Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
I'm Sorry


__ADS_3

Di taman belakang kediaman Zu...


Kini aku sudah tiba di taman belakang kediamannya dan dia memetikkan satu buah jeruk untukku.


"Ini adalah jeruk Asia, rasanya manis sekali. Seperti dirimu." Zu memujiku.


Aku merasa sedikit heran dengan perkataannya, khawatir jika ini hanya basa-basinya saja. Dia kemudian mengupaskan kulit jeruk itu untukku.


"Makanlah, Ara." Dia menyuapiku.


Aku pun menurut, membuka mulut ini. Dia lalu menyodorkan satu belahan jeruk kepadaku. Tapi ternyata...


"Pangeran?!" Aku terkejut, ternyata dia melahapnya sendiri.


"Enak bukan rasanya?" Dia memakannya tanpa merasa berdosa sama sekali.


Seketika aku jadi emosi melihatnya. Aku cemberut, memasang wajah kesal lalu segera pergi. Tapi, dia menahanku.


"Sayang, jangan pergi!" Dia menarik tanganku.


"Pangeran, lepaskan! Aku sedang malas berbicara," kataku sambil membelakanginya.


"Hm, benarkah?" Dia seperti tak percaya.


"Iya," jawabku singkat.


"Bagaimana kalau seperti ini."


"Pangeran—"


Seketika kututup mulutku saat dia mencium tengkuk leher ini. Aku tidak ingin ada yang mendengar suaraku.


"Kenapa ditutup? Jika ingin mendesah, mendesahlah," katanya lagi.


"Pangeran, kau ini—" Aku berbalik menghadapnya.


"Kau ingin menolak?"


"Pangeran, aku—"


"Sayang, mulai kemarin kau menjadi milikku. Dan mulai hari ini aku pinta berikan ciumanmu di setiap pagi, siang, sore dan malam hari."


"Ap-apa?!" Aku terkejut.


"Ini titah bagi calon ratuku."


"Pangeran—"


"Aku tidak menerima penolakan. Sekarang cium aku," pintanya lagi.


Kalau sudah begini aku seperti tidak punya kekuatan untuk melawannya. Tatapannya seakan menindasku. Dan entah mengapa hatiku merasa ingin menjauh darinya.


"Berikan ciumanmu, Sayang." Zu melingkarkan kedua tanganku di lehernya.


Mau tak mau aku menuruti permintaannya. Kucoba memejamkan kedua mata lalu mulai mendekatkan wajahku. Kuintip dari balik kelopak mata ini jika dia tengah tersenyum manis. Aku kemudian mulai mengecup bibir merahnya itu.


"Mmmach!" Kukecup sekali bibirnya.

__ADS_1


"Hanya sekali?" Dia menagih lagi.


"Pangeran, ciuman pagi sudah," kataku.


"Iya, tapi bukan seperti itu." Dia mencolek hidungku.


"Jadi bagaimana?" tanyaku yang bingung.


"Hm ... bagaimana jika kita mandi bersama?"


"Ap-apa?! Tidak, Pangeran. Aku tidak mau!" kataku tegas.


"Tidak mau? Tapi kenapa kemarin kau menikmatinya?" Dia berbisik di telinga kiriku.


Seketika aku bergidik dibuatnya. Dia seperti menuntutku lagi dan lagi. Aku pun jadi teringat kejadian di sungai kemarin.


"Sayang, sudah kubilang jangan ditahan. Lepaskan saja. Aku juga tahu jika kau menginginkannya. Apa salahnya jika kita melakukannya? Sebentar lagi aku akan menikahimu." Zu menatapku dalam.


"Pangeran, aku masih takut," jawabku jujur.


"Aku akan melakukannya dengan penuh kelembutan," bisiknya lagi.


"Pangeran ...."


"Sayang, apa yang kau takutkan? Apa kau pikir setelah mendapatkannya, aku akan melepasmu?"


Aku terdiam.


"Tidak, Ara. Hanya orang bodoh yang melepaskanmu," katanya lagi.


"Pangeran ...."


Tubuhku lemas dibuatnya. Dan kini dia mengusap-usap perutku. Seketika tubuhku ini bergetar sendiri. Getaran kecil yang mampu Zu sadari.


"Lihatlah, tubuhmu memberikan reaksi yang berlawanan dengan ucapanmu. Kau menginginkannya, Ara." Zu menyudutkanku.


"Jangan, Pangeran."


"Jangan adalah lanjutkan bagiku."


"Pangeran!"


Zu lalu menggendongku, dia membawaku kembali ke kamar. Melewati pelayan-pelayan yang melihat kami. Sungguh aku malu dibuatnya, tapi aku tidak berdaya untuk melawan. Tenaganya kuat sekali jika sudah seperti ini. Dia seperti bukan dirinya lagi.


Sementara di Angkasa...


Cloud duduk termenung di depan meja kerjanya. Ia sedang memikirkan sesuatu yang penting. Kedua tangannya menopang wajah dan sesekali ia mengetuk-ngetuk dahinya sendiri.


"Ara ... aku rindu sekali padamu." Ia akhirnya mengeluarkan isi hatinya.


"Apa yang sedang kau lakukan di sana? Apakah kau merindukanku?" tanyanya lagi.


Cloud merasa tidak sanggup untuk bertahan. Rasa rindu itu semakin menggebu-gebu dan memaksanya untuk segera berangkat ke Asia sekarang juga.


Waktu itu...


"Ayah, apakah sudah didapatkan kabar?" tanyanya pada Sky beberapa hari sebelum Moon jatuh sakit.

__ADS_1


"Cloud, Ara memang benar ada di Asia," jawab Sky sambil beranjak dari kursi kerjanya.


"Ap-apa?!" Cloud terkejut mendengar kabar ini.


"Pasukan khusus telah memastikan kebenarannya. Mereka melihat Ara di pasar bersama seseorang yang dicurigai sebagai pangeran negeri itu." Sky memberikan kabar.


"Ara ...."


Ia kini seperti orang yang kehausan. Rindu itu benar-benar membunuhnya. Ia ingin sekali bertemu dengan sang gadis. Pikirannya belum tenang jika belum menatap bola mata hitam itu.


"Mungkin aku memang harus ke Asia. Tapi bagaimana dengan ibu? Ibu sedang sakit. Apakah aku setega itu untuk meninggalkannya?" Cloud dilema sendiri.


Penyakit Moon belum dapat disembuhkan, hanya bisa diringankan sesaat. Yang mana membuat Cloud merasa permasalahan semakin menumpuk di pikirannya.


"Ara, aku khawatir. Benar-benar khawatir. Aku takut dia melakukan sesuatu yang tidak-tidak padamu." Cloud stres sendiri.


Apa yang dikhawatirkannya memang benar terjadi. Kini sang gadis berada di bawah tubuh sang pangeran Asia. Ia mencoba menolak apa yang tengah dipinta kepadanya.


Di kamar Zu...


"Pangeran, tolong jangan memaksaku. Aku tidak bisa, sungguh."


Ara menahan dada Zu yang semakin dekat ke tubuhnya. Namun, apalah daya sang gadis yang tidak mampu melawan kehendak sang pangeran.


Aku harus pergi.


Perlakuan dari Zu justru membuat Ara takut padanya. Yang mana ucapan Shu selalu terngiang-ngiang di benak sang gadis. Ara pun mendorong Zu sekuat tenaga. Ia berlari, keluar dari kamar segera.


"Ara!" Zu merasa kehilangan, ia kemudian segera mengejar Ara. "Ara, tunggu!"


Gadis itu terus saja berlari, menuruni anak tangga, menuju lantai satu. Ia berlari tiada arah, melewati taman di belakang kediaman Zu.


"Aku tidak bisa terus-terusan seperti ini."


Sekuat tenaga ia berlari untuk menghindari Zu. Seketika itu juga Zu tersadarkan dari hasratnya yang telah menakuti sang gadis.


Astaga, apa yang telah aku lakukan? Dia kini melarikan diri dariku.


Zu masih terus mengejar Ara. Matanya mencari ke sekeliling taman belakang rumah. Tapi, ia tidak juga menemukan sang gadis.


"Prajurit!" Zu memanggil prajuritnya.


"Ya, Pangeran." Prajurit yang berjaga pun segera datang.


"Cepat cari ratuku! Dia menghilang!" Zu tampak kesal.


"Baik, Pangeran."


Prajurit-prajurit itu lekas berpencar untuk mencari sang gadis. Mereka bersama penjaga kebun menyusuri halaman belakang kediaman Zu yang dipenuhi berbagai macam tanaman. Sementara sang gadis terus saja berlari, ia merasa takut dengan ulah Zu yang semakin hari semakin menjadi.


Aku tidak tahu harus ke mana, aku berlari saja. Semoga Tuhan menolongku.


Ara melewati semak belukar yang ada di belakang kediaman Zu, melewati sungai kecil lalu menapaki jalan tinggi. Ia terus saja berlari, tidak memedulikan apa yang akan terjadi nanti. Setidaknya hanya hal itu yang bisa ia lakukan untuk tetap menjaga semuanya. Sementara Zu tampak panik saat kehilangan sang gadis.


Ara, kau di mana? Maafkan aku yang telah membuatmu takut. Aku menyesal.


Zu menyesal karena telah membuat gadisnya ketakutan. Seketika itu juga hasrat yang tengah menggebu-gebu sirna dari dalam pikirannya. Zu bergegas ikut mencari sang gadis.

__ADS_1


__ADS_2