Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Battle


__ADS_3

Udara terasa dingin sekali. Keadaan sekitar juga tampak berbeda. Aku berada di dalam lingkaran sihir yang dibuat oleh gagak jelmaan itu. Kupegang erat-erat pedang Rain yang kubawa. Kulihat gagak jelmaan itu melepas satu per satu anak panahku yang mengenai tubuhnya. Dia lalu tersenyum padaku.


Dinding pemisah dimensi yang dia buat benar-benar tidak bisa terlihat oleh tim pemanah.


Jarak antara kami hanya sekitar tujuh meter, tidak terlalu jauh dan juga tidak terlalu dekat. Tapi cukup membuat tegang situasi yang belum pernah kualami sebelumnya. Aku berhadapan langsung dengan gagak jelmaan itu.


Aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, tapi sebisa mungkin berhati-hati. Rasanya ilmu bermain pedangku bisa digunakan jika dia menyerangku tiba-tiba. Pelajaran bermain pedang waktu itu masih teringat jelas di benakku.


"Hm, sepertinya kau bukan gadis biasa."


Wanita bertubuh gagak itu berucap setelah kedua anak panahku terlepas dari tubuhnya. Dia lalu menatap tajam ke arahku. Sebisa mungkin aku tenang dan tidak memperlihatkan rasa takut yang mulai melanda.


"Apakah kau gadis pemilik cahaya ungu?" tanya wanita gagak itu.


Aku tetap mawas diri karena berada di dalam lingkaran sihirnya. Untungnya saja aku sudah terbiasa mengasah alam bawah sadar, sehingga ilusi yang dia buat tidak membuatku terperangkap. Ya, dia membuat ilusi seolah-olah awan hitam sedang mengelilingiku. Sebisa mungkin aku mengendalikannya dan membuat ilusi lain.


"Apa aku harus menjawab pertanyaanmu?" tanyaku lantang, mencoba menghilangkan rasa takut.


"Hahaha. Kau gadis yang pemberani. Tak kusangka Angkasa memiliki gadis sepertimu." Dia masih diam di tempat dan tidak bergerak sama sekali. "Jika memang benar kau pemilik cahaya ungu, maka sungguh keberuntungan bagiku bisa bertemu denganmu," katanya lagi.


"Aku tidak mengerti maksudmu," jawabku cepat.


"Begitu. Tapi bagaimana tidak mengerti sedang hanya kau yang dapat menyadari kehadiranku?" tanyanya dengan tatapan tajam.


Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkannya seperti menyelidik. Aku pun sebisa mungkin menutupi jati diriku yang sebenarnya.

__ADS_1


"Aku hanya mengikuti kata hati," jawabku datar.


"Hati? Apa manusia masih mempunyai hati?" tanyanya mengejek.


Apa maksud dia berkata seperti itu?


Aku tidak mengerti arah pembicaraannya. Tapi sepertinya, dia menyimpan sebuah dendam kepada manusia. Entah apa.


"Biarkan aku memperkenalkan diriku padamu, Nona. Aku adalah penyihir tersohor di negeri ini. Raja dari enam negeri meminta bantuanku untuk menyebarkan sihir malas dan ketakutan pada semua prajurit yang berjaga di istana." Dia menuturkan.


Astaga ....


Aku tidak tahu ucapannya bisa dipercaya atau tidak, tapi mungkin apa yang dikatakan olehnya benar adanya. Aku sendiri melihat para prajurit yang menjaga istana tampak mengantuk dan seperti malas-malasan mengemban tugas.


"Kau amat bangga dengan julukan itu?" tanyaku seraya tersenyum tipis.


"Kau bersekutu dengan iblis dan kau merasa bangga?" Aku kembali bertanya.


"Kau! Tak kusangka kau berani berkata seperti itu padaku!" Dia mengepalkan kedua tangannya.


"Aku tidak peduli siapa dirimu dan juga tidak mempunyai urusan denganmu. Kembalilah ke asalmu dan jangan ganggu kami," kataku lugas.


"Hahahaha." Dia malah tertawa. "Kau pikir kau siapa bisa mengaturku? Raja enam negeri telah memberiku bayaran tinggi hanya untuk menyebarkan sihir di istana ini. Dan kau seenaknya memintaku untuk kembali? Baiklah, aku akan kembali setelah tugasku selesai." Dia mulai bergerak.


Aku tidak tahu apa yang akan dilakukannya. Tapi kulihat sebuah pedang muncul dari sayap hitamnya itu. Dia seperti mengajak ku untuk bertarung.

__ADS_1


Astaga ... malam ini mungkin akan terasa panjang bagiku. Aku harus bertarung dengannya. Ya Tuhan ... selamatkan aku.


Ara merasa malam ini akan menjadi malam penentuan baginya. Ia lagi-lagi menghadapi hal yang pelik dan membahayakan. Penyihir wanita itu mengeluarkan pedangnya, seakan mengajak Ara bertarung. Ara pun berusaha menutupi rasa takutnya. Sebisa mungkin ia mengendalikan pikiran saat berada di dalam lingkaran sihir yang dibuat oleh wanita gagak itu.


Ya, penyihir itu membuat lingkaran sihir yang tidak dapat dilihat oleh orang lain. Hanya Ara yang bisa merasakan bagaimana tegangnya berada di lingkaran sihir ini. Ia lantas berdoa kepada Tuhan, meminta pertolongan dan perlindungan dari keburukan yang akan terjadi.


Sementara di selatan negeri...


Di waktu yang bersamaan, Rain sudah membentuk formasi pertahanan di selatan negeri ini. Ia menutup pintu masuk dan mematikan semua lampu pagar tembok pelabuhan. Rain sengaja menggelapkan keadaan sekitar agar pasukan musuh mengira tidak ada yang berjaga di pelabuhan ini. Yang mana ia telah menyiapkan sesuatu untuk para pasukan musuh. Dan ternyata, beberapa belas menit kemudian apa yang dikatakan oleh gadisnya memang benar terjadi.


Tepat pertengahan malam, ombak laut yang tenang, tiba-tiba berubah menjadi pasang. Rain melihat dari atas pagar tembok pelabuhan melalui teropong khusus miliknya. Ia meneropong apa yang terjadi di lautan. Dan ternyata, ia melihat kapal-kapal selam mulai bermunculan dari dasar laut.


Rain memberi kode kepada tim pemanah yang berada di atas tembok agar bersiap menembakkan panahnya. Saat kapal selam musuh mulai mendekati pesisir pelabuhan, Rain melihat banyak prajurit berpakaian hitam-hitam berjalan cepat menuju pintu masuk pelabuhan. Dan seketika itu juga Rain memberi kode kepada tim pemanah agar menembakkan panahnya ke arah prajurit-prajurit musuh.


Satu, dua, tiga, satu per satu pasukan musuh bertumbangan karena tidak menyadari ada hujan panah dari atas tembok pelabuhan. Pasukan musuh yang lain pun mencoba untuk menerobos masuk pintu pelabuhan yang ditutup. Dan tak lama, kapal-kapal perang besar datang dari arah selatan.


"Mereka sudah tiba. Jalankan formasi, sekarang!" perintah Rain kepada pasukannya.


Tak ayal meriam yang ditempatkan di atas tembok pelabuhan, ditembakkan ke arah kapal-kapal perang musuh. Beberapa kapal pun ada yang berhasil dihancurkan. Namun, pasukan musuh ternyata membalas serangan. Mereka menghujani Rain dan pasukan dengan anak panahnya.


"Pasang formasi perisai!"


Rain memerintahkan kepada pasukannya untuk membuat formasi perisai agar tidak terkena hujan anak panah dari pasukan musuh. Panah-panah itupun berterbangan dari atas langit lalu mulai mengenai perisai baja milik pasukan Rain. Rain sendiri ikut dalam formasi agar tetap terlindungi. Namun, di saat seperti ini para pasukan musuh mulai turun dari kapal lalu mendekati tembok pagar pelabuhan. Angkasa benar-benar diserang malam ini.


Aku selalu percaya apa yang dikatakan olehnya. Tak bisa kubayangkan jika tidak ada dirinya. Angkasa pasti benar-benar kewalahan menghadapi serangan ini.

__ADS_1


Rain menyadari jika tanpa bantuan Ara, Angkasa akan kewalahan menghadapi serangan musuh. Terlihat jelas di depan kedua matanya banyak kapal perang mendekati pelabuhan. Rain pun segera memerintahkan pasukan yang berjaga di pintu masuk untuk bersiap melakukan penyerangan.


__ADS_2