Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Lotus Flower


__ADS_3

Bunga?"


"Ini bunga untukmu, Nona. Semoga kau menyukainya," kata Zu.


Dia memberiku bunga teratai. Apa maksudnya?


"Mungkin bunga ini akan berguna suatu saat untukmu," kata Zu lagi.


Ara semakin tidak mengerti. Namun karena tidak ingin mengecewakan, ia menerima bunga itu.


"Terima kasih, Pangeran." Ara tersenyum seraya berterima kasih.


Astaga, senyumnya. Zu terpana melihat senyum Ara.


"Baiklah, aku permisi. Sampai nanti."


Gadis itu segera berpamitan kepada Zu. Zu sendiri hanya bisa terpaku sambil melihat kepergian sang gadis. Dan tak lama, ia melihat mantan asisten Ara datang lalu berbincang bersama sang gadis.


Bukannya acara sudah selesai? Tapi kenapa asisten itu masih menemuinya? Apakah ada hal lain? Zu bertanya sendiri.


Malam yang semakin larut memaksa para penghuni istana untuk segera beristirahat. Acara yang telah selesai pun tentunya meninggalkan kesan tersendiri bagi para tamu undangan maupun pendukung acara. Hari ini adalah hari bersejarah bagai Angkasa. Keuntungan besar telah mereka dapatkan dari hasil pelelangan busana. Tentunya tidak terlepas dari usaha keras sang gadis.


Sementara itu...


Ara diminta menunggu di sebuah ruangan bawah tanah. Ia tidak mempunyai rasa curiga sama sekali dengan ajakan mantan asistennya itu. Ia menurut saja karena katanya ini adalah permintaan dari sang raja.


"Mungkin raja ingin membicarakan sesuatu padaku. Ya, sudahlah. Mungkin aku bisa tidur sebentar sambil menunggu kedatangannya."


Ara lantas tertidur di ruangan itu karena rasa lelah melandanya. Sebuah ruang seperti ruang interogasi. Ada dua kursi dan satu meja di dalam sana. Sedang pencahayaannya mengandalkan lampu taman yang berada di atas ruangan itu.


Zu mengetahui hal ini. Ia sengaja mengikuti Ara sejak tadi. Namun, ia masih bersembunyi. Ia tidak ingin kehadirannya diketahui oleh mantan asisten Ara. Tak lama ia melihat asisten Ara bertemu dengan ratu kerajaan ini. Zu lantas menguping pembicaraan mereka dari balik dinding, tempatnya bersembunyi.


Astaga! Aku tak percaya dengan yang kudengar. Aku harus berbuat sesuatu.


Zu bergegas pergi dari tempat persembunyiannya sebelum ketahuan oleh pihak istana. Ia lantas menuju kamarnya, masuk lalu segera menuliskan sesuatu di atas selembar kertas. Ia pun mengambil burung naga dari sangkarnya yang sudah sejak awal ia bawa ke istana.


"Tolong sampaikan surat ini ke pihak Asia secepatnya!" Zu melepaskan burung naganya itu.


Burung itu pun bergegas pergi, terbang di antara gelapnya malam. Ia menyampaikan pesan kepada pihak kerajaan Asia dari pangerannya, Zu.

__ADS_1


Satu jam kemudian...


Istana tampak hening. Hanya suara-suara jangkrik yang terdengar di malam ini. Waktu pun sudah memasuki pertengahan malam, sekitar jam satu dini hari. Namun, tidak ada satu orang pun yang mendengar teriakan sang gadis dari ruang bawah tanah.


"Tolong! Tolong aku!"


Gadis itu mengetuk-ngetuk pintu ruangan, meminta dibukakan. Tapi, tidak ada satu orangpun yang menjawabnya. Ia berulang kali berteriak meminta tolong, namun lagi-lagi tidak ada yang menyahutnya. Kini tenggorokannya sakit, suaranya parau karena terus berteriak.


"Astaga, jangan-jangan ini."


Pikirannya tak menentu saat menemukan jika pintu ruangannya terkunci dari luar. Gadis itu panik.


"Apakah benar pesan yang kuterima tadi? Aku diminta menunggu di sini tapi kenapa aku malah terkunci?"


Sesaat setelah terbangun dari tidurnya, sang raja belum juga datang menemuinya. Ara tak habis pikir jika semua ini adalah perintah dari raja.Tidak mungkin raja mengingkari janjinya. Ia masih berprasangka baik kepada raja walaupun kini tubuhnya sudah mulai menggigil karena kedinginan.


"Udara dingin sekali. Tak ada alas untuk tidur. Hanya lantai semen dan kursi ini. Apakah aku sedang dikurung?" Ia bertanya sendiri.


Tubuhnya lelah ditambah rasa dingin yang begitu menusuk kulit. Ara tidak dapat berpikir jernih.


Tuhan, tolong selamatkan aku. Tubuhku mulai kedinginan.


Rain ... Cloud ... tolong aku ....


Suaranya mulai melemah dan hampir hilang terbawa angin. Ia lantas tidak dapat menjaga keseimbangan tubuhnya karena udara yang begitu dingin, menusuk setiap sendi tulangnya. Ara lantas terjatuh dari atas kursi yang ia duduki. Ia kemudian tak sadarkan diri.


Pagi harinya...


Pihak istana melakukan sarapan pagi bersama sebelum melepas kepergian para tamu undangan dari kerajaan. Tampak Rain dan Cloud tengah menemani para raja dan ratu santap pagi bersama.


Rain dan Cloud disibukkan sejak tadi malam, sehingga tidak menyadari jika sang gadis tidak menghadiri acara sarapan pagi bersama ini.


"Terima kasih atas jamuannya, Raja Sky. Kami begitu senang." Salah seorang ratu mengucapkan terima kasih.


"Pangeran Cloud, Pangeran Rain, datanglah ke Negeri Bunga. Kami akan sangat senang jika kedua pangeran mengunjungi negeri kami." Ratu Negeri Bunga ikut bicara.


"Terima kasih," sahut Cloud menanggapi, sedang Rain hanya tersenyum tipis.


Sarapan pagi bersama itu menutup perjumpaan mereka di pertemuan kali ini. Para raja dan ratu pun menyelesaikan sarapan paginya. Setelahnya, mereka segera bersiap-siap untuk kembali ke negerinya masing-masing.

__ADS_1


"Rain, Cloud, di mana Ara?" tanya Sky seusai sarapan pagi bersama selesai.


"Ara? Bukannya dia sarapan pagi bersama tadi, Yah?" jawab Rain yang bingung.


"Ayah belum melihatnya pagi ini. Apa dia sedang beristirahat? Sebentar lagi kita akan mengantar pulang tamu undangan." Sky menerangkan.


"Mungkin Ara lelah, Yah. Semalam dia pamit kepadaku untuk beristirahat duluan." Cloud menambahkan.


"Baiklah. Selepas ini kalian antar kepergian para tamu undangan dan setelahnya kita kembali rapat," cetus Sky kepada kedua putranya itu.


"Baik, Yah," jawab keduanya bersamaan.


Jadwal yang padat membuat kedua pangeran fokus menyelesaikan tugasnya terlebih dulu. Seusai sarapan pagi bersama, mereka mengantar kepulangan para tamu undangan. Tampak para pejabat istana berbaris di depan pintu ruang tamu kerajaan sambil menyalami para tamu undangan yang akan segera pergi.


"Terima kasih atas kedatangannya."


"Terima kasih."


Rain dan Cloud berjabatan tangan dengan para pangeran. Mereka melaksanakan tugas kerajaan dengan baik. Satu persatu rombongan tamu kehormatan pun meninggalkan istana. Zu sendiri terlihat segera menunggangi kudanya setelah berpamitan. Ia lekas-lekas keluar dari halaman istana.


Kakak seperti terburu-buru. Ada apa, ya?


Shu pun bergegas mengejar kakaknya. Ia menunggangi kuda putihnya keluar dari halaman istana.


"Kakak!" Shu memanggil kakaknya sebelum lebih jauh.


"Shu?" Zu lantas menghentikan laju kudanya.


"Kak, kau meninggalkan rombongan Asia. Ada apa?" tanya Shu yang cemas.


"Aku ada urusan mendadak, Shu. Kau pulanglah bersama rombongan. Nanti aku akan menyusul," tegas Zu.


"Kau yakin, Kak?" tanya Shu memastikan.


"Iya. Maaf, aku tidak bisa berlama-lama."


Zu lantas meninggalkan Shu. Ia melajukan kudanya dengan cepat, melewati rombongan tamu undangan yang lebih awal meninggalkan istana.


Aku harap semuanya baik-baik saja. Nona, tunggu aku.

__ADS_1


Zu terus saja melajukan kudanya menuju salah satu pelabuhan Angkasa. Wajahnya diliputi kecemasan terhadap gadis itu. Langkah kaki kuda Zu pun seperti sedang masuk ke area peperangan. Begitu cepat, melewati ibu kota.


__ADS_2