
Cloud masih di ruangan ayahnya. Namun, hanya raganya saja yang berada di sana, sedang hatinya tidak. Hatinya tengah melalang buana memikirkan sang gadis yang amat dicintai olehnya.
Kini ayah dan anak itu sedang duduk berhadapan di depan meja kerja yang besar. Terlihat banyak dokumen menumpuk di atasnya.
"Ayah rasa pihak Asia akan menutup semua pintu kunjungan untuk kita, jika memang benar putra mahkotanya lah yang membawa Ara." Sky mengungkapkan isi pikirannya.
"Maksud, Ayah?" Cloud kurang dapat memahami karena pikirannya sedang tidak fokus.
"Hah ...."
Sky mencoba menenangkan pikirannya sendiri. Ada rasa khawatir melanda hati sang raja saat mengetahui jika putra mahkota pihak Asia lah yang membawa Ara pergi dari istana.
"Cloud, Ayah tidak menyangka jika gadis itu mempunyai daya tarik yang begitu kuat. Kedua putraku luluh di hadapannya, dan kini putra mahkota Asia ikut tertarik olehnya." Sky memijat dahinya sendiri.
"Ayah, terkadang cinta memang tidak butuh alasan. Dia mengalir begitu saja."
"Ya, ya. Ayah tahu. Tapi sekarang kita tidak bisa gegabah untuk menuduh pihak Asia yang telah membawa Ara. Walaupun Ayah rasa ...,"
"Ayah rasa apa, Yah?" Cloud amat antusias.
"Ayah rasa pihak Asia juga sudah tahu jika kita akan mencari gadis itu. Bisa saja saat ini Ara disembunyikan, tidak berada di istana," tukas Sky lagi.
Astaga, Ara!
Cloud mencemaskan gadisnya. Ada rasa khawatir yang semakin lama semakin menjadi-jadi di dalam hatinya.
"Lalu apa yang harus kita lakukan, Yah?" tanya Cloud yang amat khawatir.
"Kita tunggu waktu yang tepat untuk menjemputnya. Kita tidak bisa terburu-buru. Hal ini dapat memicu sesuatu yang lebih besar lagi jika kita tidak berhati-hati. Mungkin sementara ini kita harus berpura-pura tidak menginginkan gadis itu."
"Apa?! Maksud Ayah?" Cloud amat terkejut.
"Cloud, hal ini bisa memicu peperangan besar jika kita sampai salah langkah. Negeri itu bukanlah seperti Aksara yang kecil. Asia jauh lebih besar dari negeri kita." Sky meneruskan.
"Tapi, Yah. Aku yang membawanya kemari. Aku merasa bertanggung jawab atasnya." Mata Cloud mulai berlinangan, ia tidak dapat menutupi kesedihannya lagi.
"Cloud, kau belum menikah dengannya. Adikmu juga belum. Tidak ada kekuatan bagi kita untuk memberi sanksi atas perbuatan putra mahkota Asia. Terkecuali jika kau atau Rain sudah menikah dengannya, barulah dia bisa terkena sanksi berat karena sudah membawa istri orang." Sky melanjutkan.
__ADS_1
"Hah ...."
Cloud semakin pusing, ia mengusap kepalanya sendiri. Rasanya ia ingin berteriak saat ini juga.
"Bersabarlah. Beri waktu sampai pihak Asia mengira jika kita tidak membutuhkan gadis itu lagi."
"Tapi, Yah. Aku khawatir Ara di sana—"
"Tenang. Jika memang ini politik kerajaan, pastinya mereka akan mengambil keuntungan dari bakat yang dimiliki gadis itu. Mereka tidak akan mencelakai Ara."
"Bagaimana Ayah bisa seyakin itu?" Cloud memastikan.
Sky menoleh ke arah putranya. "Kau lupa jika Ayah seorang panglima dulu? Sudah banyak kasus yang Ayah hadapi, dan rata-rata semuanya hampir sama," tutur Sky kembali.
"Tapi tetap saja aku khawatir, Yah. Aku takut Zu berbuat macam-macam pada Ara." Cloud amat cemas.
"Hahaha." Sky tiba-tiba tertawa. "Cloud, tak akan lari gunung kau kejar. Percayalah pada Ayah."
Sky mendekati Cloud lalu menepuk pundak putranya itu. Cloud pun tampak pasrah menghadapi situasi yang membelit ini.
Cloud diselimuti ketakutan. Ia khawatir jika Zu akan berbuat yang tidak-tidak kepada Ara. Melihat Ara mandi malam-malam saja ia sudah kalang kabut sendiri. Apalagi jika gadis itu tidak tampak di matanya. Cloud terselimuti pikiran buruknya sendiri.
Beberapa jam kemudian...
Rain baru saja menyelesaikan latihan militernya bersama para prajurit di istana. Kini ia berjalan kembali ke kediamannya, berniat beristirahat sejenak.
Rain sebenarnya ingin sekali menjemput Ara, tapi ia juga menyadari jika tidak mudah untuk mendapatkan Ara kembali. Terlebih negeri saingannya ini adalah negeri yang lebih besar. Kekuatan militer Angkasa masih berada di bawahnya, sehingga ia harus menunggu waktu yang tepat terlebih dahulu.
Rain lantas segera membersihkan tubuh setelah lelah dari aktivitas fisik yang menguras tenaga. Dan kini, ia sedang menikmati pancuran air di dalam kamar mandinya itu.
Ara-ara ... kau bisa membuatku seperti ini. Kau harus bertanggung jawab padaku.
Rain tidak habis pikir jika dirinya bisa sampai segila ini karena seorang gadis berbola mata hitam itu. Pertemuan tak terduga di waktu lalu, membuatnya tenggelam sendiri. Dan sampai sekarang pun ia masih bisa merasakan kehangatan tubuh sang gadis, walau kini telah berpisah jauh.
Lautan biru memang memisahkan keduanya, tapi tidak untuk hati mereka. Rain mempunyai keyakinan jika Ara akan kembali kepadanya.
Aku tidak butuh yang lain, Ara. Aku hanya butuh dirimu.
__ADS_1
Rain sudah merasa sangat nyaman bersama Ara. Gadis itu mampu membuat hati Rain yang sekeras batu menjadi lunak, seperti baja terkena timah panas. Ara mampu membuatnya berubah. Tak ayal sang putra mahkota ini tergila-gila padanya.
Selepas mandi, Rain segera mengenakan pakaian kerajaannya yang lain. Menyemprotkan parfum khasnya lalu mengambil sesuatu dari dalam laci meja kecilnya itu.
"Sekarang hanya ini yang tersisa."
Rain mengambil ponsel Ara yang tertinggal seraya duduk di pinggir kasur. Dibukanya ponsel itu lalu diputarnya rekaman saat acara pertunjukan busana berlangsung. Rain memastikan jika ia akan selalu ingat dengan wajah Zu, sang pangeran Asia.
"Kau berani bersaing denganku?! Lihat saja nanti! Aku akan mendapatkan Ara kembali!"
Rain geram saat melihat Zu memperhatikan Ara dengan pandangan yang berbeda. Semua kejadian di depan panggung itu terekam jelas dan tidak terlewatkan sedikit pun. Kehilangan Ara membuatnya termotivasi untuk menjadikan Angkasa lebih kuat lagi.
"Aku berjanji padamu, Sayang. Suatu saat kau akan melihatku lebih kuat dibandingkan dirinya. Kau tahu bagaimana aku, bukan?"
Rain lantas mencolek foto Ara saat tersenyum ke arah kamera itu. Tangannya mengepal, hatinya bertekad. Rain akan membuktikan semua ucapannya.
"Pangeran."
Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu kamarnya. Rain lantas menaruh kembali ponsel Ara ke dalam laci meja. Iapun keluar dari kamar.
"Ada apa?" Ia bertanya kepada pelayan di depan pintu.
"Maaf, Pangeran. Ibu ketua ingin bertemu." Pelayan itu menundukkan pandangannya.
"Bibi Rum?" tanya Rain lagi.
"Benar, Pangeran. Dia menunggu di ruang tamu," tukas pelayan lagi.
"Baik. Aku akan menemuinya." Rain pun mengiyakan.
"Kalau begitu saya permisi." Pelayan itu segera berpamitan kepada Rain.
Rain yang berada di depan pintu kamar merasa heran dengan kedatangan Rum. Tak biasanya pimpinan pelayan itu mendatanginya jika tidak ada hal yang terlalu penting.
"Mungkin ini ada kaitannya dengan Ara."
Segera ia melangkahkan kaki menuju ruang tamu kediamannya. Dan ia menemukan pimpinan pelayan itu sedang duduk sambil menunggu.
__ADS_1