
"Aku masih harus berkumpul dengan pasukanku, Ara. Setelahnya menghadap ayah untuk melaporkan keadaan perbatasan. Apa kau mau menunggu?" tanyanya sambil mengenakan jubah yang lain.
"Em, tak apa. Aku juga masih mempunyai pekerjaan," jawabku.
Rain lalu menoleh ke arahku. "Kau masih bekerja pada kak Cloud?" tanyanya lagi.
"Hm, iya. Ada hal yang harus segera kuselesaikan," jawabku lagi.
"Baiklah. Tapi jangan lebih dari sebatas hubungan kerja. Karena ...," Rain lalu berjalan mendekatiku, "kau milikku, Ara." Dia kemudian mengecup singkat bibirku ini.
Seketika itu juga aku merasa bersalah kepadanya. Entah mengapa hatiku seperti teriris. Mungkin karena ... ah, tidak. Ini semua belum berakhir.
"Baik, Pangeran." Aku mengangguk setelah bibir itu menjauh dari bibirku.
Aku mengerti apa yang Rain inginkan. Tapi aku juga belum mampu untuk menolak semua ini. Aku bimbang dengan diriku sendiri. Aku kehilangan kepercayaan diri.
"Baiklah, aku antarkan sampai di depan gazebo. Nanti setelah semua selesai, aku akan mengajakmu berjalan-jalan."
"Tap-tapi—"
"Tapi apa, Ara?"
"Rain, kau tidak lelah? Baru saja sampai, kan?" tanyaku.
"Tidak, Sayang. Untukmu, tidak ada kata lelah bagiku." Dia mencolek daguku ini lalu mengambil atribut kerajaannya.
Aku mengangguk, memenuhi semua permintaannya. Kami kemudian keluar kamar dan berjalan bersama menuju gazebo istana dengan menaiki kuda hitamnya.
Setibanya di gazebo, Rain membantuku turun dari kudanya lalu berpamitan kepadaku. Dia memintaku untuk menunggu. Dan selama menunggunya, aku menyelesaikan beberapa rancangan busana kebaya. Sehingga tidak ada waktu yang terbuang sia-sia.
Selamat bekerja, Pangeran.
Aku melambaikan tangan melepas kepergiannya dari hadapanku.
Beberapa jam kemudian...
Menjelang pertengahan siang, Rain telah berada di ruang kerja ayahnya. Ia melaporkan keadaan dan situasi terkini tentang wilayah perbatasan negeri kepada sang ayah. Rain menjelaskan begitu rinci sehingga Sky memahami situasi yang terjadi.
"Baiklah, Ayah terima laporanmu. Tapi kita tetap harus waspada dengan segala kemungkinan yang akan terjadi." Sky menerima laporan putranya.
"Aku sudah membagi tugas kepada setiap pemimpin regu. Dan berharap akan menjadi pertahanan yang kuat bagi kita." Rain menuturkan.
"Ayah bangga padamu, Rain. Kau tidak takut sama sekali dalam menghadapi musuh. Namun, Ayah berharap kau mau mengalah kepada saudaramu sendiri." Sky menepuk pundak putranya.
"Maksud, Ayah?" Rain merasa pembicaraan ini sudah keluar dari topik utama.
"Hah..."
__ADS_1
Sky menghela napasnya. Ia kemudian berjalan menjauh dari putra bungsunya, menuju jendela ruangan.
"Ayah sudah mengetahui semuanya, Rain. Apa ada hal lain yang kau sembunyikan?" tanya Sky seraya menoleh ke arah Rain yang duduk di kursi tamu ruangannya.
"Ayah, aku tidak mengerti. Apakah ini berkaitan dengan masalah pribadi?" tanya Rain lagi.
Sky berbalik, menghadap ke arah anaknya yang sedang duduk. Kedua tangannya berada di belakang sambil berjalan mendekati Rain.
"Bagaimana pendapatmu tentang Ara?" tanya Sky yang sontak membuat Rain terkejut.
"Ayah, jadi Ayah sudah mengetahuinya?" Rain balik bertanya.
"Ya, Ayah sudah mengetahuinya, Nak. Dan Ayah ingin kejujuran dari hatimu." Sky kembali duduk berhadapan dengan anaknya.
"Dia ... dia adalah seorang gadis pejuang yang kucintai," sahut Rain sambil mengingat Ara.
"Seberapa besar cintamu padanya? Apakah melebihi cintamu pada negeri ini?" tanya Sky lagi.
"Ayah! Pertanyaan ini sungguh menjebakku. Apakah Ayah sengaja melakukannya?" Rain tampak mulai kesal.
"Rain, Ayah sudah tua. Ayah membutuhkan kalian untuk meneruskan tahta kerajaan. Ayah tidak ingin terjadi perselisihan," lanjut Sky.
"Ayah, ada hal yang harus Ayah ketahui tentang hal ini."
"Katakanlah, Nak."
"Cloud berkata seperti itu?" tanya Sky lagi.
"Sejak awal aku sudah tertarik padanya, Yah. Aku tidak tahu jika kak Cloud juga menyukainya. Karena yang kutahu Ara adalah seorang pekerja baginya, dan hal itu dia bilang sendiri padaku." Rain menceritakan.
"Rain, kau masih muda. Pasti banyak putri cantik dari kerajaan lain yang menyukaimu."
"Maksud, Ayah?"
"Ayah ingin kau mengalah demi negeri ini."
"Apa?!!" Rain begitu terkejut.
"Cloud akan segera dilantik menjadi raja. Namun, dia harus menikah terlebih dahulu. Kita harus mempunyai ratu yang baru."
"Tidak, Ayah. Aku sangat mencintai Ara. Aku tidak akan melepaskannya." Rain beranjak dari duduknya.
"Rain—"
"Dia sudah seperti napasku. Aku tidak akan merelakannya, aku akan memperjuangkannya." Rain berkata tegas.
"Kau bisa memilih putri dari kerajaan lain, Rain."
__ADS_1
"Tidak. Cukup bagiku hanya Ara seorang. Dia sudah mencukupi segala yang kubutuhkan. Dia segalanya bagiku."
Rain bergegas pergi dari ruangan ayahnya. Dia berjalan cepat ke arah pintu keluar.
"Rain, kau berani membantah Ayah?"
Sky tampak kesal kepada putranya. Rain pun segera menghentikan langkah kakinya.
"Maafkan aku, Yah. Untuk kali ini aku tidak dapat memenuhi permintaan Ayah. Secantik apapun putri dari kerajaan lain, tetap Ara yang kuinginkan."
Rain berkata dengan membelakangi Sky. Ia kemudian bergegas keluar dari ruangan ayahnya.
"Astaga."
Sky memijat dahinya sendiri. Ia tampak pusing menghadapi kegigihan putra bungsunya itu. Ia sudah berusaha untuk membuat Rain mengalah, namun cinta Rain begitu besar kepada Ara.
"Aku masih harus bersyukur karena hanya mempunyai dua orang putra. Bagaimana jika mempunyai tiga atau empat orang putra dan mereka mencintai gadis yang sama? Pasti itu lebih merepotkan lagi."
Sky menjatuhkan diri ke atas kursi kerjanya. Ia lekas meminum ramuan dari sang istri. Sky tampak kelelahan menghadapi kedua putranya ini.
Sementara itu...
Rain berjalan cepat dari ruangan ayahnya dengan perasaan kesal yang tertahan. Ia tidak menyangka jika sang ayah memintanya untuk mengalah. Rain kesal dan juga marah. Namun, ia masih dapat meredam amarahnya itu.
Langkah kakinya terdengar keras menyentuh lantai istana yang putih dan juga bersih. Sepanjang perjalanan, ia hanya diam dan tidak tersenyum sama sekali. Rain masih tidak habis pikir dengan kejadian di ruangan ayahnya. Ia tidak dapat membayangkan jika harus benar-benar kehilangan gadisnya itu.
Aku akan terus berjuang untukmu, Ara.
Rain berbelok menuju arah gazebo untuk menemui Ara. Dari kejauhan ia melihat gadisnya itu sedang sibuk menorehkan pensil di atas lembaran kertas. Ia kemudian bergegas mendekati gadisnya itu. Seorang gadis yang begitu dicintainya.
Ara ... aku datang.
Amarahnya pun meredup setelah melihat surai panjang yang begitu indah. Rain lalu memetik setangkai bunga mawar yang ia lalui di jalan setapak menuju gazebo istana. Ia berniat memberikan bunga mawar itu kepada Ara.
"Rain?"
Ara pun menyadari kehadirannya. Langkah kakinya terdengar begitu khas. Sang gadis lalu berdiri untuk menyambut kedatangannya, seraya tersenyum penuh kerinduan.
Kau milikku dan selamanya akan menjadi milikku, Ara.
Rain akhirnya tiba di depan gazebo istana. Dia lalu memberikan setangkai bunga mawar merah itu kepada gadisnya.
"Terimalah, Sayang," katanya yang disambut senyum manis sang gadis.
"Dasar!"
Ara pun segera mengambil bunga mawar itu lalu menciumnya. Rain tampak tersenyum senang karena melihat gadis itu kini sudah berada di dekatnya.
__ADS_1