Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Broken Heart


__ADS_3

Beberapa saat kemudian...


Aku sudah sampai di dapur. Kuminta kepada calon suamiku ini untuk duduk rapi dengan kedua tangan di atas meja. Sedang aku, mulai asik membuat nasi goreng untuk keduanya.


"Hm, harum sekali tumis bawang ini."


Kutumis bawang merah, bawang putih dan juga bawang bombay bersamaan. Aroma sedap pun tercium di hidung kedua pangeran. Salah satu dari keduanya ingin beranjak mendekati aku, tapi yang lain menahannya.


Dasar!


Kutuangkan dua butir telur ayam, kuarik lalu menuangkan dua porsi nasi kemudian mengambil bahan pelengkap lainnya. Daun seledri dan daun bawang. Kucicipi sedikit dan...


"Enak sekali. Sudah lama aku tidak membuat nasi goreng."


Tak lama, kusajikan segera nasi goreng buatanku ini. Tapi biar lebih romantis, aku menggunakan piring yang besar. Berniat makan bertiga.


"Silakan, Pangeran!" seruku sambil menghidangkannya ke atas meja makan.


"Ara, kenapa piringnya cuma satu?" tanya Cloud.


"Iya, kenapa sendoknya juga cuma satu?" Rain ikut bertanya.


Keduanya tampak protes kepadaku. Aku pun bertolak pinggang seraya menunjuk hidungnya bergantian.


"Kalian ini, bukannya bersyukur tengah malam aku buatkan nasi goreng. Eh, malah menggerutu. Sudah makan!"


Aku segera duduk di dekat keduanya. Kulihat Rain dan Cloud sama-sama ingin mengambil sendoknya.


Hihihi, mereka lucu sekali.


Tampak Rain dan Cloud yang berebut sendok. Melihat hal itu, aku jadi gemas sendiri. Ingin rasanya aku mencubit pipi mereka.


"Sudah sini biar aku suapi!"


Kuambil sendoknya lalu mulai kusuapi pangeran-pangeran ini. Dimulai dari Cloud terlebih dahulu.


"Makan yang banyak, ya."


Tangan kananku menyuapi sedang tangan kiriku menadahnya. Kalau-kalau nasinya tanpa sengaja tumpah, jadi bisa kutadahi.


"Sekarang Rain."


"Tidak mau, Ara."


"Lho?"


Rain menolak suapanku.


"Itu bekas dia. Aku bekasmu saja," katanya jutek.


Huh, dia ini ....


Segera saja aku menyuapi diri sendiri, barulah bisa menyuapi Rain. Malam ini kami bertiga asik makan nasi goreng di dapur. Aku pun terus menyuapi mereka bergantian.


"Kalian belum tidur?"

__ADS_1


Tiba-tiba kulihat raja berada di depan pintu. Segera aku berdiri untuk memberikan salam.


"Sudah, tak apa, Nona. Lanjutkan saja menyuapi mereka. Aku hanya lewat sebentar." Raja menahanku agar tidak mengucapkan salam penghormatan.


Kulihat raja tampak terkesima dengan hal yang kulakukan ini. Dia tersenyum ke arahku.


"Ayah, Ayah sendiri belum tidur?" Cloud bertanya pada raja.


"Ayah sedang ingin berkeliling istana, Cloud."


"Perlu aku temani, Yah?" tanya Rain bergantian.


"Tidak perlu. Ayah sedang ingin sendiri. Kalian teruskan saja makan malamnya." Raja kemudian bergegas pergi.


Tumben raja jam segini berkeliling istana?


Aku jadi heran sendiri. Tidak biasanya seorang raja berkeliling istana di tengah malam seperti ini.


I-itu kan?!!


Tanpa sengaja, kulihat buku hitam berlambang galaksi bima sakti sedang dipegang oleh raja. Segera saja aku bergegas untuk mengejarnya.


"Ara!" Cloud menahanku.


"Hei, Kak! Bisa tidak jika tanpa kontak fisik?" tanya Rain yang menyadarkanku.


Cloud diam saja, dia tidak menjawab pertanyaan adiknya.


"Cloud, aku ingin keluar sebentar," kataku seraya melepas tangan Cloud.


"Ara, nanti kuantar ke kamar," sahut Cloud.


Kedua pangeran ini memulai keributan lagi.


"Eh, sudah-sudah. Begini saja. Aku keluar sebentar, nanti kembali lagi. Tunggu, ya!"


Segera aku bergegas meninggalkan keduanya. Keluar dari dapur lalu mencari raja. Aku kemudian berjalan cepat untuk mencarinya. Berbelok sana-sini, menyusuri koridor istana ini. Tapi sayang, tidak kutemui.


Aku harus mendapatkan buku itu. Aku membutuhkannya. Aku ingin mengetahui apa isi buku itu.


Aku benar-benar penasaran dengan isi buku hitam tersebut. Aku berniat untuk membacanya sendiri. Tapi sepertinya, tidak untuk malam ini. Malam semakin larut. Ayam jantan pun sudah mulai berkokok, menandakan jika fajar tak lama lagi akan datang.


Mungkin esok hari saja.


Aku menunda niatanku untuk mendapatkan buku itu. Dengan segera aku berbalik, bergegas untuk kembali ke dapur. Tapi ternyata, kedua pangeran sudah tidak ada di sana.


Ke mana mereka?


Tiba-tiba suasana menjadi sunyi. Aku sendirian di depan dapur. Rasa takut itupun mulai muncul.


Ini mengerikan! "Kaburrrr!"


Segera kulari menuju kamarku dan membiarkan kedua pangeran itu pergi entah ke mana. Sepertinya mereka kehilangan jejakku. Ya, daripada menunggu yang tak pasti. Nanti yang datang yang lain lagi. Lebih baik aku kembali saja ke kamar.


Esok harinya...

__ADS_1


Cuaca hari ini tampak cerah, secerah hati dan pikiranku. Hari ini aku juga masih mengenakan gaun pemberian dari Rain yang berwarna ungu muda. Gaun keempat darinya.


Rambut sengaja kugulung agar terlihat lebih rapi. Dengan beberapa semprotan parfum, aku siap memulai hari. Tak lupa polesan make-up minimalis menghiasi wajahku. Sepatu hitam setinggi lima senti pun turut menyempurnakan penampilanku pagi ini.


"Aku siap!"


Kulangkahkan kaki menuju ruangan Cloud dengan perasaan riang dan gembira. Rencananya, aku akan pergi bersamanya ke balai kota, melihat tempat acara doa bersama malam ini. Aku sudah tidak sabar ingin berduaan dengannya.


Beberapa pelayan pun menyapaku saat bertemu di koridor istana. Dengan segera aku membalasnya seraya tersenyum. Hingga tiba di depan pintu ruangan Cloud, sengaja aku tidak mengetuk pintu terlebih dahulu. Niatku untuk memberi kejutan padanya. Tapi...


"Cloud ...?"


Hatiku tiba-tiba berdesir lirih. Pemandangan yang tak ingin kulihat kini tampak di kedua pelupuk mataku. Putri itu tengah memeluk Cloud dan Cloud memegang kedua lengannya.


Haruskah aku melihat hal ini?


Kedua mataku berkedut, seolah memberi tanda akan segera menangis. Dadaku juga tiba-tiba terasa sesak sekali. Aku seperti kesulitan untuk bernapas.


"Ara?"


Tak butuh waktu lama bagi Cloud untuk segera menyadari kehadiranku. Dia lalu mendorong putri itu.


"Maaf aku menganggu kalian."


Segera saja aku pergi. Hatiku terasa sakit melihat Cloud berpelukan dengan putri itu. Jantungku ini seolah berhenti berdetak karenanya.


"Ara!" Cloud memanggilku.


Aku berjalan cepat meninggalkan ruangannya. Menyusuri koridor seorang diri dengan air mata yang hampir tumpah ke permukaan.


"Ara, tunggu!"


Kudengar Cloud memanggilku berulang kali, tapi aku lebih mempercepat langkah kakiku. Aku tidak ingin bicara kepadanya saat ini.


Aku kemudian berbelok, berniat menuruni anak tangga menuju lantai satu. Tapi sebelum sampai, Cloud ternyata sudah berada di dekatku. Dia segera menarik tanganku ini.


"Ara, tolong dengarkan aku dulu!" pintanya lalu memegang kedua lenganku.


Aku tak menyangka jika harus melihat hal itu di saat hatiku sedang berbunga-bunga karena rasa cinta kepadanya. Aku sakit. Rasanya ingin segera menghapus ingatanku saja.


"Ara ...."


Suaranya melembut. Cloud menatapku erat, tepat di mata. Dia memegang kedua pipiku.


Entah mengapa aku tidak sanggup lagi untuk menahan genangan air mata ini. Aku ingin menangis.


"Cloud, aku tidak ingin bicara saat ini," kataku seraya mencoba berpaling dari pandangannya.


"Ara, kau harus mendengarkan aku dulu," pintanya.


Aku menggelengkan kepala, menolaknya.


"Hah..."


Kudengar Cloud mengembuskan napasnya. Dia seperti sedang memikul beban yang berat. Aku tidak tahu apa itu. Saat ini aku hanya ingin pergi darinya.

__ADS_1


"Sayang ...."


Cloud menatapku kembali seraya memegang lembut kedua lenganku ini. Sedang aku, masih tidak mau menatapnya. Masih mencoba untuk memalingkan pandanganku darinya. Hatiku benar-benar terasa sakit saat melihat kejadian tadi.


__ADS_2