
Bintang malam menemani aktivitasku yang masih duduk mendesain rancangan. Tak lama Cloud datang, sepertinya dia baru saja menyelesaikan pekerjaannya.
"Ara, kucari di bawah tidak ada," katanya seraya berjalan mendekati.
"Hm, iya. Sepertinya lebih enak di sini," jawabku sambil menoleh ke arahnya.
"Kau menyukai taman kecil ini?"
"Sepertinya begitu, minimalis sekali." Aku tersenyum.
Cloud lalu duduk di depanku. Dia menekuk kedua lututnya.
"Nanti jika kau menjadi istriku, aku akan membuatkan taman yang lebih besar lagi," katanya yang membuat senyumku mengembang.
"Benarkah?" Aku tak percaya.
"Iya, Ara. Janjiku bukanlah omongan kosong."
Cloud membuat hatiku berbunga. Ucapannya mampu menghibur hatiku ini. Dia sangat pintar bermain kata-kata. Aku jadi semakin ingin dimanja olehnya.
"Baiklah. Aku akan menunggu," kataku.
"Tidak perlu ditunggu. Besok pun bisa." Cloud bangkit lalu memelukku dari belakang.
"Cloud, kau belum mandi!"
Dia berusaha untuk memelukku. Namun, kutolak mentah-mentah keinginannya itu.
"Memangnya bau sekali?" tanyanya seraya mencium tubuhnya sendiri.
"Sudah mandi dulu. Biar aku bisa bermanjaan," kataku beralasan.
Sebenarnya aku hanya tidak ingin diganggu olehnya karena pikiranku sedang cemerlang membuat sketsa ini. Namun, aku bingung menggunakan alasan apa. Jadi aku beralasan seperti itu saja.
"Baiklah. Tunggu aku."
Cloud segera beranjak pergi dari hadapanku. Dia terlihat terburu-buru.
Jangan-jangan dia menganggapnya sungguhan. Aduh!
__ADS_1
Kutepuk jidatku sendiri, sepertinya aku salah ucap lagi. Bukan maksud sebenarnya untuk bermanjaan dengannya, itu hanya kamuflase saja. Tapi sepertinya, Cloud menanggapi dengan serius.
Sementara itu...
Rain bersama pasukan telah meninggalkan perbatasan. Mereka menunggangi kuda melewati hutan rimbun yang ada di sepanjang perjalanan. Ia terlihat gagah berani menunggangi kuda hitamnya dengan kecepatan tinggi. Sementara para pasukan mengikutinya dari belakang.
Cukup jauh perjalanan yang harus mereka tempuh untuk sampai di ibu kota kerajaan. Mungkin memasuki dini hari mereka baru saja melewati perbatasan pedalaman.
Negeri dengan wilayah luas dan diberkahi sumber daya alam melimpah, membuatnya menjadi rebutan para penjajah asing. Tapi pertahanan yang dimiliki negeri ini pun bukan sekedar omong kosong. Di bawah pimpinan Rain, mereka bersatu padu melindungi Angkasa dari para penjajah.
Rain adalah seorang panglima bertangan dingin yang disegani kawan maupun lawan. Dia mempunyai kepribadian kuat di mata lawannya. Bahkan mendengar namanya saja, sudah dapat membuat pihak lawan mengundurkan diri dari laga pertempuran.
Ara ... aku akan segera datang.
Walaupun Rain seorang panglima yang disegani, ia tetaplah pria biasa, mempunyai cinta dan hasrat kepada wanita yang disayanginya. Hanya Ara seoranglah yang mengetahui sifat asli dari putra mahkota yang satu ini. Di hadapan Ara, Rain tidak malu menunjukkan sisi lain dari dirinya.
Rain begitu tertarik dengan Ara sejak awal perjumpaan mereka. Namun, ia belum mengerti rasa apa sebenarnya yang melanda hatinya saat itu. Rain tidak tahu harus bagaimana mengutarakan perasaannya. Ia jadi mengambil kesimpulan sendiri.
Awal perjumpaan mereka...
Semua menteri dan pejabat istana menghadiri acara doa bersama untuk melepas kepergian raja dan ratu yang akan melakukan perjalanan jauh. Tampak Rain berdiri di salah satu sudut ruang utama istana seraya menatap tajam ke seorang gadis yang berada di samping Cloud.
Rain melihat gadis itu di pandangan kedua matanya. Seorang gadis dengan pesona lain daripada yang lain. Gadis itu tampak berbeda dengan seluruh hadirin yang datang. Pancaran mata beningnya mampu menghipnotis Rain.
Apakah dia bawaan Kak Cloud? tanyanya sendiri.
Tatapan Rain selalu tertuju kepada gadis itu, hingga membuat sang gadis risih lalu menundukkan wajahnya. Sesaat kemudian, Cloud melihat ke arahnya dan Rain pun memalingkan pandangan.
Aduh, aku ketahuan Kak Cloud.
Selepasnya, Rain kembali memperhatikan sang gadis. Tapi bersamaan dengan itu, ayahnya telah selesai melakukan sambutan. Rain kemudian beranjak untuk menemui raja dengan berjalan melewati gadis itu.
Perasaan apa ini? Mengapa aku seperti tertarik olehnya.
Rain terus menatap gadis itu tanpa berkedip. Ada rasa tertarik di dalam hatinya yang belum bisa ia ungkapkan. Sepanjang perjalanan menemui ayahnya, ia selalu terbayang wajah gadis itu. Malamnya pun sama, Rain gelisah karena wajah sang gadis selalu muncul di benaknya.
"Siapa dia?"
Rain begitu penasaran dan membuat tidurnya tidak tenang. Ia sudah berulang kali membalik tubuhnya ke kanan dan kiri, namun belum juga bisa tertidur. Dan hal itu berlangsung hingga pagi.
__ADS_1
"Sial! Sepertinya aku harus menemuinya."
Rain segera memakai jubahnya lalu mencari tahu perihal gadis yang bersama Cloud semalam. Dan ia temui jika kamar gadis itu tidak jauh dari keberadaannya sekarang. Rain lalu mengambil kunci serbaguna yang ia miliki. Diam-diam ia membuka pintu kamar gadis itu.
Sepertinya, tidak ada orang.
Rain lalu masuk ke dalam kamar gadis itu dan melihat sang gadis yang sedang tertidur nyenyak di atas kasurnya. Rain lalu mendekatinya.
Dia begitu imut.
Hasratnya ingin sekali mengusap pipi gembul sang gadis, namun tertahan. Rain segera berjalan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Tak lama, gadis itu pun terbangun. Dan terjadilah hal tak terduga pada keduanya di dalam kamar mandi sang gadis.
...
Rain bukanlah tipe pria yang mudah mengutarakan perasaannya. Ia kadang keliru dengan sikapnya sendiri. Sehingga kelakuannya itu membuat Ara kesal lalu melawannya. Tanpa Ara ketahui, semenjak kejadian di kamar mandi itu Rain lebih sering membaca buku dari teras atap istana. Sambil melihat ke arah gazebo, tempat di mana Ara sering duduk.
Aku akan mempersuntingmu, Ara.
Kini hanya ada Ara seorang di dalam hatinya. Rain bertekad untuk menikahi Ara. Besar harapan jika keinginannya segera terlaksana dan tidak mengalami hambatan apapun. Rain terus berdoa di dalam hatinya. Cintanya begitu murni kepada gadis itu.
Sementara di istana...
"Ratu, tidak baik jika kau terus-menerus seperti ini." Sky mencoba meredakan kekesalan istrinya.
"Hah, aku tidak habis pikir Cloud akan membantahku di depan gadis itu." Moon menggerutu.
Raja dan ratu sedang bersiap untuk tidur di awal malam. Keduanya sedang memperbincangkan putra sulungnya di dalam kamar.
"Ratu, biarkan Cloud memilih pendamping hidupnya sendiri. Dia sudah besar dan tahu mana yang terbaik."
"Tapi tetap saja. Dia itu putra mahkota yang mempunyai tugas menundukkan negeri lain di bawah naungan negeri ini."
"Iya, tapi bukan lewat jalan pernikahan. Cloud pasti mempunyai cara lain." Sky membujuk istrinya.
"Entahlah, aku tidak tahu apa isi pikiran putraku sendiri."
Moon tampak memijat kepalanya di depan cermin hiasnya itu. Sedang Sky masih berusaha untuk meredakan kekesalan istrinya. Ia memijat pundak sang istri dengan sepenuh hati.
Tidak ada yang menyangka jika raja begitu membela hak kedua putranya. Ia tidak ingin memaksakan kehendak karena tahu jika sesuatu yang dipaksakan itu tidaklah baik.
__ADS_1
Sky berharap salah satu dari keduanya segera menikah, dengan atau tanpa Ara. Namun lain dengan Moon, ia masih memaksakan kehendak pada putranya. Ia ingin wilayah Angkasa semakin meluas dengan menundukkan negeri lain lewat jalan pernikahan. Moon sama sekali tidak menyadari kekeliruannya jika hal itu dapat berdampak buruk bagi negerinya sendiri.