Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Tell Me


__ADS_3

Beberapa saat kemudian...


"Dewi ...."


Aku tak tahu ada di mana. Kudengar samar-samar ada suara yang memanggilku Dewi.


Apakah itu suara Tetua Agung?


Aku mencoba bangkit dan melihat lebih jelas. Sekelilingku hanya berupa hamparan luas yang tertutupi awan putih.


"Aku ini ada di mana? Apakah aku sudah ...?"


"Dewi." Kakek tua berjubah putih terlihat berjalan mendekatiku.


"Tetua Agung?"


"Senang bisa bertemu kembali denganmu, Dewi," katanya seraya tersenyum.


"Kakek, aku Ara bukan Dewi."


"Ya, baiklah. Dewi Ara." Dia lantas memanggilku dengan sebutan Dewi Ara.


Aku tidak mengerti mengapa dia masih saja memanggilku dengan sebutan Dewi.


"Sebenarnya aku ada di mana, Kek?" tanyaku bingung.


"Kau sedang berada di alam bawah sadarmu, Dewi. Ruhmu menembus cakra mahkota sehingga bisa ada di sini. Di tempat yang tidak mampu terjangkau oleh nalar manusia."


"Maksud Kakek?" Aku bertambah bingung.


"Dewi, aku tidak bisa berlama-lama bertemu denganmu. Aku hanya akan mengatakan hal yang penting saja," katanya.


"Baiklah, Kek." Aku pun diam mendengarkan.


"Kulihat kau sudah mulai mengasah kemampuanmu. Terus tingkatkan agar lebih banyak manfaat bagi orang lain. Tapi, kau harus tetap berendah hati. Jangan sampai rasa congkak tumbuh di dalam hatimu." Kakek tua itu berpesan padaku.


"Baik, Kek," sahutku mengiyakan.


"Sebentar lagi akan tiba masa pengujian. Berhati-hatilah menerima semua orang yang datang ke istana," lanjutnya.


"Maaf, Kek. Apakah ini ada hubungannya dengan rencana pertunjukan busana?" tanyaku ingin memastikan.


"Kau akan mengetahuinya sendiri, Dewi."


"Lalu bagaimana dengan kedua pangeran? Apa yang harus aku lakukan, Kek? Sungguh aku tidak mampu jika diharuskan memilih salah satunya." Aku meminta petuah dari kakek tua itu.


"Dewi, kau adalah gadis yang ditakdirkan untuk negeri ini. Semua keputusan ada padamu. Ikutilah kata hatimu. Hatimu yang akan menuntunnya."


"Tapi, Kek—"


"Aku tidak bisa berlama-lama, Dewi. Sampai bertemu di kesempatan selanjutnya."


Kakek tua itu perlahan menghilang dari hadapanku. Sedang aku masih bingung menelaah kata-katanya.


"Kakek! Aku butuh bantuanmu untuk menimbang hal ini. Kakek! Kakek!"


Aku memanggilnya, berusaha mengejarnya. Namun, dia menghilang begitu cepat dari pandanganku.


"Ara, Ara."


Tak lama aku merasa pipiku ditepuk-tepuk oleh seseorang. Penglihatanku tentang hamparan luas awan putih pun perlahan menghilang.


"R-rain?"

__ADS_1


Kucoba membuka kedua mataku, kulihat Rain sudah ada di sisi kananku. Dia duduk seraya menepuk-nepuk pipi kiriku ini. Wajahnya kelihatan panik.


"Ara, kau tidak apa-apa?" tanyanya khawatir.


"Rain ...."


Aku mencoba untuk bangun. Kepalaku masih terasa berat. Rain pun membantuku bangun. Aku lalu duduk menyandarkan punggung di dinding balai ini.


"Rain, aku bertemu tetua agung," kataku pelan.


"Ara, minumlah ini dulu." Dia lalu memberiku segelas air putih.


Aku pun segera meminum air itu sampai habis. Rasanya begitu haus sekali, seperti habis melakukan perjalanan jauh.


"Apakah perlu kutambah?" tanyanya lagi.


"Em, tidak, Rain. Kau dari mana? Aku baru melihatmu."


Nada ucapanku masih lemah, tapi aku ingin tahu keberadaannya. Rain lalu memijat kakiku yang tertutupi gaun hijau semata kaki ini.


"Rain, jangan. Nanti ada yang melihatnya." Aku melarangnya.


"Tak apa, Ara. Yang kupijat ini adalah kaki seorang gadis yang akan menjadi istriku. Aku tidak keberatan."


"Rain ...." Aku tersentuh mendengar ucapannya.


"Ara!"


Tak lama kulihat Cloud berjalan tergesa-gesa mendekatiku. Dia kemudian duduk di sisi kiri.


"Kau tak apa?" tanyanya cemas.


"Em, aku baik-baik saja, Cloud," jawabku seraya berusaha untuk tersenyum.


"Ara masih lemah, Kak. Biarkan dia memulihkan tubuhnya dulu." Rain menyela.


"Aku yang akan menggendongnya ke dalam kereta kuda. Kau tidak perlu khawatir," jawab Cloud cepat.


"Kalau begitu, biar aku saja." Rain lalu ingin menggendongku.


"Tidak, aku saja."


Cloud melepaskan tangan Rain dari tubuhku. Dia yang ingin menggendongku.


"Aku dulu yang menemukannya dalam keadaan tak sadarkan diri. Aku yang akan menggendongnya ke dalam kereta." Rain menolak, dia melepaskan tangan Cloud dari tubuhku.


"Kau ini ...!"


"Eh, sudah-sudah. Biar aku jalan sendiri. Kalian lihat saja," kataku mencoba melerai pertengkaran keduanya.


"Ara, tapi—"


"Tak apa, Rain. Aku bisa." Aku meyakinkan Rain.


"Ara ...." Cloud pun tampak khawatir.


Aku mencoba bangun lalu melangkahkan kaki. Aku meminta pada keduanya untuk melihatku saja. Tapi...


Tubuhku masih terasa lemas, aku seperti akan jatuh kembali. Aku sempoyongan.


"Ara!"


Keduanya berteriak memanggilku. Dengan cepat mereka menahanku yang akan jatuh.

__ADS_1


Rain ... Cloud ....


Rain menahan sisi kanan tubuhku. Dia memegang kuat lenganku ini. Sedang Cloud memegangi lengan kiriku. Aku dipegang oleh kedua putra mahkota.


Kalian ....


Aku merasa sangat beruntung bisa berada di antara keduanya. Baik Cloud maupun Rain sangat menyayangi diriku.


"Ara, sudah kubilang kau masih lemah." Rain mencemaskanku.


"Ara, aku gendong ke kereta, ya?" Cloud menyela.


Aku tersenyum sendiri saat berada di situasi seperti ini. Tanpa kusadari jika ratu telah berada di hadapan kami.


"Yang Mulia?"


Aku terkejut dengan kehadirannya. Kehadirannya begitu membuat jantungku berdegup tak menentu. Rasa khawatir pun mulai muncul di benakku.


"Ibu?" Rain pun melihat ibunya.


Ratu diam saja melihat kami. Dia hanya menatap ke arahku dengan tatapan yang mematikan. Seolah aku ini musuhnya.


"Ara, kita ke kereta saja." Cloud tidak menggubris kehadiran ibunya.


Ratu lalu pergi meninggalkan kami. Bersama beberapa pengawalnya, dia pergi begitu saja.


Sepertinya ratu kesal denganku.


"Rain, kau masih bertugas?" tanyaku kepada Rain seraya menormalkan posisi tubuh.


"Aku masih harus mengawas sampai acara ini selesai, Ara," jawabnya kemudian.


"Baiklah. Kalau begitu, tak apa ya jika aku pulang bersama Cloud?" tanyaku lagi.


Rain lalu melirik ke arah Cloud. Cloud pun segera memalingkan pandangan dari adiknya.


"Ya, tak apa." Rain menjawab setengah hati.


Akupun tersenyum kepadanya lalu mulai berjalan menuju kereta kuda yang sudah menunggu. Cloud menemaniku, dia berjalan sambil memegang lengan kananku agar tidak terjatuh lagi.


Sesaat aku melihat ke belakang, kulihat Rain mencoba untuk tersenyum padaku. Sepertinya dia kesal karena Cloud yang mengantarkanku, bukan dirinya.


Maafkan aku, Rain. Kau pasti mengerti situasi ini.


Aku pun membalas senyumannya, lalu kembali fokus berjalan menuju kereta kuda. Cloud menuntunku perlahan, dia begitu lembut memperlakukanku.


Sungguh, aku masih belum tahu akan dibawa ke mana kisah ini. Namun sepertinya, waktu pernikahanku sudah semakin dekat. Tetua Agung juga tidak memberiku petunjuk sama sekali. Dia malah berpesan agar aku berhati-hati menerima setiap tamu yang datang ke istana.


Apa maksudnya, ya? Apakah akan terjadi sesuatu saat pertunjukan busana nanti?


Aku bertanya-tanya sendiri di dalam hati. Aku mencoba untuk tetap berpikiran positif. Aku tidak mau tenggelam dalam pikiran burukku. Ya, itu hanya akan menguras energiku saja. Lebih baik kugunakan untuk hal positif lainnya.


"Naiklah, Ara."


Cloud membantuku masuk ke dalam kereta kuda. Dia kemudian duduk di sisi kiriku, dia menjagaku. Cloud melepas jubahnya lalu dipakaikan padaku.


"Cloud, terima kasih," kataku kepadanya.


Cloud tersenyum. Dia merebahkan kepalaku di bahunya.


"Tidurlah, Ara. Nanti jika sudah sampai di istana, aku akan membangunkanmu," katanya dan akupun menuruti permintaannya itu.


Aroma parfum khas miliknya yang lembut namun elegan ini mampu membuatku berada di fase delta. Akupun tertidur tanpa merasa khawatir sedikitpun. Selama bersamanya, aku merasa tenang melewati apapun. Dia pangeran pujaanku, Cloud Sky.

__ADS_1


__ADS_2