Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
I'll Be There


__ADS_3

Satu jam kemudian, di bukit pohon surga...


Rain baru tiba di bukit penuh kisah ini. Ia turun dari kudanya dan membiarkan kuda itu mencari rumput di sekitaran pohon. Ia kemudian mendekat ke arah pohon tin. Pohon yang semakin lama semakin besar dan juga rimbun. Ia lantas menggenggam kalung waktunya.


"Kalau saja bisa, aku akan mencobanya. Aku percaya nenek tidak akan berbohong padaku."


Waktu Rain kecil...


Sang putra bungsu Angkasa baru saja berumur tujuh tahun. Ia duduk bersama neneknya di teras balkon istana. Saat itu mendiang raja masih sibuk dengan rutinitas hariannya. Rain lalu memperhatikan sang nenek yang sedang mengeluarkan banyak benda dari kotak hitam yang dipunya.


"Nenek, mengapa banyak sekali benda di kotak ini?" tanya Rain yang masih kecil.


"Ini kotak bersejarah, Cucuku. Lihat ada benda-benda peninggalan dari raja Kosmos."


Nenek Rain menunjukkan kepada cucunya itu benda-benda berharga peninggalan sang raja pertama Angkasa. Rain lantas tertarik pada suatu benda yang berbentuk kalung.


"Nenek ini apa?" tanya Rain kecil yang ingin tahu.


"Hei, jangan sembarangan memegangnya! Nanti kau bisa hilang," kata nenek Rain.


"Hilang?" Rain tak percaya.


"Benar, Cucuku. Ini adalah kalung waktu. Di mana kau bisa menemukan seseorang melalui kalung ini," cerita sang nenek.


"Ah, aku tidak percaya, Nek. Masa ada benda seperti itu?" Rain mengejek neneknya.


"Dasar cucu nakal! Ini ambilah dan buktikan sendiri." Nenek Rain lantas memberikannya.


"Bagaimana cara bekerjanya, Nek?" tanya Rain lagi.


Nenek Rain lalu melepas kalung yang ada di lehernya. Sebuah kalung berantai emas murni dengan batu permata merah delima, yang konon katanya mempunyai kekuatan mistis.


"Pakaikan kalung ini pada gadis yang kau sukai. Jika dia hilang, pakailah juga kalung waktu ini. Kedua kalung ini akan tersambung." Sang nenek menjelaskan.


"Tapi, Nek. Aku tidak punya gadis," ucap Rain dengan polosnya.


Sang nenek kemudian memeluk cucunya itu.


"Nanti di saat kau sudah besar, temukan gadis itu. Gadis yang mana menarik hatimu sejak pandangan pertama. Berikan kalung ini sebagai pengikat hatinya. Sebagaimana yang raja Kosmos lakukan terdahulu."


Rain mengangguk. Ia yang masih kecil percaya begitu saja apa yang neneknya katakan. Ia lantas menyimpan kalung itu dengan hati-hati.


Sang nenek begitu menyayangi cucunya. Ia peluk si cucu hingga Rain tidak banyak bertanya lagi. Pemberian dari sang nenek lantas ia simpan baik-baik. Namun, tak lama berselang, sang nenek harus pergi untuk selama-lamanya. Meninggalkan sejuta cerita untuknya. Rain kecil pun menangis.


...


"Aku akan ingat semua yang kau katakan, Nek. Dan sekarang aku akan membuktikannya sendiri."


Rain lalu memegang kalung itu. Ia mencoba membayangkan sang gadis di depan pohon surga, berharap bisa menemukan keberadaannya.


Tuhan, aku mohon beri tahu di mana dia berada.


Rain berucap sepenuh hati. Ia sangat berharap jika Tuhan akan membantunya untuk menemukan gadis itu. Ia pun menunggu dan terus menunggu. Satu, dua, tiga menit berlalu. Namun, belum juga ada pertanda baginya.

__ADS_1


Tolong aku ....


Waktu terus berjalan dengan tanpa tanda, membuat Rain semakin panik. Ia berkecil hati karena belum mendapatkan tanda apapun. Akhirnya, ia pun menjatuhkan diri di depan pohon surga itu, ia berlutut.


"Pohon surga, beri tahu aku di mana Ara berada!"


Rain terus berdoa hingga ia merasa putus asa. Rasa kesal pun akhirnya menyelimuti hati sang pangeran.


"Ara, kau lihat! Aku melakukan hal bodoh ini demi dirimu!"


Amarah Rain muncul saat tidak mendapatkan jawaban. Ia lantas mendekat ke pohon tin itu, masuk ke dalam rerimbunan daunnya. Ia lalu menendang pohon tin itu dengan keras.


"Dasar tidak berguna!!!"


Rain kesal, emosi menyelimuti pikirannya. Ia lalu menendang pohon itu lagi.


"Hah!! Kau tidak pantas disebut pohon surga! Sama sekali tidak berguna!" Rain lagi-lagi menghujat pohon itu.


Sesaat setelah ia menendang pohon itu untuk yang kedua kalinya, tiba-tiba buah tin berjatuhan menimpa kepalanya. Dan saat itu juga Rain terjatuh, lemas tak bertenaga. Ia kehilangan kesadarannya dalam sekejap.


Beberapa saat kemudian...


Rain terjaga. Tapi kini ia berada di sebuah tempat yang asing, tidak lagi di dekat pohon surga.


"Di mana aku?"


Matanya melihat ke sekeliling, namun hanya ada awan putih sejauh mata memandang.


Ia mencoba mengingat kembali apa yang terjadi sebelumnya. Dan ia pun mengingatnya, jika terkena jatuhan buah surga itu.


"Astaga, apa mungkin aku mati hanya karena terkena jatuhan buah surga?" Ia bertanya-tanya sendiri.


Tak lama, ia melihat sosok gadis mengenakan gaun putih, bermahkota. Gadis itu perlahan-lahan mendekat ke arahnya.


"Ara?!"


Rain terkejut saat menyadari siapa gadis itu. Ia langsung mendekat ke arah sang gadis.


"Ara!"


Saat ia berusaha untuk lebih mendekat, seperti ada dinding tembus pandang yang menghalangi. Rain tidak lagi dapat mendekat ke arah sosok itu, saat sudah berjarak satu meter. Tapi, Rain kenal benar siapa gadis yang kini ada di hadapannya.


"Rain ...."


Suara lembut itu terdengar, memanggil namanya. Rain lantas ingin menerobos dinding tembus pandang yang menghalangi, tapi ia tak mampu.


"Ara, cepat kembali ke istana! Aku merindukanmu, Ara!"


Rain mengetuk-ngetuk dinding yang menghalanginya. Ia ingin sekali memeluk sang gadis.


"Rain, kau sudah makan?" tanya sosok itu lagi.


Rain terperanjat seketika. Ia tidak menyangka jika pertemuannya kali ini hanya akan mendengar kata itu.

__ADS_1


"Dasar bodoh! Apa pedulimu padaku?! Cepat kembali ke istana! Aku membutuhkanmu, Ara!"


Rain berteriak, ia seperti orang bodoh di hadapan sosok itu. Lantas sang gadis pun tersenyum, senyumannya membuat Rain tidak dapat mengendalikan dirinya.


"Ara, jangan tinggalkan aku! Ara! Ara!"


Gadis itu seperti ingin pergi dari hadapannya. Sontak Rain mencari jalan untuk meraih sang gadis.


"Tembok sialan! Kau memisahkanku!"


Sekuat tenaga ia mengetuk, meninju, menendang tembok tembus pandang itu dengan keras. Tapi, lagi-lagi ia tidak mampu untuk menembusnya.


"Rain, jaga kesehatanmu. Jangan sampai sakit," kata gadis itu seraya berjalan menjauh.


"Ara! Araaaaa!!!!!" Rain berteriak, berusaha menahan kepergian sang gadis.


"Ara, kumohon katakan di mana dirimu? Araaaaaaa!!!!!!"


Ia tidak dapat lagi menahan emosinya, Rain lepas kendali. Air matanya meminta izin untuk terjun bebas membasahi pipinya itu.


"Aku baik-baik saja. Aku berada di pulau yang ada di timur Angkasa. Jaga dirimu baik-baik," kata sosok itu seraya tersenyum.


"Apa?!"


Rain terkejut. Bersamaan dengan itu, sosok sang gadis menghilang dan ia melihat sebuah pulau kecil berbentuk hati. Di tempat itu juga ia melihat matahari terbit. Semakin lama, cahaya matahari semakin menyilaukan matanya. Rain pun tersadarkan.


"ARAAAAAAA.....!!!!"


Napasnya terengah-engah. Detak jantungnya pun tidak beraturan. Ia seperti benar-benar melihat gadis yang dicintainya. Sang putra mahkota lantas memegang kepalanya sendiri.


"Tadi ... tadi itu, aku benar-benar seperti melihatnya?"


Ia bertanya sendiri. Tak percaya jika akan mengalami hal seperti ini. Sesaat ia menyadari jika kepalanya itu sakit.


"Aduh! Buah ini jatuh ke kepalaku. Pohon ini sepertinya marah karena kumaki tadi."


Rain lantas berusaha bangun. Ia kemudian bersandar di pohon itu.


"Maaf, maafkan aku. Aku telah berani menghujatmu," katanya menyesal.


"Jika memang benar Ara ada di sana, maka aku akan berangkat sekarang juga. Tunggu aku, Ara."


Rain berbalik, ia berniat keluar dari rerimbunan pohon itu. Ia ingin menjemput gadisnya. Namun, sesaat langkah kakinya terhenti. Ia kemudian berbalik, menghadap ke pohon tin itu lagi.


"Aku tarik kembali ucapanku. Kau ternyata memang sangat berguna, pohon surga."


Setelah mengucapkannya, Rain benar-benar pergi meninggalkan pohon yang sudah membuatnya tak sadarkan diri. Sang putra mahkota bergegas menaiki kudanya. Ia lalu mulai melaju untuk kembali ke istana.


Ara, aku akan menjemputmu. Tunggu aku ....


Rain benar-benar ingin menjemput gadisnya. Ia tidak peduli lagi akan konsekuensi yang diterima nanti. Baginya hanya Aralah yang terpenting. Keselamatan sang gadis prioritas utama baginya.


Putra bungsu kerajaan Angkasa itu terus melaju, tanpa menyadari jika ada satu keluarga tupai yang turun dari atas pohon surga itu. Mereka tampak memandangi kepergian sang putra mahkota. Ternyata, keluarga tupai tersebut sedang tidur siang di atas pohon, namun Rain membangunkannya dengan hantaman-hantaman keras kakinya. Tupai-tupai itupun marah lalu menimpuki kepala Rain dengan buah surga yang mereka dapat.

__ADS_1


__ADS_2