
Di lain tempat...
Aku dikenalkan kepada seluruh pelayan yang ada di kediaman Zu. Tidak banyak, sih. Hanya sekitar lima pelayan wanita saja. Dan usianya terbilang masih muda, mungkin sekitar tiga puluh ke atas.
Ternyata kediaman Zu tidak jauh berbeda dengan kediaman Rain. Hanya mungkin berbeda di ukuran kamarnya saja. Kamar Zu lebih luas dan lebih mirip seperti apartemen mewah, sedang kamar Rain seperti hunian rumah biasa namun tetap berkelas.
Keduanya sama-sama membuatku betah.
Di depan kediaman Zu, ada dua prajurit yang berjaga dan satu penjaga kebun. Zu ternyata suka sekali berkebun. Di belakang kediamannya ini ditanami berbagai macam bunga dan juga buah cangkokan. Aku tidak percaya saat melihat ada pohon jeruk yang berukuran pendek sekali, tapi buahnya sangat lebat.
Yang lebih menariknya, ada sungai buatan di sini. Atau mungkin lebih tepatnya tempat pemandian yang airnya mengalir. Rasanya jadi ingin cepat-cepat merasakan sejuknya air itu. Tempatnya juga tertutup, jadi bisa dibilang nyaman. Sama seperti kolam pemandian air panas di Angkasa.
Selepas berkenalan dengan para pelayan di kediaman Zu, aku diajak olehnya menuju istana Asia. Dan kini baru saja sampai di halaman depannya. Sempat terpikir jika tadi adalah salah satu kamar yang ada di istana. Tapi ternyata, kamar yang kutempati adalah salah satu kamar yang ada di kediaman Zu.
"Nona, ini adalah istana kita," katanya seraya membantuku turun dari kuda.
Kita?! Aku terkejut, hampir saja tidak memahami ucapannya.
Zu memegang tanganku, dia memintaku untuk mengandeng lengannya ini. Dan karena sudah terlanjur bersama, aku pun menggandeng mesra lengannya. Kami lalu berjalan masuk ke istana.
Wah! Luas dan megah sekali!
Sesampainya di ruang utama, aku melihat bangunan yang terdesain amat megah. Mungkin luasnya ada dua kali dari istana kedua pangeranku. Arsitekturnya mewah dan elegan. Tiang-tiang istananya juga kokoh lagi besar.
Seperti sedang berada di negeri dongeng.
Para pelayan istana ini tampak mengenakan seragam yang sama, berwarna putih. Berbeda dengan di Angkasa, semua pelayannya mengenakan seragam hitam.
Apakah ada makna tersendiri dari warna itu?
"Selamat datang, Pangeran, Putri." Seluruh pelayan menyambut kedatangan kami.
"Terima kasih," jawabku seraya tersenyum ke arah mereka.
Interior dan eksterior bangunan ini lebih mirip kerajaan Eropa. Aku belum tahu persis, sih. Tapi sepertinya, semua negeri menggunakan arsitektur bangunan yang sama. Megah, mewah, berkelas dan elegan.
"Nona, namamu di sini akan berubah menjadi Dewi. Kau keberatan?" tanyanya padaku seraya berjalan bersama.
"Eh? Kenapa harus diganti?" Aku kurang setuju.
"Aku khawatir Angkasa akan mudah menemukanmu jika menggunakan nama asli. Jadi, tak apa ya?" Zu seperti memohon padaku.
Ish, dia ini mengganti nama orang saja.
Sebenarnya aku keberatan dengan permintaanya. Tapi, aku teringat kembali dengan pesan Tetua Agung yang meminta agar tidak melawan arus. Jadi terpaksa kuiyakan saja permintaannya.
"Baiklah."
__ADS_1
Zu pun tersenyum padaku. Kami kemudian menuju salah satu ruangan yang ada di istana ini. Entah ruangan apa, aku mengikutinya saja. Kali-kali ada sesuatu hal unik yang kutemui.
Beberapa saat kemudian...
Kini aku sudah tiba di sebuah ruangan. Kulihat ada kursi tamu yang mewah dan juga elegan. Kursi-kursinya berwarna merah dengan ukiran emas di setiap sisi, dan di mejanya ada toples-toples kristal bening yang berisi berbagai macam cemilan. Aku lalu diminta oleh Zu untuk duduk di salah satu kursi. Dan kupilih saja kursi yang menghadap ke luar ruangan. Kulihat ada taman bunga melati dari balik kaca jendela tembus pandang ini.
"Ayah, kenalkan. Ini Dewi, dia kekasihku."
Tak lama kulihat Zu mengandeng tangan seorang pria yang rambutnya masih tampak hitam. Namun, wajahnya saja yang tidak dapat dibohongi. Pria itu mengenakan mahkota raja yang terbuat dari emas.
Eh? Jangan-jangan dia raja Asia?
Matanya sedikit sipit dengan kulit putih yang mulai keriput. Sesaat aku menyadari jika dia memang benar adalah raja Asia, setelah Zu memanggilnya dengan sebutan ayah.
Tapi kok ada yang aneh pada raja itu, ya.
Raja itu kemudian duduk dengan dibantu oleh Zu. Zu pun duduk di samping kanan sang raja.
"Jadi gadis ini yang mencuri hatimu?" Raja itu mengawali.
Zu hanya tersenyum. Dia seperti malu sendiri. Sedang aku ... aku jelas bingung.
"Dewi, ini Ayahku." Zu memperkenalkan ayahnya padaku.
Aku pun berdiri, membungkukkan badan, memberi hormat padanya. Seraya tersenyum aku menyapa raja itu.
Raja itu menoleh ke arah Zu. Zu pun seperti mengerti akan maksud ayahnya itu.
"Ayah, Dewi berasal dari Angkasa. Jadi dia menggunakan kata sapa seperti itu," tutur Zu kepada ayahnya.
"Oh, baiklah." Raja itu tampak mengerti. "Kemarilah, Nak." Sang raja memintaku untuk duduk di sebelah kirinya.
"Baik, Yang Mulia." Aku pun menurut.
"Zu adalah putra pertamaku. Dia calon raja negeri ini. Sudah lama aku menyuruhnya mencari pendamping. Tapi baru sekarang dia berani membawanya ke istana." Raja itu menjelaskan.
"Em ...." Aku melirik ke arah Zu.
"Aku berharap secepatnya kalian melangsungkan pernikahan. Tubuhku mulai melemah, aku khawatir tidak sempat menghadiri pesta pernikahan nanti."
"Eh?! Yang Mulia?!"
Sontak aku gugup mendengar ucapan raja. Aku lantas menatap tajam ke arah Zu yang sedang tersenyum-senyum sendiri.
"Kau keberatan, Nak?" tanya raja padaku.
Raja Asia ini menyudutkanku dengan kata-katanya. Aku tak habis pikir jika jalan ceritaku akan secepat ini. Entah apa yang Zu katakan pada ayahnya, aku rasa harus memperjelas semuanya.
__ADS_1
"Maaf, Yang Mulia. Saya dan Pangeran Zu baru saja dekat. Rasanya kurang pantas jika membicarakan hal ini," kataku berhati-hati.
"Hm ...." Raja itu melirik ke arah putranya.
"Maaf, Yah. Aku memang baru dekat dengannya. Tapi hatiku sudah yakin." Zu memberi tahu sang raja.
"Hah! Dasar anak muda. Ya, sudahlah. Ayah tunggu kabar baik dari kalian sa—"
Tiba-tiba raja itu terbatuk-batuk sebelum sempat meneruskan kata-katanya. Sepertinya raja mengalami kesulitan bernapas. Kulihat wajahnya memerah seketika.
"Pelayan! Ambilkan obat Ayahku!"
Zu segera memanggil pelayan untuk mengambilkan obat ayahnya. Sementara dia memijat-mijat tangan ayahnya sendiri. Aku pun ikut membantu Zu, mengipasi raja agar bisa bernapas lebih lega.
Kenapa aku merasa ada yang janggal, ya?
Entah mengapa aku merasa ada hal aneh yang terjadi di istana ini. Seusia raja seperti sedang menderita penyakit tak wajar.
"Ini, Pangeran."
Tak lama pelayan datang membawakan obat beserta air minumnya. Obatnya seperti pil gingseng. Tapi aku tidak tahu komposisi apa yang ada di dalam obat tersebut.
"Ayah, minumlah."
Zu lekas-lekas membantu ayahnya untuk meminum obat itu. Dan tak lama, raja pun mulai mengantuk.
"Dewi, aku tinggal sebentar. Aku antarkan Ayah dulu ke kamar." Zu berpamitan padaku.
"Maaf ya, Nak. Lain kali kita sambung lagi pembicaraan ini."
Raja masih sempat-sempatnya berpamitan padaku, padahal kutahu jika dadanya itu terasa sesak. Terlihat dari raja yang memegangi dadanya sendiri.
Aku pun mengangguk, mengiyakan. Kulihat Zu memapah raja masuk ke dalam suatu ruangan, tak jauh dari tempatku berada.
Mungkin itu kamar raja.
Tak habis pikir dengan hal yang kulihat, tiba-tiba saja hatiku tergerak untuk mencari tahu tentang sebab-musabab penyakit yang diderita raja. Aku jadi penasaran raja itu sakit apa dan obat apa yang diminum.
Sepertinya aku harus mencari tahu sendiri.
Aku lantas menunggu Zu kembali. Kulihat ada berbagai macam cemilan di atas meja ini. Dan tanpa diminta, kucicipi saja satu per satu cemilannya. Dan rasanya ... hm, enak sekali.
"Hei! Kau di sini!"
Tiba-tiba seseorang berteriak kepadaku. Aku pun menoleh, melihat ke arahnya sambil memegangi cemilan ini.
"Pangeran Shu?"
__ADS_1
Kulihat pria muda bermata sipit itu berjalan mendekat. Langkah kakinya begitu cepat, dia seperti dikejar-kejar sesuatu.