Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Help Me!


__ADS_3

Di ruang kerja raja...


Aku baru saja tiba di ruang kerja raja, dan kini duduk bersama kedua pangeranku di sofa panjang yang ada di ruangan. Aku masih menunggu kedatangannya, yang katanya sedang berbincang bersama ratu di dalam.


Sungguh aku merasa keadaan ini semakin rumit saja. Cloud bilang raja akan membicarakan pernikahan kami yang sebentar lagi akan diselenggarakan. Sedang aku, masih belum juga bisa memilih. Entah mengapa aku merasa amat berat jika diminta untuk memilih salah satunya.


Jujur aku memang lebih menyayangi Rain. Di depannya bisa dibilang aku tidak tahu malu lagi. Dia begitu terbuka padaku dan sering sekali memulai segalanya, sehingga aku merasa nyaman. Tapi sekarang, aku harus berpikir ulang jika ingin meninggalkan Cloud. Malam itu dia telah melihat semuanya, dan kini aku merasa terikat olehnya. Seperti tidak mempunyai alasan lagi untuk lari darinya.


Aku bimbang. Ya, aku masih bimbang menentukan pilihan. Inginku memiliki keduanya. Toh, aku bisa bergantian melayani keduanya. Apalagi Rain sering pergi keluar istana dalam waktu yang tidak sebentar. Mungkin selama dia pergi, aku bisa bersama Cloud.


Aku tidak tahu bagaimana pendapat orang lain tentang cara berpikirku. Seumur hidup baru kali ini aku merasakan indahnya jatuh cinta dan diberi dua sekaligus. Jadi wajar saja jika aku kebingungan.


Jika menuruti awal kedatanganku, tentu saja aku akan memilih Cloud. Dialah cinta pertamaku. Pria yang menarik perhatianku dengan wajah tampannya. Terlebih Cloud amat bersahaja di mataku, dia mendekati sempurna. Sekarang saja dia menjadi lebih agresif. Kutahu sih, perubahan sikapnya ini karena amat takut kehilanganku. Tapi tetap saja aku merasa cara yang dia lakukan terlalu berlebihan.


"Kalian sudah datang?"


Raja menghampiri kami beberapa menit setelah tiba di ruangan. Aku duduk di depan raja, sedang Cloud dan Rain duduk di sampingku. Aku sengaja duduk di tengah-tengah mereka agar tidak terjadi pertengkaran lagi.


"Salam bahagia untuk Yang Mulia," kataku seraya berdiri, memberi hormat kepada raja.


"Terima kasih, Nona. Silakan duduk kembali." Raja memintaku kembali duduk.


Aku kemudian duduk. Dan tak beberapa lama para pelayan datang membawakan sajian untuk menemani perbincangan ini.


"Silakan, Yang Mulia, Pangeran, Nona." Para pelayan mempersilakan kami untuk menyicipi hidangan yang tersaji.


"Terima kasih," kataku kepada pelayan seraya tersenyum.


"Baiklah. Kalian sudah hadir di sini. Ada beberapa hal yang ingin ayah bicarakan kepada kalian." Raja mengawali.


Baik Cloud maupun Rain terdiam, mendengarkan. Aku juga begitu.


"Aku telah membicarakan hal ini kepada istriku. Dan sepertinya istriku telah berubah pikiran mengenai pesta pernikahan. Nona, apakah kau sudah menentukan pilihan?" tanya raja kepadaku.


Sontak jantungku berdegup tak karuan saat mendengar pertanyaan raja. Sebuah pertanyaan yang amat sulit untuk kujawab. Aku seperti tidak bisa berpikir.


"Sepanjang perjalanan Angkasa, baru kali ini terjadi cinta segitiga di antara putra mahkotanya. Selama ini Angkasa hanya melahirkan satu putra mahkota di setiap generasinya. Namun, aku amat beruntung karena bisa mempunyai dua putra sekaligus." Raja memaparkan padaku.

__ADS_1


Aku diam mendengarkan.


"Nona, bisakah kau memilih salah satu dari kedua putraku?" tanya raja lagi yang seketika membuatku menjawab sebisanya.


"Yang Mulia, saya merasa pertanyaan ini terlalu sulit untuk dijawab." Aku berusaha jujur.


Raja kemudian meneguk tehnya. "Kau tinggal memilih, Cloud atau Rain. Pilihlah sesuai kehendak hatimu. Keduanya akan menerima apapun keputusanmu. Bukan begitu, Putra-putraku?" Raja beralih kepada Rain dan Cloud.


"Ayah, aku amat keberatan dengan keputusan ini. Aku bertanggung jawab pada Ara karena akulah yang membawanya ke sini. Tidak sepantasnya Rain yang menikahinya." Cloud mengajukan pertimbangan.


"Hei, kau pikir aku tidak keberatan dengan keputusan ayah apa?!" Rain menimpali.


"Aku tidak peduli padamu, aku hanya ingin meminta hakku," kata Cloud lagi.


"Aku juga tidak peduli dengan perkataanmu. Ara sudah menjadi kekasihku, jauh sebelum kau menyadari perasaanmu!" kecam Rain.


"Kau!" Cloud berniat berdiri.


"Apa?!" Rain menantangnya.


Kedua pangeranku kembali berseteru. Dan kini mereka berani melakukannya di depan raja. Kulihat raja pun menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah kedua putranya ini. Aku jadi tak enak sendiri. Segera kupisahkan mereka, menahan Rain agar tidak membalas perkataan Cloud.


Kulingkarkan kedua tanganku ke tubuhnya agar Rain tidak menanggapi setiap ucapan Cloud. Tapi, sikapku malah membuat Cloud menarikku.


"Ara! Kenapa kau malah memeluknya?!" Cloud kesal melihatku.


"Cloud, tolong jangan bertengkar. Ini semua salahku, seharusnya aku tidak ada di sini." Aku mengakui kehadiranku hanya membuat keributan di antara keduanya.


"Tidak, Ara. Dia saja yang tidak mau mengalah kepada adiknya sendiri," ketus Rain yang membuat Cloud ingin memukulnya.


"Hentikan!!!"


Seketika raja membentak kedua putranya. Kami pun terkejut seketika. Hampir saja jantungku mau copot mendengarnya.


"A-ayah?" Rain dan Cloud terbata, takut melihat ayahnya marah.


"Kalian ini sama-sama bersikeras mempertahankan ego. Apa kalian akan terus seperti ini?!" Raja marah kepada kedua putranya.

__ADS_1


"Ayah, kami—"


"Yang Mulia, mohon maafkan Rain dan Cloud. Mereka tidak salah. Sayalah yang salah karena telah berada di sini. Saya tidak dapat memilih salah satunya. Maka dari itu saya memutuskan untuk kembali ke negeri asal. Karena saya merasa baik Rain ataupun Cloud lah bukanlah pilihan. Mohon maaf, Yang Mulia."


Kubungkukkan badanku ke arah raja, berharap raja tidak marah lagi kepada kedua putranya. Namun ternyata, keputusanku membuat keduanya terbebelak kaget.


"Ara, apa yang katakan?!" Kulihat raut wajah Cloud mulai bersedih, bulir air mata pun menggenang di kedua bola mata biru terangnya.


"Ara, kau sudah janji padaku. Kenapa kau membuat keputusan seperti ini?" Rain memegang tangan kiriku.


"Rain, maaf. Aku ... tidak bisa memilih. Tolong mengerti," kataku sambil berusaha menenangkan hati yang kacau.


"Ara, jadi selama ini kau menipuku?!" Cloud bertanya dengan wajah memerah, menahan tangis.


Aku kemudian beralih kepada Cloud. "Cloud, maafkan aku. Aku tidak ingin terjadi pertengkaran di antara kalian," kataku padanya.


"Astaga ...." Kulihat Cloud mengusap kepalanya.


Aku terdiam, terpaku, tertegun dengan keputusan yang kuambil. Aku masih menanti raja bicara dan menganggapi keputusanku ini. Namun...


"Kalian sudah mendengar sendiri keputusan Ara?" Raja seperti tidak ada penahanan terhadap kepergianku.


"Ayah, aku amat mencintainya. Tolong tetap selenggarakan pernikahan ini," pinta Rain kepada ayahnya.


"Kau yakin akan berbagi kepada kakakmu?" tanya raja sambil menyeruput tehnya lagi.


"Aku ...." Rain tampak ragu.


"Cloud, bagaimana denganmu? Permasalahan ini tidak akan selesai jika di antara kalian tidak ada yang mau mengalah. Apa kau harus kehilangan Ara lagi baru bisa melepaskan ego?" tanya raja kepada Cloud.


"Ayah, aku—"


"Rain seperti sudah mulai menyetujui apa yang ayah sampaikan padamu. Tinggal bagaimana dirimu saja, apa kau juga bersedia menerima keputusan ayah? Atau kau ingin Ara kembali ke negerinya?" Raja seperti mengancam.


"Tidak, Yah. Aku tidak bisa tanpanya. Aku ... aku sudah terlanjur." Cloud tampak murung.


"Baiklah. Begini saja. Ayah beri waktu tiga hari untuk memikirkan hal ini. Rain, pikirkan kembali tawaran yang ayah ajukan padamu. Dan kau, Cloud. Pergi ke Aksara, segera rapikan administrasi negeri itu." Raja mengeluarkan titahnya.

__ADS_1


"Apa?!" Cloud terkejut mendengarnya.


__ADS_2