Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Blessing


__ADS_3

Ruang tamu istana...


Aku memasuki ruangan luas yang terdapat banyak bunga-bunga di dalam pot besar. Harum semerbak bunga hidup tercium dan bisa sedikit meredakan ketegangan diriku. Kulihat ada meja tamu dengan banyak toples kristal sebagai tempat kue dan kursi ukiran yang begitu mewah.


Atap plafon ruangan ini tebal dengan ukiran batik putih di setiap sisinya. Lampu kristal mewah pun menggantung di tengah ruangan ini.


Hari masih tampak pagi, mungkin sekitar jam delapan waktu duniaku. Cahaya hangat mentari menyorot dari balik ventilasi ruangan, menembus jendela kaca dengan tirai ungu menghiasi. Aku kemudian mencoba untuk menyapa sang raja.


"Salam bahagia untuk Yang Mulia Raja."


Kubungkukkan sedikit tubuhku ke arah pria bermahkota emas itu. Diapun menyadari kedatanganku.


"Nona Ara?" tanyanya seraya menoleh ke arahku.


"Benar, Yang Mulia."


Raja itu kemudian memintaku untuk duduk. Akupun memenuhi permintaannya. Sang raja kemudian meminta pelayannya meninggalkan kami di ruangan ini. Dan kini hanya ada aku dan raja di sini.


"Aku sudah menunggumu sedari tadi, Nona."


"Maafkan saya, Yang Mulia. Saya harus melewati banyak ruangan untuk sampai ke sini dan itu memakan waktu," kataku beralasan.


"Hm. Tidak apa. Sebaiknya Anda sering-sering berlatih menyulusuri seluruh istana."


"Maaf, Yang Mulia?"


"Nona, Cloud sudah menceritakan semuanya kepadaku. Nona pasti tahu mengapa aku memanggil Nona ke sini."


"Maaf, Yang Mulia. Sepertinya saya kurang mengetahui akan hal itu," kataku dengan begitu santun.


"Baiklah. Aku akan menceritakannya. Semalam ...."


Sky lalu menceritakan kejadian tadi malam kepada Ara...


...


Cloud mendatangi ayahnya sebelum pergantian hari tiba. Wajahnya tampak mencemaskan sesuatu.


"Ayah."


"Cloud, kau belum tidur?"


"Apakah kedatanganku mengganggu Ayah?" tanya Cloud.


Sky menunda aktivitas sejenak karena kedatangan putra sulungnya. Dilipatnya peta yang sedang ia baca di ruang kerjanya itu.


"Apakah ada yang ingin kau bicarakan pada Ayah?" tanya Sky kepada Cloud.


Cloud lalu duduk di depan ayahnya. Ia memasang raut wajah yang membuat sang ayah menduga-duga.


"Ayah, ada hal yang ingin aku sampaikan." Cloud mengawali.


"Katakanlah, Nak."


"Aku ... ingin menikah."


Sontak Sky terkejut dengan ucapan sang anak. Ia kemudian memasang raut wajah serius di depan putranya itu.


"Kau bersungguh-sungguh?" tanya Sky.

__ADS_1


"Iya, Yah. Aku sangat bersungguh-sungguh. Apakah ada kriteria khusus untuk calon istriku?" tanya Cloud.


Sky lalu meneguk teh yang ada di atas meja kerjanya. Ia mencoba meredakan suasana gundah yang kini tengah melanda hati.


"Cloud, bagi Ayah tidak ada kriteria khusus untuk calon istrimu. Ayah yakin pilihanmu tidak akan mengecewakan Ayah maupun ibu."


"Aku yakin, Yah." Cloud begitu yakin.


"Lalu kapan kau akan mengenalkan dia kepada Ayah?" tanya Sky lagi.


"Aku ingin secepatnya. Tapi ...,"


"Tapi apa, Nak? Jika kau ingin segera menikah, maka menikahlah. Jangan ditunda."


"Ayah ...."


Cloud menundukkan wajahnya. Ia seperti berat untuk melanjutkan perkataannya itu. Sedang Sky tampak menunggu putranya berbicara.


"Gadis yang ingin kunikahi ini juga dicintai oleh Rain, Yah."


"Apa?!" Sky terkejut.


"Kami mencintai gadis yang sama." Cloud melanjutkan.


Sky tampak memijat dahinya sendiri. Ia tidak menyangka jika akan mendengar hal itu langsung dari mulut putranya.


"Jadi benar desas-desus yang berkembang di istana ini?" tanya Sky lagi.


Cloud hanya mengangguk.


"Hah ...."


"Bagaimana bisa kalian mencintai satu gadis yang sama?" Sky memijat dahinya lalu menoleh ke arah Cloud.


"Aku pun tidak tahu, Yah. Perasaan itu mengalir begitu saja."


"Dan darimana kau tahu jika Rain juga mencintai gadis itu?" tanya Sky lagi.


"Rain bilang sendiri kepadaku, Yah," jawab Cloud.


"Astaga."


Sky lalu beranjak dari duduknya. Ia berjalan mendekati jendela. Sepertinya atmosfer ruangan berubah menjadi sesak. Ia lalu membuka jendela ruangannya di malam yang dingin ini. Butiran salju pun tampak di hadapannya, turun menjatuhi dedaunan istana.


"Jadi hal itu yang membuatmu gundah?"


"Iya. Aku bingung harus bagaimana, Yah. Aku seperti menemui jalan buntu. Aku ingin segera menikahinya, tapi Rain pasti akan menghalangiku. Aku khawatir jika terjadi hal yang tidak diinginkan." Cloud mencoba menjelaskan.


Sky menghela napas panjang. Ia kini mengerti permasalahan yang sedang terjadi dengan kedua putranya itu.


"Siapa nama gadis itu?" tanya Sky kembali.


"Namanya Ara."


Sontak saja Sky terkejut kala mendengar putranya mengatakan jika gadis pilihan hatinya itu bernama Ara. Ia seperti teringat dengan sesuatu.


"Ara?" Sky berbalik menghadap ke arah Cloud.


"Iya, Yah. Namanya seperti pohon di bukit surga."

__ADS_1


"Cloud, Ayah rasa ...." Sky tampak berpikir.


"Aku sudah membaca buku hitam itu, Yah," lanjut Cloud.


"Buku hitam?" Sky bertanya kembali.


"Ya, buku yang menceritakan tentang ramalan kerajaan ini."


"Bagaimana bisa kau mengetahuinya?" Sky terus bertanya.


"Aku didera mimpi buruk berulang kali. Di dalam mimpi itu aku berjalan ke perpustakaan istana dan menemukan sebuah buku berwarna hitam. Dan saat aku mencarinya ... ternyata buku itu memang benar ada di sana."


Sky menelan ludahnya. Sepertinya ia mengetahui sesuatu. Sky lalu berjalan mendekati putranya itu.


"Cloud, apa kau sudah membaca buku itu sampai habis?" tanya Sky lagi.


"Belum, Yah. Aku hanya membaca sampai pertengahannya saja. Buku itu terlalu tebal untuk kuselesaikan beberapa hari dengan rutinitas harianku."


Sky kembali duduk di kursinya.


"Apakah kau sudah bertemu dengan Tetua Agung?" tanya Sky lagi.


"Tetua Agung yang mengantarkanku menemui Ara, Yah."


Sky terdiam mendengarnya.


"Ayah, maafkan aku. Jika ucapanku malam ini membuat Ayah—"


"Tidak, Nak." Sky menggelengkan kepalanya. "Ayah rasa keputusan ada di tanganmu."


"Maksud Ayah?"


"Ayah hanya bisa merestui hubungan kalian."


"Be-benarkah, Yah?!" Cloud tampak begitu gembira.


"Iya, Ayah merestuinya." Sky mengangguk, mengiyakan.


Sontak Cloud bangkit dari duduknya lalu segera memeluk ayahnya itu. Ia tampak sangat gembira sekali.


"Terima kasih, Yah. Terima kasih," ucapnya haru.


"Iya, Nak. Untuk selanjutnya, Ayah serahkan padamu."


Ayah dan putranya itu tampak saling berpelukan di malam ini. Cloud juga terlihat meneteskan air matanya karena perasaan haru menyelimuti hati. Sky pun tampak gembira dengan kejujuran sang anak. Walaupun ia merasakan sesuatu akan segera terjadi.


Malam ini ditutup dengan air mata kebahagiaan dari paras tampan sang putra mahkota. Cloud begitu gembira.


...


Raja kemudian meneguk secangkir kopinya. Ia kembali beralih kepadaku setelah menceritakan hal yang terjadi semalam. Aku jadi bingung tak menentu dibuatnya.


"Putraku ingin segera menikahimu, namun dia terhalang oleh adiknya sendiri. Lalu bagaimana menurutmu, Nona?" tanya raja kepadaku.


Seketika itu juga aku merasa menguras pikiranku sendiri. Jawaban apa yang harus kuberikan atas pertanyaan itu? Aku tidak dapat menemukannya saat ini.


"Nona?"


Raja masih menunggu jawabanku. Sedang aku masih mengorek-ngorek jawaban itu di dalam pikiranku. Rasanya ingin berteriak saja. Aku dilanda kebimbangan saat ini.

__ADS_1


Oh, Tuhan. Tolong aku...


__ADS_2