Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Danger!


__ADS_3

Gadis, saat kamu memelukku.


Bagaimana kamu mengendalikanku.


Kamu membungkuk dan melipatku.


Dengan cara apapun yang kamu suka.


Pasti mudah bagimu.


Hal-hal indah yang kamu lakukan.


Tapi hanya sekedar hiburan untukmu.


Aku tidak akan pernah bisa.


Dan aku tidak pernah tahu.


Jika harus tetap tinggal atau pergi.


Karena game yang kamu mainkan.


Teruslah membuatku pergi.


Jangan cintai aku untuk bersenang-senang, Gadis.


Biarkan aku menjadi satu-satunya.


Cintai aku karena suatu alasan.


Dan biarkan alasannya menjadi cinta...


...


Aku berjalan masuk ke dalam kamar dengan tubuh yang terasa sangat lelah. Segera kurebahkan diri di atas tempat tidur dengan kaki yang menggantung di tepi kasur.


"Hah, nikmatnya."


Aku begitu lelah hari ini, hingga malam semuanya baru selesai. Hari ini benar-benar kuselesaikan tugasku membantu para penduduk ibu kota untuk mendapatkan pengobatan. Sedang Rain bersama prajuritnya berkeliling ke sekitaran ibu kota untuk membagikan buah dan juga ramuan daun tin ke setiap rumah.


"Mungkin lebih baik jika mandi terlebih dahulu."


Badanku terasa sangat gerah. Terlebih menggenakan gaun sedari pagi. Akhirnya aku paksakan beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ya, walau terasa sangat berat untuk melangkah.


Beberapa menit kemudian...


Selepas mandi, aku segera mengenakan gaun tidur berwarna merah muda. Gaun tidur sebatas lutut dengan rompi menutupi lengan yang terbuka. Hanya mengenakan pelembab malam, akupun segera beranjak untuk tidur.


"Nona."


Kudengar suara mbok Asri dari luar memanggilku seraya mengetuk pintu. Akupun segera beranjak membukakan pintu untuknya.


"Mbok?"


"Selamat malam, Non. Ini makan malam dari pangeran Cloud." Mbok menyerahkan semangkuk sup dan juga salad buah untukku, beserta segelas wedang jahe yang dicampur susu.

__ADS_1


"Terima kasih, Mbok." Aku segera menerimanya.


"Nona, apa ada yang Nona butuhkan lagi? Nona kelihatan sangat lelah malam ini." Mbok menawarkan jasa kepadaku.


"Em, sepertinya tidak, Mbok. Aku cukup beristirahat saja," kataku seraya tersenyum kepadanya.


"Baiklah kalau begitu. Saya pamit, Non. Jika ada keperluan, saya berada di ruangan samping." Mbok berpesan.


"Terima kasih, Mbok."


"Sama-sama, Non. Permisi."


Mbok Asri kemudian pergi dari hadapanku. Dengan segera aku menutup pintu kamar karena tidak ingin ada yang menggangu. Kuletakkan makan malam dari Cloud ke atas meja tamu lalu mulai menyantapnya. Rasanya begitu enak. Sup sapi ini memang tidak ada duanya.


...


"Hah ... kenyang juga."


Setelah bersantap malam, aku segera beranjak ke kasur. Rasa kantuk karena lelah dan kenyang berpadu menjadi satu, memaksaku untuk segera merebahkan diri. Akupun mulai menyandarkan punggung di bantal sebelum benar-benar tertidur. Kuingat kejadian yang kualami hari ini sambil tersenyum-senyum sendiri.


"Mereka itu seperti bayi."


Aku tertawa kala mengingat Rain dan Cloud saling mempertahankan diri untukku. Aku merasa keduanya memang menginginkanku. Aku seperti gadis spesial di mata mereka.


"Semoga saja hal ini tidak terus berlanjut."


Aku berdoa agar keduanya dapat damai dan tidak berseteru lagi. Aku tidak ingin kehadiranku membuat kakak-beradik itu saling bersitegang satu sama lain. Aku ingin keduanya akur sehingga aku pun bisa menyelesaikan tugas-tugasku dengan baik. Jujur saja, semakin lama berada di sini, aku merasa tugas yang diberikan kepadaku semakin banyak.


Tugas kerja samaku dengan Cloud juga belum selesai. Masih ada dua rancangan kebaya yang harus segera kuselesaikan. Belum lagi menyiapkan segala sesuatu untuk pertunjukan busana. Rasanya kenyang sendiri memikirkannya.


Ayah dari kedua putra mahkota pun ikut-ikutan memberiku dua tugas. Padahal yang satu saja belum terselesaikan. Tugas untuk membahagiakan kedua putranya.


"Entah kenapa aku jadi pusing memikirkannya."


Bagaimana aku bisa membahagiakan keduanya sedang mereka saja tidak ada yang mau mengalah. Rain tidak mau kalah dengan kakaknya dan Cloud yang tidak mau mengalah kepada adiknya. Aku jadi pusing sendiri. Belum lagi tugas baru yang diberikan kepadaku, merawat pohon surga. Aduh! Bisa kejang-kejang sendiri aku.


"Kenapa semuanya harus aku?"


Aku bertanya dalam hati, mencoba berpikir, kenapa harus aku yang mengemban banyak tugas seperti ini? Apa karena aku adalah sosok dewi seperti yang disebutkan oleh Tetua Agung? Hah, entahlah. Aku juga tidak mengerti.


"Lebih baik aku tidur."


Kutarik napas dalam lalu mengembuskannya kuat-kuat. Cara ini cukup efektif untuk meringankan beban yang terasa berat di hati dan juga pikiran. Ya, semoga saja aku bisa melaksanakan semua tugas ini dengan baik.


Akupun berbaring, memejamkan kedua mata lalu bernapas perlahan berulang kali. Kunikmati udara gratis dari Tuhan yang telah menciptakan segala sesuatunya dengan sempurna. Kututup malam ini dengan doa agar semuanya berjalan lancar, tanpa kendala.


Esok harinya...


"Ara, bangun."


Samar-samar kudengar suara memanggilku, namun aku masih asik terlelap dalam tidur.


"Ara, bangun!"


Suara itu semakin lama semakin terdengar jelas. Aku yang tidur tengkurap ini terus mengabaikan. Aku masih sangat mengantuk.

__ADS_1


"Ara! Dasar tukang tidur!" seru suara itu.


Aku mendengarnya, namun aku abaikan. Aku tidak peduli dengannya. Aku lanjutkan saja destinasi mimpiku.


"Ara!!!"


Seketika aku mendengar teriakan yang membuatku kaget. Akupun bangun terngantuk-ngantuk. Kuintip jika Rain sudah berada di samping tempat tidurku.


Dia ini masih bisa masuk padahal pintu sudah kukunci dari dalam.


"Ara, bangun! Sudah siang!" serunya lalu menarik selimutku.


"Aku masih ngantuk," sahutku lalu melanjutkan tidur.


"Hah, kau ini. Bagaimana jika menjadi istriku. Pagi-pagi aku harus sudah bangun untuk melatih prajurit, sedang kau masih tertidur." Rain mulai berpidato.


"Aku tidak peduli. Bukan urusanku," jawabku santai.


"Araaaaaaa!!!"


Rain sepertinya kesal denganku. Dia membalikkan tubuhku lalu membuka mataku yang masih mengantuk dengan jarinya.


"Rain?" Kulihat dia menatapku dengan wajah kesal.


"Baiklah, tidak ada cara lain."


"Eh?!!"


Seketika aku merasa tubuhku melayang. Ternyata Rain menggendongku di pundaknya.


"Rain, turunkan aku!" Saat itu juga aku terjaga.


"Tidak akan," katanya seraya membawaku.


Aku merasa dejavu dengan hal yang Rain lakukan. Entah mengapa aku teringat awal-awal kedekatan kami.


"Sekarang aku akan memandikanmu."


Tanpa terasa aku sudah berada di dalam kamar mandi bersamanya. Lagi-lagi aku merasa dejavu dengan hal ini.


"Rain, kau ini pemaksaan!" Aku mencoba keluar dari kamar mandi.


"Hei, mandi dulu!" serunya yang menarikku kembali.


"Tidak!!!"


Aku bertahan tidak mau mandi dan mencoba lari darinya. Sedang Rain masih menarikku. Akhirnya, rompi gaun tidurku terlepas dan aku pun berhasil meloloskan diri. Bersamaan dengan itu, Cloud masuk ke dalam kamar dan melihatku mengenakan gaun tidur yang tanpa lengan ini. Sedang rompi gaun tidurku dipegang oleh Rain.


Astaga! Cloud datang?!


Seketika aku panik melihat Cloud datang lalu menahan tubuhku yang hampir terjatuh karena mencoba lari dari Rain.


"Ara?"


Cloud tampak bingung. Diapun menoleh ke arah kamar mandi. Dan dia menemukan Rain yang tengah memegang rompi gaun tidurku.

__ADS_1


__ADS_2