Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Shocking


__ADS_3

Hari demi hari berganti, waktu pun tak terasa terus berlalu. Kini masuk minggu ke tiga aku berada di istana Asia. Tepat hari ini, sudah sebulan aku dan Zu saling mengenal. Dan sepertinya, aku mulai terbiasa dengan segala tingkah laku serta sikapnya. Mulai hari ini pun aku akan menganggap istana Asia seperti rumahku sendiri.


Sejujurnya aku rindu kepada kedua pangeranku dan ingin sekali bertemu. Tapi entah apa yang terjadi di Angkasa, sampai saat ini pun aku belum mendengar kabar dari mereka. Walaupun begitu, aku tetap berkeyakinan jika suatu hari mereka akan menjemputku. Semoga saja setelah urusan ini selesai, karena sekarang aku masih membantu raja dalam proses penyembuhan penyakitnya. Atau setidaknya, bisa meringankan rasa sakit yang diderita.


Raja mengalami penyumbatan pembuluh darah pada bagian leher. Aku tidak tahu mengapa bisa seperti itu. Dua minggu lalu aku sudah mencoba membekamnya, ditemani Zu dan juga Shu. Mereka akhirnya melihat sendiri hasil bekaman itu. Darah kental berwarna hitam keluar dari bagian punggung atas raja, dekat dengan leher.


Zu dan Shu tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Mereka segera menyelidiki hal ini. Tapi sayangnya, pihak balai pengobatan istana seperti menutupi hal yang terjadi. Tidak ada yang mau mengaku atas komposisi obat yang selama ini dikonsumsi oleh raja. Hingga akhirnya, aku memberanikan diri untuk mengecek ramuan obat itu.


Kini aku sedang berada di sebuah pasar tradisional bersama Shu. Sedang Zu sendiri masih sibuk dengan rutinitas hariannya. Kulihat pangeran menyebalkan ini malas-malasan menemaniku. Aku pun harus membawa barang belanjaanku sendiri.


Dia ini tidak punya hati atau kurang peka, sih?!


Aku menggerutu dalam hati. Hingga sampai di sebuah tempat yang menjual bahan baku obat-obatan tradisional, aku berhenti lalu menanyakan komposisi obat yang kubawa ini.


"Sebentar ya, Non. Saya tumbuk dulu pilnya."


Penjual bahan baku obat-obatan ini menumbuk pil yang kubawa. Dan tak lama dia memberikan jawaban atas apa yang aku tanyakan.


"Nona, maaf sebelumnya. Dari mana Nona mendapatkan pil ini?" tanya penjual itu.


Aku dan Shu sengaja berpakaian biasa, layaknya rakyat negeri ini. Sehingga tidak ada satupun yang mengenali kami. Terlebih Shu menutup wajahnya dengan kain seperti masker. Sehingga tidak ada satupun yang dapat mengenalinya sebagai pangeran negeri ini.


"Aku mendapatkan obat itu dari seorang teman. Katanya bisa menyembuhkan penyumbatan pembuluh darah. Tapi ternyata, penyakit pamanku semakin parah." Aku beralasan.


"Astaga, Non. Tega sekali teman Nona. Pil ini menggunakan tanaman perambat yang berbahaya dan dicampur dengan bisa ular. Pantas saja tidak sembuh, Non."


"Ap-apa?!" Aku terkejut.


"Sebaiknya Nona segera laporkan teman Nona ke pihak kerajaan. Ini sudah sangat tidak manusiawi. Bukannya menyembuhkan, malah mematikan perlahan."


Seketika aku terkejut bukan main mendengar penuturan penjual itu. Begitu juga dengan Shu, dia akhirnya ikut bicara.


"Kau yakin jika ini pil berbahaya?!" Shu memastikan dengan tegas.

__ADS_1


"Benar, Tuan. Untuk apa saya berbohong, terlebih menyangkut nyawa seseorang. Jika Tuan tidak percaya, Tuan bisa pergi ke tabib Fu yang ada di bawah kaki gunung Fuji." Penjual itu menjelaskan.


"Tabib Fu? Di bawah kaki gunung Fuji?" tanyaku lagi.


"Benar, Nona. Beliau ahli dalam meracik obat penawar. Saya juga berjualan bahan baku obat atas saran dari beliau. Agar penduduk di sini tidak menggunakan obat-obat kimiawi yang membahayakan." Penjual itu menjelaskan.


Kurekam dalam ingatan nama tabib beserta letak kediamannya. Sepertinya aku harus menemui tabib itu. Tapi tidak mungkin jika bersama Shu, dia pasti tidak mau. Jadi mau tak mau aku harus pergi bersama Zu.


Apakah Zu bisa libur dalam waktu dekat ini? Aku bertanya sendiri dalam hati.


"Em, baiklah. Kalau begitu apakah ada bahan baku obat penawar pil ini untuk sementara waktu? Karena sepertinya kami tidak bisa langsung ke rumah tabib Fu." Aku mencoba meminta obat penawar sementara.


"Baik, Non. Saya siapkan."


Kebetulan pembeli sedang tidak banyak saat ini, sehingga aku bisa leluasa mengobrol. Dan tanpa kusadari, Shu sudah tidak berada di sampingku. Kucari-cari dirinya, ternyata dia sudah berada di dekat kuda. Kedua tangannya mengepal, wajahnya pun memerah. Sepertinya dia sedang menahan amarah.


"Ini, Nona. Semuanya enam puluh perak," katanya menyebutkan nominal belanja bahan baku penawar ini.


"Ini bisa dibuat berapa kali minum ya, Paman?" tanyaku lagi.


"Baik, terima kasih." Kuberikan satu koin emas kepadanya lalu beranjak pergi.


"Nona, tunggu!" Penjual itu memanggilku kembali.


"Iya, Paman? Apakah uangnya kurang?" tanyaku seraya memegang belanjaanku ini.


"Tidak, Non. Ini masih ada kembaliannya." Penjual itu mengambilkan uang kembalian atas belanjaanku.


"Tidak usah, Paman. Ambil saja," kataku seraya tersenyum.


Penjual bahan baku ramuan itu seperti terkejut, dia lalu tersenyum padaku. Entah apa yang di pikirannya, tapi kulihat dia memegang dada, seperti bersyukur.


Ini aneh sekali.

__ADS_1


Aku curiga jika ratulah yang telah meracuni raja. Pihak balai pengobatan istana pun tampak tutup mulut. Sebenarnya apa yang terjadi? Sepertinya aku harus mencari tahu sendiri akan kebenarannya.


Aku masih bertanya-tanya sambil terus melangkahkan kaki menuju kuda putih yang kupinjam. Sesampainya di sana, Shu segera naik ke kuda hitamnya lalu berjalan duluan di depanku. Tanpa kata, tanpa pamit.


Dia ternyata lebih menyebalkan dari Rain.


Entah apa yang sedang dipikirkannya, aku naik saja ke kudaku. Sedang belanjaanku ini kuletakkan pada kantong yang ada di belakang. Aku pun mengikuti Shu berjalan kembali ke istana Asia.


Sesampainya di halaman istana Asia...


Aku tiba di halaman istana, halaman yang amat luas sekali. Baru kali ini aku melihat halaman seluas ini, mungkin ada sekitar dua atau tiga kali lapangan sepak bola. Istananya sendiri satu lapangan penuh. Tidak bisa dibayangkan jika harus berjalan kaki, jarak dari gerbang ke pintu masuk istana sangatlah jauh menurutku.


Untung masih ada kuda.


Aku masih tetap bersyukur karena Zu meminjamkanku kuda putihnya. Sehingga jika ingin berjalan-jalan, tidak terlalu melelahkan.


"Putri."


Saat menuruni kuda tepat di depan pintu masuk istana, kulihat ada Mine menyapaku. Sepertinya dia sudah lama menungguku kembali. Terlihat dari wajahnya yang lelah itu.


"Putri Mine, salam bahagia," kataku membalas sapaannya.


Sontak putri itu terkejut dengan kata sapaanku, dia seperti mengingat sesuatu. Lantas segera kuambil barang belanjaanku lalu melepas kuda putih itu, agar dia berjalan ke mana yang dia mau. Sedang aku, berniat masuk ke dapur istana untuk membuatkan ramuan penawar yang telah kubeli ini.


"Em, apakah ... kita bisa bicara sebentar?" tanyanya ragu-ragu.


Entah apa yang ingin dia bicarakan, sepertinya memang cukup penting. Tapi tanggung jawabku lebih penting dari permintaannya.


"Putri, maaf aku masih ada pekerjaan. Apa bisa setelah menyelesaikan pekerjaanku dulu?" tanyaku padanya.


Jujur saja, diberi kepercayaan membantu proses penyembuhan penyakit raja membuatku sedikit keberatan. Tapi Zu memohon dengan mata yang berkaca-kaca waktu itu, aku pun jadi tidak tega padanya.


"Sebentar saja, Putri." Dia meminta kembali.

__ADS_1


Karena tidak enak, akhirnya aku menuruti ajakannya untuk berbincang sebentar. Dan sambil membawa semua barang belanjaanku, aku mengikutinya menuju gazebo istana.


__ADS_2