Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Sickness


__ADS_3

Awal pagi di istana Angkasa...


Cloud tampak sudah siap memulai aktivitas hari ini. Pangeran sulung kerajaan Angkasa itu terlihat keluar dari ruangannya dengan tubuh yang segar. Ia sepertinya baru saja mandi, tampak dari rambutnya yang masih basah dan juga berkilauan.


Cloud berniat menyambangi ibunya di lantai tiga istana. Namun, langkah kakinya terhenti saat melihat sepupunya, Star berjalan ke arahnya.


"Cloud!"


"Star?"


Keduanya bertemu di tangga menuju lantai tiga istana. Star tampak ingin menyampaikan sesuatu kepada putra sulung kerajaan Angkasa ini.


"Cloud, aku dengar jika Ara ada di Asia." Star mengawali pembicaraannya.


"Hem, ya. Sepertinya begitu." Cloud bernada datar.


"Bisa kita bicara sebentar? Ada hal yang ingin kusampaikan padamu," kata Star lagi.


Karena waktu masih pagi, Cloud akhirnya mengiyakan ajakan Star untuk mengobrol sejenak. Keduanya pun berbincang di teras balkon istana lantai dua.


"Cloud, aku punya informasi menarik padamu. Tapi, aku tidak ingin hal ini sia-sia belaka." Star menatap penuh harap ke arah sepupunya.


"Maksudmu?" tanya Cloud dengan nada yang kurang tertarik.


"Aku punya kenalan di Asia. Kau bisa bertemu Ara jika kau mau," kata Star lagi.


Sontak roman wajah Cloud berubah. Dari yang biasa-biasa saja, tidak tertarik menjadi antusias sekali.


"Kau serius?" tanya Cloud memastikan.

__ADS_1


"Ya, tentu saja. Tapi tidak ada yang murah untuk hal itu. Kau tahu sendiri biaya akomodasi sangat mahal. Terlebih perjalanan Angkasa ke Asia memakan waktu hampir sepuluh jam perjalanan," cetus Star lagi.


"Katakan saja berapa yang kau mau, aku akan memberikannya. Asalkan bisa bertemu Ara dengan rasa aman dan tanpa khawatir." Cloud amat serius.


"Hahaha. Kau lucu sekali jika sedang serius, Cloud." Star tiba-tiba tertawa.


"Cepat katakan, bodoh! Aku sudah menahan rindu terlalu lama!" Cloud mendekatkan diri ke arah Star, seperti mengancam.


"Ya, ya. Baiklah. Serahkan saja semuanya padaku. Tapi, bagaimana dengan kondisi bibi?" tanya Star kemudian.


Cloud lantas memijat dahinya sendiri.


"Cloud, bibi baik-baik saja, kan?" tanya Star lagi.


Cloud seperti enggan mengatakannya. "Hah ... aku tidak mengerti mengapa semuanya menjadi runyam seperti ini. Sudah enam tabib yang mengobati ibu, tapi tidak ada satupun yang bisa menyembuhkan penyakitnya." Cloud merasa pusing.


"Apa ini ada hubungannya dengan kepergian Ara?" tanya Star berhati-hati.


"Bersabarlah, Cloud. Semua musibah pasti ada hikmahnya. Tidak mungkin Tuhan menurunkan ujian di luar batas kemampuan hamba-NYA. Bukan begitu?" Star mencoba menenangkan.


"Ya, aku masih mencoba bersabar hingga saat ini, tapi tetap saja hatiku tidak tenang. Sehabis menyelesaikan pekerjaan harian, aku harus menjaga ibu. Melihatnya kesakitan karena penyakit aneh itu." Cloud tidak tega.


"Memangnya bibi sakit apa? Kenapa pihak keluarga nenek tidak boleh menjenguknya?" tanya Star lagi.


"Tabib meminta sementara waktu untuk mengisolasi ibuku sampai didapatkan keputusan penyakit apa yang menimpanya. Dan ini adalah hari ketujuh ibu menjalani pengobatan. Tabib ke tujuh pun akan didatangkan ke istana. Tapi, aku tidak yakin akan mendapatkan jawaban yang pasti."


"Cloud ...." Star mengusap-usap punggung sepupunya, ia turut prihatin.


Cloud merasa masalah datang bertubi-tubi semenjak hilangnya Ara dari istana. Pikirannya tidak dapat fokus, pekerjaannya pun tidak bisa selesai tepat waktu. Ditambah lagi kini Moon sedang ditimpa penyakit. Suatu penyakit yang sudah ditangani enam orang tabib, tapi masih saja belum menemukan titik terang akan penyebab penyakit itu sendiri.

__ADS_1


Seandainya saja Ara ada, pastinya dia bisa membantu meringankan penyakit ibu. Dia cukup tahu banyak tentang obat-obatan dari alam. Tapi, ibu sendiri yang membuatnya pergi.


Cloud merasa bingung menangani masalah ini, ia seperti menemui jalan buntu. Di hati kecilnya merasa jika kepergian Ara bukanlah tanpa sebab, melainkan ada sesuatu yang terjadi sebelumnya. Dan Cloud menyakini jika itu adalah ulah ibunya sendiri. Karena selama ini hanya ibunya saja yang kurang menyukai Ara.


"Kalau begitu, saranku lebih baik kita pulihkan kondisi bibi terlebih dahulu. Jika keadaannya sudah membaik, aku akan membantumu untuk menemui Ara." Star berjanji.


"Hah, ya ... mau bagaimana lagi. Ini memang sudah takdirku. Aku harus menerimanya, suka atau tidak." Cloud mencoba berlapang dada.


"Bersabarlah, Saudaraku. Tidak selamanya malam, tidak selamanya gelap. Mentari akan terbit dan cahaya akan datang." Star menguatkan.


Cloud sedang mengalami tekanan batin. Kerinduan terhadap sang gadis begitu mengganggu aktivitas hariannya. Namun kini, permasalahan baru datang yang menyita waktu dan pikirannya. Tidak ada yang bisa Cloud lakukan selain pasrah, menerima setiap ketentuan yang telah ditetapkan untuknya.


Sementara itu...


Sky baru saja melihat istrinya dapat tertidur di pagi ini. Semalaman istrinya merasakan gatal di sekujur tubuh. Pada saat matahari terbit, rasa gatal itu barulah hilang dan kantuk pun datang menerjang. Sehingga Moon barulah bisa tertidur di pagi hari.


"Yang Mulia." Rum datang membawakan sarapan untuk Sky.


"Letakkan saja di atas meja," pinta Sky kepada Rum.


Sky memerintahkan pelayan senior untuk menjaga istrinya sepanjang hari. Ia tidak sembarangan memilih pelayan untuk menjaga istrinya, hanya pelayan yang bisa menjaga rahasia sajalah yang ia pekerjaan untuk menjaga istrinya itu. Sky tidak ingin ada orang lain mengetahui tentang penyakit yang diderita istrinya. Ia khawatir jika keadaan ini membuat pihak negeri musuh memanfaatkan situasi.


Moon, sebenarnya apa yang terjadi padamu? Kenapa kau bisa begini?


Sky menunggui istrinya di samping pembaringan. Ia tidak tega melihat sang istri yang tampak kelelahan sepanjang malam karena penyakit itu. Sky cemas terhadap kondisi istrinya yang belum juga membaik, padahal sudah enam tabib ahli yang menangani istrinya. Ia merasa jika ini adalah teguran baginya dan juga bagi Moon.


Andai saja gadis itu ada, mungkin dia bisa sedikit membantu permasalahan ini. Tapi kini dia pergi meninggalkan Angkasa. Adakah yang bisa mengambil buah surga selain dirinya? Mungkin buah itu bisa meringankan penyakit istriku.


Sky mulai merasa lelah dengan usianya yang sekarang. Ia tidak sanggup lagi jika harus memikirkan banyak persoalan. Sayangnya, putra sulungnya belum juga bersedia mengemban tugas sebagai seorang raja. Cloud masih memantaskan diri dan menunggu Ara kembali untuk mendampingi.

__ADS_1


Setelah kepergian Ara dari Angkasa, tak lama Moon diserang penyakit secara perlahan. Ia tidak langsung jatuh sakit, melainkan secara bertahap. Dan tidak ada yang menyadari penyakit apa yang diderita oleh ratu Angkasa tersebut. Upaya medis pun masih terus dilakukan. Dan hari ini adalah hari ke tujuh Moon melakukan pengobatan. Tabib ke tujuh akan segera didatangkan ke istana.


__ADS_2