
Satu jam sebelum makan siang...
Aku sedang memasak sup di dapur. Dan kini tinggal menunggunya matang. Di kamar tadi aku dan Rain hanya saling bertukar cerita selama kepergiannya berperang. Sambil terus mendengarkan cerita darinya, kuusap lembut kepalanya. Ternyata dia malah tertidur pulas sampai sekarang. Mungkin dia merasa tenang setelah mendapatkan belaian lembut dariku.
"Hm, rempah negeri ini memang tidak ada duanya. Rasa sup sapiku begitu sempurna."
Kucicipi sup sapiku yang hampir matang. Dan kurasakan betapa lezatnya perpaduan dari berbagai macam rempah yang dicampurkan ke dalam sup ini. Tak lama akupun mendengar suara pintu terketuk dari luar.
"Cloud, kah?"
Penasaran siapa yang mengetuk pintu, segera kulangkahkan kaki menuju ruang tamu. Kuintip dari balik jendela, ternyata memang benar Cloud yang datang. Akupun lekas-lekas membukakan pintu untuknya.
"Cloud? Kau sudah pulang?" tanyaku heran.
"Ara, kenapa pintunya susah sekali untuk dibuka? Ada apa?" tanyanya sambil menyodorkan tangan kanannya.
Eh, dia minta dicium?
Kode yang diberikan Cloud hampir saja membuatku tertawa. Kutarik saja tangan kanannya lalu kukecup. Dia pun mengusap kepalaku dan segera masuk ke dalam rumah.
Lama-lama dia seperti suami sungguhan.
"Kau baik-baik saja, bukan?" tanyanya sambil menoleh ke arahku.
"Aku baik-baik saja. Memangnya ada apa?" tanyaku yang heran.
"Di mana Rain?" Dia bertanya seraya membalik badannya ke arahku.
"Rain sedang tidur," jawabku segera.
"Apa?!" Cloud beranjak mencarinya.
"Tunggu-tunggu, kau mau ke mana?" Aku menahannya.
"Aku ingin menemui Rain. Aku kesal padanya." Dia seperti menahan amarah.
"Kesal apa cemburu?" godaku lalu berlalu dari hadapannya.
"Ara, kau mengejekku?" tanyanya yang mengikutiku ke dapur.
"Tidak. Aku hanya heran padamu. Jelas-jelas Rain adikmu sendiri, tapi kau begitu curiga padanya," kataku lalu segera mematikan kompor.
"Ara." Cloud membalikkan badanku menghadapnya. "Jelas saja aku curiga, aku takut dia mengambilmu lagi. Aku tidak ingin kehilanganmu. Aku—"
"Ssstt. Aku mengerti. Tapi bagaimana dengan keputusan raja?" tanyaku menyela.
__ADS_1
"Aku ...." Seketika dia tertunduk.
"Rain juga sudah bercerita padaku tentang hal ini. Lalu aku bisa apa?" Aku balik bertanya padanya.
Cloud diam.
"Sudah duduklah, Pangeranku."
Kutarik satu kursi di depan meja makan untuknya, Cloud lalu duduk sambil memegangi kepalanya. Kutuangkan segelas air minum agar rasa khawatirnya mereda.
"Cloud, situasi ini memang amat sulit untuk kita terima. Tapi aku yakin raja mempunyai maksud baik dari semua ini." Aku duduk di sampingnya, mencoba menenangkan.
"Kau setuju dengan keputusan ayah, Ara?" tanyanya seraya menoleh ke arahku.
"Ya, mau bagaimana lagi. Aku juga berat untuk memilih. Aku tidak ingin terjadi keributan di antara kalian. Kalau tidak begini saja, aku kembali ke duniaku dan kalian melanjutkan hidup di sini." Aku memberi penawaran.
"Apa?!!" Seketika roman wajah Cloud berubah, seperti kesal teramat sangat.
"Ya, aku kembali ke duniaku saja. Itu lebih adil, bukan?" tanyaku seraya tersenyum.
"Astaga, Ara." Dia memegang kedua lenganku. "Sebegitu mudahnya kau mengatakan hal ini setelah apa yang terjadi? Apa kau tidak mempunyai sedikitpun rasa kepadaku?" Tatapannya berubah nanar.
"Sayang." Kuambil kedua tangannya lalu memegangnya erat. "Bukan begitu maksudku. Aku juga tidak punya pilihan untuk menolak keputusan raja. Apa aku kembali ke Asia saja?" tanyaku lagi.
"Ara!" Cloud menaikkan intonasi bicaranya, dia berdiri seketika. "Kau tahu, hatiku sakit sekali mendengarnya. Sebenarnya apa yang kau inginkan? Kau ingin aku mengakhiri hidup karena perasaan ini?" tanyanya yang berdiri di depanku.
"Kau sama sekali tidak mengerti bagaimana perasaanku, Ara. Aku sangat mencintaimu. Sangat mencintaimu!" Dia meluapkan kekesalannya.
Sesaat aku menyadari betapa besar rasa cintanya padaku. Baru kali ini aku melihatnya marah, matanya pun memerah seperti ingin menangis. Sedang aku ... aku menahan rasa sesak yang mulai memenuhi dada. Sejujurnya aku juga tidak ingin kembali ke duniaku. Tapi, jika memang tidak ada pilihan lain, aku harus merelakan semuanya. Toh, tugasku di sini juga sudah selesai.
"Cloud ...."
Aku segera menghambur ke pelukannya. Kupeluk tubuhnya sambil menyandarkan kepala di dada bidangnya. Kurasakan detak jantungnya melaju cepat karena rasa kesal yang melanda. Aku pun segera meminta maaf padanya.
"Maafkan aku, Cloud. Aku tidak ada niat untuk mempermainkan hatimu. Hanya saja aku merasa amat berat jika diharuskan untuk memilih. Maka dari itu aku mencari jalan tengahnya dengan kembali ke duniaku." Aku berkata jujur padanya.
Dada Cloud yang naik-turun karena kesal, perlahan-lahan berangsur normal. Kedua tangannya pun memelukku. Kuangkat wajahku lalu menatapnya penuh arti. Kuamati setiap apa yang ada di sana.
"Tolong jangan tinggalkan aku. Aku amat membutuhkanmu, Ara ...."
Dia berkata dengan amat lembut sambil membelai wajahku. Dan akupun hanya mengangguk, mengiyakan perkataannya. Tak ada yang bisa kulakukan selain menenangkan hatinya. Setelah hatinya tenang, aku baru bisa melepaskan pelukanku.
"Duduklah, aku akan membangunkan Rain untuk makan siang bersama," kataku lalu beranjak pergi.
"Ara." Cloud menahanku.
__ADS_1
"Ya?"
Sesaat aku berbalik, dia segera mencium bibirku. Sebuah kecupan dari rasa sedih yang berusaha ditahan olehnya. Aku bisa merasakan tetes air matanya yang jatuh membasahi pipi, hingga sampai mengenai pipiku. Kubalas saja ciumannya sambil melingkarkan kedua tangan di lehernya, seraya berharap Rain masih tertidur pulas dan tidak melihatnya. Mulai sekarang aku harus berlatih mengurus keduanya, sebagaimana keputusan yang telah raja tetapkan. Pesta pernikahan itu akan segera diselenggarakan.
Makan siang...
Aku duduk di tengah-tengah mereka sambil mengambilkan nasi untuk keduanya. Kulihat keduanya masih berdiaman sedari tadi. Mungkin mereka malas bertegur sapa di depanku.
"Makan yang banyak, ya."
Kutuangkan air minum untuk keduanya secara bergantian. Aku pun mengambilkan lauk dan sayur untuk mereka. Namun, keduanya masih saja diam tidak bersuara. Aku jadi punya ide.
"Hei, kalian diam saja sedari tadi. Apakah tidak ada yang ingin bicara padaku?" tanyaku, sambil menoleh bergantian kepada keduanya.
Kuperhatikan keduanya masih saja diam. Dan karena kesal tidak ditanggapi oleh mereka, aku pun beranjak dari duduk.
"Ara!"
Keduanya menahanku. Rain menahan tangan kiriku sedang Cloud menahan tangan kananku.
"Sudah mau bersuara?" tanyaku pada keduanya.
"Ara, di sini saja," pinta Rain padaku.
"Temani kami makan," kata Cloud yang ingin menyuap mulutnya dengan nasi.
"Hah, kalian ini." Aku duduk kembali, makan siang bersama mereka.
"Ayah memintamu untuk ke istana, Ara." Cloud akhirnya berbicara.
"Apakah berkaitan dengan urusan kerajaan?" tanyaku memastikan.
"Bukan, tapi berkaitan dengan pernikahan." Cloud menjawabnya dengan lemas.
Seketika Rain menghentikan santap siangnya.
"Rain?"
"Aku sudah kenyang, Ara."
"Hei, baru juga makan." Aku menahannya yang ingin beranjak pergi.
Aku tahu situasi ini amat tidak memungkinkan untuk kami. Baik Rain maupun Cloud menolak keputusan raja. Rain pun segera berlalu, dia pergi ke teras atap rumah seorang diri. Sedang Cloud, dia menahanku agar tetap menemaninya di sisi.
Ya ampun, lagi dan lagi aku harus berhadapan dengan situasi seperti ini.
__ADS_1
Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, sekarang saja mereka sudah seperti ini. Bagaimana jika pernikahan itu benar-benar terjadi? Apa tidak lebih merepotkan? Entahlah, mungkin lebih baik aku kembali saja ke duniaku. Walau berat untuk melupakan, setidaknya jalan tengah dari hubungan ini.