
Beberapa jam kemudian...
Cloud dan Rain baru saja selesai rapat. Keuntungan besar telah didapatkan Angkasa dari acara pelelangan busana semalam. Keduanya pun ingin mengajak Ara bersuka cita atas keberhasilan ini. Namun sepertinya, Cloud masih disibukkan dengan administrasi kerajaan.
Masih banyak yang harus aku tanda tangani. Tunggu aku, Ara ....
Sementara di ruangan Rain, terlihat sang pangeran sedang merapikan meja kerjanya. Tak lama, salah seorang pelayan pria datang mengetuk pintu.
"Masuk."
Pelayan itu lantas masuk ke dalam ruangan Rain.
"Pangeran."
"Ya, ada apa?" tanya Rain cepat.
"Maaf, Pangeran. Nona Ara tidak ada di kediaman Pangeran." Pelayan itu memberikan kabar.
"Apa?! Tidak ada?! Bukannya aku sudah memintamu untuk mencarinya?!" Rain terkejut mendengarnya.
"Benar, Pangeran. Pelayan di kediaman Pangeran juga sudah mencarinya di sekitaran rumah, namun Nona Ara tetap tidak berada di sana." Pelayan itu menyampaikan.
Astaga Ara!
"Coba kalian cari di rumah kecantikan istana dan tempat lainnya. Aku akan segera menyusul," kata Rain lagi.
"Baik, Pangeran."
Pelayan itupun pergi, segera melaksanakan tugas dari pangerannya. Rain pun lebih cepat merapikan meja kerjanya itu. Lantas saja ia bergegas keluar ruangan untuk mencari Ara.
Apa iya Ara tidak ada di rumahku? Rain tidak percaya dengan kabar yang didengarnya.
Ia segera kembali ke kediamannya untuk memastikan keberadaan sang gadis. Namun, sesampainya di sana, kabar tak enak didapatkannya.
"Apa?! Ara belum pulang dari semalam?!" Rain terkejut bukan main.
"Benar, Pangeran. Terakhir semalam dijemput pangeran Cloud," jelas salah satu pelayan kediamannya.
"Baik. Sementara kalian cari di sekitaran rumah. Jika menemuinya, pinta dia untuk segera menemuiku di lantai dua istana." Rain berpesan.
"Baik, Pangeran." Para pelayan kediaman Rain mengiyakan perkataannya.
Ini aneh sekali. Ara tidak ada di rumahku. Apa jangan-jangan kak Cloud menyembunyikannya?
Rain lantas bergegas menuju ruangan Cloud. Ia ingin menanyakan perihal ini kepada kakaknya.
Sesampainya di ruangan Cloud...
"Kakak!"
Rain masuk ke dalam ruangan Cloud dan menemukan Cloud sedang berbincang bersama Count.
__ADS_1
"Pangeran Rain." Count memberi hormat saat putra mahkota itu masuk tanpa mengetuk pintu dahulu.
"Rain?"
"Katakan di mana Ara, Kak?!" Rain tampak serius.
"Apa maksudmu, Rain?" tanya Cloud yang tidak mengerti.
"Ara tidak ada di kediamanku. Apa kau menyembunyikannya?" tanya Rain lagi.
Ara tidak ada? Cloud tampak bingung.
Tak lama salah seorang pelayan datang ke ruangan Cloud. Ia memberi kabar kepada Rain.
"Maaf, Pangeran. Saya ingin mengabarkan jika nona Ara juga tidak ada di ruang kecantikan istana."
"Apa?!" Rain bertambah cemas. "Cari di tempat lain, segera!" pinta Rain yang khawatir.
"Baik, Pangeran." Pelayan itu segera undur diri.
"Rain, ada apa sebenarnya?" Cloud ikut khawatir. Ia menanyakan apa yang sebenarnya sedang terjadi.
"Kak, pelayan di kediamanku berkata jika terakhir kali melihat Ara bersamamu. Maka itu aku ke sini. Dia belum juga kembali sejak semalam," jelas Rain.
"Apa?!!"
Tiba-tiba saja atmosfer ruangan berubah mencekam seketika. Ara tidak ada di kediaman Rain dan juga tidak ada di ruang kecantikan istana.
"Kau serius, Rain? Semalam dia berpamitan untuk beristirahat seusai acara lelang." Cloud mulai khawatir.
"Pangeran, tampaknya ada hal serius yang sedang terjadi." Count mencoba mengutarakan isi pikirannya.
Cloud diam. Ia kemudian bergegas keluar dari ruangan.
"Aku titip ruangan padamu, Tuan Count!" Cloud berpesan sebelum ia benar-benar pergi.
"Baik, Pangeran."
Cloud lantas bergerak cepat. Ia menuruni anak tangga untuk mencari Ara. Dari kejauhan ia melihat Rain sedang memerintahkan prajuritnya.
"Perintahkan semua prajurit untuk mencari Ara di istana ini. Cepat!!!"
Rain memerintahkan prajuritnya untuk mencari Ara ke sekeliling istana. Cloud yang mendengarnya, tampak ikut panik. Tiba-tiba pikiran buruk itu menyelimutinya.
Ara, apa yang sebenarnya terjadi?
Ia lantas ikut mencari gadisnya. Ia berkeliling istana sendiri. Hingga sampai menemui ketua pelayan kerajaan ini, Cloud meminta bantuannya untuk mencari.
"Pangeran Cloud, ada apa? Mengapa semua prajurit berhamburan ke seluruh istana?"
Rum yang sedang berada di dalam ruangannya itu segera keluar begitu melihat para prajurit berhamburan ke seluruh penjuru istana.
__ADS_1
"Bibi Rum, tolong bantu mencari Ara. Ia belum juga terlihat sejak semalam." Cloud meminta Rum membantunya.
"Nona Ara tidak ada?" Rum tampak bingung.
"Benar, Bibi. Tolong pintakan seluruh pelayan untuk ikut mencarinya."
"Baik, Pangeran." Rum pun mengiyakan.
Siang ini seluruh penghuni istana disibukkan mencari Ara. Namun sayang seribu kali sayang, sang gadis belum juga ditemukan. Cloud tampak semakin panik.
Astaga, Ara. Kau di mana?
Putra sulung kerajaan ini berjalan ke sana kemari untuk mencari gadisnya. Tapi tidak juga ditemukan. Hingga sore datang, sang gadis belum diketahui keberadaannya. Hal ini tentunya membawa kesuraman bagi kedua pangeran.
"Ara, kau di mana?!!"
Rain tampak frustrasi setelah tidak menemukan gadisnya itu. Sementara Cloud terlihat kelelahan sehabis berkeliling istana.
Di mana dia? Ara, di mana dirimu?
Hanya ada satu tempat yang belum sempat Cloud kunjungi, yaitu ruang bawah tanah istana. Lantas saja Cloud menuju ruang bawah tanah seorang diri.
Di ruang bawah tanah...
Apakah mungkin dia berada di sini?
Cloud menuruni anak tangga ke ruang bawah tanah. Sesampainya di sana, ia menemukan kelopak bunga teratai yang berjatuhan.
Teratai? Dari mana?
Ia mengikuti jejak kelopak bunga teratai yang jatuh itu. Dan ternyata berhenti tepat di depan pintu ruangan yang berada di paling ujung ruang bawah istana ini. Cloud lantas membuka pintu ruangan yang terkunci dari luar.
Jantungnya berdegup kencang saat memasuki ruangan itu. Ia tidak melihat satu orangpun di dalam. Namun, ia menemukan sesuatu.
"I-ini ... ini ...."
Cloud menemukan mahkota yang biasa Ara pakai. Mahkota itu jatuh di bawah kursi yang berada di sudut ruangan. Cloud lantas mengambilnya. Tangannya gemetar saat mengambil mahkota itu.
"Ara, jangan bilang jika ... ini tidak mungkin, tidak."
Sontak Cloud kehilangan kendali atas jiwanya.
"ARAAAAAAA!!!"
Ia menjerit keras, sesaat setelah menyadari jika telah kehilangan gadisnya. Matanya memerah, jantungnya berdegup kencang seolah ingin lepas dari tempatnya. Napasnya pun terasa berat sekali. Tak lama, ia menangis di dalam ruangan itu. Ia kehilangan gadisnya.
Ara ... kau di mana ...?
Air mata sang pangeran tak mampu terbendung lagi. Ia duduk berlutut di depan kursi yang ada di sudut itu. Tak bisa ia bayangkan apa yang terjadi pada gadisnya semalam. Cloud terlunta-lunta.
"Aku terlalu sibuk sehingga mengabaikanmu. Harusnya aku mengantarkanmu dulu ... Araaaaa!!!"
__ADS_1
Suasana duka menyelimuti istana kerajaan Angkasa. Mereka kehilangan sosok gadis yang telah berjasa untuk keuangan negeri ini. Setelah berulang kali mencari, akhirnya ditetapkan jika Ara telah hilang dari istana.
Rain segera memerintahkan pasukannya untuk mencari Ara ke seluruh penjuru ibu kota. Tapi, lagi-lagi tidak ada hasil yang mereka dapatkan hingga petang tiba.