
Di dapur kediaman Rain...
Aku bersama Rain menuju dapur kediamannya. Kulihat memang tidak ada apa-apa di sini. Ternyata tidak ada pelayan yang mengantarkan makanan untuknya. Atau mungkin dia sendiri yang tidak memintanya.
Di dapur hanya ada mie instan dan telur ayam. Aku jadi miris melihatnya. Bisa-bisanya kediaman seorang pangeran hanya ada mie instan dan beberapa butir telur. Aku jadi heran mengapa Rain tidak menempatkan pelayan lagi di kediamannya ini.
"Rain."
"Hm?"
"Ke mana pelayan di rumahmu?" tanyaku padanya yang duduk di depan meja makan.
"Aku sengaja meliburkannya," jawabnya cepat.
Aku berbalik menghadapnya. "Rain, hanya ada mie instan dan telur di sini. Kau tunggu, ya. Aku ke dapur istana untuk mengambilkan makanan." Aku beranjak pergi, melewatinya.
"Sayang." Dia pun menahanku sebelum sempat pergi.
"Rain?"
"Masak saja yang ada, Ara. Apapun yang kau masak untukku, aku akan memakannya." Dia tersenyum padaku.
"Anak baik." Aku pun membelai wajahnya.
Pangeranku ini memang tidak terlalu menuntut. Dia bisa makan apa saja. Mungkin karena sudah terbiasa melalang buana di luar, sehingga tidak membuatnya banyak pilih. Apa yang ada ya dimakan.
Aku kemudian membuatkan mie instan untuknya. Mie tanpa merek dengan bumbu yang memang sudah disiapkan di dalam bungkusnya. Kurebus bersama telur dan setelah matang segera kutiriskan. Setelahnya, barulah kutuang air panas kembali sebagai kuah mie ini. Dua mangkuk mie pun sudah siap tersaji. Aku segera menyajikannya ke atas meja makan.
"Silakan, Pangeran." Aku duduk di depannya.
"Sayang."
"Hm?"
"Maafkan aku atas hal yang tadi, ya." Dia akhirnya membuka pembicaraan.
Aku hanya diam sambil mengaduk mie di dalam mangkuk.
"Aku tidak punya pilihan selain menerima misi ini. Aku tidak ingin terjadi sesuatu apapun pada negeriku. Aku memang mencintaimu, tapi aku juga mencintai negeri ini. Aku tidak ingin penduduk negeri menjadi korban kisah cintaku." Dia mulai mengeluarkan unek-unek dari dalam hatinya.
__ADS_1
"Iya, tak apa." Aku pun tersenyum kecil padanya.
"Sungguh, Ara. Aku tidak ada maksud sama sekali untuk menghindar dari tanggung jawab. Aku bertanggung jawab atas semua yang telah terjadi di antara kita. Tapi, aku tidak bisa menikahimu sekarang. Tugas kerajaan harus kuemban terlebih dahulu, demi masa depan negeri ini." Dia meneruskan.
Aku berusaha mengabaikannya. Aku khawatir menangis lagi.
"Lagipula aku tidak ingin saat kita berbulan madu nantinya, tiba-tiba batal karena dia menyerang. Aku ingin masa-masa bulan maduku aman dan tentram. Aku tidak ingin diganggu," katanya lagi.
Aku melihat ke arahnya yang masih belum menyuap mie ke dalam mulut. Rain masih menjelaskan alasannya menerima misi ini padaku. Aku pun hanya bisa mendengarkannya saja.
"Sayang, jangan pernah berpikiran buruk tentangku. Rasaku ini abadi untukmu. Aku tidak bisa memastikan kapan aku pulang ke istana. Tapi, aku berjanji akan kembali, hidup atau mati."
"Rain, sudah!"
Aku pun tidak sanggup lagi mendengar segala perkataannya. Air mataku sudah siap untuk jatuh, membasahi pipi. Dan untuk menutupi kesedihanku ini, aku marah-marah padanya.
"Ara."
"Sudah cepat makan mienya! Aku telah memasakkannya untukmu! Kau ini tidak menghargai hasil usaha orang!" seruku kepadanya.
Rain tidak menjawab sedikitpun. Ia sepertinya tahu apa alasanku marah. Mungkin dia mengetahui dari nada bicaraku yang serak, seperti menahan tangis. Dia pun mulai melakukan sesuatu untuk menghiburku.
"Aku tidak mau makan jika tidak disuapi," katanya sambil menyilangkan kedua tangan di dada.
Aku menghela napas, berusaha menormalkan dada yang terasa sesak. Rain juga mengalihkan perhatianku dengan memberikan kode agar aku segera menyuapinya. Mau tak mau, aku pun mendekat dan duduk di sisinya. Kusuapi bayi besarku yang manja.
"Buka mulutnya, a ... am." Aku seperti ibunya saja.
Ara tidak kuasa menahan kesedihan saat sang pangeran menuturkan maksud hatinya. Sebagai seorang perempuan, tentunya perasaan Ara amatlah peka. Apalagi jika berkaitan dengan orang yang disayanginya. Ia pun mengalihkan rasa sedih itu dengan marah-marah kepada Rain.
Rain juga menyadari apa yang terjadi pada gadisnya. Sejak awal malam ia menunggu Ara di depan kamar, sampai sang gadis membukakan pintu untuknya. Padahal ia bisa saja membuka pintu dari luar. Tapi malam ini Rain tidak melakukannya karena khawatir Ara bertambah marah.
Setelah menjelaskan serinci mungkin kepada sang gadis, Ara pun akhirnya bisa menerima keputusan yang Rain ambil. Sang pangeran meminta gadisnya untuk tetap seperti biasanya, seolah-olah tidak terjadi sesuatu apapun. Ia tidak ingin Ara terlalu memikirkan kabar ini. Ia ingin Ara bahagia, ada atau tanpanya.
Lain Ara dan Rain, lain pula dengan sang putra sulung kerajaan Angkasa yang tengah bersiap kembali ke negerinya. Cloud bersama pasukan sudah mengantongi hasil akhir dari negeri Aksara tersebut. Ia kini berjalan menuju kuda putihnya yang sudah menunggu di depan halaman istana Aksara.
Di teras depan istana Aksara...
"Pangeran Cloud!"
__ADS_1
Seorang putri bergaun putih berlari ke arahnya sambil menjinjing gaun. Putri itu berambut biru dan berbola mata lavender. Ia tergesa-gesa mendekati pangeran Angkasa ini. Sang pangeran pun berbalik melihat ke asal suara.
"Putri Andelin?"
Ia terkejut saat suara yang memanggilnya ternyata adalah suara Andelin. Sang putri pun tiba di hadapan sang pangeran, tapi sayang ia tidak bisa terlalu dekat karena dicegat pasukan khusus yang menjaga.
"Putri, Anda tidak boleh mendekati pangeran." Dua pasukan khusus melarang Andelin untuk lebih mendekat ke arah Cloud.
"Beri aku jalan! Aku ingin berbicara padanya!" Andelin berseru kepada pasukan khusus yang mencegahnya.
"Pangeran?" Pasukan khusus itupun melihat ke arah Cloud.
"Tak apa, beri dia jalan." Cloud akhirnya membiarkan Andelin mendekatinya.
"Pangeran, tolong maafkan aku. Kejadian waktu itu bukanlah kehendakku. Aku hanya diperintah oleh ayah." Andelin menjelaskan kepada Cloud.
Cloud pun tersenyum tipis. "Ya, aku sudah memaafkannya. Tapi tolong jadikan pembelajaran agar tidak mengulanginya lagi." Cloud pun beranjak pergi.
"Pangeran, tunggu! Bolehkah aku ikut ke Angkasa? Aku sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi di sini. Kumohon, Pangeran." Andelin memelas.
Cloud yang sudah ingin menaiki kudanya pun berhenti.
"Kumohon Pangeran, izinkan aku ikut ke Angkasa. Aku ingin meminta maaf kenapa nona Ara secara langsung. Aku tidak mempunyai siapa-siapa lagi di sini. Tolong aku." Kembali Andelin meminta kepada Cloud.
Cloud berpikir sejenak. Ia tersenyum tipis kepada putri satu-satunya negeri ini. Ia mengambil napas panjang lalu mengembuskannya perlahan.
"Maaf, Putri. Aku tidak punya kuasa untuk mengizinkanmu untuk ikut bersama kami kembali ke Angkasa. Wewenang sepenuhnya masih berada di tangan ayahku. Semoga kau dapat mengerti. Aku permisi." Cloud segera naik ke kuda putihnya dan meninggalkan Andelin.
"Pangeran, tolong Pangeran! Aku akan memperbaiki sikapku. Pangeran!"
Andelin masih memohon kepada Cloud agar diizinkan untuk ikut ke Angkasa. Tapi rupanya sang pangeran tidak bisa lagi memberi kesempatan untuknya. Cloud segera melajukan kudanya menuju pintu gerbang istana Aksara. Malam ini juga ia akan kembali ke Angkasa. Sedang Andelin hanya bisa meratapi nasibnya.
Pangeran ....
Ia merasa sedih dan kecewa karena ternyata kecantikannya tidak dapat menggoyahkan hati sang pangeran.
Kini aku sendiri di sini, tiada siapa-siapa lagi. Apa yang harus aku lakukan? Tidak ada satupun yang mau berteman denganku. Kenapa nasibku tidak seberuntung nona itu?
Andelin bertanya-tanya dalam hati. Ia tidak mengerti mengapa nasibnya tidak seberuntung Ara yang hanya dari kalangan biasa. Ia merenungi nasibnya dalam rasa sedih yang teramat dalam. Tidak ada satupun yang mau berteman dengannya. Bahkan kecantikannya pun tidak dapat berpengaruh di mata kedua pangeran Angkasa.
__ADS_1
...
...Ayo, berikan votemu untuk update bab selanjutnya!...