Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Arrived


__ADS_3

Esok harinya...


Aku terbangun dari lelapnya tidur semalam. Kulihat Cloud masih tertidur di sampingku. Dia memelukku dengan hanya mengenakan celana pendeknya saja. Tubuh kami pun masih tertutupi selimut.


Setelah melewati malam bersama dengan bercanda tawa, kami memutuskan untuk tidur segera dengan tanpa melakukan apapun. Sepertinya Cloud kelelahan beberapa hari ini. Jam kerjanya berlipat, tidak seperti biasanya.


Aku lalu beranjak bangun, menyandarkan punggung pada bantal seraya mengusap kelapanya. Kusadari jika aku begitu menyayangi putra mahkota ini.


"Em, Ara?"


Tak lama Cloud terbangun dan melihatku sedang membelai rambut pirangnya. Dia kemudian memeluk kedua pahaku ini bak bantal gulingnya.


"Hari masih pagi, tidur saja lagi," kataku sambil terus mengusap kepalanya.


"Aku belum bisa tenang, Ara." Dia seperti bergumam.


"Em, maksudnya?" tanyaku.


Cloud bergegas bangun lalu duduk di pinggir tempat tidur. Dia tidak menjawab pertanyaanku sama sekali.


"Tunggu aku mandi, ya."


Dia segera masuk ke dalam kamar mandinya dan memintaku untuk menunggu. Akupun menurutinya.


Beberapa saat kemudian...


Cloud keluar dari kamar mandi seraya menghanduki kepala. Dia lalu memintaku untuk mengambilkan pakaian yang ada di dalam lemari. Di depan cermin besar, Cloud mengenakan pakaiannya dan sama sekali tidak risih denganku.


"Kemari, Ara."


Cloud memintaku untuk memakaikan jubah kerajaannya. Kubantu dengan sungguh-sungguh seraya mengancingkan jubah itu ke kaitnya. Dia tampak memandangiku.


"Sudah," kataku seraya tersenyum.


"Ara."


"Hm?"


"Bisakah hal ini terus berlanjut?" tanyanya dengan tatapan begitu erat ke arahku.


"Tentu saja bisa," jawabku menyakinkan.


Cloud kemudian memelukku, mengusap kepalaku. Menciumnya dengan sepenuh hati. Aku merasa dia sedang menyembunyikan sesuatu dariku.


"Hari ini mungkin aku sibuk. Akan ada rapat bersama para menteri. Jadi ...."

__ADS_1


"Iya, aku mengerti." Aku mengangguk dan tersenyum.


"Mau kugendong ke kamarmu?" tanyanya seraya menatap dalam kedua mata ini.


"Boleh?"


"Tentu."


Mendapat tawaran seperti itu, segera saja aku naik ke atas kasur lalu menaiki dirinya. Cloud tampak kaget dengan aksi cepatku ini.


"Ingin digendong depan?" tanyanya dan segera memegang kedua pahaku.


"Boleh?" Aku balik bertanya.


"Jika kau yakin." Cloud terkekeh sendiri.


Aku segera turun darinya lalu mengecup lembut bibirnya itu. Cloud tersenyum manis membalas sikap manjaku ini.


"Kau tidak ingin ada jarak lagi, bukan?" tanyaku.


"Iya, Ara," jawabnya sambil mencubit kedua pipiku. Dia tampak gemas.


"Baiklah. Aku tidak akan segan lagi untuk bermanjaan denganmu."


"Itu memang yang aku inginkan."


Cloud tersadar jika aku belum dapat membuka pintu kamarnya ini. Dia menepuk dahi sambil membalikkan badan, menuju pintu. Dia lalu membukakannya untukku.


"Silakan, Nyonya Cloud," katanya yang sontak membuatku tersipu.


Kami akhirnya keluar kamar. Dan tanpa malu, kugenggam tangan kiri Cloud dengan tangan kananku seraya mengayunkannya, seakan aku sedang bermanjaan dengannya. Cloud tersenyum lalu mencolek hidungku ini.


Cloud ... entah berapa lama kita sudah saling mengenal. Selama itu juga aku mengalami fase naik-turun di hatiku. Tapi ... kau selalu menyakinkanku. Terima kasih.


Kami terus berjalan bersama hingga Cloud mengantarkanku sampai di depan pintu kamar. Dia kemudian berpamitan karena ada pekerjaan yang harus segera dilakukan. Tak lupa sebuah kecupan ringan mendarat di kening dan bibirku ini. Cloud begitu memanjakanku. Kurasakan hangat kasih sayang darinya.


Beberapa jam kemudian...


Kini aku sedang duduk di gazebo. Sinar mentari menemani kesibukanku di pagi ini. Mungkin baru sekitar pukul delapan waktu setempat, aku sudah mulai bekerja dengan mengenakan gaun berwarna hitam tanpa lengan.


Entah mengapa hari ini aku ingin mengenakan gaun berwarna hitam. Ya, anggap saja karena masih terbawa rasa sedih atas ucapan ratu kemarin. Jujur aku ingin menangis. Setelah melewati waktu bersamanya, ternyata Cloud tidak diizinkan menikah selain dengan seorang putri kerajaan.


Apakah Cloud sanggup untuk mempertahankanku?


Aku jadi teringat ucapan paduka raja waktu itu. Dia bilang aku bebas melakukan apa saja di istana ini. Namun, di atasku masih ada ratu yang harus dipatuhi. Kejadian kemarin seolah-olah pukulan telak bagiku.

__ADS_1


Dalam kegundahan yang melanda hati, aku berusaha untuk meneruskan rancangan busana kebayaku ini. Sebuah kebaya modern yang seperti gaun istana. Kurancang semewah dan semenarik mungkin, karena hanya ini yang bisa kulakukan untuk membantu perekonomian negeri. Dan juga agar penduduk sekitar mendapatkan pengobatan gratis.


Sebenarnya aku ingin sekali mendirikan rumah sakit, tapi aku tahu jika membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Terlebih negeri ini sedang mengalami defisit neraca perdagangan karena perekrutan masal prajurit. Pastinya membutuhkan pasokan dana yang sangat banyak. Tapi semoga saja, lain waktu keinginanku ini bisa segera terwujud.


"Selesai juga."


Baru saja kuselesaikan rancangan busana kebayaku yang ke tiga, karena semalam hanya bisa menyelesaikan dua rancangan saja.


Sepertinya sudah sempurna.


Kuregangkan otot-otot punggungku seraya mengangkat kedua tangan ke atas. Kurelaksasikan juga kepalaku dengan memutarnya perlahan dan berbalik arah. Kini tubuhku sudah siap untuk merancang busana kembali. Namun, bersamaan dengan itu...


"Suara apa itu?"


Tiba-tiba kudengar suara gemuruh, tak jauh dari tempatku berada. Akupun beranjak dari duduk untuk melihat apa yang terjadi. Ternyata, pintu gerbang istana dibuka lebar-lebar oleh prajurit yang berjaga. Pasukan berkuda datang memasuki istana.


"Rain?!"


Kulihat sosok pria berjubah merah memasuki halaman istana dengan mendapatkan penghormatan dari prajurit yang membukakan pintu gerbang. Akupun segera merapikan pekerjaanku lalu berjalan cepat ke arahnya agar dapat melihat lebih dekat.


"Rain, kaukah itu?"


Kudekap map yang berisi lembaran sketsa rancangan busanaku ini. Sebisa mungkin aku menyambut kedatangan pangeranku, Rain Sky.


"Rain!" teriakku sambil melambaikan tangan ke arahnya.


Pria berjubah merah itupun menoleh ke arahku. Dia bersama pasukannya berjalan mendekati. Begitu banyak pasukan yang berada di belakangnya, mungkin hampir seratus orang.


"Ara?"


Aku terengah-engah sebelum sampai di hadapannya. Belum saja setengah perjalanan, aku sudah merasa capek sekali. Kupegang kedua lututku ini sambil mencoba menormalkan laju napas yang tidak beraturan.


"Rain, jemput aku," kataku pelan. Entah mengapa aku merasa lelah sekali.


Melihat aku memegangi kedua lutut, Rain segera berbicara ke para pasukan berkudanya. Tak lama, pasukan itu memisahkan diri darinya dan berjalan menuju ke belakang istana.


Sungguh, istana ini luas sekali. Halamannya sejauh mata memandang dengan berbagai macam bunga taman menghiasi. Rasanya aku tidak sanggup jika diminta untuk berlari mengelilingi istana ini. Jangankan berlari, berjalan mengitarinya saja aku tak mampu.


"Ara ...."


Pria berjubah merah itu menarik tali kudanya untuk berjalan ke arahku. Dan benar saja, memang Rain Sky yang sedang menunggangi kuda hitamnya itu. Dia berjalan menujuku.


"Rain, akhirnya ... kita bertemu."


Ada rasa sedih menyelimuti hati saat melihat kedatangannya. Kedatangan seorang pria yang telah membuatku jatuh hati dengan berbagai macam bujuk rayunya itu. Kini dia sudah tiba di hadapanku. Tatapannya begitu membuatku haru.

__ADS_1


Rain ....


Rain menghentikan laju kudanya saat tiba di dekatku. Diapun turun dari kuda hitam itu dengan terus menatap ke arahku. Jarak kami hanya sekitar tiga meter pandangan.


__ADS_2