Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
I Like U


__ADS_3

Dua jam kemudian, di kamar Ara...


Perutku sudah menjerit, kepala pun terasa pusing. Tapi aku masih berdiam diri di dalam kamar.


"Aduh! Kenapa malah menyakiti diri sendiri?"


Aku lapar, ingin makan. Tapi aku malu, malu sekali. Kejadian tadi membuat hatiku cemas. Aku khawatir Zu akan berpikiran yang tidak-tidak tentangku.


"Aku keluar tidak, ya?"


Sebenarnya percuma juga aku lari, aku hanya berdua dengannya di sini. Tidak ada orang lain lagi.


Sepertinya dia sengaja tidak ke atas. Huh ....


Kulihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Aku sudah tidak mampu menahan rasa lapar ini, dia juga tidak mengantarkan makanan ke atas.


Mungkin kutebalkan muka saja.


Aku memutuskan untuk bergegas keluar kamar, mencari sesuatu yang bisa kumakan karena perutku ini sudah keroncongan, sambil terus mengintip apakah dia ada di bawah sana. Sebisa mungkin aku tidak ingin ketahuan olehnya. Dan ternyata, keadaan lantai satu tampak begitu sepi.


Ini saatnya untuk makan.


Pelan-pelan aku menuruni anak tangga sambil melirik ke arah kanan dan kiri. Rasanya malu sekali jika sampai ketahuan. Aku pun mengendap-endap seperti seorang pencuri demi perutku ini.


Jangan sampai terpleset.


Satu, dua, tiga anak tangga kuturuni. Dan akhirnya sampai juga di dapur.


"Di mana bakso ikannya, ya?"


Aku mencari bakso buatanku, tapi tak kutemukan. Sungguh aku kesal sekali. Perutku ini sudah sangat lapar, tidak bisa lagi diajak kompromi.


Lantas kubuka panci buburku dan kulihat hanya tersisa sejumput nasi. Tidak cukup untuk mengenyangkan perutku ini.


Aduh, aku jadi emosi sendiri.


"Nona, kau ingin mencuri?"


Seketika jantungku berdebar kencang mendengar suara itu. Suara yang berbisik di telinga kananku. Begitu jelas hingga aku terdiam, tak bisa bergerak.


Perasaan ini ....


"Apa kau masih ingin menghindar dan membiarkan dirimu tersiksa?"


Lagi-lagi dia berkata, membuat napasku tak karuan kala mendengarnya. Dia masih berbisik di telingaku. Entah sengaja atau tidak, tapi aku merasa dia sedang memancingku.

__ADS_1


"Pa-pangeran ... ak-aku ...."


Perlahan kurasakan kedua tangannya melingkar di perutku. Dia lantas menopang dagu di pundak kananku ini.


"Nona, bisakah kau menerimaku?" tanyanya lagi.


Kedua tangannya kini telah melingkar di perutku. Rasanya aku tidak kuat lagi jika terus-terusan seperti ini. Ini tidak baik untukku.


Dia pikir aku malaikat yang tidak mempunyai hasrat apa?


Pelan-pelan aku coba membalikkan badan. Dan dia pun melepas kedua tangannya dari perutku. Kami lantas bertatapan. Karena dia tinggi dan aku pendek, aku harus mendongakkan kepala ke atas agar bisa menatapnya lebih jelas.


"Pangeran, kita terlalu dekat. Bisakah kau menjauhkan wajahmu?" tanyaku padanya.


Zu diam, dia menatapku. Memperhatikan setiap gerak-gerik bibirku. Dan perlahan dia mendekatkan wajahnya, lebih dekat denganku lagi.


Apa-apaan ini?! Aku minta dia menjauh, tapi dia malah mendekat. Apa baginya lawan kata adalah kata sesungguhnya? Ini tidak boleh diteruskan!


Semakin lama wajahnya semakin mendekat, dan semakin itu juga aku menjauhkan wajahku darinya. Hingga akhirnya aku merendahkan tubuhku ke belakang, ke dekat rak piring yang ada di dekat kompor dapurnya.


"Pangeran, jangan! Kita tidak punya ikatan."


Dia seakan tidak peduli dengan apa yang kukatakan. Dia terus saja mendekat hingga membuat jantungku ini berdebar kencang tak karuan.


Ini gawat!


Pangeran?!


Sesaat aku merasa daging lembut menyentuh leherku ini. Ternyata dia mengecup leher kiriku dengan satu kecupan yang mampu menggetarkan seluruh sendi tubuhku. Rasanya aneh sekali. Jantungku seperti mau copot saat merasakan kecupan dari bibirnya itu.


"Maaf, Nona. Hanya ini yang bisa kuberikan sebagai balasan karena kau telah menggigit leherku tadi," ucapnya pelan lalu beranjak pergi.


Ap-apa?!


Aku tak percaya dengan hal yang kudengar. Dia ternyata ingin balas dendam atas kejadian tadi. Tapi dengan pembalasan yang membuat tubuhku merasa aneh. Dan kini, dia pergi begitu saja, meninggalkanku yang masih terpaku memikirkan kata-katanya.


"Pangeran, tunggu!"


Ada sebuah keinginan muncul di hatiku. Aku ingin memperjelas keadaan ini secepatnya. Lantas kutahan kepergiannya itu dengan berdiri di depannya.


"Ada apa, Nona?" tanyanya dengan biasa saja.


Kutatap wajahnya, kuperhatikan apa yang ada di sana. Alisnya, matanya, hidungnya, bibir merahnya, dan semua yang ada di wajahnya kuperhatikan saksama.


"Pangeran, apa sebenarnya yang terjadi?" Aku mulai bertanya.

__ADS_1


"Maksudmu, Nona?" Dia tampak tidak mengerti maksud ucapanku.


"Pangeran, kau telah menolongku, menyelamatkanku. Apa ada hal yang kau inginkan dariku?" tanyaku lagi.


Dia seperti terperanjat mendengar pertanyaanku, tapi aku sendiri tidak bisa berlama-lama dengan keadaan ini. Dan kulihat dirinya menghela napas panjang.


"Pangeran, aku masih menunggu," kataku lagi.


Aku tidak tahu apa yang ada di dalam pikirannya, dia masih saja menatapku. Tanpa kata, tanpa suara.


"Nona, menurutmu jika ada seorang pria menolong wanita dan tanpa alasan, apa itu mungkin?" Dia balik bertanya padaku.


"Pangeran, aku tidak ingin berbasa-basi. Katakan saja terus terang apa maksud dibalik semua ini?" pintaku lagi.


Dia lalu berjalan menjauh dariku.


"Pangeran!"


Kali ini aku lebih berani kepadanya. Kutarik tangannya itu agar menanggapiku terlebih dahulu. Sontak aku melihatnya tersenyum.


Mungkin dia suka diperlakukan kasar olehku.


Tak habis pikir aku amat gemas dengannya karena merasa waktuku diulur begitu saja. Aku ingin kepastian atas hal ini. Aku tidak bisa berlama-lama dengannya tanpa alasan yang jelas. Kedua pangeranku menunggu di istana.


"Baiklah. Aku akan berterus terang padamu. Tapi setelah ini apa semuanya akan baik-baik saja?" tanyanya padaku.


Kutarik napas dalam lalu kuembuskan perlahan. Aku akhirnya siap menerima segala penjelasan darinya.


"Nona ... aku menyukaimu."


Tiga kata itu terlontar dari mulutnya yang sontak membuat hatiku kembang-kempis dibuatnya. Dia mengatakan hal itu dengan wajah yang amat serius.


"Pa-pangeran ...?"


Aku terpana sendiri sampai tidak ingat jika aku sedang lapar. Dia menatapku dalam sekali.


"Tidak mungkin aku melakukan semua ini jika tanpa alasan. Tidak mungkin juga aku merelakan diri untuk mencemaskan keadaanmu, merelakan waktuku hanya untuk memikirkanmu. Dan tidak mungkin aku sampai seberani ini membawamu kemari. Apa kau masih tidak mengerti?" tanyanya yang sontak membuatku menelan ludah sendiri.


"Pangeran ...."


"Aku tertarik padamu, kuakui itu. Kau gadis yang luar biasa. Kau mempunyai bakat kemampuan yang jarang dimiliki oleh gadis lain. Dan aku mengaguminya." Dia meneruskan.


Aku seperti bermimpi mendengarnya. Aku pikir selama ini dia hanya bercanda denganku. Tawarannya, kata-katanya, aku kira itu hanya gurauan semata. Tapi ternyata, aku kurang peka terhadapnya. Atau mungkin lebih tepatnya jika aku mencoba terus menghindar darinya.


Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan sekarang?

__ADS_1


Aku jadi bingung sendiri. Entah apa yang harus kulakukan. Dia masih berdiri di hadapanku, menunggu tanggapanku atas ucapannya itu.


__ADS_2