Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
I see it!


__ADS_3

"Ara, kau harus bertanggung jawab. Perutku sakit sekali." Dia berkata pelan.


"Maaf, Pangeran. Aku tidak sengaja." Aku menunduk.


"Ah!" Dia langsung menarikku agar membungkuk. "Pangeran?" Dan kini wajah kami berdekatan.


"Aku minta tanggung jawabmu sekarang." Zu menarikku lebih dekat.


Pangeran ....


Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku merasa pusing dengan tingkahnya ini. Zu ternyata nakal sekali. Kini dia lagi-lagi mencium bibirku. Aku pun jadi tidak bisa bergerak.


Tubuhku dikunci olehnya. Tangan kanannya pun memegang tengkuk leherku, sehingga aku tidak bisa melakukan apa-apa selain membalas ciumannya. Zu mengecup-ngecup bibirku ini berulang kali, seolah meminta perlawanan.


Pangeran, jangan ....


Posisiku yang berada di atas tubuhnya, membuat pikiranku melayang jauh. Aku tak habis pikir dengan dirinya yang sekarang, selalu saja minta dicium saat berada di dekatku.


"Kau tidak ingin membalas ciumanku?" tanyanya sejenak.


"Pangeran, kita sudah terlalu banyak," bantahku.


"Tidak ada kata banyak. Kita baru saja mulai, Sayang."


"Pangeran!"


Dia menggulingkanku dengan cepat. Kedua tangannya melindungi kepalaku agar tidak terkena benturan lantai. Dan kini dia berada di atas tubuhku.


"Biarkan aku yang mendominasi malam ini."


Zu kembali mendekatkan wajahnya ke wajahku. Dan tiba-tiba saja terdengar bunyi lampu dihidupkan. Dan ternyata benar, lampu pun hidup seketika.


Sepertinya tegangan listrik sedang turun tadi.


Aku mencoba menepiskan wajahnya dari wajahku. Sebisa mungkin melakukan perlindungan. Tapi ... tanpa sengaja aku melihat sesuatu di atas pahaku. Kulihat dan kuperhatikan saksama, dan ternyata...


"Aaaaaa!!!" Seketika itu juga aku seperti kehilangan udara.


"Ara! Ara!"


Zu menepuk-nepuk pipi sang gadis. Ia merasa heran dengan gadisnya yang tiba-tiba pingsan begitu saja.


"Aku belum menciumnya, kenapa dia bisa pingsan?" Zu heran sendiri.

__ADS_1


Zu mulai mencari tahu penyebab apa yang membuat gadisnya sampai pingsan. Ia pun melihat ke sekeliling. Dan ternyata...


"Astaga! Handukku!"


Handuknya jatuh ke lantai, sehingga tidak ada yang menutupi area pribadinya itu. Dan kini ia menyadari apa penyebab Ara pingsan.


"Sayang, kau baru melihatnya saja sudah pingsan seperti ini."


Zu segera menggendong Ara ke dalam kamar tanpa memakai handuknya terlebih dahulu. Handuknya itu ia biarkan saja tergeletak di atas lantai.


"Ya sudah, tidurlah." Dia menyelimuti Ara. "Dan kau juga tidur!" Zu melihat ke bawah.


Pangeran itu lantas mengambil handuknya yang jatuh. Dia pun segera membalut area pribadinya dan bergegas mengambil pakaian tidur.


"Astaga, aku telah menakutinya, padahal itu belum maksimal. Bagaimana jika kami menikah? Apakah dia juga akan pingsan di malam pertama?" Zu bertanya sendiri.


Malam ini akan menjadi malam yang tak terlupakan bagi Zu, karena ternyata Ara benar-benar takut melihatnya. Gadis itu sampai pingsan. Padahal handuknya tanpa sengaja terlepas saat menggulingkan tubuh sang gadis. Dan lagi, untuk kesekian kalinya Zu harus merasakan kegelisahan malam ini.


Keesokan harinya...


Aku terbangun seraya memegangi kepalaku yang terasa sakit. Dan kulihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul lima pagi. Aku pun beranjak dari kasur, mencoba untuk keluar dari kamar. Tapi...


Pangeran Zu tidur di sini lagi?


Heran, setiap aku bangun di awal pagi, selalu saja melihatnya tidur di sini. Atau jangan-jangan dia memang selalu tidur di sini?


Pikiranku jadi ke mana-mana saat mengetahui Zu tertidur di sampingku. Dalam keadaan tak sadar, tentunya aku tidak dapat merasakan apapun. Aku khawatir dengan sikapnya yang berubah drastis akhir-akhir ini. Pikiranku jadi traveling ke mana-mana.


Dia tidak menjamahku saat tidur, kan?


Ada rasa penasaran sekaligus kesal yang menyelimuti pikiran. Lantas kudekati saja dirinya yang sedang tertidur. Aku duduk di pinggir kasur sambil menghadap ke arahnya. Dan ... kulakukan sesuatu.


Pelan-pelan kusentuh bibir merahnya menggunakan jari telunjuk kananku. Kuusap perlahan hingga kurasakan betapa lembutnya daging kecil yang terbentuk sempurna itu. Dia pun tiba-tiba menggeliat pelan, kedua matanya perlahan terbuka dan mulai menyadari jika aku ada di sampingnya.


"Pangeran ...."


Pose tubuhnya saat tersadar begitu menggemaskan. Dia bak bayi mungil yang imut dan lucu. Aku pikir dia akan kembali tertidur. Namun ternyata...


"Pangeran, lepaskan!" Dia malah mengemut jari telunjukku dengan bibirnya.


Ah! Rasa ini ....


Entah mengapa sekujur tubuhku merinding saat merasakan bibirnya mengemut lembut jariku. Pikiranku mulai berselancar ria di dalam kubangan kotor.

__ADS_1


"Pangeran!"


Kutarik sekuat tenaga dan akhirnya jari telunjukku bisa terlepas dari bibirnya. Dia pun segera beranjak bangun lalu duduk di depanku.


"Kau menginginkannya?" tanyanya yang sontak membuatku terkejut.


"Ti-tidak. Aku hanya iseng saja, sungguh!" Aku mundur ke belakang.


Zu lantas mendekatiku. "Katakan saja jika kau menginginkannya. Aku siap melayani," katanya lagi.


"Ap-apa?!"


Aku merasa gelagatnya mulai aneh, padahal aku hanya iseng saja tadi. Akupun lekas-lekas berdiri.


"Eh, mau ke mana?" Dia segera menangkapku.


"Pangeran, maaf. Aku hanya iseng tadi."


Aku membungkuk saat dia memelukku dari belakang agar tidak bisa memelukku lebih erat. Tapi ternyata, sesuatu kurasakan menyentuh pantat ini, keras sekali.


Ya ampun, apa memang seperti ini saat baru bangun tidur?


Aku tidak habis pikir dengan sesuatu yang kurasakan. Sedang Zu membalikkan tubuhku menghadapnya.


"Pa-pangeran?"


Dia tersenyum nakal sambil menggigit bibirnya sendiri. Seketika itu juga aku mendorongnya ke kasur.


"Dasar mesum!"


Aku berlari ke luar kamar, tidak ingin melanjutkan adegan ini. Dia kini sering sekali menggodaku, aku jadi khawatir sendiri.


Dia pikir aku malaikat yang tidak mempunyai hasrat? Aku ini manusia biasa, Pangeran. Tolong jangan memancingku!


Ara menggerutu sendiri saat menghadapi ulah Zu yang nakal. Sedang sang pangeran tampak tertawa-tawa kala melihat tingkah gadisnya.


"Dia memang selalu bisa membuatku tertawa. Ada saja tingkah lucunya. Tubuhnya pun begitu sensitif. Aku jadi senang menggodanya."


Zu tak habis pikir akan sedekat ini dengan sang gadis. Awalnya Zu memang terpukau dengan bakat yang dimiliki Ara. Tapi semakin lama bersama, hasrat ingin memiliki itu semakin besar. Dan kini Zu tidak sabar untuk segera menikahi gadisnya itu.


Dialah Ara, seorang gadis pejuang yang tidak pernah mengeluh kepada takdir. Ia selalu bersyukur dalam setiap keadaan. Karenanya semesta menyayanginya, sebagaimana ia menyayangi dirinya sendiri.


Aku jadi semakin bersemangat untuk menyelesaikan serah terima jabatan ini. Tunggu aku, Sayang. Aku akan segera menghamparkan altar pernikahan untuk kita. Karena aku mencintaimu, Araku.

__ADS_1


Zu segera keluar dari kamar, mencari keberadaan gadisnya. Ia sengaja memasang pose memburu untuk menggoda gadisnya itu. Sedang Ara masih bersembunyi agar keberadaannya tidak diketahui oleh Zu. Dan pagi ini kembali menjadi cerita tersendiri bagi keduanya.


__ADS_2