
Jam makan siang...
Tanpa terasa jam makan siang telah tiba. Ramuanku juga sudah selesai dimasak dan tinggal menunggu dinginnya saja. Rupanya, perpaduan antara buah dan daun tin ini sungguh mujarab. Kesehatan para penduduk ibu kota berangsur membaik karena rutin mengkonsumsi buah dan rebusan daun tin. Aku merasa sangat senang mendengarnya.
"Ara."
"Hm?"
Kini kami sedang duduk menyandar di dinding ruangan. Beberapa jam bergelut dengan ramuan, membuat kami lelah hingga harus duduk di atas meja kosong sambil menyandarkan tubuh. Kulihat Rain kepanasan, dia mengipasi tubuhnya dengan papan triplek yang tidak terpakai.
"Kau betah ya berlama-lama di sini?" tanyanya seraya mengipasi wajahnya.
"Kau tidak tahu saja kehidupanku di desa, Rain," jawabku.
"Memangnya?"
"Dari kecil aku memasak menggunakan kayu. Baru-baru ini saja menggunakan kompor gas. Sewaktu kecil aku harus mencari kayu bakar dulu di hutan agar bisa digunakan untuk memasak."
"Sendiri?"
"Tidak, sama ayah."
"Berarti kau sudah terbiasa dengan hal ini?" tanyanya lagi seraya menoleh ke arahku yang duduk di sisi kanannya.
"He-em. Bisa dibilang begitu."
"Kau luar biasa, Ara." Rain kemudian memegang kedua pipiku dengan tangannya.
"Rain?"
"Selain cantik, imut dan juga lucu, kau begitu keibuan. Kau serba bisa." Rain memujiku.
Sontak aku tersipu dengan ucapannya itu. Baru kali ini dia memujiku. Biasanya selalu merayu dengan kata-kata mesumnya yang membuatku kesal.
"Ehem!"
Bersamaan dengan itu, kulihat Cloud datang dan sudah berada di depan pintu. Akupun segera melepaskan pegangan tangan Rain dari pipiku.
"Cloud?"
Rain pun menoleh ke arah kakaknya. Seketika aku turun dari atas meja lalu menyambut kedatangan Cloud.
"Salam bahagia untuk Pangeran Cloud," sapaku seraya tersenyum kepadanya.
Cloud tampak masam. "Sepertinya aku kurang bahagia saat ini, Ara." Dia lalu menyerahkan rantang nasi kepadaku.
"Eh?"
Aku merasa tidak enak hati dengan ucapannya. Kulihat Rain juga diam saja dan tidak menegur kakaknya sama sekali.
"Makanlah, aku sudah membawakannya untukmu."
Cloud berkata lalu membalikkan badan. Sepertinya dia berniat untuk pergi.
"Cloud!" Aku segera menahan tangannya. "Kau tidak ingin makan siang bersamaku?" tanyaku.
__ADS_1
"Aku kurang berselera makan hari ini. Kau saja yang makan, ya," jawabnya.
"Em, baiklah. Aku akan makan bersama Rain kalau begitu."
Mendengar hal itu, roman wajah Cloud berubah drastis. Dia tampak enggan memberikan makan siang kepada adiknya ini.
"Aku hanya membawakan untukmu. Tidak untuknya." Cloud menatap tajam ke arah Rain.
Rain diam, tidak merespon sama sekali. Kulihat dia memalingkan wajahnya, seolah tidak ingin melihat Cloud. Situasi ini terasa kurang menyenangkan bagiku. Aku lalu mencari cara untuk meredakan ketegangan yang terjadi.
"Tapi ini terlalu banyak, Cloud. Mana mungkin aku menghabiskannya sendirian."
Aku lalu meletakkan rantang nasi itu di atas meja, di samping Rain. Kemudian mencari tikar untuk kuhamparkan di atas lantai ruangan ini. Setelahnya, kuajak keduanya untuk makan bersama.
"Rain, sini makan!" Aku mengajak Rain terlebih dahulu.
"Jangan!" Cloud merentangkan tangan, menahan Rain.
"Cloud, kau kenapa? Kau kan tidak mau makan, jadi aku mengajak Rain."
Setelah tikar terhampar, aku beranjak mendekati keduanya. Kutarik tangan Rain agar mengikutiku.
"Ara, jangan. Aku khawatir tidak dapat menahan emosiku." Rain berkata pelan padaku.
"Rain, kau lapar. Kita makan sama-sama, ya?" kataku.
Rain kupaksa duduk di atas tikar. Kulihat Cloud tampak kesal karena aku begitu memedulikan Rain. Kurasa dia cemburu jika aku peduli dengan adiknya ini. Akupun mendekatinya.
"Cloud, kita makan bersama. Aku tahu jika kau belum makan siang," kataku seraya menariknya.
"Ara, aku tidak mau."
"Harus mau! Aku memaksa kali ini."
"Tidak, Ara." Cloud menolak.
Segera saja kutarik tangan Cloud agar mengikutiku. Aku pun memintanya untuk duduk di depan Rain. Tampak keduanya saling membuang pandangan.
Mereka seperti bayi-bayi yang sedang bertengkar.
Aku lalu membuka rantang nasi tiga tingkat ini di hadapan keduanya. Dan kulihat sendoknya cuma satu.
Astaga, bagaimana ya?
Aku berinisiatif untuk menyuapi keduanya makan. Aku ambil rendang sapi dan tumis capcai ini lalu kusuapi ke mulut Cloud.
"Ara, tidak usah." Cloud menolak dengan tangannya.
"Ayo, makan! Kusuapi. Aaaa ...." Aku memanjakannya.
Kudengar Rain terkekeh kecil karena tindakanku ini. Segera saja kupaksakan Cloud untuk membuka mulutnya. Dan akhirnya, suapanku masuk ke dalam mulutnya.
Ini lucu sekali.
Setelah menyuapi Cloud, aku mengambilkan nasi berserta rendang dan capcai untuk Rain. Kini giliran Rain yang kusuapi.
__ADS_1
"Ara, aku tidak mau sendok bekas mulutnya!"
Rain berseru. Sontak hal itu membuat Cloud menelan bulat-bulat makanan yang ada di dalam mulutnya.
"Baiklah, aku saja yang makan."
Akhirnya aku menyuapi diriku sendiri setelah menyuapi Cloud. Setelahnya, barulah Rain mau kusuapi dengan sendok bekasku ini.
"Sekarang giliran Cloud lagi." Aku menyuapinya.
"Aku juga tidak mau bekasnya, Ara!"
Cloud bergantian menolak sendok bekas Rain. Jadi terpaksa aku yang menyantapnya.
Astaga, mereka ini menolak disuapi hanya karena sendok bekas makan saudaranya. Padahal sewaktu kecil, mereka pasti makan dari sendok yang sama.
Aku jadi kesal sendiri menghadapi kedua pangeran ini, banyak mintanya. Setelah menyuapi Cloud, aku menyuapi diriku sendiri. Setelahnya barulah Rain mau kusuapi. Dan setelah menyuapi Rain, aku yang menyantap. Barulah Cloud mau kusuapi. Begitu seterusnya sampai makan siang ini habis.
Aku merasa lelah. Ini baru menyuapinya, belum yang lain.
Kurasakan ketegangan di antara kami sedikit mereda sejak selesai makan siang bersama. Namun, saat aku mengambil air minum, keduanya berebut untuk mendapatkannya terlebih dulu.
"Ara, aku dulu." Cloud minta jadi yang pertama.
"Tidak, aku dulu." Rain menolak.
"Aku dulu, Ara." Cloud bersikeras.
"Aku!" Rain tidak mau mengalah.
"Aduh, sabar dong! Tekonya cuma satu," gerutuku sambil menuangkan air ke dalam gelas.
Aku kesal dengan tingkah kedua pangeran ini. Tanpa menyadari jika para tabib melihat kelakuan kami dari luar pintu ruangan. Mereka tampak terkekeh dan tersenyum-senyum sendiri.
Ara, jika bukan karenamu, aku tidak mau satu sendok dengannya. Cloud menggerutu dalam hati.
Karena ini di depan umum, aku hanya dapat mengalah. Tapi tidak jika sedang berada di istana. Rain mendengus kesal di dalam hatinya.
Kedua pangeran ini sama-sama enggan untuk membagi kasih sayang Ara. Mereka saling berebut untuk mendapatkan perhatian sang gadis. Tak ayal, perbuatan mereka itu menjadi perbincangan para tabib istana yang melihatnya.
Sepertinya kisah mereka sudah diketahui khalayak ramai. Tinggal menunggu waktunya saja, siapa yang akan bersanding dengan gadis itu.
"Raja pasti bingung dengan kedua putranya."
"Benar, aku tidak tahu bagaimana akhirnya nanti."
"Ya, semoga saja nona Ara akan menikah dengan pangeran Cloud."
"Tidak, aku lebih setuju dengan pangeran Rain."
Para tabib asik memperbincangkan dua pangeran dan gadis itu. Sampai raja Sky tiba dan menghentikan perbincangan mereka.
"Paduka?!" Mereka terkejut melihat kedatangan Sky.
"Salam bahagia untuk Paduka Raja." Para tabib membungkuk hormat kepada Sky.
__ADS_1
Bersamaan dengan itu, Sky pun melihat kedua putranya yang sedang duduk bersama Ara di atas tikar. Sepertinya ada hal yang ingin ia bicarakan hingga harus datang langsung ke balai kota ini.