Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
My Mom


__ADS_3

Pagi harinya...


Cuaca pagi ini begitu bersahabat. Mentari bersinar dengan terang dan menghapus hujan semalam. Negeri Angkasa sedang mengalami musim pancaroba yang tidak menentu. Kadang hujan sehari dihapus panas seminggu. Kadang juga panas sehari dihapus hujan seminggu.


Cuaca yang tidak menentu itu membuat keluarga utama kerajaan begitu berhati-hati memilih hari untuk berpergian. Tapi tidak dengan Rain. Dia sepertinya sudah kebal menghadapi jenis cuaca apapun.


"Latihan selesai!" teriaknya kepada para prajurit istana.


Rain sibuk melatih para prajuritnya sebelum maju ke medan peperangan. Sungguh ia berharap peperangan ini tidak terjadi. Namun, Rain tetap bersiaga jika hal yang tidak diinginkan itu harus terjadi.


Jam kerja yang tidak menentu, membuat Rain bebas keluar-masuk istana. Tanggung jawab penuh atas jabatan yang ia pegang, membuat dirinya selalu siap siaga kapan saja. Tapi, kalau Rain sudah tidur di hari liburnya, jangan sampai ada yang berani membangunkannya.


"Salam bahagia untuk Pangeran Rain."


Menteri Pertahanan datang menemuinya di pagi yang cerah ini. Rain segera menanggapi dan menerimanya untuk berbincang.


"Tuan Dave, bagaimana perkembangan di perbatasan?" tanya Rain kepada Menteri Pertahanan yang mengenakan pakaian kerajaan berwarna hijau.


"Penjagaan daerah perbatasan sudah dilipatgandakan dari sebelumnya, Pangeran. Saya masih merekrut prajurit dalam skala besar dari negeri ini," jawab sang menteri.


"Bagaimana untuk pembiayaannya?" tanya Rain lagi.


"Untuk pembiayaan sudah dimaksimalkan sebaik mungkin. Pertahanan dan keamanan negeri sudah aman."


"Syukurlah. Aku berharap keamanan negeri ini tetap stabil," sahut Rain.


"Demikian juga harapan saya, Pangeran." Dave menambahkan.


"Baiklah, Tuan Dave. Aku rasa harus beristirahat sejenak. Apa ada hal lain yang ingin diberitahukan kepadaku?" tanya Rain lagi.


Menteri Pertahanan itu kemudian memberikan Rain sebuah denah beserta perkiraan jumlah pasukan jika peperangan benar terjadi.


"Aku akan mempelajarinya, Tuan Dave. Terima kasih."


Rain menutup pembicaraannya. Ia kemudian meninggalkan sang menteri.


Rain bergegas untuk beristirahat dari latihannya, sejak fajar tadi. Namun, Rain tidak kembali ke kamarnya. Melainkan melangkahkan kaki menuju kamar yang dulu di tempati gadisnya.


Sesampainya di kamar Ara yang dulu...


Ia segera melepas pakaian lalu masuk ke dalam kamar mandi. Rain berniat membersihkan diri di sana.


Saat di dalam kamar mandi, ia menghidupkan pancuran air untuk mengisi bak yang kosong. Sambil menunggu, Rain berkaca diri, melihat wajahnya di cermin yang ada di kamar mandi tersebut.

__ADS_1


"Ara, bibirku ini hanya untukmu."


Ia menyentuh bibirnya sendiri seraya mengusapnya pelan. Rain terpejam, membayangkan saat pertama kali berciuman dengan gadisnya itu.


Saat itu...


"Kau tidak memakai make-up, Ara?"


Rain mengagetkan Ara dari depan pintu kamar. Ia mengenakan kaus pas badan berwarna cokelat sesiku dengan celana gunung hitam panjang, dan sandal gunung berwarna cokelat tua sebagai alas kakinya.


"Kau ingin aku berdandan?" tanya Ara kepadanya.


Rain lalu berjalan mendekati dan memegang kedua lengan gadis itu.


"Sebenarnya tanpa make-up pun kau sudah terlihat sangat cantik di hadapanku, Ara. Tapi lebih baik poleslah sedikit wajahmu agar aku semakin bergairah," katanya.


"Rain!" Ara tampak kesal.


"Ara, aku pria normal. Apakah tidak boleh berkata seperti itu?"


Ara terdiam, tidak menjawab pertanyaannya. Gadis itu segera mengambil peralatan make-up lalu berdandan sekedarnya. Seperti biasa, make-up minimalis menjadi andalannya. Mengenakan tabir surya disapu bedak padat berwarna kuning langsat dan lipglos merah muda di bibirnya. Hingga terlihatlah wajah sang gadis yang menggemaskan di hadapan Rain.


"Bagaimana?" tanya Ara kepada Rain setelah selesai berdandan.


"Apanya?"


"Apa yang ada di wajahmu," kata Rain.


"Mulai, ya!" gerutu sang gadis.


"Hahaha. Kau masih bertahan juga ya, Ara. Padahal hanya ada kita di sini."


Rain berbalik, ia beranjak keluar dari kamar.


"Tunggu, Rain!" seru Ara bersamaan dengan langkah kakinya yang terhenti.


Ara berjalan mendekatinya, Rain juga membalikkan badannya. Gadis itu terlihat sedikit berjinjit untuk meraih bibirnya. Sedang tangan kanannya memegang lembut lehernya itu.


"Muach."


Ara mencium Rain, meraih bibirnya dengan satu kecupan singkat. Sontak Rain terbelalak karena kaget.


"Ara ...?"

__ADS_1


Ia tidak menyangka jika Ara akan melakukannya karena selama ini Ara selalu bertahan dengan jutaan kata mesumnya itu. Kedua bola mata Rain menatap Ara dengan heran. Namun, sang gadis malah memeluknya.


"Rain, aku menyayangimu."


Tiba-tiba terasa detak jantungnya yang melaju begitu cepat saat Ara mengatakan hal itu secara langsung padanya. Ingin rasanya Rain berteriak kegirangan, namun ia masih mampu menahannya. Padahal hatinya sangat girang bukan main. Gadis yang dikejarnya kini membalas perasaannya itu.


"Ara, kau ... melakukannya?"


Rain masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Sementara sang gadis tampak tersenyum-senyum sendiri di hadapannya dan kemudian berlalu pergi.


...


"Ara ... kau berhasil membiusku dengan cintamu. Rasanya tidak ada wanita lain di dunia ini selain dirimu. Ciuman pertamaku telah kau ambil tanpa izin."


Rain menghela napasnya. Merasakan jika Ara tengah berada di hadapannya. Di kamar mandi inilah pertemuan keduanya dengan sang gadis. Ia membuat drama hanya untuk mendapatkan perhatian gadis berbola mata hitam itu.


"Hah, entah mengapa aku merasa waktu begitu lambat saat menunggu kedatanganmu," gumamnya lalu menyadari jika bak mandi sudah penuh.


Rain kemudian segera merelaksasikan diri dari lelahnya latihan hari ini. Ia menggunakan peralatan mandi yang biasa Ara gunakan. Tampak dirinya begitu menikmati harum sabun mandi yang biasa Ara pakai.


Suatu hari nanti, kita akan mandi bersama, Ara...


Di dalam hatinya, ia merindukan gadis itu. Merindukan saat-saat bersamanya.


Sementara itu...


"Ibu?"


Cloud terkejut dengan kedatangan sang ibu di ruangannya pagi ini. Ia segera berdiri menyambut kedatangan sang ibu. Beberapa pelayan dan pengawal ratu itu segera undur diri dari hadapan keduanya. Kini hanya ada ibu dan anak sulungnya di ruangan ini.


"Cloud, ada yang ingin Ibu tanyakan kepadamu."


Tersirat raut sinis dari wajah ibunya yang berusia 45 tahun itu. Mengenakan gaun kerajaan berwarna merah dengan rompi jubah hitam dan mahkota ratu di kepalanya.


"Jika aku bisa menjawabnya, aku akan menjawabnya, Ibu." Cloud menanggapi ucapan ibunya dengan lembut.


"Baiklah. Ibu hanya ingin bertanya kepadamu. Selama Ibu dan ayah pergi, apa yang terjadi di istana ini?" tanya sang ibu.


"Maksud Ibu?" Cloud balik bertanya.


"Ibu merasa ada hal aneh yang terjadi padamu dan Rain. Kalian seperti bertukar peran."


Moon merasakan hal janggal terjadi pada kedua putra kandungnya itu. Di matanya, Cloud dan Rain seperti bertukar karakter. Cloud pun mengerti akan maksud perkataan ibunya. Namun, ia merasa hal itu tidaklah penting untuk dibahas karena masih ada hal lain yang lebih penting.

__ADS_1


__ADS_2