Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Answer Please...


__ADS_3

Dua jam kemudian...


Aku sedang menunggu kereta kuda di depan istana. Aku sendiri di sini, sedang Zu tengah mengarahkan para menterinya selama dia pergi dari istana. Rasanya bete juga kalau sendiri.


Saat aku duduk menunggu sambil melihat halaman hijau yang luas, kulihat putri itu datang mendekatiku. Wajahnya tampak sedih, dia pun menyapaku.


"Putri ...."


Aku menoleh ke arahnya lalu mempersilakannya duduk. Aku sengaja duduk di pelataran teras istana sambil menunggu kereta datang dan juga raja.


"Putri Mine?"


Kini aku tahu siapa sebenarnya putri itu. Rasanya ingin sekali mengetahuinya lebih jauh. Terutama hal-hal yang berkenaan dengan Cloud. Entah mengapa saat melihatnya, ada rasa cemburu menyelimuti hati ini.


"Putri Dewi, ada yang ingin aku bicarakan padamu tentang pangeran Zu." Dia mengawali pembicaraannya.


"Pangeran Zu?"


"Ya, benar. Sepertinya aku harus mengatakannya padamu," tutur dia kembali.


"Katakan saja, Putri. Aku akan mendengarkannya." Aku tersenyum.


Sejenak kulihat Mine menundukkan kepala lalu mengangkatnya kembali. Dan kulihat dia mulai bersedih, entah kenapa.


"Aku sudah lama memendam rasa kepada pangeran setelah dia menolongku di perbatasan hutan." Mine mulai menceritakan.


"Perbatasan hutan?"


"Ya. Dia yang menolongku saat itu. Sejak saat itu aku merasa jika aku menyukainya."


Astaga!


"Em, maafkan aku. Tapi aku berharap kau dapat mengerti apa yang kurasakan," katanya lagi.


Benar dugaanku jika selama ini Mine memang menyukai Zu. Tapi apa yang telah Zu perbuat hingga putri yang pernah disukai Cloud ini bisa jatuh hati kepadanya?


"Putri, nama aslimu siapa, ya?" tanyaku memastikan.


Dia menoleh ke arahku. "Apa kau ingin mengetahuinya?" tanyanya balik.


"Hm, ya. Aku pikir kita bisa berteman baik jika tidak ada yang disembunyikan," kataku lagi.


Mine tersenyum kecil. "Mungkin pangeran Zu sudah menceritakannya padamu." Dia lagi-lagi menunduk, namun kali ini sambil tersenyum.


"Em, mungkin ...." Tiba-tiba aku merasa kaku.


"Namaku Jasmine. Hanya saja di sini namaku menjadi Mine atas permintaan nenek Lin."

__ADS_1


"Nenek Lin?"


"Ya, nenek Lin adalah nenek pangeran Zu. Dia yang membantuku di sini."


"Kalian sudah saling mengenal sebelumnya?" tanyaku lagi.


"Em, mungkin bisa dibilang seperti itu. Sebelum pertemuan kami, nenek Lin memang suka berkunjung ke Negeri Bunga."


"Negeri Bunga?"


"Benar, Putri. Aku adalah Jasmine dari Negeri Bunga. Aku putri bungsu negeri itu." Mine menuturkan.


"Lalu mengapa kau bisa sampai di sini, Putri?" tanyaku yang penasaran.


Seketika roman wajah Mine berubah. Dia seperti sedih sekali. Aku pun jadi tak enak sendiri.


"Aku ... aku dibuang ibu tiriku."


"Apa?!"


"Kau pasti kaget mendengar hal ini." Mine menoleh ke arahku.


Aku tidak menyangka jika akan mengetahui hal ini. Semakin lama, aku semakin ingin mengetahui tentangnya. Mungkin jika suatu saat bertemu dengan Cloud, aku bisa menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Jasmine.


"Em, maaf. Aku tidak menyangka akan mendengar hal ini." Aku turut bersedih.


"Hem, tak apa. Kehidupan kerajaan tidaklah semanis yang dibayangkan. Terkadang tidak hanya di luar, tapi di istana juga sering terjadi saling serang antara pihak yang berlawanan."


"Ya, seperti nasibku saat ini. Ibuku dituduh merebut ayah dari ratu. Sehingga ratu dan putrinya marah kepadaku."


"Maaf, Putri. Bisa ceritakan sejelas mungkin. Aku kurang mengerti," kataku penasaran.


Aku sengaja pura-pura tidak paham agar dia menceritakan lebih banyak tentang dirinya dan juga kerajaan bunga. Aku merasa akan mendapatkan informasi menarik hari ini.


"Dewi, mari kita berangkat."


Belum sempat kami meneruskan pembicaraan, Zu datang bersama Shu. Sang raja pun digandeng mesra oleh putra bungsunya itu, Shu.


"Pangeran?"


Aku kaget karena tidak menyadari jika mereka sudah tiba di belakangku. Akhirnya aku pun mengakhiri pembicaraan ini bersama Mine.


Mungkin lain waktu aku bisa menyelidiki keterkaitan semua ini.


"Pangeran Zu, Pangeran hendak ke mana?" tanya Mine kepada Zu dengan lembutnya.


"Aku akan mengantarkan ayah berobat ke gunung Fuji." Zu menanggapi dengan nada yang datar.

__ADS_1


Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Zu dan juga Mine. Tapi di hadapanku, Zu bersikap datar sekali. Dan kulihat raut wajah Mine berubah sendu.


Kenapa hatiku terasa sakit, ya?


Aku tidak mengerti mengapa hatiku seperti terluka. Saat melihat Zu dan Mine dekat, rasanya aku kesal sendiri.


Apa aku cemburu?


Tak lama, kereta kuda pun datang. Shu lalu membantu ayahnya masuk ke dalam kereta. Sedang aku bersama Zu di kereta yang lain.


"Pangeran, apakah saya boleh ikut?" tanya Mine lagi.


Sejenak Zu melihat ke arahku, lalu dia kembali melihat Mine. Entah apa yang dia pikirkan.


"Maaf, Putri. Ini urusan kerajaan. Dewi menemani karena dia mempunyai keahlian di bidang ini. Aku permisi." Zu berpamitan lalu segera menarik tanganku.


Astaga, Pangeran ....


Kubungkukkan badan kepada Mine sebelum benar-benar pergi meninggalkannya. Tersirat raut kesedihan dan air mata yang berlinang di wajah cantiknya itu.


Apa aku sedang membuat kesalahan?


Aku merasa tidak enak sendiri. Sungguh. Tapi aku juga tidak berdaya menolak keinginan Zu. Namun, jauh di dalam lubuk hatiku, aku memikirkan perasaan Mine. Membayangkan bagaimana jika aku berada di posisinya.


"Silakan naik. Pelan-pelan saja." Zu membantuku masuk ke dalam kereta kuda.


Kami akhirnya berangkat menuju gunung Fuji, tempat di mana sang raja akan melakukan pengobatan alternatifnya. Dan di samping kananku kini duduk pangeran tampan yang mulai mencuri hatiku. Dialah Zu.


Di perjalanan...


Kami keluar dari istana, Zu pun menutup jendela kaca kudanya. Dia biarkan tirai-tirai cantik menutupi jendela, sehingga tidak ada yang tahu jika kami berdua di dalam.


Zu tampak membaca beberapa dokumen yang dia bawa. Sepertinya dokumen itu sangat penting atau memang sengaja dibawa olehnya agar pekerjaan cepat selesai. Aku sendiri masih diam saja seraya memalingkan pandangan.


"Sayang, kau tidak kenapa-napa, kan?" tanyanya sambil terus membaca dokumen itu.


Aku pun menoleh ke arahnya, memperhatikannya lebih jelas. Ada keinginan besar di hatiku untuk menanyakan hubungannya dengan Jasmine. Tapi, aku khawatir akan membuatnya marah.


"Sayang, kau dengar aku? Kau tidak berniat berubah sikap seperti awal pertemuan kita, kan?" tanyanya lagi.


Aku jadi bingung menjawabnya.


"Sayang!"


Zu akhirnya memaksaku agar menjawab pertanyaannya. Dia menarik tubuhku lalu mendekatkan wajahku ini ke wajahnya. Jarak kami pun begitu dekat hingga hangat napasnya bisa kurasakan.


Jangan lagi, Pangeran. Tolong ....

__ADS_1


"Apa yang Mine ceritakan padamu? Mengapa kau diam saja? Apa dia menceritakan hal yang tidak-tidak tentangku?" tanya Zu serius.


Entah mengapa aku merasa senang saat dia mengkhawatirkanku. Aku pun mulai menyukai tatapannya yang menindas itu. Atau memang pikiranku saja yang mulai tak beres. Tak mengerti mengapa sekarang bisa begini.


__ADS_2