
Di ruang tamu kediaman Rain...
"Bibi Rum, tumben kau kemari. Apa ada kabar untukku?" tanya Rain langsung.
"Pangeran, ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan." Rum melepas kacamatanya.
"Katakan saja," sahut Rain segera.
"Pangeran, saya tidak tahu apa yang saya sampaikan ini berguna atau tidak. Tapi sepertinya, mungkin memang harus saya sampaikan." Rum mengawali.
"Baik, katakanlah." Rain mengangguk, memperhatikan.
"Asri bercerita kepada saya jika dia dilarang ratu untuk mendampingi Nona Ara kembali."
"Apa?!" Rain terkejut.
"Benar, Pangeran. Ratu meminta agar Asri tidak lagi mendampingi nona Ara. Jika seandainya Asri masih mendampingi, tentunya pasti akan ada saksi sebelum kejadian hilangnya nona dari istana." Rum menuturkan.
Rain lantas berpikir. Aku hanya mendengar dari kak Cloud jika kamar Ara dikosongkan atas perintah ibu. Tapi ternyata, lebih dari itu. Apa ibu benar-benar telah merencanakan semuanya? Rain bertanya sendiri.
"Ratu juga melarang pihak koki dapur untuk menerima kedatangan nona Ara. Para koki bercerita jika mereka sangat menyesal karena telah melarang nona masuk ke dapur, sebelum kejadian ini. Yang mana biasanya nona Ara selalu berbaur dengan para koki istana." Rum melanjutkan.
"Aku tahu jika dia adalah gadis yang ramah. Ara tidak pernah membedakan orang lain karena status sosialnya. Dan karena hal itulah aku sangat mencintainya." Rain menambahkan.
"Pangeran, kami para pelayan juga amat kehilangan nona. Terlebih yang pernah bekerja sama dengannya. Amat tidak menyangka jika nona akan hilang dari istana." Rum tampak berduka.
"Tenanglah, Bibi. Aku yakin jika Ara akan baik-baik saja di sana. Mungkin memang hanya waktunya yang belum mengizinkan kami untuk bertemu. Tapi, terima kasih atas informasinya. Dan terima kasih karena telah mengkhawatirkan Ara. Aku akan menanyakan hal ini langsung kepada ibu." Rain amat antusias.
"Baik, Pangeran. Kalau begitu saya permisi."
Rum segera meninggalkan kediaman Rain setelah berpamitan kepada putra mahkota itu. Ia tahu risiko apa yang akan ditanggungnya setelah menyampaikan hal ini kepada Rain. Tapi, Rum tidak bisa diam begitu saja, terlebih Ara pernah menyelamatkan nyawanya.
Nona, jikalau terjadi apa-apa denganku, anggap saja ini pembayaran utang budiku padamu. Terima kasih karena telah menyelamatkan nyawaku waktu itu.
Rum kini menyadari jika Ara bukanlah seorang gadis biasa. Ia juga menyesal karena di awal pertemuan telah bersikap kurang mengenakkan bagi sang gadis. Tapi itu semua bukan tanpa alasan, ia hanya menjalankan tugas sebagai seorang pimpinan pelayan di istana ini. Dan ia berharap Ara bisa secepatnya ditemukan.
__ADS_1
Banyak doa baik teruntuk Ara. Gadis yang selalu berusaha menyenangkan hati orang lain. Dan kini usahanya membuahkan hasil. Seluruh penghuni istana turut mendoakan kebaikan untuknya, sebagaimana dirinya mendoakan kebaikan untuk para penghuni istana Angkasa. Ara menanam kebaikan dan ia juga menuai kebaikan itu.
Lima belas menit kemudian...
Rain mendatangi ibunya di lantai tiga istana. Tapi, ia tidak segera masuk, mendekati sang ibu yang sedang duduk menyeruput teh bersama salah seorang pasukan khusus. Ia mencoba mendengar percakapan sang ibu dari luar. Namun sayang, kehadirannya diketahui pelayan yang ada di sana.
"Salam bahagia untuk Pangeran Rain."
Moon segera menyadari jika putranya ada di luar. Ia pun lekas meminta kepada pasukan khusus itu untuk pergi dari ruang tamunya. Pasukan khusus mantan asisten Ara itu pun terkejut saat keluar dari ruangan. Ia melihat Rain memasang wajah dingin ke arahnya.
"Salam bahagia, Pangeran Rain."
Seketika itu juga ia menjadi kaku sendiri, saat mengetahui jika Rain ada di depan ruangan. Ia lekas-lekas membungkukkan badan, memberi hormat lalu bergegas pergi. Namun, Rain membaca bahasa tubuh mantan asisten Ara itu. Ia mulai curiga jika ada perbincangan yang berkaitan dengan Ara. Tapi sementara waktu, ia tepiskan keingintahuannya. Rain lantas masuk ke dalam ruang tamu ibunya.
"Ibu."
"Rain?"
"Ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan kepada Ibu." Rain berterus terang, tidak ingin berbasa-basi.
"Ibu, selama ini aku sangat menyayangi dan mempercayaimu." Rain mengawali pembicaraannya.
"Rain, apa maksud kata-katamu itu, Nak?" Moon lekas bertanya kepada putranya.
"Ibu, apa Ibu tidak senang jika aku bahagia?" tanya Rain kemudian.
Moon tertawa. "Tentu saja Ibu senang. Pertanyaanmu sungguh tidak perlu dijawab, Rain." Moon kembali menyeruput tehnya.
"Ibu, aku bahagia jika Ara bersamaku. Aku ingin menikahinya."
"Apa?!" Seketika itu juga cangkir teh Moon jatuh dari pegangan, pecah berantakan.
"Ibu, aku menyayangi Ara. Dia gadis yang kucintai. Dan kebahagiaanku ada bersamanya. Bisakah Ibu merestui kami?" Rain menuju ke inti pembicaraan.
"Rain ...," Moon menghela napas. "Kau adalah putra mahkota kerajaan ini. Kau tidak pantas menikahi gadis sepertinya. Dia hanya seorang pekerja di istana." Moon mengeluarkan isi pikirannya.
__ADS_1
"Ibu, bukankah cinta itu tidak memandang apapun?" tanya Rain dengan santun.
"Tapi, Rain. Kau hanya boleh menikah dengan putri kerajaan. Tidak boleh dengan yang lain." Moon menegaskan.
"Sekalipun aku tidak bahagia?" tanya Rain lagi.
"Kebahagiaan itu diciptakan, Rain. Dan Ibu yakin kau bisa menciptakan kebahagiaanmu sendiri." Moon melanjutkan.
"Tapi, Bu. Ara sedang mengandung anakku. Apa Ibu juga tetap tidak merestui kami?"
"Apa?!!"
Bagai petir menyambar di siang hari. Moon amat terkejut mendengar penuturan dari putranya.
"Rain, kau pasti bercanda, bukan?" Moon tidak percaya, amat sangat tidak percaya.
"Apakah aku terlihat sedang berbohong?" Rain balik bertanya.
Tentu saja perkataan Rain membuat Moon cemas bukan main. Seribu pertanyaan kini muncul di pikirannya secara bersamaan. Ia merasa amat pusing, Moon lantas memegangi kepalanya sendiri.
"Bagaimanapun itu adalah anakku. Dia cucu Ibu. Tidakkah Ibu ingin melihat cucu Ibu sendiri?" tanya Rain lagi.
"Cukup, Rain! Ibu tidak ingin mendengar apapun lagi! Ibu ingin istirahat." Moon beranjak dari duduknya.
"Ibu, ke manapun Ibu lari, Ibu tidak bisa menghindari kenyataan ini. Aku mencintainya sepenuh hati, jiwa dan ragaku. Dan aku berjanji akan selalu menjaganya, sekalipun harus bertentangan dengan ibuku sendiri." Rain berkata tegas.
Putra mahkota itu bergegas meninggalkan ruangan. Ia membiarkan ibunya dirundung kecemasan yang begitu dalam. Moon benar-benar gelisah dengan apa yang dituturkan oleh putra bungsunya itu.
"Astaga. Kenapa masalah semakin rumit seperti ini? Sekarang apa yang harus aku lakukan?" Moon bingung sendiri.
Rain tampak puas setelah menyadari sesuatu dari ibunya. Dugaan terhadap sang ibu selama ini ternyata adalah benar. Tapi, ia belum mau menuduh langsung sebelum mendengar apa yang sebenarnya terjadi.
Suatu saat aku akan mengetahuinya sendiri. Mengapa putra mahkota Asia itu sampai berani membawa Ara lari dari istana.
Ibu, maafkan aku. Aku hanya menjalankan kewajiban sebagai pria yang bertanggung jawab. Aku mencintai Ara, benar-benar mencintainya.
__ADS_1
Sore ini menjadi cerita tersendiri bagi sang putra bungsu Angkasa. Ia tersenyum tipis seraya menuruni anak tangga, menuju lantai dua istana. Ia merasa telah berhasil memecahkan masalah yang melanda. Dan kini tinggal menunggu waktu yang tepat untuk membuka semuanya.