
Jalanan terasa sepi.
Rumah terasa kosong.
Terasa ada lubang di hatiku.
Aku sendiri...
Semua ruang terasa semakin sempit.
Aku bertanya-tanya, bagaimana semua terjadi?
Aku bertanya-tanya, kenapa semua terjadi?
Aku bertanya-tanya, di manakah hari-hari kebersamaan kita dulu?
Lagu-lagu yang kita nyanyikan bersama.
Dan, oh, Cintaku. Aku akan bertahan.
Merengkuh cinta yang tampak begitu jauh.
Maka kupanjatkan doa.
Dan berharap mimpi-mimpi akan membawaku ke sana.
Ke tempat di mana langit biru, tuk bertemu denganmu sekali lagi.
Seberangi lautan, tuk temukan tempat yang paling kusuka.
Di mana ladang menghijau, tuk bertemu denganmu sekali lagi, Cintaku...
Kucoba membaca.
Aku bercanda tawa dengan teman-temanku.
Tapi ku tak bisa berhenti untuk memikirkanmu.
Maka kupanjatkan doa.
Dan berharap mimpi-mimpi akan membawaku ke sana.
Ke tempat di mana langit biru, tuk bertemu denganmu sekali lagi.
Seberangi lautan, tuk temukan tempat yang paling kusuka.
Di mana ladang menghijau, tuk bertemu denganmu sekali lagi, Cintaku...
Tuk mendekapmu.
Tuk berjanji padamu, Cintaku.
Tuk katakan padamu dari hatiku.
Engkaulah yang selalu kupikirkan.
__ADS_1
Kan kurengkuh cinta yang tampak jauh...
...
Hari ini aku harus melepas kepergian Rain. Rasanya hatiku begitu pilu, tidak sanggup untuk berpisah dengannya. Terlebih setelah ini Rain akan pergi berperang. Harapanku seolah hancur berantakan.
Baru saja aku mencintainya, baru saja. Belum lama ini hatiku memutuskan untuk memilihnya. Namun, takdir berkata lain. Sekarang aku harus merelakan kepergiannya.
Tepat hari ke tujuh kami harus berpisah. Rain tampak tidak tega untuk meninggalkanku. Kini dia sedang berlutut di hadapanku seraya memohon agar aku tidak menangis lagi.
"Ara, aku berjanji akan kembali. Tolong sudahi isak tangismu itu."
Aku memang menangis, terisak dan tersedu-sedu dalam linangan air mata yang mengalir. Cuaca mendung seolah mewakilkan kesenduan di hatiku.
"Rain, jangan tinggalkan aku. Aku ... aku tidak—"
"Ara ...."
Rain lalu bangkit, dia memelukku. Napasnya kian terasa berat. Aku pun segera membalas pelukannya. Kulingkarkan erat kedua tangan ini di pinggangnya. Sungguh, aku tidak mampu berpisah dengannya. Aku sangat benci perpisahan ini.
Langit kemudian meneteskan air berkahnya. Rintik-rintik hujan mulai turun membasahi bumi. Tapi aku tidak peduli. Aku tetap tidak ingin melepaskan pelukan ini.
Kami masih berdiri di depan pohon tin yang ada di depan rumahku. Hanya ada kami di sini. Ayah, ibu dan Anggi sedang menjaga toko di pasar. Sedang Adit, dia pergi ke sekolah favorit bersama temannya.
"Sayang, aku milikmu. Telah kuserahkan semuanya untukmu. Aku hanya pergi untuk melaksanakan tugasku. Dan semoga saja sesampainya di sana, peperangan itu tidak terjadi."
Aamiin.
Aku berdoa dalam hati, semoga saja hal itu tidak terjadi.
"Rain, maafkan aku," kataku penuh penyesalan.
"Aku menyesal karena baru sekarang mencintaimu. Tapi mengapa setelah aku mencintaimu, kita harus berpisah?" tanyaku kepadanya sambil menahan sesak di dada, dalam pelukannya yang hangat.
"Mungkin Tuhan ingin mengajarkan kepada kita betapa berharganya saat-saat bersama itu."
"Rain—"
"Aku menyayangimu, Ara. Setelah ini aku akan meminangmu. Tunggu aku, ya."
Rain mengusap kepalaku. Dia mengecupnya lama, seakan begitu menghayati saat-saat terakhir bersamaku ini.
"Aku pegang janjimu, Rain. Kumohon kembalilah."
Rain mengangguk. Dia semakin mempererat pelukannya. Kurasakan kehangatan saat berada di pelukannya. Rasa gundah di hatiku kini sedikit berkurang.
Tiba-tiba angin kencang datang tanpa diundang. Kudengar detik arloji berbunyi dari kalung yang Rain pakai. Semakin lama bunyi detik itu semakin cepat. Rain pun menyadarinya.
"Ara." Dia melepas pelukannya. "Sudah tiba waktunya."
"Rain!"
Kukalungkan kedua tanganku di lehernya segera. Kuraih bibir lembut yang sering menciumku itu. Kucoba untuk menyalurkan semua perasaanku kepadanya. Rain pun tidak menolak sama sekali, dia membalas ciumanku. Kami berciuman begitu dalam. Menikmati ciuman perpisahan ini dengan sebaik mungkin.
Tak lama, pusaran angin keluar dari pohon tin dan membentuk sebuah lubang hitam. Portal kemudian terbuka dan seperti menarik Rain ke dalamnya.
__ADS_1
"Ara ...."
Rain menyudahi ciumannya. Dia memegang pipiku dengan kedua tangannya sambil menatapku erat.
"Aku tinggal dulu. Baik-baik di sini. Dan ... jangan nakal," katanya seraya mencolek hidungku.
Akupun mengangguk. Hanya hal itu yang bisa kulakukan. Rain kemudian mencium keningku. Tangannya memegang erat kedua tanganku lalu mengecupnya. Dan kamipun akhirnya harus berpisah.
"Selamat tinggal, Sayang."
Rain tersenyum ke arahku. Dia memundurkan langkah kakinya ke belakang. Asap tebal kemudian menyelimuti Rain. Lubang hitam itu seperti menelannya.
"Rain!"
Aku berlari untuk menggapainya, namun tak bisa. Angin di sekeliling Rain menahanku. Hingga sebuah cahaya menyilaukan membuatku harus menutup mata. Kemudian aku tak sadarkan diri.
"Rain, aku mencintaimu," kataku sebelum benar-benar kehilangan kesadaran.
Beberapa saat kemudian...
Kulihat langit sangat cerah. Sinar matahari begitu menyilaukan mata. Aku mencoba bangkit dari tidurku. Ternyata aku pingsan tadi. Untung saja gerbang kututup, sehingga tidak ada yang bisa masuk ke dalam.
"Rain ...."
Masih teringat jelas senyuman terakhir dari pangeran bungsu itu. Entah mengapa, aku begitu merindukannya. Padahal baru saja kami berpisah.
Aku mencoba bangun lalu masuk ke dalam rumah. Seketika itu juga alam bawah sadarku membuka semua kenangan saat bersamanya. Dan tanpa sadar, butir-butir kristal bening inipun menetes, membasahi kedua pipiku.
"Rain ... aku rindu."
Dadaku terasa sesak sekali. Aku seperti kekurangan oksigen. Pilu hati ini menghadapi kenyataan yang terjadi.
Biasanya Rain selalu usil menggangguku. Namun, kini dia tak ada lagi. Saat aku melewati ruang tamu, kurasa Rain masih duduk di situ. Saat berjalan di ruang TV, begitu jelas di benakku Rain menemani kedua adikku belajar. Bahkan saat melihat dapur, aku merasa Rain masih ada. Berusaha menggodaku dengan sejuta kata-kata mesumnya.
"Sepertinya aku kelelahan."
Aku segera masuk ke dalam kamar. Dan kurasakan Rain tengah tertidur di kasurku. Kuingat kejadian malam itu yang membuat tubuhku merinding hebat karena ulahnya.
"Rain, apakah kau sudah sampai?"
Aku duduk di pinggir kasur sambil memegangi kalung pemberian darinya. Aku resah dan juga gelisah tak menentu selepas ditinggalkannya.
"Semoga semuanya baik-baik saja. Aku menyayangimu."
Aku berkata sendiri seperti orang gila. Mungkin terbawa rasa sedih karena ditinggalkannya.
Akupun segera merebahkan diri di atas kasur karena merasa lelah menghadapi perpisahan ini. Ya, sejujurnya aku tak mampu berpisah dengannya.
Semoga saja hari esok lebih baik.
Kututup hari ini dengan doa. Berharap hari esok dapat membantuku meringankan rasa sedih sekaligus rindu di hati ini. Ya, aku berharap semesta dapat membantuku.
...
Maka kupanjatkan doa.
__ADS_1
Dan berharap mimpi-mimpi akan membawaku ke sana.
Ke tempat di mana langit biru, tuk bertemu denganmu sekali lagi, Cintaku...