
Sore harinya...
Kini waktu yang ditunggu-tunggu datang. Andelin tengah bersiap berjalan bersama Cloud melihat ibu kota. Ia menunggu kedatangan Cloud di dalam kereta kuda yang telah dipersiapkan.
Tak lama, pangeran sulung itu datang lalu menaiki kereta kudanya. Ditemani beberapa pengawal dan prajurit berkuda, Cloud mulai berjalan keluar istana bersama Andelin. Mereka menuju ibu kota kerajaan ini.
Sesampainya di ibu kota, Andelin mengajak Cloud turun dari kudanya. Ia meminta Cloud menemani membeli beberapa buah tangan. Tanpa Cloud sadari, beberapa orang mengawasi mereka dari kejauhan.
Cloud sebisa mungkin menjaga jaraknya dengan putri ini. Ia sama sekali tidak menginginkan sang putri walaupun putri itu sangat cantik jelita. Ia masih memegang teguh nama seorang gadis yang dinantinya.
"Pangeran, pernak-pernik di sini indah sekali. Aku baru melihat yang seindah ini."
Mereka tiba di sebuah toko kerajinan tangan dan melihat-lihat hasil karya tersebut. Sontak seluruh penjaga toko memberi hormat kepada Cloud, saat sang putra mahkota itu berkunjung ke tokonya.
"Aku mau yang ini, ya."
Andelin membeli beberapa pernak-pernik pilihannya. Pengawal pribadinya segera mengurus pembayaran atas barang yang ia beli. Sedang Cloud, tampak melihat kerajinan tangan yang lain.
"Pangeran, kudengar ada danau indah di dekat sini. Bisakah kita ke sana?" tanya Andelin kepada Cloud.
"Hm, aku rasa waktu kita sudah cukup untuk berjalan-jalan, Putri," jawab Cloud setengah hati.
"Pangeran, ini hari terakhirku. Mau ya, aku minta tolong kepadamu. Temani kali ini saja." Andelin memohon seraya menggabungkan kedua tangannya.
Cloud merasa tidak enak hati dengan permohonan Andelin. Ia melihat putri itu begitu memelas kepadanya, sedang ia tidak punya pikiran buruk sama sekali.
"Baiklah. Tapi hanya sebentar. Cuaca terlihat mendung hari ini."
Andelin mengangguk senang. Iapun segera keluar dari toko sambil membawa pernak-pernik yang dibelinya. Ia tampak menggandeng Cloud, namun Cloud begitu risih dengannya.
Keduanya segera pergi menuju danau bersama beberapa pengawal kerajaan dan prajurit berkuda yang sudah terlatih. Danau tujuan mereka adalah tempat di mana Cloud bersama Ara melihat matahari terbenam dari atas sampan. Kini danau itu sudah menjadi destinasi wisata kerajaan Angkasa. Namun, setibanya di sana, sesuatu kemudian terjadi...
Hujan deras turun, membuat keduanya harus berdiam diri di dalam kereta. Mereka tidak dapat menikmati indahnya danau di sore hari ini. Kusir istana terpaksa meneduhkan kuda-kudanya di dekat pepohonan rindang. Seluruh prajurit dan pengawal kebasahan.
"Putri, hujan semakin deras. Baiknya kita tidak ikut turun." Cloud melihat hujan dari balik jendela kereta.
"Pangeran ...."
Putri itu memanggil lembut Cloud yang sedang melihat hujan dari balik jendela kereta kudanya. Ia tampak membuka resleting gaunnya seraya mendekatkan diri ke pangeran sulung itu.
Saat Cloud berbalik menghadap sang putri, iapun terkejut. "Putri Andelin! Apa yang Anda lakukan?!" tanya Cloud dengan intonasi tinggi.
Andelin tidak menggubrisnya. Ia lebih menurunkan gaunnya di hadapan Cloud, mencoba menggoda pangeran sulung itu.
Ini tidak beres.
Cloud bertindak cepat. Ia segera membuka pintu kereta kudanya, berniat keluar dari dalam kereta. Namun, Andelin menahan sekuat tenaga dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Pangeran, jangan pergi!"
Cloud tidak menggubris. Ia menghempaskan kedua tangan Andelin yang memegangi tangannya. Seluruh prajurit yang mengawal saat itu, sama sekali tidak mendengar suara keduanya karena hujan turun begitu deras.
Cloud segera membuka pintu kereta kuda dan keluar. Wajahnya tampak merah padam menahan amarah.
"Pangeran!"
Andelin tidak dapat menahan kepergian Cloud darinya. Pangeran itupun segera pergi dari hadapannya.
"Pangeran, apa yang terjadi?" tanya salah seorang prajurit berkuda.
"Tolong jaga putri. Aku ingin kembali ke istana sekarang."
Cloud segera pergi dari tempat itu bersama kuda hitam milik salah satu prajuritnya. Tak lama berselang, beberapa orang suruhan Hell datang mengepung mereka.
"Siapa kalian?!" tanya prajurit berkuda saat menyadari kedatangan orang-orang tak dikenal.
Tak ayal, pertarungan terjadi. Salah satu dari mereka kemudian masuk ke dalam kereta kuda untuk memergoki Cloud. Namun, ia hanya menemukan Andelin seorang diri di dalamnya. Rencana Aksara untuk menjebak pangeran sulung itupun gagal total.
"Sial!"
Beberapa orang tak dikenal segera pergi dari medan laga karena tidak menemukan Cloud bersama Andelin di dalam kereta. Hujan yang deras menjadi saksi kegagalan mereka.
Malam harinya...
"Bagaimana jika terjadi sesuatu terhadap putri itu saat kau tinggalkan?!" tanya Moon yang kesal karena ulah Cloud.
"Ibu, dia ingin menjebakku."
"Apa ada bukti jika dia ingin menjebakmu?" tanya Moon lagi.
Cloud terdiam. Bagaimana bisa ia membuktikan jika Andelin menjebaknya sedang saksi mata hanya dirinya seorang.
"Setelah kepergianmu, beberapa orang datang mengepung Andelin. Bayangkan jika tidak ada pengawal yang menjaganya. Apa jadinya, Cloud?!" tanya Moon lagi. Ia tampak panik.
"Aku tahu jika hal yang kukatakan itu percuma saja, Ibu."
"Cloud, harusnya kau bisa menjaga nama baik keluarga kerajaan ini. Apa kata dunia luar tentang tragedi ini?" Moon menyudutkan Cloud.
"Sudah-sudah. Rain sedang mengintrogasi prajurit yang mengawal Andelin. Kita tunggu saja informasi selanjutnya." Sky mencoba menenangkan istrinya.
"Tapi—"
"Lekaslah tidur. Biarkan aku yang berbicara dengan Cloud," pinta Sky kepada istrinya.
Mau tak mau, Moon meninggalkan keduanya. Ia tampak cemas karena kejadian yang menimpa Andelin. Moon takut nama baik keluarga kerajaannya akan tercoreng karena ulah Cloud yang meninggalkan tamu kerajaan.
__ADS_1
"Cloud." Sky mendekati Cloud.
"Ayah, apa yang kuceritakan itu benar adanya. Apa Ayah juga tidak percaya padaku?" tanya Cloud kepada ayahnya.
Keduanya sedang berbincang di teras ruangan Sky. Cloud dipanggil sesaat setelah prajurit melaporkan kejadian yang menimpa mereka di danau.
Sky menepuk pundak anaknya lalu mengajak anaknya itu untuk duduk bersama di kursi teras. Tampak keprihatinan yang tersirat dari wajah Sky.
"Ayah percaya padamu Cloud. Maafkan ibumu. Ibumu itu tidak mengerti sama sekali tentang politik kerajaan ini." Sky menyadari.
"Ayah, aku tidak habis pikir mengapa Aksara sangat berambisi hingga menjual putrinya sendiri." Cloud tampak heran.
"Cloud, Aksara sedang memainkan peran untuk menutupi kejahatannya tempo dulu."
"Maksud Ayah?" Cloud tidak mengerti.
"Aksara tidak ingin Angkasa semakin melangit, Cloud," lanjut Sky.
"Darimana Ayah tahu?" tanya Cloud lagi.
"Kau tahu tentang penyusupan waktu itu?"
"Penyusupan saat aku pergi?"
"Ya, benar. Mereka mengetahui kabar jika Angkasa akan mengadakan pertunjukan busana dengan harga yang sangat fantastis. Maka dari itu mereka berusaha mencuri semua rancangan yang telah dibuat." Sky mulai bercerita.
"Sungguh aku tidak mengerti, Ayah." Cloud mengernyitkan dahinya.
"Aksara ingin meraup keuntungan dari hasil rancangan busana yang ia curi. Dengan itu, perekonomian di negerinya akan meroket."
"Apa?! Menginginkan keuntungan dari hasil mencuri?" Cloud tak percaya.
"Itu benar. Ayah sudah mengirimkan surat kepada Hell atas masalah yang terjadi tadi sore. Jadi tenanglah."
"Ayah, terima kasih."
"Kau tidak perlu cemas, Nak. Ayah lebih dulu memahami hal ini. Kau lupa jika Ayahmu ini dulunya adalah panglima militer istana?"
Cloud tersenyum. Ia memeluk ayahnya.
"Terima kasih karena telah memercayaiku, Yah."
Sky lantas menepuk-nepuk punggung putranya.
"Jangan berkecil hati karena ibumu selalu menyudutkanmu. Dia tidak mengerti sama sekali tentang politik kerajaan. Yang dia tahu hanya menjaga nama baik kerajaan ayahnya. Maklumi saja."
Cloud mengangguk. Ia lantas melepaskan pelukannya. Tersirat kebahagiaan dari wajahnya malam ini.
__ADS_1