha menormalkan kondisinya. Ia lalu meneguk habis air minum yang diberikan oleh Baim.


"Hah, sambal ini tidak berasa sama sekali," kata Ara.


"Hah? Benarkah?!" tanya Baim tak percaya.


"Itu benar." Ara menyeka mulutnya dengan tisu makan.


"Kok bisa?" tanya Baim lagi.


"Baim, sambal itu hanya terasa pedas di lidah. Tapi ada yang lebih pedas lagi dan sampai masuk ke hati."


"Aha, sepertinya aku tahu yang ini—"


"Omongan tetangga!" Keduanya menjawab dengan kompak.


"Hahahaha." Mereka lalu tertawa bersama.


"Kau ini, Ara. Tidak jaim sama sekali. Harusnya perempuan itu berlaku anggun di hadapan seorang pria," lanjut Baim.


"Tenang saja, Baim. Aku tahu menempatkan diri, kok. Di depanmu saja aku begini," jawab Ara polos.


"Kalau di depan Rain?" tanya Baim menyelidik.


"Dasar!" Baim tampak kesal.


"Sudah jangan kesal kepadaku. Masih ada yang lebih membuat kesal, lho."


"Apa itu?" tanya Baim penasaran.


"Ditinggal saat sedang sayang-sayangnya."


"Hahahaha."


Baim tertawa seketika kala mendengar ucapan temannya itu. Tawaan Baim pun mengundang mahasiswa lain untuk bergabung. Meja makan mereka kini menjadi ramai.


"Hei! Renyah sekali tawamu itu, Baim."


Seorang mahasiswa datang bersama dua temannya. Mereka bergabung di meja makan Ara. Ara pun tidak tampak keberatan, ia tetap meneruskan makan siangnya tanpa merasa canggung sedikit pun. Ara begitu menjadi dirinya sendiri.


Ara merupakan sosok gadis periang. Ia jarang sekali bersedih. Semangatnya menggebu-gebu dan juga tahan banting. Ia sangat ramah kepada siapa saja. Namun, akan amat menyeramkan jika sedang marah. Ara tahu benar bagaimana menempatkan diri.


Mantan Sekretaris Badan Eksekutif Mahasiswa itu banyak mendapatkan pelajaran dari orang-orang sekitar. Tapi dibalik itu semua, ada segelintir orang yang tidak menyukainya. Hal itu lumrah terjadi karena semua yang tercipta pasti ada pasangannya masing-masing.

__ADS_1


Ada yang suka, ada yang kurang suka. Ada yang baik, ada yang buruk. Tapi Ara selalu berpikiran positif tentang itu semua. Baginya, haters adalah lovers yang tertunda. Unik ya cara berpikirnya.


Kembali ke istana...


Makan malam tiba, Andelin diajak makan bersama oleh keluarga utama kerajaan. Tampak Moon memperhatikan kedua putranya yang hanya diam dan seolah tidak terjadi apapun. Keduanya tampak acuh tak acuh dengan kehadiran Andelin.


"Ehem."


Moon memecahkan suasana. Ia merasa kasihan melihat putri Negeri Aksara itu dicuekin kedua putranya. Moon lalu mengajaknya bicara.


"Bagaimana menurutmu istana ini, Putri Andelin?" tanya Moon membuka percakapan.


Andelin pun menjawabnya, "Yang Mulia Ratu, istana ini begitu mewah dan berkelas," jawab Andelin seraya tersenyum.


Jelas dong, Araku yang mendesainnya, batin Rain.


"Bunga apa yang kau sukai, Putri Andelin?" tanya Moon lagi.


"Saya menyukai bunga mawar, Yang Mulia," jawab Andelin lagi.


Moon mengangguk. Ia sepertinya kebingungan untuk melanjutkan perbincangan. Sedang kedua putranya tampak diam. Sky sendiri masih menjaga wibawanya sebagai seorang raja.


"Ayah, Ibu, makanku sudah selesai. Aku pamit." Cloud tiba-tiba berpamitan.


"Cloud!"


Moon berusaha mencegahnya. Namun, bersamaan dengan itu Sky menahan Moon. Mau tak mau, Moon menuruti permintaan suaminya.


Akhir-akhir ini Kak Cloud banyak diam.


Rain tampak berpikir sambil terus menyantap hidangannya. Ia merasakan hal lain sedang terjadi pada kakaknya itu.


Makan malam terus dilanjutkan sampai dengan selesai, tanpa Cloud. Cloud sendiri segera kembali ke ruangannya untuk beristirahat sebentar.


Sesampainya di ruangan...


Cloud mencoba untuk meneruskan pekerjaannya. Iapun mencari catatan kecil di dalam laci meja kerjanya. Tanpa sengaja, ia melihat sebuah kotak hitam di dalam laci tersebut. Iapun membuka kotak hitam itu.


"Ara ...."


Suaranya terdengar lirih saat melihat jepit kupu-kupu yang biasa Ara pakai saat berada di istana. Cloud tertegun sejenak. Ia mencoba mencari cara untuk membiaskan rasa rindunya itu.


"Mungkin aku harus beristirahat sejenak agar pikiranku ini lebih tenang," katanya kepada diri sendiri.


Cloud lalu mengambil kotak hitam itu, ia membawanya ke dalam kamar. Khawatir jika ada yang mengambil jepit itu darinya.


Sesampainya di dalam kamar, ia simpan baik-baik jepit itu di dalam laci kamarnya. Setelahnya, iapun kembali ke meja kerjanya.

__ADS_1


Mungkin lebih baik menenangkan diri di bukit pohon surga esok hari, katanya dalam hati.


Cloud berinisiatif untuk pergi ke bukit pohon surga agar pikirannya dapat tenang kembali. Akhir-akhir ini semakin mendekati hari peperangan, Cloud banyak berpikir keras untuk menjaga kestabilan negerinya. Mungkin dengan sedikit bersantai di bukit pohon surga dapat memberikan ketenangan bagi jiwanya itu.


__ADS_2