
Jam makan siang...
Tak lama berselang dari kedatangan Zu, beberapa pelayan mengetuk pintu ruangan ini. Mereka lalu mengajak ku ke suatu tempat. Lebih tepatnya sih tempat untuk perawatan tubuh. Aku pun mengikut saja karena ini permintaan dari Zu sendiri.
Selepas itu, aku diminta mengenakan gaun kerajaan yang mekar seperti mawar. Aku pikir akan berat, namun ternyata tidak. Rupanya dasarnya selembut sutra, sehingga merasa ringan saat memakainya. Aku pun didandani oleh penata rias kerajaan. Dan tampilanku kini seperti seorang putri sungguhan.
"Nona, Anda terlihat cantik," puji penata rias yang baru saja selesai mendandaniku.
"Terima kasih," sahutku seraya tersenyum.
Aku lalu diantarkan olehnya menemui Zu di taman belakang. Pangeran itu seperti sudah menunggu kedatanganku.
"Pangeran." Aku menyapa, dia pun segera menoleh ke arahku.
"Nona ...?!" Dia seperti terkesima melihat penampilanku siang ini.
Aku tersenyum ke arahnya sambil terus berjalan, mendekati. Zu pun menyambut kedatanganku. Dia memegang tangan kiriku lalu mengecupnya. Sontak aku tertawa diperlakukannya seperti ini.
"Kau benar-benar cantik, Nona. Aku tak percaya." Zu terpukau dengan penampilanku sekarang.
Aku mengenakan gaun berwarna pink dengan make-up minimalis di wajahku. Tak lupa mengenakan parfum yang Zu berikan. Harumnya seperti parfum lamaku, namun ini lebih lembut lagi.
"Pangeran, aku lapar," kataku memecah suasana.
"Ah, iya." Dia lantas tersadar, Zu pun tertawa karena ucapanku. "Baiklah, mari."
Kami akhirnya bergandengan tangan menuju tenda makan yang dihiasi mawar-mawar merah. Sepertinya Zu memang sengaja menyiapkan hal ini untukku.
"Silakan duduk, Putri." Zu menarikkan kursi untukku.
Kini nama panggilanku tidak lagi nona, melainkan putri. Aku lagi-lagi tersenyum, menahan tawa. Tak habis pikir jika panggilanku begitu banyak di sini. Padahal mudah saja jika memanggilku dengan sebutan Ara. Tapi, lagi-lagi istana membawaku ke kehidupan yang serba baku.
"Makan yang banyak, ya. Agar lekas sehat." Dia mencubit pelan kedua pipiku.
Aku pun tertawa, mencoba menyesuaikan diri. Zu pun seperti merasa nyaman dengan sikapku yang sekarang. Ya, semoga saja kami bisa lebih baik untuk kedepannya.
Pangeran, aku tidak tahu hal yang kulakukan ini benar atau salah. Aku hanya mencoba mengikuti arusnya saja.
Sementara itu di istana Angkasa...
Cloud dan Sky menunggu Rain datang untuk melaporkan hasil investigasinya. Sang putra sulung kerajaan ini tampak cemas menanti kehadiran sang adik. Ia sedari tadi mondar-mandir tidak karuan.
"Cloud, duduklah."
Sang ayah, Sky tampak risih dengan sikap putranya itu. Ia lantas meminta Cloud untuk duduk di kursi, di depan meja kerjanya.
"Ayah, hatiku berdebar sekali. Aku khawatir mendengar sesuatu yang tidak kuinginkan." Cloud cemas.
"Sudahlah, Nak. Kau tidak bisa terus-terusan seperti ini. Yakinlah jika suatu saat kalian akan bertemu." Sky berusaha menenangkan.
__ADS_1
Tak lama, yang ditunggu pun akhirnya datang. Rain datang dengan wajah dan tubuh yang terlihat lebih segar. Ia baru saja mandi, terlihat dari rambutnya yang masih tampak basah.
"Rain, bagaimana?"
Sky belum bertanya, Cloud sudah bertanya duluan. Sky pun memijat dahinya karena melihat sikap putranya itu.
"Ayah, ternyata dugaanku selama ini benar." Rain membuka pembicaraan.
"Maksudmu?" tanya Sky segera.
"Pangeran Asia itu yang membawa Ara," lanjut Rain.
"Apa?!" Cloud terkejut.
"Benar, Kak. Aku menemukan ini di vilanya." Rain menunjukkan sebuah tabung kecil kepada Cloud.
"Kau yakin itu punya Ara?" tanya Sky lagi.
Rain mengangguk.
"Bagaimana mungkin jika Zu yang membawa Ara?" tanya Cloud kepada adiknya.
"Saat pertunjukan busana, aku melihatnya memandangi Ara. Dia tidak seperti pangeran lain. Aku merasa dia menyimpan sebuah rasa kepada Ara."
"Apa?!!" Lagi-lagi Cloud terkejut.
"Tap-tapi ... kenapa aku tidak berpikiran sampai ke sana?" Cloud menyesal.
"Apa sebelumnya kau pernah melihat Ara bersama pangeran itu, Cloud?" tanya sang ayah.
Cloud mencoba mengingat.
"Aku pernah melihatnya bersama Ara sedang mengobrol di selatan istana, Yah." Cloud mulai bercerita.
Sky tertegun, ia menopang dagu dengan kedua tangannya. Rain pun segera mengajukan saran kepada sang ayah.
"Yah, kemungkinan Ara saat ini sudah sampai di Asia. Aku ingin menjemputnya," tutur Rain segera.
"Tunggu, Rain. Biarkan Ayah berpikir sejenak." Sky tidak ingin terburu-buru.
"Rain, aku menemukan kelopak bunga teratai yang jatuh di ruang bawah tanah. Apa itu juga dari Zu?" tanya Cloud kepada adiknya.
"Kelopak bunga teratai?" Rain berpikir. "Ayah, tidak ada keraguan lagi jika Ara di Asia." Rain beralih ke ayahnya.
Sky masih berpikir.
"Rain, aku heran padamu. Bagaimana kau yakin jika ini adalah helaian rambut Ara?" Cloud merasa aneh dengan sesuatu yang ditemukan oleh adiknya.
"Sesampainya di pulau, kami tidak melihat ada siapa-siapa di sana. Kami lalu bergegas mengecek setiap sudut ruangan yang ada di vila itu. Tapi nyatanya, vila itu kosong. Namun, saat aku memeriksa lebih detail salah satu kamar yang ada di lantai dua, aku menemukan rambut Ara menempel di bantal." Rain menceritakan.
__ADS_1
"Bagaimana kau yakin jika ini adalah rambut Ara?" tanya Cloud lagi.
"Kakak, sayang sekali aku harus berkata jujur. Aku lebih mengenal Ara dibandingkan dirimu," lanjut Rain yang prihatin.
Apa?! Cloud terkejut seketika. "Apa maksudmu, Rain?!"
Seketika itu juga Cloud marah. Ia lantas menarik kerah jubah sang adik.
"Cloud, tenangkan dirimu." Sky berusaha memisahkan putranya.
Cloud tersinggung dengan perkataan Rain. Ia merasa tersingkir oleh pernyataan adiknya itu. Hatinya tengah memendam kesedihan mendalam ditambah luka karena ucapan tadi. Hal itulah yang membuat Cloud marah seketika.
"Aku tidak ingin mengetahui apapun selain kepastian Ara. Tolong jaga ucapanmu, Rain."
Cloud berusaha mendinginkan kepalanya sendiri. Ia kini diliputi rasa takut berlebihan akan hubungan Ara dan adiknya itu. Terlebih saat pertemuan terakhir, ia melihat Ara sehabis mandi malam-malam. Pikirannya bertambah kalut, tak menentu.
"Rain, kita tidak bisa gegabah. Asia tiga kali lebih besar dari Angkasa. Jika ingin menyerang karena telah membawa Ara, kau harus menggabungkan minimal sepuluh negeri sekutu untuk mengimbangi kemampuan militernya." Sky menuturkan.
"Lalu apa yang harus kita lakukan, Yah?" tanya Rain kepada ayahnya. Ia tampak membiarkan Cloud menjauh.
"Untuk sementara waktu, kita bisa sedikit bernapas lega karena ternyata Ara berada di Asia. Untuk ke depannya, kita akan pertimbangan lagi," tutur Sky kemudian.
"Tapi, Yah. Apa Ara tidak apa-apa di sana? Pangeran itu sepertinya mempunyai niatan lain kepada Ara." Rain curiga.
"Rain, tolong jangan membuat pikiranku kalut." Cloud meminta agar Rain tidak berbicara macam-macam.
Kakak-beradik itu tampak bersitegang menghadapi hal ini, walaupun Rain berusaha bersikap sebiasa mungkin. Tapi ternyata, sang kakak tidak dapat menahan kecamuk yang melanda hatinya.
"Sudah-sudah. Pertemuan ini kita tutup. Ayah akan memikirkan cara lain." Sky merasa harus menyudahi pembicaraan segera.
"Baik, Yah." Rain menurut.
"Cloud, kau tetap di sini. Ada beberapa hal yang ingin Ayah diskusikan." Sky meminta Cloud.
Cloud diam saja. Dia tidak menjawab sama sekali.
"Kalau begitu, aku permisi." Rain lantas berpamitan.
Putra bungsu kerajaan Angkasa itu akhirnya keluar dari ruang kerja ayahnya. Ia berjalan menuju belakang istana untuk kembali menjalankan tugas sebagai seorang panglima. Latihan militer akan segera dimulai olehnya.
Ara ... aku akan membawamu kembali ke istana. Tunggu aku.
Ia terus berjalan cepat. Menuruni anak tangga, menyusuri koridor istana, menuju tempat latihan militernya. Semangat api untuk menyaingi Asia pun muncul dalam benaknya.
Lain Rain, lain juga Cloud. Cloud tampak frustrasi. Pikirannya tidak bisa fokus saat ini.
Ara, sebenarnya apa yang telah kau lakukan bersama Rain?
Ia bertanya sendiri. Tak mampu jika apa yang ditakutkan olehnya terjadi. Namun, rasa takut itu kini melandanya. Cloud dilema dengan apa yang dikatakan adiknya tadi.
__ADS_1