
Di taman depan istana...
Udara sore ini terasa sedikit panas, tidak seperti biasanya. Langit pun terlihat terang benderang, padahal hari sudah memasuki sore. Mungkin ada sekitar pukul setengah empat waktu sekitarnya.
Rain berjalan di sisi kiriku sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana. Sedang aku masih terus mendengarkan apa yang dia ceritakan. Kami seperti baru pertama kalinya berjalan bersama. Aku jadi geli sendiri dengan situasi seperti ini.
"Kau tahu, Ara. Semua putra mahkota diwajibkan mengikuti akademik militer selama tiga tahun lamanya." Rain menoleh ke arahku.
"Hm, ya. Aku pernah mendengar hal itu sebelumnya," jawabku antusias.
"Dan kau tahu, si bodoh itu berhasil menjadi prajurit terbaik selama tiga tahun berturut-turut," katanya lagi.
"Hah?! Maksudmu?"
"Ya, kak Cloud. Siapa lagi. Dia adalah prajurit terbaik di akademik selama tiga tahun berturut-turut. Kau pasti tidak percaya."
"Lalu bagaimana denganmu?" tanyaku yang penasaran sambil terus berjalan bersamanya.
"Aku ... aku hanya berhasil masuk lima besar saja." Dia tertawa mengingatnya.
"Eh?!"
Aku jadi heran. Bagaimana bisa Rain masuk lima besar saja padahal dia menjadi panglima yang begitu disegani sekarang?
"Semenjak kakek meninggal, terjadi perubahan besar pada dirinya. Dia begitu kehilangan kakek sampai mengurung diri di kamar berhari-hari. Dia mempunyai trauma kehilangan yang begitu dramatis. Mungkin dia sudah menceritakannya kepadamu." Rain menoleh lagi ke arahku.
"Hm, ya. Aku pernah mendengarnya langsung," tanggapku.
"Dia selalu saja ingin mati agar bisa cepat-cepat bertemu kakek. Dia merasa sendiri di dunia ini, walaupun ada aku adiknya." Rain tertunduk sedih.
"Bagaimana hubungan kalian saat itu?" tanyaku lagi.
"Aku dan dia tidak terlalu dekat waktu itu. Bisa dibilang kami kurang akur. Mungkin dia merasa aku merebut kasih sayang ibu darinya. Kau tahu sendiri jika aku dan dia hanya berjarak dua tahun." Rain menuturkan.
__ADS_1
"Ya, aku tahu." Entah mengapa aku merasa prihatin mendengarnya.
"Sejak masuk akademik militer, dia mengisi hari-harinya dengan membaca buku strategi perang dan terus berlatih tempur. Kuakui jika dia memiliki kecerdasan yang di atas rata-rata. Tapi entah mengapa, akhir-akhir ini aku merasa dia bodoh. Hahahaha." Rain tertawa lepas di depanku.
"Kau pernah berhadapan langsung dengannya saat di akademik?" tanyaku lagi.
"Aku?"
"He-em."
"Aku tidak bisa berhadapan dengannya saat itu. Saat dia masuk di tingkat tiga, aku baru saja masuk di tingkat satu. Aku hanya bisa melihat cara dia bertarung. Dia begitu luar biasa di mataku. Bahkan di saat terdesak sekalipun, dia masih mempunyai cara untuk memenangkan pertarungan."
Aku tidak mengerti mengapa Rain memuji-muji Cloud di depanku. Ingin rasanya aku menanyakan apa tujuannya menceritakan hal ini. Tapi Rain terus saja bercerita, seperti ingin aku mendengarkannya saja.
"Dia mempunyai strategi yang tak terduga, di luar jangkauanku. Jika tadi pagi kami benar-benar bertarung, menurutmu siapa yang akan menang?" Rain bertanya padaku.
"Tentu saja kau yang akan menang, Rain. Kau lebih berpengalaman," kataku meyakinkan.
"Hahahaha." Dia tertawa. "Terima kasih Sayang atas pujiannya. Tapi sepertinya, aku tidak akan mudah untuk mengalahkannya," katanya lagi.
"Ya, kembali ke kataku tadi. Dia mempunyai strategi yang tak terduga untuk mengalahkan lawannya. Aku bisa menjabat panglima tinggi di istana ini mungkin karena waktu itu keberuntungan sedang berpihak padaku." Dia menceritakannya lagi.
"Maksudmu?" Aku semakin penasaran.
"Lima besar prajurit terbaik di akhir tahun ke tiga akan mengemban misi berbahaya. Siapa yang keluar dengan minim korban jiwa, dialah yang akan menjadi panglima tinggi di istana. Dan kebetulan tim yang kupimpin saat itu tidak ada yang mengalami luka-luka. Kami semua selamat dan berhasil menjalankan misi." Rain tersenyum mengingatnya.
"Aku percaya pangeranku ini adalah seorang militer yang handal."
Kugandeng tangan kanannya lalu merebahkan kepala di bahunya. Rain pun mengusap-usap kepalaku. Dia ikut memberatkan kepalanya di kepalaku. Kami seperti sepasang insan yang mesra di sore ini.
"Masih banyak hal yang ingin kuceritakan padamu, Ara. Tentang masa lalu kami yang tidak terlalu baik. Tapi aku berharap, kau bisa berlaku adil nantinya." Rain mengungkapkan isi hatinya.
"Siap, Pangeran!" Akupun memberi hormat padanya.
__ADS_1
"Dasar." Dia lalu merangkul dan memelukku.
"Rain, lepaskan!" Aku berontak, melepaskan diri darinya.
Kami begitu bahagia sore ini. Perasaan di hatiku semakin bertambah saja padanya. Mungkin karena aku lebih menyayangi Rain dibanding Cloud. Tapi aku juga tidak ingin melihat Cloud bersedih karenaku. Dan akhirnya, raja pun merestui hubungan kami. Aku akan menikah dengan kedua putranya.
Ara merasa bahagia karena kebersamaannya dapat terus terjaga. Ia pun mengakui jika lebih menyayangi Rain ketimbang Cloud. Namun, ia juga tidak ingin membuat Cloud sedih karenanya. Ia akan berusaha berlaku adil kepada keduanya setelah restu semesta didapatkan.
Baik Rain maupun Cloud seperti sudah menerima keputusan raja. Hal itulah yang membuat Ara semakin bahagia. Ia tidak lagi merasa khawatir jika sedang bersama salah satunya.
Mereka terus melangkahkan kaki menuju utara istana. Namun, tiba-tiba langkah kaki mereka terhenti di saat pintu gerbang istana dibuka para penjaga. Terlihat banyak prajurit berkuda yang masuk, mengelilingi seorang pria berpakaian kerajaan hitam. Dialah Zu bersama pasukan khususnya, datang memasuki halaman depan istana Angkasa.
"Rain!" Ara terperanjat saat melihat kedatangan Zu.
"Ara?"
Rain heran melihat gadisnya bersembunyi di belakangnya. Sesaat ia menyadari sesuatu setelah melihat ke arah pintu gerbang istana.
"Rain, aku pergi saja." Ara berniat pergi.
"Ara." Rain menahan Ara. "Dia sudah melihat kita, kau tidak perlu bersembunyi darinya."
"Tapi, Rain—"
"Tenanglah, ada aku. Kita hadapi bersama." Rain meyakinkan Ara.
Rain ....
Ara ingin bersembunyi saat menyadari jika Zu lah yang datang, tapi Rain malah menahannya. Rain berpikir pasti Zu juga sudah melihat Ara bersamanya, karena posisi mereka tak jauh dari gerbang istana. Sang pangeran Asia pun segera turun dari kudanya begitu melihat Ara. Ia berjalan pelan mendekati sang gadis yang dicintainya. Namun, gadis itu tampak panik melihat kedatangannya. Semakin langkah Zu mendekati, semakin cepat pula laju jantungnya. Ia ingin berteriak sekencang mungkin sambil berlari menghindari Zu.
Astaga ... dia benar-benar datang ke sini. Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?
Ara panik. Ia amat panik saat Zu benar-benar datang ke istana Angkasa. Ia tidak dapat lagi menghindari hal ini. Jarak Zu dengannya hanya tinggal beberapa meter saja. Rain pun tidak tinggal diam, ia genggam tangan Ara erat-erat. Seolah memberi kekuatan agar tidak panik menghadapi kedatangan Zu.
__ADS_1
Sayang, akhirnya aku bisa melihatmu lagi.
Pangeran Asia ini semakin cepat melangkahkan kakinya, mendekati sang gadis pujaan. Ia merasa senang karena akhirnya bisa bertemu kembali dengan Ara.