Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Feel


__ADS_3

Petang hari di istana...


"Aku lelah sekali."


Ara baru tiba di kediaman Rain sehabis mengajak para putri dan pangeran berjalan-jalan ke tempat wisata terdekat istana. Ia merebahkan diri di kursi yang berada dekat dengan perapian. Wajahnya terlihat lelah dan letih. Sepertinya ia benar-benar membutuhkan hari libur untuk beristirahat.


"Aku terlalu memforsir tenagaku hingga terasa lelah sekali. Maafkan aku ya ragaku."


Ia kemudian menaiki anak tangga, berniat menuju kamarnya. Sesampainya di kamar, Ara segera melepas pakaian dan bergegas mandi. Membersihkan diri sehabis lelah beraktivitas hari ini.


"Hah ... terasa lebih segar."


Beberapa menit kemudian, ia keluar dari kamar mandi lalu mengambil gaun tidurnya. Ara berniat beristirahat lebih awal sehingga tidak mengikuti makan malam hari ini. Ia pun langsung tertidur setelah mengenakan gaun tidur yang tanpa lengan itu.


Sementara itu...


Cloud dan Rain tengah bersiap untuk makan malam bersama para raja dan ratu negeri lain. Keduanya tampak berbincang dengan salah satu raja dari negeri seberang. Kedua putra mahkota ini tampak antusias menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan kepada mereka. Hingga akhirnya, waktu makan malam pun tiba. Para pangeran dan putri kerajaan mulai berdatangan, memasuki ruang utama istana.


Ke mana dia?


Zu duduk di kursi makannya, namun pandangannya mencari-cari sesuatu. Ia tampak gelisah karena tidak melihat apa yang dicari. Sang adik yang bernama Shu juga tampak diam. Ia menutupi rasa bosannya.


Shu tidak seperti kakaknya yang ramah. Sifatnya sedikit congkak dan juga terlalu pilih-pilih. Parasnya memang tidak jauh berbeda dari kakaknya yang tampan, hanya perbedaan sifat yang terlihat mencolok di antara keduanya.


"Silakan, Pangeran."


Para pelayan istana datang menyajikan hidangan pembuka makan malam. Mereka tampak berhati-hati dan juga begitu ramah kepada para tamu undangan. Kue nastar buatan Ara pun menjadi selingan hidangan pembuka. Zu segera memakan kue itu karena rasa penasaran dengan kue tersebut.


Ada biji cengkih? "Em, maaf, Pelayan!"


Zu memanggil pelayan yang memberikannya hidangan pembuka. Pelayan itupun kembali mendekati Zu.


"Ya, Pangeran. Ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan itu dengan ramahnya.


"Em, ini kue apa, ya? Mengapa ada cengkihnya? Dan siapa yang membuatnya?" tanya Zu penasaran.


"Oh, ini. Ini kue nastar, Pangeran. Nona Ara yang membuatnya," jawab pelayan itu.


"Nona Ara?" Zu terheran.


"Benar, Pangeran. Kue ini resep dari Nona Ara. Dan Nona Ara sendiri yang membuatnya di dapur istana bersama para koki. Apakah Pangeran tidak menyukainya?" tanya pelayan berhati-hati.


"Oh, tidak. Kue ini enak sekali. Aku baru kali ini mencicipinya. Bisakah aku meminta yang lebih banyak lagi?" tanya Zu kepada pelayan itu.


"Bisa, Pangeran. Mohon tunggu sebentar. Saya akan mengambilkannya sekarang." Pelayan itu segera berpamitan.


Tak ayal, Zu akhirnya mendapatkan satu toples kecil kue nastar buatan Ara. Dalam satu toples itu berisi sekitar tiga puluh kue nastar. Zu tampak tersenyum setelah mendapatkan kue itu.


Dia bisa membuat kue seenak ini?

__ADS_1


Zu semakin penasaran dengan gadis itu. Gadis penjaga pohon surga. Ya, kini Ara sudah diberikan kepercayaan untuk menjaga dan merawat pohon surga itu. Ara pun memenuhi kepercayaan yang diberikan kepadanya.


Beberapa jam kemudian...


Cloud tampak khawatir. Sedari tadi ia tidak melihat gadis itu. Cloud jadi kepikiran.


"Ara ke mana, ya?"


Cloud bergegas mencarinya, namun tidak ada satupun yang tahu. Usut punya usut, Ara kini tinggal di kediaman Rain. Segera saja Cloud bergegas ke barat istana.


Waktu sudah memasuki awal pertengahan malam. Cuaca juga terasa sangat dingin. Tapi Cloud memaksa masuk ke kediaman Rain. Ia ingin menemui gadisnya.


"Pangeran Cloud?" Para pelayan kediaman Rain tampak terkejut dengan kedatangan Cloud.


"Di mana Rain?" tanya Cloud kepada para pelayan itu.


"Pangeran Rain belum kembali sejak makan malam, Pangeran Cloud."


"Belum kembali?"


"Benar, Pangeran."


Berarti Rain masih bersama para raja dan ratu kerajaan lain. Cloud tampak berpikir.


"Baiklah, apakah Ara ada di sini?" tanya Cloud lagi.


Para pelayan saling melirik.


"Em, a-ada, Pangeran. Nona Ara sedang tidur," jawab salah satu pelayan.


"Tidur di mana? Jangan bilang dia tidur di kamar Rain."


"Ti-tidak, Pangeran. Nona Ara tidur di lantai dua," jawab pelayan satunya.


"Baik, terima kasih."


Cloud bergegas menuju lantai dua. Ia menaiki beberapa anak tangga. Hingga sampai di lantai dua, Cloud memeriksa satu persatu ruangan yang ada di sana.


Ara, jangan membuatku cemas.


Cloud akhirnya menemukan Ara sedang tertidur di salah satu kamar. Ia kemudian mendekati gadisnya itu.


Astaga! Badannya panas.


Cloud panik. Saat menyentuh dahi gadisnya, dahi Ara terasa panas di tangannya. Ia lalu segera meminta pelayan mengambilkan obat untuk Ara. Ara pun terbangun karena mendengar keributan yang terjadi.


"Cloud?" Ia mengucek matanya.


"Ara, tubuhmu panas." Cloud terlihat panik.

__ADS_1


"Hah? Benarkah?" Ia memegang dahinya sendiri.


"Sayang, kau kelelahan karenaku. Maafkan aku." Cloud jadi merasa bersalah.


"Permisi, Pangeran Cloud."


Salah satu pelayan datang membawakan obat dan juga segelas air putih untuk Ara. Cloud yang duduk di pinggir kasur itu segera menerima obat tersebut lalu meminta Ara meminumnya.


"Minumlah obat ini," pinta Cloud.


"Cloud, aku baik-baik saja. Sungguh!" Ara bersikeras jika ia baik-baik saja.


"Tapi, Ara—"


"Tidak apa-apa, Cloud. Jangan khawatir." Ara meyakinkan Cloud.


"Maaf, Mbok. Ambil kembali saja obatnya, ya."


Ara lantas meminta pelayan untuk mengambil kembali obat yang diberikan. Pelayan itupun menuruti. Ia kemudian pergi meninggalkan Ara dan Cloud di kamar.


"Ara, kau beristirahat saja di kamarku, ya. Jangan di sini." Cloud tampak risih Ara berada di kediaman adiknya.


"Di sini aku punya kamar sendiri, Cloud. Kau jangan khawatir."


"Tapi, Ara. Aku cemas, aku takut Rain berbuat yang tidak-tidak. Aku takut didahului." Cloud memelas.


"Hahaha." Ara pun tertawa mendengar perkataan Cloud.


"Ara ... aku serius." Cloud benar-benar cemas.


"Cloud, Rain juga tahu batasan, apalagi aku. Sudah jangan khawatir." Ara menenangkan.


"Kalau begitu, aku meminta malam ini kau menemaniku. Bisa, kan?" Cloud berharap dengan mata yang berkaca-kaca.


Astaga, dia mulai memaksa. Padahal aku baik-baik saja di sini. Kami juga tidur terpisah kamar. Atau hanya alasan agar aku dapat menemaninya? Dasar Cloud!


"Ara?"


"Cloud, aku memang lelah. Aku ingin beristirahat. Di sini juga nyaman. Aku di sini saja, ya?"


"Apa ini berarti kau lebih memilih Rain daripada aku?" Cloud berubah muram.


Seketika Ara merasa tidak enak karena mendengar perkataan Cloud. Padahal ia sama sekali tidak ada niatan seperti itu. Ara hanya ingin beristirahat sejenak.


Kamar lantai dua di kediaman Rain ini mempunyai jendela yang cukup besar. Yang mana bisa melihat langsung taman di bawahnya. Ara merasa nyaman karena udara sejuk lalu-lalang di sekitar kamar ini. Suara gemericik air kolam yang ada di taman bawah juga terdengar begitu syahdu, membuat Ara tertidur pulas.


"Baiklah. Malam ini aku akan menemani."


Karena tidak ingin Cloud berpikiran macam-macam, akhirnya Ara memenuhi permintaan Cloud. Ia lalu mengambil mantelnya dan bergegas menuju ruangan putra mahkota itu.

__ADS_1


Cloud sangat perasa. Aku harus berhati-hati bicara padanya. Bisa-bisa dia salah menafsirkan kata-kataku.


Keduanya berjalan melewati teras belakang istana, menaiki anak tangga menuju lantai dua ruangan Cloud. Ara pun menemani sang putra mahkota tertidur pulas malam ini. Dan seperti biasa, mereka hanya tidur dengan bantal guling yang memisahkan. Tidak melakukan sesuatu apapun.


__ADS_2