Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Clash of Two Kings


__ADS_3

Sementara di istana...


Rain baru saja selesai melaporkan hasil peperangan kepada ayahnya. Setiap kejadian penting, Rain ceritakan kepada ayahnya, termasuk bagaimana bisa ia mengeksekusi mati Land.


Sky mengernyitkan dahinya saat mengetahui apa saja yang telah Land lakukan kepada rajanya sendiri, Hell. Yang ternyata Land membunuh Hell dengan cara amat licik. Sky tidak menyangka jika tangan kanan Hell sendiri yang menghabisi nyawa raja Aksara itu.


"Land sebelumnya menyebut-nyebut jika Ayah telah mengambil wilayah Aksara. Aku tidak mengerti mengapa dia bisa sampai berkata seperti itu." Rain merasa heran.


Keduanya tengah duduk di teras balkon lantai tiga istana dan berniat sarapan pagi bersama. Tampak Sky yang menunggu para pelayan selesai menyajikan sarapan pagi untuknya.


"Silakan, Yang Mulia, Pangeran." Para pelayan pun selesai menyajikan sarapan pagi dengan hati-hati.


"Terima kasih." Land mempersilakan pelayannya pergi.


Sang putra bungsu mulai menyantap hidangan sarapan pagi ini. Sedang sang raja masih mengoles rotinya dengan selai cokelat almond.


"Dulu ... jauh sebelum kau lahir, saat ayah masih memegang jabatan panglima tinggi di istana ini, ayah mendapat misi dari mendiang kakekmu." Sky mulai menceritakan.


"Misi?" Rain penasaran.


"Ya, misi. Sebuah misi sulit yang berhadiah ibumu. Hahahaha." Sky tiba-tiba tertawa mengingatnya.


Ayah ini, aku sedang serius dia malah tertawa. Sang putra merasa ayahnya tidak bisa menjaga wibawa sama sekali. Pantas saja dia menunggu pelayan pergi baru menjawab pertanyaanku.


"Ayah, aku serius." Rain menahan kesal.


"Baiklah-baiklah, ayah akan menceritakannya padamu."


Sky mulai meneguk air minumnya. Rain pun menunggu.


"Dulu wilayah negeri ini tidak seluas sekarang, Rain. Negeri ini terbagi menjadi dua yang mana ayah dan Hell memperebutkan bagian yang sama."


"Jadi maksud Ayah?"


"Ya, kami memperebutkan wilayah utara negeri ini. Namun, ayah lebih beruntung jika dibandingkan Hell. Petinggi wilayah itu menerima negosiasi dari ayah, dan akhirnya bersepakat menyatukan wilayah kekuasaan."


"Di bawah kekuasaan kakek?" tanya Rain lagi.

__ADS_1


"Benar. Kakekmu adalah seorang diplomat ulung. Dan keahliannya itu diturunkan kepada kakakmu. Sedang kau sendiri menurun keahlian ayah. Adil, bukan?" Sky sambil meneruskan sarapan paginya.


"Hah ...." Embusan napas panjang terdengar dari si bungsu.


"Hell merasa keadaan waktu itu tidak adil. Mungkin karena hal itu dia berambisi untuk mengambil alih Angkasa," tutur Sky lagi.


"Ya, aku juga merasa seperti itu, Yah. Saat aku mencari dokumen penting negerinya, kutemukan sebuah peta wilayah kekuasaan yang mana itu adalah wilayah utara negeri ini." Rain menyeka mulut dengan sapu tangan.


"Ya, begitulah. Andai saja Hell bisa menerima kekalahan, mungkin situasi tidak akan seperti ini. Tapi, semua sudah berlalu, ayah bangga padamu, Rain." Sky menepuk pundak putranya.


"Terima kasih." Rain pun tersenyum kecil kepada ayahnya.


Raja dan putranya kembali meneruskan sarapan pagi bersama. Setelahnya, Sky kembali mengajak mengobrol Rain, membicarakan urusan pribadi. Rain pun menurut, ia kemudian mengikuti sang ayah masuk ke dalam ruang kerjanya. Tanpa menyadari jika Cloud baru saja tiba di halaman depan istana dengan menunggangi kudanya.


Beberapa saat kemudian...


Sky menuturkan hasil akhir keputusannya kepada Rain. Seketika Rain terbelalak kaget mendengar keputusan ayahnya itu.


"Ayah, ini tidak mungkin!"


Rain berdiri dari duduknya. Ia tidak dapat menerima apa yang ayahnya katakan. Kini keadaan di ruang kerja Sky terasa kurang baik. Sang pangeran bungsu menolak tegas keputusan ayahnya.


"Ayah, hal ini terlalu gila untuk bisa kuterima." Rain mulai mereda, ia kembali duduk.


"Ya, ya. Ayah mengerti. Tapi coba lihat ini dahulu." Sky menyerahkan lima map kepada Rain.


Rain lalu mengambil map itu lalu membacanya satu per satu. Ia akhirnya sedikit memahami apa maksud ayahnya.


"Berita kemenanganmu tersebar sampai ke negeri tetangga. Bahkan dua negeri yang berseteru sejak lama, memutuskan untuk menyatukan wilayah kekuasaannya dengan kita. Tentunya hal ini kabar gembira, Rain." Sky meneruskan.


"Ya, tapi ... aku merasa tidak mungkin saja jika tetap ingin menikahkan kami bersamaan, Yah." Rain menutup mapnya.


"Hah ... mau bagaimana lagi? Selama tidak ada yang mau mengalah, ayah akan menikahkan kalian sekaligus." Sky sudah membulatkan keputusannya.


"Ayah, kenapa tidak tanya Ara dulu? Siapa yang dia pilih untuk menjadi suaminya. Aku rasa dia akan memilihku dibandingkan kakak." Rain yakin dengan perasaannya.


"Baiklah. Ayah nanti akan membicarakan hal ini kepadanya. Tapi tentang pengajuan penyatuan wilayah kekuasaan ini, tetap harus kau pikirkan baik-buruk ke depannya. Jika kau menerima misi ini, ayah akan amat senang. Jika tidak, kesempatan emas akan kita lewatkan begitu saja. Belum tentu datang dua kali. Jadi, berpikirlah." Sky meminta putranya menimbang.

__ADS_1


"Baiklah. Nanti akan kupikirkan kembali. Kalau tidak ada lagi, aku pamit." Rain beranjak berdiri.


"Ya." Sky pun berdiri.


Rain segera keluar dari ruang kerja ayahnya setelah mendengar semua penuturan sang ayah. Ia pun akhirnya bisa sedikit mengerti ke mana maksud sang ayah yang ingin menikahkannya sekaligus bersama sang kakak.


Hah, kenapa aku harus mendengar kabar ini? Bisa-bisanya ayah ingin menikahkan Ara dengan kedua putranya. Ini terlalu ekstrem.


Rain meneruskan langkah kakinya ke barat istana. Ia berniat untuk menemui Ara di rumahnya. Sedari malam ia menahan rindu karena belum bertemu dengan gadisnya. Dan tak lama, akhirnya ia sampai di halaman depan rumahnya.


Di kediaman Rain...


Rain masuk ke dalam rumahnya yang sepi tiada berpenghuni. Ketiga pelayannya diliburkan sementara karena ia berniat hanya berdua bersama Ara di rumah. Namun, kali ini keadaan benar-benar sepi. Iapun segera melangkahkan kaki menuju lantai dua kediamannya.


"Ara, aku pulang!" Rain mengetuk-ngetuk pintu kamar Ara.


Tidak ada suara, tidak ada jawaban terdengar. Rain yang semalam tidak kembali ke rumah merasa curiga. Ia lalu segera membuka pintu kamar gadisnya. Dan ternyata, sang gadis tidak ada di kamar.


"Ara? Di mana dia?"


Ia lekas-lekas mencari keberadaan sang gadis di setiap ruangan yang ada. Namun sayang, Rain tidak kunjung menemukan gadisnya.


"Astaga ... Ara?!"


Ia mulai panik lalu bergegas keluar dari rumahnya. Ia berniat menemui kakaknya yang berada di lantai dua istana. Langkah kakinya terdengar begitu cepat karena amat mengkhawatirkan gadisnya.


Semoga saja dia ada di sana. Ara ... kau baik-baik saja, bukan?


Rain tidak ingin kehilangan gadisnya lagi. Cukup dua kali rasa sepi itu mencabik-cabik jiwanya. Rain merasa rapuh apabila tidak ada Ara di sisinya. Baginya, Ara adalah segalanya. Sekarang dan selamanya.


...


Kau adalah udara yang kuhirup.


Kau adalah segala yang kubutuhkan.


Kau adalah kata-kata yang kubaca.

__ADS_1


Kau adalah cahaya yang kulihat.


Dan cintamu adalah segala yang aku butuhkan...


__ADS_2