
Keesokan harinya...
Pagi telah datang, burung-burung pun bersiul dengan riang. Kini istana Angkasa dinyatakan aman dari bahaya penyerangan. Tentunya hal ini tidak terlepas dari jasa sang pangeran tampan, Rain Sky. Si putra bungsu kerajaan Angkasa yang kini mengikat hati seorang gadis yang disebut-sebut sebagai dewi titisan.
Dialah Ara, yang bangun lebih pagi hari ini. Dan kini ia sedang bersiap untuk menemui Cloud, berniat meminta maaf atas sikapnya semalam. Ia tampak imut saat mengenakan gaun berwarna pink selutut dengan bahu yang terbuka. Tak lupa sepatu hak tinggi berwarna krim muda menghiasi kaki indahnya.
Semalaman sang gadis kepikiran dengan sikap acuh tak acuhnya pada Cloud. Sehingga ia memutuskan untuk menemui Cloud dan meminta maaf segera. Ia tidak ingin memendam lama perasaan bersalahnya.
Cloud adalah pangeran yang berjasa atas perubahan hidup keluarga Ara. Terlebih Cloud adalah pria pertama dalam kehidupan asmara sang gadis. Ya, Cloud adalah cinta pertama Ara.
Hatinya memang terikat dengan Rain. Tapi jauh di dalam lubuk hatinya, ia juga tidak ingin mengecewakan Cloud. Karena bagaimanapun kehidupan keluarganya berubah dikarenakan sang pangeran sulung yang menjemputnya. Selama berada di istana pun Cloud memperlakukan Ara dengan baik. Bahkan mengajak Ara berjalan-jalan jika mempunyai waktu luang dan sedikit senggang.
"Sepertinya aku terlihat lebih bersemangat hari ini."
Sang gadis berusaha menepiskan perasaan bimbang di dalam hatinya. Selesai berdandan, ia segera melangkahkan kaki menuruni anak tangga, menuju lantai satu kediaman Rain. Setelahnya, ia pun segera ke istana, menemui Cloud yang berada di lantai dua. Sepanjang perjalanan pun para pelayan menyapanya dengan hangat.
Rain, aku tidak bermaksud untuk mengkhianatimu. Aku hanya ingin meminta maaf kepada Cloud atas sikapku. Izinkan aku berbincang bersamanya, ya.
Langkah kaki sang gadis akhirnya sampai di depan pintu ruang kerja Cloud. Ia lalu mengetuk pintu dan segera masuk ke dalam.
"Cloud?" Ia tidak menemukan Cloud di dalam ruangan.
"Mungkin dia masih di kamar." Ara pun melangkahkan kakinya menuju kamar Cloud.
"Cloud." Ia mengetuk pintu, namun tak ada jawaban.
Dia ke mana ya? Kenapa tidak ada yang menjawab? Mungkin lebih baik jika aku masuk saja.
Ara lalu memberanikan diri untuk masuk ke kamar Cloud. Namun, ternyata Cloud tidak ada di dalam kamarnya. Ia kemudian berinisiatif menuju taman yang ada di atas kamar pangeran sulung ini. Sesampainya di sana, ia menemukan Cloud tengah merenung seraya menatap langit pagi.
Di taman kecil...
"Cloud."
Ara menyapa sang pangeran yang belum mengenakan jubah kerajaannya. Cloud hanya mengenakan celana dasar putih dan dalaman jubahnya saja.
"Ara?" Cloud terkejut melihat kedatangan Ara.
"Cloud." Seketika hati sang gadis tersentak saat melihat mata Cloud yang memerah. "Cloud, kau menangis?" Ara mendekati Cloud.
"Ah, tidak. Aku hanya kelilipan saja," jawabnya seraya mengusap mata.
"Cloud, kau berbohong padaku." Ara tak percaya.
"Aku baik-baik saja. Mari kita ke bawah."
Cloud segera berjalan melewati Ara, begitu saja tanpa basa-basi. Saat itu juga sang gadis merasakan sakit di dalam hatinya.
"Cloud." Ara menahan kepergian Cloud dengan memegang tangannya. "Kau kecewa padaku?" Ia berbalik menghadap Cloud yang masih membelakanginya.
__ADS_1
Cloud pun berusaha menyembunyikan kesedihannya.
"Cloud, kau menangis karenaku, bukan?" tanya Ara yang masih berdiri di belakang Cloud.
Cloud tersenyum kecil, ia merasa senang karena diperhatikan gadisnya. Cloud lalu berbalik menghadap sang gadis. "Ara ...." Sang pangeran mengusap wajah gadisnya.
"Aku sadar jika tidak seperti dirinya yang mempunyai banyak waktu luang untukmu. Waktuku semuanya hampir tersita untuk mengurusi negeri ini. Tapi kumohon, jangan pernah merubah sikapmu. Karena hal itu sangat menyakitkan bagiku." Cloud akhirnya berterus terang.
"Cloud ...." Ara merasa bersalah.
"Jangan kau pikir aku diam saja atas kepergianmu dari istana. Dan jangan pernah membayangkan jika aku tenang tanpamu di sini. Ara ... kau bagai udara bagiku. Tapi pekerjaan ini seperti penyekat di antara kita. Haruskah aku menanggalkan semuanya untukmu?" Cloud bertanya dengan lembut kepada Ara.
"Cloud ... maafkan aku. Aku tidak ingin—"
"Beri aku kesempatan untuk mengikat hatimu. Aku akan mengusahakan waktuku lebih banyak bersamamu."
"Tapi, Cloud. Pekerjaanmu tidak dapat ditunda." Ara merasa tidak enak.
"Ya, aku tahu. Kau juga pasti tahu bagaimana pekerjaanku. Tapi kumohon dengan sangat, Ara. Izinkan aku kembali mengisi hatimu. Aku ... aku tidak mempunyai pilihan lain selain dirimu." Putra mahkota itu tampak menahan genangan air matanya.
"Cloud ...."
Sang gadis pun menghambur ke pelukan Cloud. Ia tidak sanggup melihat Cloud yang ingin menangis karena dirinya. Hatinya pun luluh mendengar kata-kata dari sang pangeran. Dan entah mengapa Ara juga ikut menangis.
Tuhan, aku sudah mencoba menetapkan hatiku untuk Rain. Tapi aku amat tidak tega mengatakannya kepada Cloud.
Ara dilema. Benar-benar dilema.
Sang gadis memohon sungguh-sungguh sambil memeluk tubuh Cloud dengan erat. Terbayang jelas bagaimana dirinya memeluk Cloud pertama kali saat akan melintasi portal dimensi. Ara merasakan kehangatan itu kembali.
Ara, aku amat bersungguh-sungguh dengan perasaanku. Tahukah engkau di setiap malam jika tidak bisa tertidur nyenyak karena memikirkanmu? Tahukah engkau jika aku tidak lagi sempat mengatur pola hidupku karena mencemaskanmu?
Ara ... apa yang harus aku lakukan agar kau percaya dengan kesungguhan ini? Haruskah aku melawan ayahku sendiri dan pergi bersamamu dari istana? Haruskah kutinggalkan rakyatku demi hidup bersamamu? Andai itu bisa, tentunya sudah kulakukan sejak dulu. Percayalah aku tidak mempunyai pilihan selain dirimu. Cintai aku seutuhnya, Dewiku ....
Taman kecil ini menjadi saksi atas cinta yang mendalam. Atas rindu yang tertahan dan atas penantian yang panjang. Kedua insan ini tidak mampu menolak kodratnya sebagai manusia biasa yang saling mencinta, saling menyayangi dan mengasihi. Dan biarlah semesta menjadi saksi atas cinta yang berbeda dimensi ruang dan waktu ini.
...
Aku tersesat dan sendirian, mencoba untuk terbiasa.
Membuatku menyusuri jalan panjang berliku.
Tidak punya alasan, tidak ada rima, seperti sebuah lagu yang kehabisan waktu.
Dan dulu kau ada di sana, berdiri di depan mataku.
Bagaimana bisa aku menjadi orang yang begitu bodoh?
Untuk melepaskan cinta dan melanggar semua peraturan.
__ADS_1
Gadis, ketika kau berjalan keluar dari pintu itu.
Meninggalkan sebuah lubang di hatiku.
Dan sekarang aku tahu dengan pasti...
Kau adalah udara yang kuhirup.
Kau adalah segala yang kubutuhkan.
Kau adalah kata-kata yang kubaca.
Kau adalah cahaya yang kulihat.
Dan cintamu adalah segala yang aku butuhkan...
Aku sia-sia mencari.
Memainkan sebuah permainan.
Tidak punya orang lain selain diriku yang tersisa untuk disalahkan.
Kau datang ke dalam duniaku.
Bukan permata atau mutiara.
Yang pernah bisa mengganti apa yang telah kau berikan padaku, Gadis.
Sama seperti istana pasir.
Gadis, aku hampir saja membiarkan cinta jatuh dari tanganku.
Dan sama seperti sebuah bunga yang membutuhkan hujan.
Aku akan berdiri di sisimu melewati kegembiraan dan rasa sakit.
Kau adalah udara yang kuhirup.
Kau adalah segala yang kubutuhkan.
Kau adalah kata-kata yang kubaca.
Kau adalah cahaya yang kulihat.
Dan cintamu adalah segala yang aku butuhkan.
Kau adalah lagu yang aku nyanyikan.
Gadis, dapatkah kau menjadi segalanya bagiku?
__ADS_1
Dan aku ingin berterima kasih padamu, Nona...