
Esok harinya...
Ara baru saja selesai mandi. Ia sudah siap menjalani hari setelah mendapat libur kemarin. Wajahnya berseri-seri dengan polesan make-up minimalis. Harum tubuhnya juga semerbak, hingga dari jarak sepuluh meter kehadirannya itu bisa terendus.
Kali ini ia mengenakan gaun berwarna hijau polos tanpa motif ataupun corak. Berdasar jatuh sehingga mudah untuk bergerak. Lebih mirip seperti gaun pesta pada pernikahan.
"Ara!"
Rain datang ke kamarnya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Putra mahkota yang satu ini tampak terburu-buru.
"Rain?"
Ara terkejut saat Rain datang. Bertepatan dengan dirinya yang sedang menyanggul rambutnya itu. Rain kemudian mendekati sang gadis lalu berdiri di belakangnya.
"Ara."
Tiba-tiba saja Rain memeluk Ara dari belakang. Ara pun terheran-heran dengan sikap Rain ini. Ia tidak jadi meneruskan menyanggul rambutnya itu.
Pantulan keduanya di cermin lemari begitu jelas. Rain kemudian membenamkan wajahnya di bahu kanan Ara seraya melingkarkan kedua tangan di perut sang gadis.
"Rain, ada apa?" tanya Ara yang bingung.
"Ara, aku takut," jawab Rain dengan masih membenamkan wajahnya.
"Takut? Hei, kau kenapa? Jangan membuatku khawatir!" sergah Ara.
Rain kemudian mengangkat wajahnya. Ia melihat pantulan dirinya bersama Ara di cermin.
"Aku mencintaimu, Ara," kata Rain pelan.
"Rain?"
Ara semakin bingung. Ia segera membalikkan badannya menghadap Rain. Ia tatap wajah sang pangeran yang membuat hatinya terheran-heran di pagi ini.
"Rain, ada apa sebenarnya? Apa kau baik-baik saja?" tanya Ara sambil mengusap wajah Rain.
"Ara, aku takut kehilanganmu. Aku takut kau pergi meninggalkanku."
Ara menghela napas setelah mendengar penuturan Rain. Ia mencoba menenangkan situasi ini. Rain tampak begitu cemas padanya.
"Sayang, aku tidak akan meninggalkanmu. Kecuali kau yang akan pergi. Percaya padaku, ya."
Ara meletakkan tangan kanan Rain di atas kepalanya. Seketika Rain tampak berkaca-kaca mendengar kata-kata itu. Iapun segera memeluk Ara dengan erat.
"Sebelum ini aku pernah bermimpi buruk. Aku bermimpi kau menunggangi kuda bersama pria lain. Dan kau diam saja, Ara. Aku khawatir itu jadi pertanda bagiku." Rain mulai bercerita.
"Apa kau kenal dengan pria itu?"
"Tidak, Ara. Aku berusaha mengejarmu. Tapi, tiba-tiba ada jurang yang memisahkan kita. Aku mencari cara untuk melewati jurang itu. Namun, Black menolak."
Mungkin ini alasannya kenapa Rain berubah sikap akhir-akhir ini.
"Rain ...," Ara melepas pelukan. "Aku masih di sini, masih denganmu. Kau tidak perlu khawatir, ya." Ara mengusap pipi Rain dengan lembut.
"Tapi, Ara—"
"Itu hanya bunga tidur, Sayang. Jangan terlalu dipikirkan." Ara mencoba menenangkan.
__ADS_1
Rain sedikit tenang setelah mendengar perkataan Ara. Ara pun mengambil sesuatu dari laci meja yang ada di samping tempat tidurnya.
"Ini untukmu, terimalah." Ara memberikan sesuatu kepada Rain, berupa kantong merah berukuran kecil.
"Apa ini, Ara?" tanya Rain yang penasaran.
"Buka saja." Ara meminta dengan manja.
Rain lalu membuka isi kantong kain merah tersebut. Dan ia menemukan kalung bergantung air hujan.
"Ara ... ini ...?"
"Aku pakaikan, ya."
Ara lalu mengambil kalung itu dan memakaikannya ke leher Rain. Seketika raut wajah sang pangeran berubah menjadi gembira. Ia segera memeluk Ara kembali.
"Terima kasih, Ara. Ini hadiah terindah untukku."
Rain kembali membenamkan wajahnya di pundak Ara. Ia rasakan kebahagian yang sedang menyelimuti hatinya kini. Ia sungguh menyayangi gadisnya itu.
"Baiklah, bantu aku menyanggul rambut, ya."
Ara meminta bantuan Rain untuk menyanggul rambutnya. Sontak saja hal itu diterima Rain dengan senang hati. Setelah sanggul Ara terbentuk, ia segera menciumi tengkuk leher sang gadis.
"Ish, jangan nakal!"
Ara mencoba melepaskan diri dari dekapan putra bungsu ini. Rain membuatnya geli hingga membangkitkan hasrat yang terpendam.
"Aku menyukai cara tubuhmu merespon sentuhanku, Ara." Rain tersenyum nakal.
"Dasar!" Ara lalu mencubit hidung Rain dengan gemasnya.
"Kau yakin akan menjadi pendamping kemah malam ini?" tanya Rain kepada Ara.
"Hem, iya. Semua sudah direncanakan," jawab sang gadis.
"Tapi aku tetap saja khawatir, Ara." Rain tampak cemas.
"Paduka raja sudah menurunkan langsung pasukan khusus untuk berjaga, Rain. Kau tidak perlu khawatir."
"Tapi ...."
"Jangan cemas. Jarak titik jaga mereka juga dekat, kok. Jadi aman dari para penjahat." Ara menenangkan.
"Baiklah. Nanti aku akan ke sana setelah menyelesaikan tugasku. Tunggu aku, Ara." Rain berpesan.
"Siap, Pangeran!" Ara memberi hormat kepada Rain.
Sontak hal yang Ara lakukan membuat Rain tersenyum hingga gigi-giginya itu terlihat. Mereka kemudian berpisah tepat di pintu masuk kediaman Rain. Lambaian tangan Ara sebagai salam perpisahan pun dibalas Rain dengan penuh cinta.
Tuhan, tolong jaga Ara. Aku begitu mencintainya.
Tak lama, Ara pun perlahan menghilang dari hadapannya bersama doa yang naik ke langit. Rain sangat mencintai Ara.
Satu jam kemudian...
Ara masih menyiapkan segala sesuatunya di ruangan Cloud. Ia dibantu Cloud menyusun perlengkapan acara kemah. Tampak Cloud yang selalu menggoda gadisnya itu.
__ADS_1
"Cloud, nanti dulu. Ini belum selesai."
Cloud berulang kali menciumi bahu sang gadis, yang mana membuat gadis itu merasa geli. Namun bukannya berhenti, Cloud malah semakin suka menjahili Ara. Ara pun menjadi kesal dengan Cloud.
"Cloud, kalau tidak mau berhenti juga, aku akan menghabisimu!" Ara mengancam.
Sontak Cloud berpura-pura takut dengan ancaman gadisnya. Ia berlutut memohon ampun kepada Ara.
"Maafkan aku, Ratu. Maafkan. Jangan hukum aku."
Tadinya Ara ingin marah, tapi setelah melihat tingkah Cloud, ia malah tertawa.
"Dasar!" Dengan gemas ia menarik hidung pangerannya.
"Sakit, Sayang." Cloud memegangi hidungnya.
Ia kemudian berdiri, menatap sang gadis seraya tersenyum manis. Dan lantas mendekatkan keningnya ke kening Ara.
"Jangan nakal di sana, ya." Ia berpesan sebelum Ara berangkat menuju bukit pohon surga.
"Iya, bawel." Ara pun membalasnya dengan kesal sehingga membuat Cloud mencubit kedua pipi gadisnya itu.
"Pangeran Cloud."
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dan memanggil namanya. Cloud lalu melepaskan gadis itu dan menyuruh masuk seseorang yang datang.
"Tuan Count?"
"Maaf, Pangeran. Semua sudah siap. Apa ada tambahan?" tanya menteri berpakaian kerajaan berwarna hijau.
"Em, sepertinya sudah lengkap. Tunggu sebentar lagi. Aku masih ada urusan dengan Ara." Could meminta.
"Baik, Pangeran."
Menteri itu segera beranjak pergi. Dan kini tinggal Ara dan Cloud di dalam ruangan.
"Biarkan aku menciummu, Ara."
Cloud lantas memegang kedua pipi sang gadis, ia memberikan ciumannya. Ciuman itu begitu terasa saat kedua daging lembut mereka berpadu. Ara pun menikmatinya.
"Baik-baik di sana. Aku tunggu kepulanganmu." Cloud berpesan, sesaat setelah melepaskan ciumannya.
Ara pun mengangguk, ia kemudian berpamitan kepada Cloud.
"Jika ada keperluan, kau bisa meminta bantuan asistenmu. Dia tidak hanya mengawasi tapi juga menjagamu." Cloud kemudian mengantarkan Ara.
"Siap, Pangeran. Jangan telat makan siang. Ingat, ya!" Ara mengancam.
Kecupan dari bibir Cloud kemudian mendarat di tangan Ara. "Baik, Ratu."
Cloud tersenyum lalu mengantarkan Ara hingga menuruni anak tangga. Mereka kemudian berpisah setelah kereta kuda berukuran besar sudah siap di depan pintu ruang utama istana.
"Sampai nanti." Ara melambaikan tangannya.
"Sampai nanti." Cloud pun membalas seraya tersenyum.
Hari ini Ara akan mengadakan acara puncak kebersamaan sebelum malam pertunjukan busana. Rencananya ia akan berkemah di bukit pohon surga bersama para pangeran dan putri kerajaan, agar kedekatan antar para putra-putri negeri semakin terjalin dengan erat.
__ADS_1
Ia kemudian ikut masuk ke dalam kereta kuda panjang bersama beberapa putri kerajaan lain. Sedang para pangerannya, menunggangi kuda menuju bukit pohon surga. Tampak sepuluh pasukan khusus mengawal mereka di depan dan di belakang rombongan putri kerajaan.