Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Who Deserves?


__ADS_3

Pagi hari aku dibangunkan oleh Rain, mungkin masih sekitar pukul empat fajar. Kulihat dia sudah mandi dan sedang mengenakan pakaian kerajaannya.


"Rain, kau tidak libur?" tanyaku heran.


"Tidak, Ara. Aku memang habis bertugas, tapi tetap saja ada tanggung jawab yang harus kukerjakan," jawabnya seraya mengenakan jubah di depan cermin.


Aku beranjak bangun lalu duduk di pinggir kasurnya. "Baiklah, aku kembali ke kamarku saja." Aku bergegas memakai sepatuku.


"Kau ingin ke kamarmu?"


"He-em, iya. Lagipula kau akan bertugas, aku tidak ingin sendirian di sini." Aku lalu berjalan mendekatinya.


"Hei, kamarku ini kan kamarmu juga, Ara?" Rain tampak kurang berkenan jika aku kembali ke kamarku.


"Rain, kita belum menikah. Aku khawatir pandangan orang akan berbeda," jawabku seraya menatap wajahnya.


Rain merendahkan tubuhnya, dia lalu mengusap-usap pipiku ini. "Kalau begitu, mari kita menikah." Dia mencolek daguku sambil tersenyum.


"Em, itu ...."


Aku jadi bingung sendiri saat Rain mengajak ku menikah. Terlintas perbincangan dengan raja yang memintaku untuk membahagiakan kedua putra mahkota.


"Baiklah, tapi selesaikan dulu tugasmu," kataku lalu menarik hidungnya.


"Ara, jangan begitu. Nanti yang maju bukan hidung." Rain menutupi hidungnya.


"Eh?"


"Ara, tahu tidak?"


"Apa?"


"Pagi-pagi ini waktu yang paling tepat untuk ...,"


"Untuk apa?"


Dia lalu berbisik ke telinga kananku. "Bercinta."


"Rain!" Segera Kujauhkan wajahku darinya. "Dasar mesum!"


Akupun keluar dari kamar, berlaga ngambek dan ingin dikejar olehnya. Rain pun segera mengejarku.


"Ara, jangan keluar dengan pakaian seperti itu!" serunya lalu menarik tanganku.


"Kenapa?"


"Kau tampak begitu seksi dengan pakaian terbuka seperti ini. Pakailah jubahku!" Rain menawarkan jubahnya.


"Tidak-tidak. Nanti orang tahu jika kita baru saja bermalam bersama."


"Memangnya kenapa?"


"Hush, kau ini. Apa kata penghuni istana saat melihatku mengenakan jubahmu? Sudah sana, kerjakan tugasmu. Aku mau kembali ke kamar."


"Aku antar, ya?"


"Tidak perlu. Aku sudah hapal jalan, kok," kataku seraya mencubit kedua pipinya.


Rain tampak diam. Namun kemudian...


Rain ...?


Kecupan hangat kuterima darinya di pagi ini. Rain mencium singkat bibirku. Dia kemudian menarikku ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Terima kasih, Ara. Terima kasih karena sudah mewarnai hidupku."


Senyumku mengembang mendengar kata-kata itu. Akupun melingkarkan kedua tangan di pinggangnya.


"Aku juga bersyukur bisa bersamamu, Rain."


Rain terdengar menghela napas. Tangan kirinya memegang tubuhku sedang tangan kanannya memegang kepala ini. Dia mengecup lama keningku, seakan sedang menyalurkan perasaan sayangnya. Ya, aku merasa sangat disayang olehnya.


Pagi ini kuawali hari dengan semangat api. Hampir saja aku terlupa dengan map rancanganku. Rain lalu segera mengambilkannya.


"Ara, benar tak kuantar sampai kamar?" tanyanya memastikan.


Aku mengangguk sambil tersenyum.


"Baiklah. Sampai nanti."


Kami kemudian berpisah tepat di halaman depan rumahnya.


"Sampai nanti, Pangeran."


Aku tersenyum ke arahnya lalu berjalan meninggalkan halaman rumah ini. Sebuah rumah yang memang dikhususkan untuknya.


Saat berbalik ke belakang, kulihat Rain masih melihatku. Diapun melambaikan tangannya seraya tersenyum.


Aku menyayangimu, Rain.


Beberapa saat kemudian...


Hari masih tampak gelap, menemani langkahku kembali ke kamar. Sesampainya di depan pintu, kudengar ponselku berbunyi.


Lagu ini ...?


Segera aku membuka pintu lalu masuk ke dalam kamar untuk melihat ponselku. Dan ternyata...


Aku terkejut saat melihat Cloud tertidur di atas kasur. Dengan segera aku mendekatinya.


Dia mengambil ponselku dari lemari? Jangan-jangan dia juga melihat semua fotoku bersama Rain?!


Tiba-tiba saja aku merasa khawatir. Kulihat ponselku memutar lagu All That I Need berulang kali. Sepertinya Cloud mendengarkan lagu ini sambil menungguku.


Cloud ....


Hatiku menjadi lirih saat melihat Cloud tertidur di kasurku. Aku merasa bersalah karena kemarin tidak memberi kabar kepadanya dan kembali dalam keadaan seperti ini.


Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?


Aku lalu mendekatinya, mencium pipi kanannya. Kuambil ponselku yang berada di sampingnya. Lagu ini benar-benar membuat hatiku gundah saat dinyanyikan secara akustik dan dalam tempo yang lambat.


Maafkan aku, Cloud.


Aku beranjak pergi darinya, namun ternyata Cloud menahan tanganku.


Dia terjaga?


Akupun menoleh ke arahnya, dan kulihat Cloud beranjak dari tidur. Wajahnya terlihat sendu di pagi ini.


"Ara ...," Suaranya pun terdengar lirih, seperti tertahan. "Kau dari mana?" tanyanya pelan.


Cloud duduk di pinggir kasurku. Aku pun ikut duduk bersamanya. Kini aku duduk di sisi kirinya.


"Maafkan aku, Cloud," kataku seraya tertunduk.


Kupikir Cloud akan marah kepadaku. Namun ternyata, dia malah mengusap pipiku ini. Dia tersenyum manis lalu memegang kedua pipiku.

__ADS_1


"Lain kali beri kabar terlebih dahulu, ya."


"Cloud?"


"Aku mencemaskanmu, Ara. Namun, setelah tahu kau pergi bersama Rain ... kurasa aku tidak perlu khawatir lagi."


Di-dia?!


"Baiklah, kau sudah kembali. Aku kembali ke ruanganku dulu. Sampai nanti," katanya seraya mengusap kepalaku.


Cloud ....


Cloud berlalu pergi, dia keluar kamar begitu saja. Aku semakin merasa bersalah jadinya.


Apakah dia sudah mengalah dengan keadaan?


Aku merasa sikap Cloud sedikit berubah pagi ini. Mungkin terbawa lelah atau memang dia mencoba untuk merelakanku bersama Rain? Entahlah, mungkin lebih baik jika aku segera mandi lalu melanjutkan rancanganku.


...


Ara tidak mengetahui jika Cloud sedang menutupi kesedihan yang melanda hatinya. Ia berusaha sabar menghadapi lika-liku perjalanan cintanya. Butir kristal itupun menetes, sesaat setelah keluar dari kamar Ara. Cloud tidak ingin menampakkan kesedihan di hadapan gadisnya itu.


Ia terus saja berjalan menuju ruangannya untuk kembali bekerja. Semalam suntuk ia habiskan untuk menunggu Ara kembali. Namun nyatanya, sang dewi tidak juga kembali hingga sang fajar mengantarkannya.


Ara ... aku akan mencoba untuk merelakanmu. Itu pun jika aku mampu.


Cloud masuk ke dalam ruangannya. Ia menutup fajar dan menyambut mentari pagi dengan doa dan harapan di hati. Ia berharap menemukan titik temu dari problematika asmaranya ini.


Beberapa jam kemudian, di kamar Ara...


Hari ini kuhabiskan waktu untuk menyelesaikan semua rancanganku. Tanpa terasa jam makan siang telah tiba. Mbok Asri datang sambil membawakan makan siang untukku.


"Nona, makan siangnya."


"Letakkan saja, Mbok. Aku masih sibuk," kataku.


"Non, tadi pagi Nona hanya sarapan roti. Dan kini ingin menunda makan siang, nanti Nona sakit."


Mbok begitu perhatian kepadaku. Aku tahu jika dia mencemaskan keadaanku. Tapi entah mengapa, hari ini aku ingin pekerjaanku cepat selesai.


"Baiklah, Mbok. Aku makan."


Aku bergegas menyantap makan siang yang mbok berikan padaku, mbok pun menemani. Namun, dia kemudian memberi tahuku dengan sebuah kabar yang mengejutkan. Akupun segera menghabiskan makan siang ini lalu meneguk segelas air.


"Mbok tahu dari mana?" tanyaku serius.


"Saya mendengar dari penjaga gerbang, Non."


"Tapi apa secepat itu?" tanyaku tak percaya.


"Saya rasa begitu, Non."


"Lalu pihak istana sudah mengetahuinya?" tanyaku lagi.


"Sepertinya sudah, namun hal ini masih disembunyikan agar tidak meluas ke mana-mana."


"Astaga."


Aku mengernyitkan dahiku mendengar kabar ini. Sebuah kabar datang dari penduduk ibu kota yang kini terkena wabah penyakit.


Apakah ini pertanda dari semua perkataan Tetua Agung?


Aku bertanya sendiri, memastikan apakah ini jalan untuk membuktikan semua perkataan Tetua Agung waktu itu.

__ADS_1


__ADS_2